Dari Novel Ke Film

Beberapa hari yang lalu, di televisi, saya nonton film 'Sang Penari'. Pembukaannya bagus dan sangat menjanjikan. Meskipun belum ada judul ataupun 'credit tittle', tapi begitu disebutkan nama Srintil, kemudian Rasus, apalagi 'Dukuh Paruk 1953", di jemala pikiran saya langsung meletup, "'Ronggeng Dukuh Paruk'!".

Meskipun ada yang berbeda dari apa yang saya bayangkan dari novel karya Ahmad Tohari itu, seperti misalnya: situasi desa yang dikelilingi pesawahan dan kebun yang hijau segar – pada bayangan saya: kering dan gersang, serta proses kelahiran Srintil sebagai Ronggeng di Dukuh Paruk. Tetapi, secara keseluruhan, situasi kemasarakatan digarap dengan baik, dan teliti. 

Satu adegan 'Sang Penari', sutradara ifa Isfansah (2011)


Tapi, kemudian, saya menyadari bahwa film yang disutradarai oleh Ifa Isfansah ini agak lebih memberatkan pada efek dari 'Peristiwa 30 September 1965', yang justru diceritakan dalam 'Lintang Kemukus Dini Hari' dan 'Jantera Bianglala'. Bahkan lebih gamblang. 

Sehingga, 'Sang Penari', yang dibuat tahun 2011, berbeda dengan 'Darah dan Mahkota Ronggeng', yang dibuat tahun 1983. 'Darah dan Mahkota Ronggeng' dibuat ketika buku yang terbit hanya 'Ronggeng Dukuh Paruk, (tahun 1982 – setelah terbit sebagai cerita bersambung di harian Kompas). 'Lintang Kemukus Dini Hari' terbit tahun 1985 dan 'Jantera Biang Lala' terbit tahun 1986. 

Tidak mengherankan jika 'Darah dan Mahkota Ronggeng', yang disutradarai Yazman Yazid dan dibintangi Enny Beatrice, lebih fokus pada 'perebutan darah dan mahkota'. 

Buat saya, Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk adalah cerita yang menggetarkan, bahwa di Dukuh Paruk, di sebuah masyarakat yang bodoh dan miskin, hal-hal yang irrasional justru dianggap sebagai jalan keluar dari kemacetan hidup. Bayangkan saja, Srintil dibayar untuk melatih calon pengatin laki-laki, agar pada saat berumahtangga, nanti, cepat punya anak. 

Pada 'Sang Penari', ada digambarkan si istri menyerahkan sebuah sandal pada Srintil, setelah sang Ronggeng melakukan 'ritual hubungan seks' dengan si suami, agar mereka punya anak dan kehidupan rumah tangga yang lebih baik. 

"Saya bakar, saya musnahkan des aitu", begitu kata Ahmad Tohari, dengan geram. 

Pada Festival Film Indonesia (FFI) 2011, 'Sang Penari' mendapat penghargaan sebagai Film Terbaik, juga Sutradara Terbaik (Ifa Isfansah), Peran Utama Wanita Terbaik (Prisia Nasution) dan Peran Pembantu Wanita Terbaik (Dewi Irawan). 

Sedang Forum Film Bandung, lewat Festival Film Bandung (FFB), memberikan Penghargaan Terpuji untuk Prisia Nasution (Peran Utama Wanita), Aksan Syuman (Penataan Musik) dan Cesa David Luckmansyah (Editing). Setahun kemudian – 2012. 

Trilogi 'Ronggeng Dukuh Paruk' karya Ahmad Tohari adalah novel yang terkenal dan banyak orang yang mengkoleksinya, bahkan sampai saat ini masih banyak orang membacanya. Berbeda dengan novel 'Kawinnya Juminten' karya Arswendo Atmowiloto, yang kurang dikenal. Padahal novel ini yang menjadi dasar dari film 'Pacar Ketinggalan Kereta'. 

'Kawinnya Juminten' terbit tahun 1985, sedangkan 'Pacar Ketinggalan Kereta' direalease tahun 1989. 

Satu adegan 'Doea Tanda Mata', sutradara Teguh Karya (1985)


'Pacar Ketinggalan Kereta' adalah film tentang kemelut rumah tangga yang disampaikan dengan indah, sehingga FFI 1989 dan FFB 1990, sepakat untuk menobatkannya sebagai Film Terbaik, dengan Sutradara Terbaik (Teguh Karya), Peran Utama Pria Terbaik (Rachmat Hidayat), Penata Artistik Terbaik (Adji Mamat Borneo) dan Penyunting Terbaik (Karsono Hadi). Tetapi tidak sepakat untuk Peran Utama Wanita Terbaik, FFI memberikan untuk Tuti Indra Malaon, sedang FFB untuk Nurul Arifin. 

'Pacar Ketinggalan Kereta' seakan-akan mengatakan bahwa: 'Novel bisa saja menjadi bahan utama sebuah film. Tetapi ketika film itu jadi, maka film itu adalah karya yang mandiri, yang dinilai atas 'keutuhannya sendiri'. 

Tidaklah dapat dipungkiri, hubungan novel dan film adalah hubungan yang erat, sejak dari dulu. Tengok saja ke belakang, kita lihat Usmar Ismail memfilmkan 'Anak Perawan di Sarang Penyamun', novel karya Sutan Takdir Alisyahbana – tahun 1962. Asrul Sani membuat film 'Pagar Kawat Berduri' (1963, novel karya Trisnojoewono) dan 'Salah Asuhan' (1974, novel karya Abdul Moeis). Sjuman djaja (ej, baru – Syumanjaya) membuat film 'Si Doel Anak Betawi' (1973 – novel karya Aman Dt. Mojoindo), Atheis (1974, novel karya Achdiat Kartahadimaja), 'Kabut Sutra Ungu' (1979, novel karya Ike Supomo) dan 'Opera Jakarta' (1985, novel karya Arswendo Atmowiloto). Sekedar menyebutkan beberapa contoh. 

Tetapi juga disadari, novel itu berbeda dengan film, baik dalam bahasa maupun dalam format. Saya sempat nonton 'Sabtu Bersama Bapak' (2016). Film keluarga ini berusaha keras untuk mempertahankan format novel dalam filmnya. Monty Tiwa pun mendapatkan penghargaan sebagai Sutradara Terpuji pada ajang FFB 2016. 

Sementara itu, 'Doea Tanda Mata', film yang dinilai banyak pengamat dan kritikus sebagai film terbaik dari Teguh Karya, justru menampilan format novel pada filmnya. Sayang film yang berkisah tentang cinta, perjuangan, pergerakan politik dan nasionalisme itu kalah bersaing di ajang FFI 1985. Pemenangnya adalah 'Kembang Kertas' karya penyutradaraan Slamet Rahardjo. 

Sebuah festival film, mempunyai 6 kriteria utama, yaitu: film terbaik, sutradara terbaik, pemeran utama (pria dan wanita) terbaik, dan pemeran pendukung (pria dan wanita) terbaik. Dari data FFI, belum pernah film yang berhasil mendapatkan 6 kategori itu secara bersamaan. Rekord terbanyak, meraih penghargaan di 5 kategori, ada 2 film, yaitu: 'Di Balik Kelambu' (FFI 1983, karya penyutradaraan Teguh Karya) dan '3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta' (FFI 2010). 

'3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta', yang dibuat berdasarkan novel 'Da Peci Code' dan 'Rosid dan Della', karya Ben Sohib ini mendapatkan Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Benni Setiawan), Skenario Terbaik (Benni Setiawan), Peran Utama Pria (Reza Rahadian), Peran Utama Wanita (Laura Basuki), Peran Pendukung Pria (Rasyid Karim). 

Fenomena hubungan novel dan film ini terus berkembang. Pada tahuun 2007, sutradara Teddy Soeriaatmaja membuat film 'Badai Pasti Berlalu', yang pada Wikipedia diberi keterangan: "Film ini adalah film daur ulang dari karya Teguh Karya pada tahun 1977 yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Marga T, Badai Pasti Berlalu.". Setelah menggali ingatan dengan keras, saya memang mendapatkan kesan kalau film 2007 ini lebih mengacu pada film 1977, ketimbang novel yang terbit tahun 1974, apalagi cerita bersambung Harian Kompas tahun 1972. 

Kesan tentang film 'Badai Pasti Berlalu' (1997) itu sangat kuat, terutama karena lagu-lagu yang ada dalam film itu masih terus-terusan kita dengar. Orang pun menyatakan lagu-lagu yang diciptakan Eros Jarot itu sebagai lagu abadi yang tak lekang oleh zaman. 

Membuat film dari film yang berdasarkan novel, juga terjadi pada 'Galih dan Ratna' (2017). Sutradara Lucky Kuswandi lebih mengacu ke film 'Gita Cinta dari SMA' (1979), yang disutradarai oleh Arizal, dari pada ke novel 'Gita Cinta Dari SMA' (1976) yang ditulis oleh Eddy D Iskandar. Dan, saya menduga, judul 'Galih dan Ratna' diambil dari judul lagu yang diciptakan Guruh Soekarnoputra, yang menjadi lagu dalam film. 

Lucky Kuswandi cukup berhasil membuat 'Galih dan Ratna' sebagai cerita kontekstual untuk kaum milenial, meskipun sebagai remaja generasi tahun 1980-an, saya kehilangan adegan Ratna membacakan puisi yang ditulis Galih di buku pelajaran, yang dipinjamnya: "Rahasia apa yang diam dalam debaran, saat kau seperti kijang emas yang meloncat-loncat di hadapanku. Kusimpan wujudmu dari sepi ke sepi, ku toreh hatimu dalam pisau naluri. Diam sendu, hagatmu rindu.". 

****** 

Penulis: Ari Nurtanio




Posting Komentar

0 Komentar