Quo Vadis Film Anak di Indonesia?

Benarkah Indonesia darurat Film Anak karena jumlah film tersebut sangat minim? Berapakah sebenarnya jumlah film dengan tokoh anak yang bukan untuk kategori penonton SU (Semua Umur) dan memang dikhususkan untuk kategori Anak-Anak yang pernah beredar di bioskop? 


Film Petualangan Sherina yang dirilis pada tahun 1999 menjadi pelopor; dan selama rentang tahun 2000-2017, penelusuran data sekunder berdasarkan data Katalog Film Indonesia mencatat ada sekitar 40 lebih judul film cerita panjang dengan kategori SU yang mengangkat tema cerita dan tokoh anak-anak. Dari kesemua judul itu, di antaranya dirilis dalam rentang tahun 2013-2017; dan tidak semua dari film ini berhasil menembus rekor box office sejuta penonton atau berada dalam jajaran 10 film laris tahunan. 

Tabel 1. Beberapa Judul Film Anak-Anak Pada Kategori Semua umur (2013-2017)*

Tiga Sekawan: Iiih... Hantu...??? (2013, Ivan Alvameiz)

Leher Angsa (2013, Ari Sihasale)

Petualangan Lollypop (2013, Dede Ferdinand)

1000 Balon (2013, Penulis Rattul Fitriyah)

 Laskar Semut Merah (2014, Revo)

Princess, Bajak Laut & Alien (2014, Eko Kristianto, Alfani Wiryawan, Rizal Mantovani, Upi)

Laskar Semut Merah (2014, Revo)

Para Pemburu Gajah (2014, Hermawan Rianto)

Suka Suka Super Seven dan Idola Cilik dalam Habis Gelap Menuju Terang (2014, Geri Busye)

Para Pemburu Gajah (2014, Hermawan Rianto)

Bombe (2014, Syahrir Arsyad Dini)

Petualangan Singa Pemberani Magilika (2015, Alvin Chung, Jerry Yu Ching, Nickson Fong)

Petualangan Singa Pemberani Atlantos (2016, Lee Croudy)

Bombe’ Dua: Dumba’-Dumba’ (Syahrir Arsyad Dini, 2016)

Aku Ingin Ibu Pulang (2016, Monty Tiwa)

Petualangan Singa Pemberani Atlantos 2 (2016, Lee Croudy)

Ayu Anak Titipan Surga (2017, Guntoro Sulung)

Iqro: Petualangan Meraih Bintang (2017, Iqbal Alfajri)

Surau dan Silek (2017, Arief Malinmudo)

Jembatan Pensil (2017, Hasto Broto)

Naura & Genk Juara The Movie (2017, Eugene Panji)

Knight Kris (2017, Antonius & William Fajito)

 

 

*Hasil Studi Literatur dari berbagai Sumber (2020)


Tahun 2018, dua film anak-anak dirilis pada musim liburan sekolah, yaitu Kulari ke Pantai dan Koki-Koki Cilik. Tahun 2019, Koki-Koki Cilik 2 kembali dirilis dengan tetap menjadi film yang menawarkan sebuah ruang refleksi alternatif bagi Semua Umur untuk merasakan kegembiraan dan keceriaan anak-anak, serta bagaimana persahabatan khas anak-anak berupaya menyelesaikan persoalan orang dewasa yang jauh lebih kompleks dari yang mereka ketahui. Tahun 2020, dirilis Riki Rhino (2020, Erwin Budiono) kategori film animasi; Buku Harianku (2020, Angling Sagaran). 

Dari sekian banyak judul film tersebut, pertanyaan mendasar yang perlu kembali direnungkan bersama adalah “Apakah yang dimaksud dengan Film Anak?” 

Dengan model naratifnya, film berpotensi mengajarkan anak mengenali emosi dasar mereka dan merasakan empati yang dimunculkan melalui gambar bergerak; termasuk memahami dan mengenali pesan tentang sikap yang disampaikan oleh para tokoh dalam sebuah film. Studi yang dilakukan Cho, Christine LouiseVitale, John Luke (2019) dalam publikasinya yang berjudul Using the Arts to Develop a Pedagogy of Creativity, Innovation, and Risk-Taking (CIRT) pada Journal for Learning Through The Arts (Diakses pada 04/10/2020 dari https://doi.org/10.21977/D915130132), mengungkap bahwa media yang secara sekaligus mengembangkan potensi melihat-dan-mendengar yang dimiliki oleh anak, dapat membangun kemampuan berpikir analitis-kreatif mereka secara logis. 

Model naratif pada film mengandung unsur sinematik yang memadukan visual dan bunyi, merupakan salah satu bentuk medium yang berpotensi menumbuhkan “CIRT”, singkatan dari to enhance Creativity, boost Innovation, dan encourage Risk-Taking. (Cho, Christine LouiseVitale, John Luke, 2019) Itulah sebabnya, jika Film Anak dalam perannya di komunikasi massa dipandang dapat menjadi media hiburan, saluran komunikasi budaya antar-generasi dan sekaligus media pendidikan; maka perlu memeroleh ruang yang lebih khusus—baik dalam pemilihan tema cerita, topik masalah, hingga tokoh yang berperan di dalamnya.

Meski saat ini sudah cukup banyak film anak yang diproduksi, namun para sineas serta masyarakat harus berpikir ulang mengenai definisi Film Anak sendiri. (Ilustrasi Gambar : Azka Zahra Maziya, 2020)


Harapan untuk Film Anak Indonesia (Survey Word Cloud dilakukan secara acak menggunakan Kuesioner Digital dari www.mentimeter.com) (2020)

Ada banyak Film Anak yang bukan film khusus anak, karena isu yang diangkat merupakan permasalahan orang dewasa, dan anak-anak hanya menjadi obyek yang terkena dampaknya. Ini berarti, bisa jadi, film anak bukan sekedar tokoh-tokoh utamanya diperankan oleh anak-anak melainkan bagaimana mengangkat masalah-masalah yang dekat dan krusial dalam dunia anak-anak, sehingga anak-anak bisa bercermin melalui film, serta memeroleh manfaat secara psikologis yang dapat membantu mereka menyelesaikan masalah nyata di kehidupan sehari-hari.***


Penulis:

Oleh : Agustina Kusuma Dewi


Posting Komentar

0 Komentar