Lifetime Achievement Khikmawan Santosa

Saat menjejakkan kaki di halaman rumah yang asri, Farah Muzdalifah istri dari almarhum Khikmawan Santosa sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Sambil tersenyum ia menyambut saya dan Arya. “Dari Bandung ya?” Sapanya. Teh manis dan sepiring pisang goreng pun disajikan untuk menemani obrolan sore itu. 

“Dari waktu masih kuliah di IKJ, Kiki (panggilan untuk almarhum) memang sudah ngambil jurusan penata suara,” ungkap wanita berhijab ini bercerita tentang suaminya. Sejak menikah dengan Kiki, Farah tinggal bersama dua orang putrinya Nara Bellamy Santosa (11 tahun) dan Halwa Naomi Santosa (8) di sebuah komplek perumahan di Pamulang, Tangerang Selatan. 

Sebagai istri dari pekerja seni yang sangat sibuk, Farah memaklumi aktivitas suaminya ini. “Saat kembali ke rumah, Kiki tidak pernah membawa pekerjaan ke rumah. Kalau pun dalam seminggu sibuk sekali, hari minggu jadi hari khusus untuk keluarga,” lanjutnya. 

Sosok yang Rajin

Jordana Alfarisyi, adik ipar sekaligus timya, menceritakan beberapa proyek film yang dikerjakan bersama. Selain Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak, Modul Anomali juga memberikan tantangan tersendiri sehingga membutuhkan riset yang lama dan sulit dilakukan. “Untuk film Marlina ini kami membuat atmosferik sound yang detil dan melakukan riset suara-suara dan ambiens khas Sumba dan membutuhkan waktu sampai 6 bulan,” ujarnya. 

“Kiki itu rajin ngerekam suara apa aja. Bukan cuma waktu jalan keluar, ada suara burung di rumah pun direkamnya. Pokoknya ke mana aja dia pergi, selalu bawat alat. Bukan hanya dia, anak-anak di studio juga dibekali satu-satu alat buat ngerekam. Sampai sekarang suara-suara yang sudah direkam kami simpan di komputer studio yang ukurannya puluhan tera,” tambah Fara dan Jordan. Saking kreatifnya, bisa dibilang tidak ada properti yang spesial untuk menghasilkan efek suara. 

Ide Nekat

Kecintaannya pada dunia tata suara membuat Kiki mempunyai ide gila untuk mendirikan Studio Crossfade Audio Post sebagai sarananya untuk mencurahkan ide-idenya bersama timnya. Seperti yang kita saksikan, sepanjang karirnya sebagai penata suara sejak tahun 2004, sudah lebih dari 400 film melibatkan dirinya sebagai penata suara. 

Mohamad Ikhsan Sungkar teman satu kampus, sekaligus rekan almarhum di Crossfade menceritakan bagaimana nekatnya Kiki mendirikan studio yang kini mempunyai belasan orang dalam tim penata suara. 

“Dulu tahun 2009-2010, kalau mau bikin finalized suara, kami harus pergi ke Bangkok. Saat 2005, film masih belum seperti sekarang, studio tempatnya bekerja tutup. Kiki sempat pesimis saat awal mendirikan Crossfade. Tapi, Kiki tuh orangnya berani. Padahal waktu itu alat masih susah, modal juga mahal. Tapi karena kecintaannya terhadap profesi tata suara, Kiki tetap jalan untuk membuat studio sendiri,” kata Ikhsan yang akrab dipanggil Doyok. 

“Idenya membuat studio bukan hanya untuk memfasilitasi pekerjaannya saja, tapi juga agar ada ada ruang yang menaungi teman-teman bekerja untuk mixing. Keterbatasan bahan baku dan investasi sempat membuat beliau pesimis. Namun keberadaan software sekarang sudah lebih memudahkan. Kalau tidak cinta profesi dan percaya, ga akan jalan. Kalau passionnya udah ke situ, apa pun yang akan dijalani, ya lurus-lurus saja. Saya sih senang dengan adanya ruang seperti Crossfade ini. Tapi kalau ada di posisinya, ya, bakal mikir dua kali,” Imbuhnya. 

Selain mewadahi para pekerja seni untuk melakukan mixing suara, saat ini Crossfade juga terbuka untuk ada anak-anak kuliah yang mau magang. Bukan hanya mendirikan studio, Kiki yang pernah bekerja di Cinevisi, Kiki juga mengusahakan agar studionya dulu (cikal bakal studio Crossfade) mendapatkan lisensi Dolby. Khusus untuk Film Gundala, film besutannya Joko Anwar Kiki menggunakan Dolby Atmos untuk mixing suara. Gundala juga merupakan film Indonesia pertama yang menggunakan teknologi ini. 

Langganan Festival

Tak banyak yang tahu kalau keberadaan penata suara mempunyai peran penting dalam proses produksi film. Akan tetapi bagi para penggemar film dan para sineas, man behind the scene seperti penata suara ini menjadikan sentuhan akhir dari sebuah film menjadi terasa sempurna. Khikmawan Santosa atau Kiki adalah salah satunya. 


Saking luar biasanya skill yang dimilikinya, peraih penghargaan penata suara terpuji tahun 2013 lewat Film Sang Martir ini, nama Kiki nyaris selalu muncul dalam credit title di akhir film yang wara-wiri di layar bioskop di Indonesia. Selain Film Sang Martir yang meraih penghargaan sebagai penata suara terpuji pada ajang Festival Film Bandung 2013, Kiki kerap menjadi langganan di berbagai ajang festival Film. Diantaranya Film Sang Kiai (Piala Citra 2013) dan A Copy of Mind (Piala Citra 2015), Film Rudy Habibie (Usmar Ismail Award, 2017), Pengabdi Setan (Piala Citra 2017) dan Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (Piala Citra 2018 dan nominasi di Asian Ward). 

Legacy dari Almarhum

Selain film-film layar lebar, Kiki yang juga punya hobi touring serta main gitar dan drum juga ternyata pernah mengerjakan proyek sebagai penata suara untuk beberapa iklan dan web series. Tidak banyak, hanya beberapa saja, karena khawatir mengganggu jadwal pengerjaan mixing suara. Kiki yang menggemari film ‘action’ pernah juga terlibat dalam proyek mengerjakan suara untuk film kelas B di industri Hollywood. 

Di tengah kesibukannya menggarap proyek film semasa hidupnya, Kiki meninggalkan ‘legacy’ yang sangat berkesan berupa manajemennya yang professional sebagai panutan bagi tim. Kedisplinan almarhum dalam mengatur mengatur waktu juga membuatnya salah satu produser film, Chand Parwez yang akrab memanggi Kiki dengan ‘Pak Bro’ harus mengalah untuk mengatur jadwal waktu mendiskusikan poyek yang akan dikerjakan. 

“Sampai sekarang masih terasa kalau teamwork di Crossfade lebih rapi dan terstruktur dalam arahan pembagian jod desk. Orangnya bisa dikatakan ambisius. Keberanian dan rasa percaya dirinya lantas menular kepada mahasiswa dan teman-teman seprofesi,” papar Doyok. 


Khikmawan Santosa meninggal dunia pada 11 Mei 2015 dalam sebuah kecelakaan. Kepergian almarhum bukan hanya meninggalkan kenangan bagi timnya akan tetapi juga bagi dunia perfilman Indonesia. Selamat Jalan Kiki. Terimakasih untuk karya-karya terbaiknya. 


Penulis
Efi Fitriyyah


Posting Komentar

0 Komentar