TUMBUH DALAM FILM - Puisi Jakob Sumardjo

Jakob Sumardjo

TUMBUH DALAM FILM

Tahun 1945
Paman mengajak nonton film di gedung bioskop
Satu-satunya di Klaten
Pengalaman pertama ini tak terlupakan
Gemetar menutup mata
Menyaksikan orang saling bertikam
Dalam gambar hidup putih hitam

Aku tak mau lagi diajak menonton

Tahun 1951
Ayah bekerja di AURI sebagai sopir mobil wagon
Tiap bulan diputar film layar tancap
Aku tertawa terbaha-bahak
Menyaksikan Charlie Chaplin terpeleset kulit pisang
Atau lari-lari tunggang langgang
Dikejar perempuan

Aku merindukan menonton di akhir bulan
 
Tahun 1955
Masa remaja di Yogyakarta
Sekolah SGA
Tiap hari melihat poster film
Di gedung bioskop Rahayu
Gambarnya bagus-bagus asli Amerika
Aku kenal Marlon Brando
James Dean Gregory Peck Jerry Lewis
Ava Gardner Heidy Lamar yang seksi
Tak terlupakan Gery Cooper yang jantan pendiam

Aku tertawa bersama Jerry Lewis
Aku terharu bersama Gery Cooper
Aku mengagumi James Dean dan Marlon Brando
Aku menirukan cara bersandar dia
Cara berjalan dia
Cara mengenakan kemeja

Tak terlupakan pula
Kirk Douglas lelaki jantan kesepian

Tahun 1962
Menjadi guru SMA di Bandung
Mengajar murid yang semua perempuan
Di zaman Demokrasi Terpimpin

Cuma nonton film-film Rusia
Beli buku-buku sastra Rusia
Harganya murah di bawah seliter beras

Untung masih ada Liga Film Mahasiswa ITB
Juga di Panti Budaya
Lumayan memutar film-film Amerika
Meskipun film lama
Tak sempat ditonton waktu remaja

Akan halnya film Indonesia
Sudah nonton lewat layar tancap
Dalam rangka Agustusan di lapangan kampung Balapan
Yang kukenang hanya Chatir Harro dan Netty Herawati
Tentang kisah revolusi
Yang marak tahun 1950-an
Tak terlupakan suara azan
Ketika para pejuang kelelahan masuk kampung dari medan perang

Yang termashur adalah Si Pincang
Yang diputar berkali-kali tiap Agustusan
Namun tetap mempesona sampai hafal ceritanya

Ada juga Lutung Kasarung film berwarna pertama
Namun kecewa lebih hebat beritanya
Ada ular di hutan yang nyata-nyata cuma lukisan

Film Indonesia hanya semarak tahun lima puluhan
Meskipun hitam putih namun sarat makna
Baik komedi maupun yang seriosa
Bing Slamet dalam Tiga Buronan siapa lupa

Tahun 1970
Kebangkitan film Indonesia pertama
Film Bernafas Dalam Lumpur dalam diri Suzanna
Sebenarnya film biasa
Menjadi luar biasa bagi mata film Indonesia
Akibatnya wabah tiruan
Membuat bioskop ditinggalkan

Untung datang Panji Tengkorak
Dan Si Buta Dari Goa Hantu
Namun segera diserbu para peniru
Gedung bioskop benar-benar jadi rumah hantu

Bosan perkosaan dan adu pedang
Tiba-tiba muncul Beranak Dalam Kubur
Para penonton membeli ketakutan
Erat memegang tangan pacar menjerit kegirangan

Tahun 1980
Orang teater masuk arena film Indonesia
Mereka membangun kebangkitan kedua
Teguh Karya Sjumanjaya Arifin
Membikin gedung bioskop diserbu kelas menengah
Seperti tahun lima puluhan
Meninggalkan tradisi kelas bawah
Penggemar hantu, silat, dan perkosaan

Tahun 1990
Titik nadir film Indonesia
Runtuhnya film-film kelas menengah akibat ambisi film seni
Dibicarakan kaum akademisi
Ditinggalkan penggemar Karmila
Akibatnya wabah film Perangkap Janda Muda
Digemari pemuda kampung Cicadas
Tergiur paha mulus Marselina

Awal abad dua puluh satu
Kebangkitan film ketiga
Rombongan kaum muda
Profesional belajar di akademi sinema
Meninggalkan tradisi amatur sebelumnya
Sherina dan Ada Apa Dengan Cinta
Membuka cakrawala baru bagi kaum muda
Tidak usah serius merenung seperti generasi tua
Mengikuti film Amerika
Film adalah tontonan banyak orang
Bertemunya pikiran sineas dan penonton dalam film
Membagi pengalaman dan sekedar renungan
Bukan ekspresi bebas memburu ketenaran

Sinema seni yang mahal
Melibatkan begitu banyak seniman
Perhelatan kawin seni dagang dan seni film
Adalah kemasuk akalan
Sambil berharap dicatat sejarah
Uang menghasilkan uang
Di tangan pemilik kepala cerdas
Tidak peduli dalam film
Perumahan, kuliner, dan pengusaha kaya

Itulah renungan
Seorang tua keranjingan nonton
Belajar sesuatu dari pengalaman nontonnya
Apa yang dahulu dikagumi
Ketika ditonton kembali
Tak sehenat dulu lagi
Tapi ada pula yang dikagumi
Sejak dulu, sekarang, dan nanti
Dari seribu film
Mungkin hanya lima puluh film 
Yang tak bosan ditonton seperti Si Pincang
Film adalah seni sezaman
Ditonton atau tidak ditonton waktu pertama diputar
Bukan seperti buku sastra
Yang baru dibaca generasi berikutnya

Keajaiban gambar hidup
Dari masa kanak-kanak bersama Charlie Chaplin
Sampai masa tua bersama Kagemusha

Mudah-mudahan di akherat nanti
Masih diizinkan menonton film
Panjang dan tidak membosankan
Sesungguhnya sinema adalah
Surga di dunia fana ini

Bandung, 4 Januari 2012    
 





» » TUMBUH DALAM FILM - Puisi Jakob Sumardjo » Lomba Film Pendek Bandung 2015 - Filmisasi Cerpen Sunda » WAJAH-WAJAH DI LAYAR PUTIH - Puisi Eddy D. Iskandar » CUKUP SUDAH - Puisi Armantono » DENDANG PERAWAN - Puisi Slamet Rahardjo Djarot » MASIH BAYANGAN? - Puisi N. Riantiarno
Dhipa Galuh Purba Dhipa Galuh Purba Author
Title: TUMBUH DALAM FILM - Puisi Jakob Sumardjo
Author: Dhipa Galuh Purba
Rating 5 of 5 Des:
Jakob Sumardjo TUMBUH DALAM FILM Tahun 1945 Paman mengajak nonton film di gedung bioskop Satu-satunya di Klaten Pengalaman pe...

Lomba Film Pendek Bandung 2015 - Filmisasi Cerpen Sunda

Panitia “Pesta Buku Bandung 2015” bekerjasama dengan “Forum Film Bandung”, “Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS)”, dan “Bandung TV”,  untuk kedua kalinya menggelar “Lomba Film Pendek Bandung 2015”, memperebutkan hadiah uang tunai dan piagam Ikapi Jabar. Kali ini  Film Pendek merupakan ekranisasi karya sastra Sunda.

Ketentuan
  • Peserta adalah warga negara Indonesia.
  • Cerita film pendek diangkat dari cerpen Sunda (carpon, carpon mini, fikmin, dll). Selanjutnya digarap menggunakan bahasa Indonesia.
  • Cerpen Sunda bisa diambil dari naskah yang sudah dimuat di Tabloid Galura, Majalah ManglĂ©, SundaMidang, Pasundan, Cupumanik, Koran Tribun Jabar, Pikiran Rakyat, Galamedia, website, dan lain-lain.
  • Mencantumkan judul cerpen Sunda dan nama pengarangnya  dalam credit title Film Pendek. Misalnya: Film Pendek Ini Diangkat dari Carpon “Bulan Wanci Sareupna” karya Dadan Sutisna.
  • Durasi film minimal 5 menit dan maksimal 15 menit.
  • Konten film pendek tidak mengandung unsur sara dan pornografi.
  • Peserta mengirimkan materi film pendek dalam 1 keping DVD,  format .mp4 atau .mov,  disertai formulir pendaftaran  yang sudah diisi dengan lengkap.
  • Formulir bisa didownload di website pendukung acara lomba ini, yaitu:  www.ikapijabar.com, www.festivalfilmbandung.com, www.sundanews.com,  www.tamanfilm.com, dan www.pendidikan-ku.com.
  • Pengiriman materi film bisa melalui pos atau langsung mengantarkan ke Sekretariat Pesta Buku Bandung, Jl. Ibu Inggit Garnasih No. 30. C, Bandung, 40252.
  • Pengiriman materi film pendek paling lambat  21 Januari 2015  (cap pos).
  • Panitia berhak menayangkan film pendek di media elektronik, dan hak cipta tetap menjadi milik peserta.
  • Lomba ini tidak dipungut biaya apapun.
Penilaian dan Pengumuman
  • Penilaian Film Pendek meliputi keaktoran, penyutradaraan, artistik, dan editing.
  • Juri Lomba Film Pendek terdiri dari Regu Pengamat FESTIVAL FILM BANDUNG.
  • Seluruh film pendek akan ditayangkan sepanjang acara “Pesta Buku Bandung 2015”,  tanggal 30 Januari s.d. 5 Februari 2015, di Landmark, Jl. Braga 129,  Bandung.
  • Pengumuman pemenang akan berlangsung pada puncak acara di Panggung PESTA BUKU BANDUNG 2015, Landmark Convention Hall, Jl. Braga 129, Bandung, tanggal 5 Februari 2015, Pukul 19.00 s .d 21.00 WIB.
  • Keputusan dewan juri tidak bisa diganggu-gugat.
DOWNLOAD FORMULIR PENDAFTARAN



Informasi 10 Nominasi  Lomba Film Pendek Bandung 2014:

(1)
Judul Film      : Dunia Dalam Lipatan Buku
Sutradara       : Fitri Hidayati
Produksi        : Sanggar Teater Asmaradaya SMPN1 Arosbaya, Bangkalan, Madura

(2)
Judul Film      : Loyal
Sutradara       : Galeh Pramudita Arianto
Produksi        : Sigma TV Production, Jakarta Timur

(3)
Judul Film      : Sampul Cokelat
Sutradara       : Balak 6
Produksi        : Balak 6 Production, Jakarta

(4)
Judul Film      : Ensiklopedi Pertamaku
Sutradara       : Hilda Kholida
Produksi        : Cigerewik Entertainment, Bandung

(5)
Judul Film      : Juara
Sutradara       : Saepul Hamdi
Produksi        : Cibiru Production, Bandung

(6)
Judul Film      : Pasword
Sutradara       : Tim Kimcil Production
Produksi        : Kimcil Production, Yogyakarta

(7)
Judul Film      : Reda
Sutradara       : Ratu Arti Wulansari
Produksi        : Pangaritan Production, Bandung

(8)
Judul Film      : Buku Bawa Aku Terbang
Sutradara       : Sista Sirsantiani
Produksi        : Cipadung Production, Bandung

(9)
Judul Film      : Kress...!
Sutradara       : Siti Pitriah
Produksi        : Bingkai Film’s Production, Cimahi

(10)
Judul Film      : Main Kartu
Sutradara       : Amir MS
Produksi        : Sendratasik MAN, Purbalingga


Para Pemenang Lomba Film Pendek Bandung 2014:

TERPUJI 1
Judul Film      : Sampul Cokelat
Sutradara       : I Ketut Darmayasa
Produksi        : Balak 6 Production, Jakarta

TERPUJI 2
Judul Film      : Juara
Sutradara       : Saepul Hamdi
Produksi        : Cibiru Production, Bandung

TERPUJI  3
Judul Film      : Kress...!
Sutradara       : Siti Pitriah
Produksi        : Bingkai Film’s Production, Cimahi

TERPUJI 4
Judul Film      : Pasword
Sutradara       : Tim Kimcil Production
Produksi        : Kimcil Production, Yogyakarta

TERPUJI 5
Judul Film      : Ensiklopedi Pertamaku
Sutradara       : Hilda Kholida

Produksi        : Cigerewik Entertainment, Bandung
» » TUMBUH DALAM FILM - Puisi Jakob Sumardjo » Lomba Film Pendek Bandung 2015 - Filmisasi Cerpen Sunda » WAJAH-WAJAH DI LAYAR PUTIH - Puisi Eddy D. Iskandar » CUKUP SUDAH - Puisi Armantono » DENDANG PERAWAN - Puisi Slamet Rahardjo Djarot » MASIH BAYANGAN? - Puisi N. Riantiarno
Dhipa Galuh Purba Dhipa Galuh Purba Author
Title: Lomba Film Pendek Bandung 2015 - Filmisasi Cerpen Sunda
Author: Dhipa Galuh Purba
Rating 5 of 5 Des:
Panitia “Pesta Buku Bandung 2015” bekerjasama dengan “Forum Film Bandung”, “Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS)”, dan “Bandung TV”, ...

WAJAH-WAJAH DI LAYAR PUTIH - Puisi Eddy D. Iskandar

Eddy D. Iskandar

WAJAH-WAJAH DI LAYAR PUTIH


1.

Aku melihat wajah-wajah di layar putih itu
Mudah menangis. Gampang tertawa. Meringis. Menyeringai
Membentak. Menghardik. Termehek-mehek. Terbahak-bahak
Menjerit. Meringkik. Mengaduh. Mendesah.

Wajah-wajah itu datang silihberganti. Dari masa ke masa.
Menatap penonton. Menyapa dengan rasa percaya diri yang tinggi
“Bagaimana dengan aktingku?”
Ia berharap jawaban yang menyenangkan. Tapi tak ada sahutan

Semua hanya menanti saat-saat yang tegang
Ketika tubuh berbalut kain putih dengan mata bolong
Berubah menjadi wanita cantik setengah telanjang
Bergoyang-goyang di atas ranjang

Ketika penonton melongo terbawa suasana
Wanita itu merajuk dengan desah  menggoda
“Maaf, ini tuntutan skenario adanya”


2

Layar berganti. Lalu nampak wajah-wajah yang berbeda
Wajah-wajah yang sangat kukenal. Kehidupan yang kulihat
dan kurasakan. Persoalan-persoalan kecil dan besar
Semua terekam dalam ruang yang membentang

Kusaksikan warna-warni kehidupan
di mana aku bisa merasakan
kekayaan latar kejadian

Melalui layar putih itu
Seorang demi seorang bercerita tentang hidup, karir,
perjuangan, rumah tangga, bahkan cinta.
Mereka bicara dengan bahasa jiwa
“Wajahku ada di sini, meski sering tak menarik perhatian”

Aku selalu ingat nama Bupati Bandung
RAA Wiranatakusumah V
yang mendukung terwujudnya film “Loetoeng Kasaroeng”
tahun 1926 pembuatannya
Ia layak disebut perintis film cerita pertama di Indonesia

Aku selalu ingat nama Usmar Ismail Sang Pelopor
Orang pribumi yang bangga dengan wajah Indonesia
Mengibarkan bendera Perfini
30 Maret 1950 membuat film pertama
“Darah dan Do’a” judulnya
Jadi tonggak peringatan  Hari Film Nasional

Aku selalu ingat nama-nama penerusnya
yang teguh berjuang di tengah derasnya
kekuasaan industri film
Aku selalu ingat ucapan itu
“Film bukan semata-mata barang dagangan”


3

Layar putih kian membentang
Semarak dunia remaja putih abu-abu
Melalui kisah anak gedongan
Ada lagi kisah lainnya
Wanita yang tersiksa dan teraniaya
atau air mata kematian karena penyakit mematikan
atau  tertawa dengan lucu-lucuan

Dan kini disaat merdeka berkreasi
Malah bebas dengan judul-judul asing
yang sudah ada sejak zaman film bisu
Makin banyak yang merasa bangga
berbahasa mancanegara

Begitu fasih menyebut sekian judul film
Disangka film barat tapi asli dalam negri
Dulu menggunakan judul bahasa Belanda dan Cina
Kini laris dengan judul bahasa Inggris

Ketika kutanya judul film berbahasa Indonesia
Malah banyak yang menjawab terbata-bata
Ketika kusebut sebuah judul film lama
“Pacar Ketinggalan Kereta”
Malah dengan lantang bilang
“Itu judul film jadul, sudah ketinggalan zaman”



4

Sebelum layar ditutup
Seseorang masih sempat bertanya
dengan suara gagap

“Wajahku mau ditaruh di mana?”

Suara itu sepertinya suara
seorang sutradara ternama
yang sekian banyak filmnya
selalu dipuji para pengamat terkemuka
yang sering mendapatkan piala
di festival mancanegara

Tapi aku lupa lagi namanya
atau mungkin bukan suara dia
tapi suara pencinta film seni
yang sering tak dihargai di negri sendiri

Bandung  Januari 2012








» » TUMBUH DALAM FILM - Puisi Jakob Sumardjo » Lomba Film Pendek Bandung 2015 - Filmisasi Cerpen Sunda » WAJAH-WAJAH DI LAYAR PUTIH - Puisi Eddy D. Iskandar » CUKUP SUDAH - Puisi Armantono » DENDANG PERAWAN - Puisi Slamet Rahardjo Djarot » MASIH BAYANGAN? - Puisi N. Riantiarno
Dhipa Galuh Purba Dhipa Galuh Purba Author
Title: WAJAH-WAJAH DI LAYAR PUTIH - Puisi Eddy D. Iskandar
Author: Dhipa Galuh Purba
Rating 5 of 5 Des:
Eddy D. Iskandar WAJAH-WAJAH DI LAYAR PUTIH 1. Aku melihat wajah-wajah di layar putih itu Mudah menangis. Gampang tertawa. ...

CUKUP SUDAH - Puisi Armantono

Armantono


CUKUP SUDAH


dari bibir mungilmu yang kini bergincu
tak lagi kudengar kisah
petani berpeluh mengolah ladang dan sawah
nelayan menebar jala di laut biru

dari bibir mungilmu yang kini bergincu
kudengar kisah yang asing di telingaku
tokoh-tokoh yang tak kukenal
sibuk menghadapi persoalan yang tak kupahami

sekian lama kau mengurung diri
dalam ruang tanpa pintu tanpa jendela
menciptakan tokoh menjalin kisah
tanpa pijakan tanpa dasar

kini harus kukatakan padamu
cukup sudah
robohkan tembok hancurkan sekat
hapus gincumu pijakkan kaki ke tanah

mari berlari di pematang
menyusuri pantai merasakan sapuan gelombang
mendekap isak tangis dan tawa riang
memeluk gulita malam dan teriknya siang

kini harus kukatakan padamu
cukup sudah
kisah-kisah besar tidak pernah dibangun dari ruang hampa
kisah-kisah besar selalu tumbuh dan berakar dari kehidupan


Jakarta, 26 Januari 2012

foto: www.indonesianfilmcenter.com




» » TUMBUH DALAM FILM - Puisi Jakob Sumardjo » Lomba Film Pendek Bandung 2015 - Filmisasi Cerpen Sunda » WAJAH-WAJAH DI LAYAR PUTIH - Puisi Eddy D. Iskandar » CUKUP SUDAH - Puisi Armantono » DENDANG PERAWAN - Puisi Slamet Rahardjo Djarot » MASIH BAYANGAN? - Puisi N. Riantiarno
Dhipa Galuh Purba Dhipa Galuh Purba Author
Title: CUKUP SUDAH - Puisi Armantono
Author: Dhipa Galuh Purba
Rating 5 of 5 Des:
Armantono CUKUP SUDAH dari bibir mungilmu yang kini bergincu tak lagi kudengar kisah petani berpeluh mengolah ladang dan sa...

DENDANG PERAWAN - Puisi Slamet Rahardjo Djarot

Slamet Rahardjo Djarot

DENDANG PERAWAN

Lingsir wengi
dendang perawan malam hari,
wing semriwing,
semerbak wangi dupa setanggi,
mimpi diatas mimpi
melayang aku pengen jadi bidadari,
oh harapan muara keinginan,
beken diatas beken,
gregetan aku berkhayal jadi keren,
eh siapa tahu,
coba punya coba,
bisa lebih keren dari penganten,

Ning nang ning gung,
dendang seribu peri dilembah gunung,
oh para peri dunia perewangan,
dengan kuasamu bawalah aku terbang,
eh siapa nyana,
bisa salaman sama dewa,
dewa sakti bernama ketenaran,

Gregah....perawan nangtung,
geura gede, geura jangkung
perawan bangkit
dan kaki menjejak bumi

Duk duk duk,
bumi dijejak tiga kali,
mata terpejam dan mantram dilafalkan,
toroktok oleolean,
mendadak kesunyian mendatang,
sepi tanpa suara...

Gelegaaaar...geledeg siang hari
bumi bergetar petir dan kilat berbenturan,
gemerlap cahaya menyilaukan,

Oh engkaukah itu dewa ketenaran?
cahayamu menyilaukan,
kedatanganmu mendebarkan,
duh biyang pengharapan,
benarkah itu baju keemasan yang harus kukenakan?

Sim salabim terusannya patpat gulipat
siluman dan jutawan jadi sahabat,
impian disulap jadi kenyataan,
seorang dewi layar perak diciptakan,
pemenuh selera dunia hiburan,
gambar dan namanya menyebar,
bertebaran disetiap majalah dan koran,

Oh terimakasih juragan pengharapan,
mimpi anak perawan telah jadi kenyataan,
kini jadilah dia pesohor baru perfilman,
tak perduli celoteh kawan apalagi lawan,
orang orang sirik, menjuluki dia ratu siluman,
memang benar,
dialah putri cantik si raja setan,
primadona film indonesia,
ratingnya tinggi bukan buatan,

Dan lagi apa salahnya,
semua ini kan cuma tontonan,
tontonan memang bukan tuntunan,
tak perduli seribu bocah kesurupan
bukankah itu memang tugas siluman?

Cingcangkeling panon ulah jadi juling,

Sok atuh..film tuntunan teh tugasna saha?
halimun sunda bertanya.
ayo jawab pertanyaan para hiyang
jika tak mampu jangan geregetan,

Iki salahe sopo?
sing baurekso takon bopo,
kok gampang jadi kagetan,
wah malah ada yang tegang keheranan,
tak ada jawaban, sepi pemikiran,
si pembuat tuntunan lupa daratan,
hilang pekerti haus kekuasaan,
ringkih wibawa tanpa teladan,

Dangdangtut anak siluman rebutan kentut,
bumi menghilang ditelan ular kadut,

Jangan salahkan siluman,
jika berdiri sambil metentheng,
mana dadaku, ini susuku,
siluman mengulang lagi tantangan,
mana nyali dan kuasamu
tak ada kata sambutan,
membisu terjerat sepi,
si pembuat tuntunan membisu,
berdiri kaku di kejauhan,
makin lama makin mengabur,
menghilang,
menghablur...

Duh Gusti amukti jagad,
jangan biarkan kami hilang derajat.


jakarta, 16 januari 2012







» » TUMBUH DALAM FILM - Puisi Jakob Sumardjo » Lomba Film Pendek Bandung 2015 - Filmisasi Cerpen Sunda » WAJAH-WAJAH DI LAYAR PUTIH - Puisi Eddy D. Iskandar » CUKUP SUDAH - Puisi Armantono » DENDANG PERAWAN - Puisi Slamet Rahardjo Djarot » MASIH BAYANGAN? - Puisi N. Riantiarno
Dhipa Galuh Purba Dhipa Galuh Purba Author
Title: DENDANG PERAWAN - Puisi Slamet Rahardjo Djarot
Author: Dhipa Galuh Purba
Rating 5 of 5 Des:
Slamet Rahardjo Djarot DENDANG PERAWAN Lingsir wengi dendang perawan malam hari, wing semriwing, semerbak wangi dupa setanggi...

MASIH BAYANGAN? - Puisi N. Riantiarno

N. Riantiarno

MASIH  BAYANGAN?


semula yang mengemuka hanyalah sesosok benda
layar putih segiempat, kosong, seolah tanpa makna
namun saat gambar-gambar meruang jadi kehidupan
yang kosong mengisi, lalu batas persegi tak ada lagi
bayangan bergerak; ada tawa, airmata, juga cinta
suasana pun hadir, keindahan yang seakan nyata

 imaji-imaji menggigit, imajinasi terproyeksi
ekspresi emosi, waktu yang diperangkap, eksplorasi
ribuan lakon yang digali dari peristiwa-peristiwa
jadi drama, apa pun yang direkam kemudian menyejarah
kepadanya kita bisa mempertimbangkan, juga berkaca
alangkah subtil masa lalu, terasa mustahil masa kini

masa depan dikhayal pula lewat banyak dugaan
bahkan arus dalam kemanusiaan dan semesta alam
jagat makro dan mikro, yang nampak atau disembunyikan
segalanya mungkin, waktu kemudian membuktikan
segala mempesona ketika yang tiada menjadi ada
dan mereka yang tak bernyawa mampu berbicara

berawal dari inspirasi
sumbernya bulan dan matahari
kemanusiaan jadi tujuan
kesenian adalah jalan
lalu eksperimentasi
kerja tak kenal henti
tapi setelah keberhasilan diraih
perubahan bisa terjadi
seni menjadi komoditi
menyusul pula politik

entah mengapa tega
mengotori layar putih
dengan kumpulan jargon
slogan-slogan hampa
janji-janji belaka
lalu belenggu aturan
sensor mencekik pula
pembinaan yang diniatkan
jadi hantu pembinasaan
politik kekuasaan

ada nyanyian berbunyi; ‘citra, engkaulah bayangan’
jadi itulah peranmu; ‘bayangan yang dinyanyikan’
nasib barangkali telah mematokmu cuma jadi bayangan
wujud yang berdiri di depan, bukanlah dirimu itu
kau dibikin ada dan dimuliakan saat dibutuhkan
tapi segera dicampakkan begitu tujuan sudah di tangan

sebagai bayangan kau hadir di saat senja yang temaram
sebagai bayangan kau hanyalah sosok yang terlanjur hitam
lebih jelaslah wujud didepanmu dan memetik keuntungan
aku trenyuh menatapmu, mengingat nasibmu yang rapuh
aku hanya bisa prihatin karena tak mampu menolongmu
seharusnya kau bukan lagi bayangan tapi sudah mewujud

semula yang mengemuka hanyalah sesosok benda
layar putih segiempat, kosong, seolah tanpa makna
namun saat gambar-gambar meruang jadi kehidupan
yang kosong mengisi, lalu batas persegi tak ada lagi
bayangan bergerak; ada tawa, airmata, juga cinta
suasana pun hadir, keindahan yang seakan nyata

o, enerji tak berbatas itu
kini dibanduli batu-batu
sesak nafasmu, aku tahu
jerat erat mengikat tubuh
langkah-langkah pun diatur
berdiri goyah, lari tak mampu
tapi bisikmu masih kudengar;
‘hari ini, dulu, aku dilahirkan,
hari ini, dulu, aku dihadirkan,
hari ini, dulu, aku mengada’

suara bisikan, meski terdengar lembut
rasanya masih sanggup menusuk kalbu
kini, senjamu seharusnya jadi fajarmu


Jakarta, Januari 2012.




foto: www.tempo.co
» » TUMBUH DALAM FILM - Puisi Jakob Sumardjo » Lomba Film Pendek Bandung 2015 - Filmisasi Cerpen Sunda » WAJAH-WAJAH DI LAYAR PUTIH - Puisi Eddy D. Iskandar » CUKUP SUDAH - Puisi Armantono » DENDANG PERAWAN - Puisi Slamet Rahardjo Djarot » MASIH BAYANGAN? - Puisi N. Riantiarno
Dhipa Galuh Purba Dhipa Galuh Purba Author
Title: MASIH BAYANGAN? - Puisi N. Riantiarno
Author: Dhipa Galuh Purba
Rating 5 of 5 Des:
N. Riantiarno MASIH  BAYANGAN? semula yang mengemuka hanyalah sesosok benda layar putih segiempat, kosong, seolah tanpa makna ...
×