Sabtu, September 20, 2014

Festival Film Bandung ke-27 Tahun 2014

Arsip Majalah FFB 
Dimuat Pada Majalah FFB - September 2014 (27 Th FFB)

Oleh :
Edison Nainggolan, Endah Asih, Yus R. Ismail, Ardityo Danoesoebroto














1. Pengantar

Tahun ini merupakan tahun ketiga Forum Film Bandung bekerja sama dengan SCTV dalam pelaksanaan rangkaian acara sampai dengan Malam Anugrah Festival Film Bandung 2014, akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 13 September 2014, yang akan disiarkan secara langsung (live) dari Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat Jln. Dipatiukur No. 48 Bandung.
Penyelenggaraan Festival Film Bandung 2014 ini merupakan penyelenggaraan yang ke-27 sejak didirikan pada tahun 1987 yang lalu. Di satu sisi, hal ini merupakan prestasi tersendiri, karena hanya FFB-lah festival film di tanah air yang bisa bertahan dengan penyelenggaraan 27 kali berturut-turut tanpa ada satu tahun pun yang terlewatkan. Di sisi lain, ini juga merupakan tantangan agar sebagai suatu festival yang mapan, dapat memberikan kontribusinya bagi kemajuan perfilman Indonesia. Perihal kontribusi ini tentu Forum Film Bandung tidak dapat mengukurnya sendiri, tetapi diperlukan bantuan dari berbagai pihak, sehingga diperoleh penilaian yang lebih objektif, apakah dari pihak pemangku kepentingan perfilman nasional maupun pers.
Forum Film Bandung bisa mencapai bentuknya yang sekarang ini berkat terjalinnya rasa kekeluargaan yang tinggi di kalangan para pengurusnya, di samping perhatian, bantuan, dan dukungan banyak pihak, terutama Bapak Gubernur, Bapak Wakil Gubernur, beserta jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Persatuan Produser Film Indonesia beserta para anggotanya, rekan-rekan pers baik media cetak maupun elektronik, serta stasiun televisi SCTV.     

2. Perjalanan Festival Film Bandung

FFB lahir tahun 1987 dari niat sekelompok warga Bandung dengan berbagai latar belakang, yakni budayawan, seniman, akademisi, wartawan, dan praktisi yang sering menonton film-film baru di preview room Kharisma Jabar Film. Kepedulian terhadap perfilman di Indonesia mendorong seringnya dilakukan diskusi atas film yang ditonton. Kemudahan untuk menyaksikan film-film baru, rangsangan untuk menganalisis film, keprihatinan atas apresiasi, dan kebutuhan untuk bertemu dan bertukar pikiran secara tetap, menimbulkan gagasan untuk mewujudkan suatu kesimpulan atas film-film yang disaksikan bersama, akhirnya didirikanlah Festival Film Bandung.
Para pendiri FFB adalah Ir. H. Chand Parwez Servia (kini Ketua Dewan Pembina FFB), H. Eddy D. Iskandar (kini Ketua Umum FFB),  Dr. Edison Nainggolan (kini Ketua merangkap Ketua Bidang Pengamatan FFB), Prof. Dr. Sutardjo A. Wiramihardja. Prof. Drs. Saini KM, H. Us Tiarsa R., Prof. Drs. Jakob Sumardjo, Hernawan, S.H., Yayat Hendayana, Drs. Sunaryo, Dra. Sofia F. Mansoor, serta beberapa orang yang telah tiada (almarhum): Suyatna Anirun, Hilman Riphansa, H. Bram M. Darmaprawira, Prof. Sudjoko, M.A., Ph.D., dan Duduh Durahman.
Untuk pertama kalinya Film dan Narafilm Terpuji diumumkan dalam sebuah konferensi pers pada tanggal 31 Maret 1988, bertempat di Rumah Makan Babakan Siliwangi Bandung.
          Pada awalnya, FFB didirikan bernama Festival Film Bandung, namun Menteri Penerangan pada waktu itu menyatakan bahwa satu-satunya festival film di Indonesia adalah Festival Film Indonesia (FFI), sehingga FFB tidak boleh melakukan kegiatan dengan menggunakan istilah festival, dan dihimbau untuk berganti nama. Menanggapi larangan tersebut, atas saran Prof. Sudjoko, M.A., Ph.D. (Alm.), dalam rapat FFB, diputuskanlah penggunaan nama “Forum Film Bandung” dengan singkatan tetap FFB.
Dalam perkembangannya, FFB mampu bertahan dan teruji konsistensinya melakukan pengamatan serta mengumumkan Film dan Narafilm Terpuji secara berkelanjutan tanpa satu tahun pun absen, dan tumbuh menjadi lembaga yang kredibel. Sehingga tidaklah berlebihan bila oleh banyak pihak terutama para pemangku kepentingan (stake holders) perfilman nasional, FFB dianggap sebagai “barometer” prestasi insan perfilman nasional. Barangkali, itulah yang mendorong beberapa tokoh perfilman nasional dalam berbagai kesempatan, dan secara formal disampaikan oleh mantan Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) pada waktu itu, Slamet Rahardjo (mewakili insan perfilman nasional) pada Upacara Pengumuman Film dan Narafilm Terpuji FFB tanggal 1 April 2002, “suatu desakan” agar nama Forum Film Bandung mulai tahun 2003 yang akan datang dikembalikan kepada nama awal berdirinya, yakni Festival Film Bandung. Dengan demikian FFB sebagai kegiatan berskala nasional yang setiap tahun diadakan di Bandung memiliki gaung yang lebih besar. Desakan tersebut muncul pada saat Festival Film Indonesia (FFI) dan Festival Sinetron Indonesia (FSI) telah lama terhenti kegiatannya. Menanggapi desakan tersebut, melalui rapat FFB diputuskanlah bahwa Forum Film Bandung menyelenggarakan Festival Film Bandung setiap tahun. Jadi, lembaga penyelenggaranya Forum Film Bandung (FFB) dan kegiatannya Festival Film Bandung (FFB).
Berbeda dengan Festival Film Indonesia (FFI) yang menggunakan istilah Panitia dan Dewan Juri, FFB menggunakan istilah “Regu Pengurus” dan “Regu Pengamat”. Ketua Regu Pengurus FFB pertama adalah Ir. Chand Parwez Servia, sedangkan Ketua Regu Pengamat FFB pertama, Prof. Sudjoko, M.A., Ph.D. , dengan Dewan Penasihat FFB Ateng Wahyudi (Walikota Bandung), dan Bram M. Darmaprawira (Pemimpin Redaksi HU Pikiran Rakyat).

3. Penilaian FFB

Hasil penilaian tertinggi FFB diberi predikat ‘Terpuji’. Istilah ‘Terpuji’, maknanya memiliki pengertian ‘Yang Mendapat Pujian’ atau ‘Yang Patut Dipuji’. Pengertian serupa dalam kata ‘Teratur’, ‘Terpandang’ atau ‘Terhormat’.  Jadi, awalan ‘Ter’ di sini bukan menyatakan keadaan ‘Paling’ atau ‘Sangat’. Dalam memilih film maupun narafilm (unsur-unsur film) yang patut diberi penghargaan ‘Terpuji’, FFB sepakat untuk tidak beranggapan bahwa pilihan ini mutlak yang terbaik. FFB hanya berniat membantu masyarakat meningkatkan pemahaman (appreciation) dan wawasan, agar penonton film Indonesia mempunyai bahan bandingan, baik di antara film nasional maupun dengan film mancanegara. Maka dari itu, film maupun narafilm yang terpilih, yang ‘Terpuji’, boleh jadi ada beberapa (tidak hanya satu).
Dalam menilai, FFB lebih mengutamakan tema (theme), segi maksud, segi gagasan, segi cipta atau reka, segi keaslian (originality), juga segi pembaruan dan kemantapan (consistency). Sementara itu disadari bahwa hal-hal pokok ini dapat didukung atau malah diganggu oleh aneka rinci (suara, gerak, ucapan, pencahayaan, tata gambar, peristiwa dan lain-lain.), artistik (pakaian, kendaraan, perabot dan aneka benda lain), maupun ajang (pasar, taman, kampung, kota).
Hal serupa juga dilakukan dalam mengamati dan menilai sinetron. Pengamatan sinetron dilakukan oleh FFB mulai tahun 1997, dan hasilnya diumumkan tahun 1998. Tema yang menggambarkan situasi dan kondisi manusia Indonesia dengan sifat dan ciri kepribadian serta lingkungan budayanya, yang memberikan inspirasi dan harapan ke arah hidup yang lebih baik, di samping sebagai hiburan sehat, menjadi perhatian penting bagi Regu Pengamat Sinetron FFB. Namun tetap tak mengesampingkan penilaian dramaturgi, penggarapan, dan logika cerita. FFB sepakat bahwa kriteria penilaian diupayakan untuk bisa meluruskan selera penonton, agar bisa menerima sinetron-sinetron yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan landasan pemikiran di atas, FFB mengamati Film (versi Bioskop) dan Sinetron (Film versi Televisi) sebagai berikut:

3.1 Film Umum
·         Film-film yang dinilai adalah yang diputar di bioskop-bioskop di Kota Bandung, yang juga berarti sama dengan film yang beredar di Indonesia.
·         Film dapat dikategorikan berdasarkan jenis: film perang, film drama, film canda, film laga, film lacak, dan lain-lain.
·         Film dikategorikan berdasarkan asal-usul: Film Indonesia (Nasional) dan Film Impor.
·         Digunakan istilah ‘Terpuji’ untuk penghargaan.
·         Dari tiap jenis dan kategori film atau narafilm bisa terpilih lebih dari satu yang ‘Terpuji’.

3.2 Film Indonesia
·         Dinilai Film (sebagai satu keutuhan) dan Narafilm (unsur demi unsur): Sutradara, Pemeran Utama, Pemeran Pembantu, Cerita/Skenario,  Kamera, Editing, Artistik, Musik, dll.
·         Jumlah Film dan Narafilm yang ‘Terpuji’  bisa lebih dari satu.
·         Bila perlu diberikan ‘Penghargaan Khusus’ untuk Film maupun untuk Narafilm.

3.3 Film Asing (Impor)
·         Tiap film dinilai secara umum, bukan unsur demi unsur.
·         Dari tiap negara bisa terpilih lebih dari satu film yang ‘Terpuji’.

3.4 Sinetron
·         Hanya sinetron produksi Indonesia yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi yang dinilai, yang terdiri dari sinetron serial dan sinetron lepas (film televisi).
·         Mulai tahun pengamatan 2013-2014 Sinetron Serial dinilai tiga unsur, yakni: Pemeran Pria, Pemeran Wanita, dan Sinetron Serialnya.
·         Sedangkan Film Televisi dinilai lima unsur, yakni: Pemeran Pria, Pemeran Wanita, Sutradara, Penulis Skenario, dan Film Televisinya.
·         Jumlah Sinetron Serial, Film Televisi, maupun Narafilm (unsur-unsurnya) yang ’Terpuji’  bisa lebih dari satu.
·         Bila perlu diberikan ‘Penghargaan Khusus’ untuk Sinetron maupun untuk Narafilm.

4. Nominasi Festival Film Bandung 2014

Salah satu kegiatan Festival Film Bandung adalah mengumumkan Nominasi Film dan Narafilm Terpuji untuk Film (versi Bioskop) dan Sinetron hasil pengamatan Regu Pengamat FFB selama satu tahun. Biasanya pengamatan (penilaian) terhadap sinetron tidak dibedakan antara sinetron serial dengan sinetron lepas (film  televisi-FTV), namun tahun ini penilaian terhadap keduanya diadakan secara terpisah. Hal ini dilaksanakan sebagai salah satu upaya mendukung berkembangnya film televisi yang ditayangkan di berbagai stasiun televisi di tanah air.
Perlu diketahui bahwa periode pengamatan 2013-2014 berlangsung dari 1 Mei 2013-31 Juli 2014, dengan demikian periode pengamatan 2013-2014 bertambah tiga bulan karena terjadinya penundaan pelaksanaan Puncak Acara Festival Film Bandung 2014 berkaitan dengan pesta demokrasi di tanah air, yakni Pemilu Legislatif serta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. 
Film yang diamati adalah yang diputar di bioskop-bioskop di Kota Bandung, hal ini berarti sama dengan film yang beredar di Indonesia pada tahun pengamatan yang sama. Jumlah film yang beredar di Kota Bandung pada periode pengamatan 2013-2014 adalah 123 judul film nasional dan 160 judul film impor. Dibandingkan periode pengamatan 2012-2013, film nasional yang diamati 94 judul menjadi 123 judul atau bertambah 29 judul, dan film impor dari 140 judul menjadi 160 judul atau bertambah 20 judul. Sementara itu, pada periode pengamatan yang sama, Regu Pengamat Sinetron FFB mengamati 108 episode/judul sinetron dan 360 judul film televisi yang ditayangkan di berbagai stasiun televisi, atau seluruhnya berjumlah 468 judul. Dibandingkan dengan periode pengamatan 2012-2013, jumlah sinetron serial dan sinetron lepas yang diamati berjumlah 335 judul menjadi 468 episode/judul, atau bertambah 153 episode/judul.
Dari pengamatan tersebut dihasilkan 11 (sebelas) nomine untuk Film Nasional versi Bioskop, 3 (tiga) nomine untuk Sinetron Serial, dan 5 (lima) nomine untuk Film Televisi. Sedangkan untuk film impor tidak dinominasikan, tetapi pemenangnya akan langsung diumumkan di puncak acara.

5. Catatan Pengamatan (Penjurian) Festival Film Bandung 2014

5.1 Catatan Film Nasional 2013-2014
Pada periode pengamatan (penjurian) sepanjang Mei 2013 hingga Juli 2014, terdapat 123 film nasional yang diamati. Jumlah ini bertambah 29 judul dibandingkan pengamatan tahun lalu. Dari jumlah tersebut, terlihat adanya penambahan kuantitas film nasional secara signifikan. Selain waktu pengamatan yang lebih panjang tiga bulan daripada pengamatan tahun lalu, jumlah produksi film nasional juga mengalami peningkatan. 
Salah satu hal yang menggembirakan dari jumlah produksi yang meningkat adalah tema yang semakin beragam. Penonton film nasional tak lagi melulu disuguhkan film bertema monoton. Beberapa tema yang meluas pada tahun pengamatan ini meliputi tema sejarah, keluarga, biografi, drama musikal, edukasi, realita pedalaman, olahraga, pengalaman di luar negeri, dan masih banyak lagi. 
Memang, masih ada beberapa tema yang belum tersentuh. Namun, setidaknya, film-film nasional kini sudah berangsur-angsur bergerak ke alur yang lebih realistik. Gaya dan alur ceritanya lebih natural, dan lebih bisa dinikmati tanpa perlu bertele-tele. Gaya penuturan yang seakan membodohi penonton dengan kisah absurd pun agaknya sudah mulai ditinggalkan para sineas, dan tidak menjadi andalan.
Beberapa genre seperti horor, komedi, dan drama cinta masih tetap banyak diminati untuk diproduksi, namun dengan diversifikasi tema yang lebih beragam. Beberapa film drama yang diproduksi juga banyak yang bercerita tentang cinta, namun dengan "bahasa" dan gaya yang lebih kaya. Adaptasi yang berasal dari novel pun masih banyak dilakukan dengan cara yang lebih kreatif. Hasilnya pun cukup membuat penonton tersenyum.
Munculnya film-film yang bertutur soal kritik sosial, meski beberapa di antaranya hanya sebatas satire, juga tak luput dari pengamatan. Di media sosial, film semacam itu juga banyak diperbincangkan jika kritiknya terasa "pas" dan mengena. Di sini, fungsi film tak hanya sebagai bentuk pengekspresian dan pengembangan seni, budaya, dan hiburan, melainkan juga mengajak penonton untuk berkontemplasi. 
Kisah biografi atau tema yang mengisahkan soal perjalanan hidup seseorang atau sekelompok orang, bermunculan sepanjang pengamatan tahun ini. Jika beberapa tahun lalu kisah semacam ini kurang mengena di pasaran, tak demikian halnya dengan saat ini. Dengan penggarapan yang lebih serius  namun natural, kisah semacam ini disuguhkan dan menjadi tontonan yang cukup menghibur. Beberapa di antaranya juga cukup berkualitas.
          Tahun ini, ada lebih banyak film yang mendapatkan apresiasi lebih dari penonton atau pihak yang mengamati perfilman nasional. Hal itu disebabkan misalnya karena konflik atau gaya penuturan film yang terbilang baru, hingga konflik yang terjadi di balik pembuatan film. Catatan kami juga menyebutkan, ada beberapa film yang banyak dibahas terkait dengan pro dan kontranya di kalangan masyarakat. Poin terakhir itu memang bukan hal baru dalam masyarakat kita. Namun tetap saja, dinamikanya terasa menarik diikuti.  
Bila dibandingkan dengan pengamatan tahun lalu, jumlah film horor mengalami sedikit peningkatan. Tahun ini, jumlahnya mencapai 19 judul, atau  bertambah dua judul dibandingkan tahun lalu. Namun, jumlah tersebut masih lebih sedikit dibandingkan pengamatan dua tahun sebelumnya yang  mencapai 24 judul. Apakah tren angka ini berkorelasi secara positif dengan animo penonton, masih perlu dikaji lebih lanjut, karena secara garapan, film horor biasanya lebih mempertimbangkan aspek komersial (tuntutan pasar) daripada tuntutan kekaryaan. 
Yang pasti, sineas terlihat lebih menyadari bahwa membuat film harus lebih mempertimbangkan aspek-aspek lain di luar tuntutan komersial, terutama  dalam hal "mendidik" dan "memperkaya" wawasan masyarakat dengan kekuatan film itu sendiri. Kekuatan itu selain mempertimbangkan aspek  keindahan bahasa gambar (artistik, setting, kamera, dan lain-lain), juga secara tematis "berbicara" banyak kepada penonton. 
         Pada akhirnya, banyak film nasional berkualitas yang telah dihasilkan. Hal tersebut membuat para pengamat (juri) sering harus berdebat dalam setiap pertemuan untuk memilih yang "terpuji" di antara film-film yang layak dipuji. Perdebatan kami akhirnya mengerucut pada beberapa film, dengan berbagai pertimbangan, dan tentunya dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Semoga dengan pengamatan FFB ini, minat masyarakat  untuk mengapresiasi karya film dapat tumbuh semakin baik.

5.2 Catatan Sinetron 2013-2014
Melihat perkembangan sinetron tahun pengamatan 2013/2014, ada beberapa hasil diskusi yang perlu dicatat. Pertama tentu saja adalah perkembangan FTV (film televisi) yang semakin mapan. Mapan dalam arti “sinetronmaker” sepertinya mendapat tempat khusus dalam FTV.
Sudah beberapa tahun pengamatan sinetron (khususnya serial) kami berpendapat bahwa semakin panjang episode sinetron semakin terbuka untuk tidak fokus. Maksudnya, tidak saja cerita bisa melantur ke mana-mana, tapi juga pemeran bisa berubah. Pemeran utama bisa berkurang perannya, pemeran pendukung bisa menjadi fokus cerita alias menjadi pemeran utama.
Kelemahan seperti itu relatif bisa dihindari dalam FTV. FTV mempunyai peluang untuk memberi “sentuhan” yang lebih sebagai tontonan televisi. Dalam beberapa kasus, tidak sedikit FTV sebenarnya lebih layak tonton dibanding film bioskop.
Karena itu pembicaraan untuk memberi pengamatan yang lebih mendalam terhadap FTV semakin sering terungkap. Akhirnya kami memutuskan untuk menambah beberapa unsur yang dipujikan. Awalnya kami hanya memilih FTV terpuji. Tahun ini unsur Pemeran Utama, Skenario, dan Sutradara diamati dan diberi nilai terpuji untuk yang layak.
Keputusan seperti itu tentu saja tidak gampang dilakukan. Karena penambahan unsur di FTV itu membawa peluang kepada dikuranginya pengamatan unsur dalam sinetron serial. Tapi dengan pertimbangan di atas tadi, tahun ini kami memutuskan untuk memberi peluang kepada FTV untuk lebih berkembang. Dengan begitu, semoga saja perkembangan FTV lebih terbuka lagi. Para pembuat FTV lebih terpacu dan lebih percaya diri bahwa FTV mempunyai peluang yang tidak kalah sebenarnya dengan film bioskop.
Tentu saja tidak bisa juga kita membandingkan FTV dengan film bioskop. Karena tujuan pencapaian dan misalnya pendanaan juga berbeda budget-nya. Hanya saja sejak jauh hari kita percaya bahwa kreativitas tidak berhubungan dengan budget. Ketika film-film Hollywood bermegah-megah dengan film berbiaya besar, Iran mencuri perhatian dengan film sederhana yang budget-nya minim.
FTV Manusia Gerobak, 3 Butir Korma, Kontrak Cinta, misalnya. FTV itu mencuri perhatian karena temanya yang sederhana, tapi dalam penyampaiannya memberi spirit kemanusiaan yang terasa sentuhannya. Tema juga adalah masalah keseharian yang biasa kita temui, malah sangat dekat dengan dunia kita.
Ada orang bijak yang bilang, kita ini (Indonesia) adalah wadah ide atau gagasan yang tidak akan ada habisnya. Setiap hari berbagai masalah muncul menjadi perhatian publik. Masalah hukum, sosial, kriminalitas, ekonomi, berseliweran di televisi dan media cetak. FTV mencuri perhatian dalam pengamatan karena dalam beberapa tahun ini lebih banyak mengadopsi masalah masyarakat.
Dalam penggarapan, masalah sosial itu menjadi cerita yang menarik. FTV Kontrak Cinta misalnya, fenomena kawin kontrak dikembangkan menjadi cerita yang banyak intriknya. Cerita, karakter tokoh, artistik, lebih leluasa menjadikan FTV lebih menyentuh.
Begitulah catatan sinetron tahun ini. Semoga yang kami pilih, diskusikan, dan putuskan, memberikan spirit kepada pembuat sinetron dan FTV semakin terpacu untuk memberi yang terbaik.  
5.3 Catatan Film Impor 2013-2014

6. Rangkaian Acara Festival Film Bandung 2014

          Beberapa kegiatan Festival Film Bandung ke-27 Tahun 2014 sampai dengan puncak acara yakni Malam Anugerah Festival Film Bandung 2014 pada hari Sabtu, 13 September 2014, di antaranya:

6.1 Seminar “Wiranatakusumah V Perintis Film Cerita Pertama Indonesia”
          Seminar “Wiranatakusumah V Perintis Film Cerita Pertama Indonesia” dilaksanakan     pada hari Rabu, 11 Desember 2013, bertempat di Aula Pascasarjana Universitas Pasundan, Jln. Sumatera No. 41 Bandung. Diisi oleh narasumber R.H. Otong Toyibin Wiranatakusumah (putra R.A.A. Wiranatakusumah V), Armantono (Dekan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta), dan H. Eddy D. Iskandar (Novelis dan wartawan). Moderator H. Abdullah Mustappa (wartawan senior, budayawan), dan Tim Perumus Dr. Edison Nainggolan (FFB), Hj. Aam Amilia (wartawan senior, novelis), dan Unay Sunardi (Paguyuban Pasundan).
          Hadir dalam seminar tersebut Bpk Deddy Mizwar Wakil Gubernur Jawa Barat, tokoh Jawa Barat, seniman, budayawan,  mahasiswa, pelajar, dan wartawan.

6.2 Diskusi Film Nasional “Manusia Setengah Salmon”
          Diskusi Film Nasional “Manusia Setengah Salmon” dilaksanakan bekerja sama dengan Panitia Pesta Buku Bandung, pada hari Senin, 3 Maret 2014, bertempat di Landmark Building Jl. Braga Bandung. Menghadirkan narasumber Eriska Reinisa (Artis), Mosidik (Artis), Ir. H. Chand Parwez Servia (Produser), dan H. Eddy D. Iskandar (FFB), moderator Dhipa Galuh Purba, S.Sos., M.Ag.
          Peserta diskusi ini terdiri dari          Pelajar SMK, SMA, Mahasiswa, Seniman, dan wartawan.

6.3 Pemutaran Film Nasional Klasik
          Pemutaran film nasional klasik dilaksanakan pada Minggu ketiga setiap hari Rabu, bertempat di Aula FFB Jln. Jend. Sudirman 560 Bandung. Peserta terdiri dari komunitas film di Bandung dan Cimahi, Pelajar SMP dan SMA, Mahasiswa, Wartawan, Seniman. Pemutaran film klasik ini telah dilaksanakan beberapa kali dengan memutar film-film karya Usmar Ismail, di antaranya “Darah dan Do’a”, “Lewat Jam Malam”, dll.
          Sehabis pemutran film dilakukan diskusi dengan para narasumber yang bertugas secara bergantian, di antaranya H. Eddy D. Iskandar (Novelis, Wartawan, Penulis Skenario Film), Aam Amilia (Sastrawati, Novelis, Wartawati Senior), Prof.Dr. Sutardjo A. Wiramihardja (Psikolog, Budayawan, Penggiat Teater), Prof. Jakob Sumardjo (Budayawan, Kolumnis, Sastrawan), dan para anggota Regu Pengamat FFB lainnya. Moderator sekaligus koordinator pelaksana adalah Agus Safari (FFB).

6.4 Pengumunan Nominasi Festival Film Bandung ke-27 Tahun 2014
         Pengumunan Nominasi Festival Film Bandung ke-27 Tahun 2014 dilaksanakan di Padepokan Seni Mayang Sunda Jl. Peta No. 209 Bandung pada tanggal 12 Agustus 2014, pukul 13.00 WIB s.d. 16.00 WIB.
         Para pembaca nominasi FFB 2014 terdiri dari para artis, di antaranya Gilbert Marciano, Karina Nadila, The Changchuters, Rika Rafika, Rya Fitria KDI, Saraswati, Komunitas Film Bandung, bersama para anggota FFB, dengan MC Daan Aria dan Meyda Sefira. Selain pengumuman nominasi, acara ini juga diselingi dengan hiburan.
         Hadir dalam acara tersebut Wakil Gubernur Jawa Barat H. Deddy Mizwar, Ketua dan Anggota KPID Jawa Barat Neneng Athiatul Faiziyah, S.Ag., M.Ikom. dan Abdul Holik, M.A.,  Ketua Dewan Pembina FFB Ir. H. Chand Parwez Servia, pejabat dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, pimpinan Padepokan Seni Mayang Sunda Ibu Sri Susiagawati, seniman, budayawan,  mahasiswa, pelajar, wartawan, serta para anggota Forum Film Bandung.

6.5 Malam Anugerah Festival Film Bandung ke-27 Tahun 2014
          Malam Anugerah Festival Film Bandung ke-27 Tahun 2014         akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 13 September 2014 bertempat di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat Jl. Dipatiukur Nomor 48 Bandung.
          Acara puncak ini akan diisi dengan acara off air berupa sambutan-sambutan, penyerahan penghargaan, hiburan, dan lain-lain. Selanjutnya, pada pukul 21.00 WIB akan dilaksanakan Pengumuman Film dan Narafilm Terpuji, baik untuk kategori Film, Sinetron Serial, maupun Film Televisi (sinetron Lepas), dengan diselingi oleh berbagai hiburan. Acara ini akan disiarkan secara langsung oleh SCTV secara nasional ke seluruh Indonesia.
          Malam nugerah ini akan dihadiri oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, bersama Unsur Pimpinan Daerah Jawa Barat, Walikota Bandung, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, para artis, sineas, produser film, tokoh perfilman, mahasiswa, pelajar, seniman, budayawan, wartawan media cetak maupun elektronik, dan para undangan lainnya.***
,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar