BIOSKOP tutup, produser film layar lebar berhenti berproduksi. Film yang sedang tayang, baru beberapa hari, bahkan ada yang sedang mencapai jumlah penonton ratusan ribu, terpaksa ditunda dulu. Itu dampak wabah Covid 19, wabah virus Corona Maka ketika diberlakukan 'Pembatasan Sosial Berskala Besar' (PSBB) untuk mencegah meluasnya wabah, perusahaan film seakan 'mati'. Narafilm, pemain film banyak yang nganggur. Bahkaan saat penerapan PSSB diperlonggar jadi 'new normal' atau 'adaptasi kebiasaan baru' - menurut istilah Gubernur Jabar H. Ridwan Kamil, tak membuat suasana produksi film kembali bergerak. Masalahnya, bioskop tetap tutup. Dan selama bioskop masih tutup, tak akan ada yang mau ambil risiko bikin film.
serial televisi tak terpengaruh wabah

Sebuah ujian paling berat dalam sejarah perjalanan film Indonesia. Pandemi Covid 19, telah membuat produksi film terhenti tanpa ada kepastian kapan akan bergerak lagi, sepanjang Covid 19 masih belum bisa diatasi. 

Berbeda dengan film televisi dan serial televisi. Disaat diberlakukannya PSBB, ada yang berhenti sementara, tapi pihak televisi menayangkan ulang drama seri atau film televisi lama. Dengan melakukan protokol kesehatan yang ketat, dikala diberlakukan new normal, produksi film televisi dan serial televisi kembali berjalan seperti biasa. SinemArt yang sempat menghentikan shooting 'Samudra Cinta', melanjutkannya lagi. Kemudian membuat serial yang baru, antara lain 'Dari Jendela SMP' dan 'Istri Kedua'. Screenplay, menggarap 'Pesanren Rock 'N Dut' disaat yang lain belum berani membuat serial televisi. 
serial televisi tak terpengaruh wabah


RCTI tetap mempertahankan seri 'Dunia Terbalik', 'Tukang Ojeg Pengkolan', 'Preman Pensiun', dan 'Amanah Wali'. Apalagi 'Amanah Wali IV' sering berada di puncak rating. Sedangkan yang lainnya meski sudah tayang beberapa tahun, tetap bertahan karena selalu berada di posisi lima besar atau sepuluh besar rating dan share televisi. 

Yang menarik, bintang Sinemart seperti Ranti Maria, Verel Bramasta, dan Naysila Mardad, juga beberapa lainnya, malah pindah ke MNC Pictures, tampil dalam serial yang tayang di RCTI. Verel yang dibesarkan SinemArt, sebagai pemeran utama serial 'Putri untuk Pangeran' bersama Ranty Maria, Naysila yang paling banyak main untuk produksi SinemArt, tampil dalam drama serial 'Perempuan Pilihan'. Dan mereka main dalam cerita model umumnya drama serial SinemArt. Artinya, kini RCTI punya 'dua wajah'. Serial televisi dengan latar lokal, dan serial televisi model drama percintaan dan keluarga yang sudah umum. 

Persaingan urutan teratas peringkat stasiun televisi Indonesia, memang seakan hanya milik RCTI dan SCTV yang berebut bergantian di posisi 1 dan 2. Tapi Indosiar dengan melodramanya yang “menguras air mata”, kadang melesat ke puncak. Itu semua terutama bertumpu pada kekuatan seri televisi. Setidaknya, yang getol menayangkan serial televisi, sering ada di urutan lima atau sepuluh besar rating televisi, seperti juga MNC dan An-teve. MNC menampilkan beberapa serial TV dengan latar sejarah, seperti “Raden Kean Santang”, dan “Kembang Pajajaran”. 

Secara umum, serial televisi, tidak mengalami perkembangan. Boleh dibilang berjalan di tempat. RCTI yang awalnya menayangkan serial yang berbeda melalui 'Dunia Terbalik' dan 'Preman Pensiun', justru tetap mempertahankannya karena rating dan share-nya dianggap masih berada di sepuluh besar, sehingga tak ada lagi sesuatu yang baru. 

FTV atau film televisi, hampir sama dengan serial televisi, lebih banyak sekedar hiburan belaka, bahkan beberapa diantaranya dengan judul-judul yang panjang dan 'berlebihan'. Sejak kurang produktifnya Citra Sinema, dengan label “Sinema Wajah Indonesia”, dan Sinemart dengan “Movie TV”, film televisi tak ada lagi yang benar-benar menonjol cerita, garapan, dan kualitasnya. 

Ketergantungan akan “rating dan share”, membuat serial televisi seolah mengikuti selera penonton, sepanjang banyak peminatnya, tak akan pernah tamat. Sebaliknya kalau kurang diminati, akan segera dibuat tamat. Munculnya miniseri di SCTV sesungguhnya memberi jalan untuk hadirnya seri yang digarap secara utuh. Tapi ketika miniseri itu bagus rating-nya, sama juga, ada miniseri 2 dan 3. 

Dalam menguasai rating, SinemArt memiliki sederetan artis serial televisi yang banyak 'followers-nya', terutama di kalangan muda remaja. Sedangkan RCTI, memiliki sederetan pemain yang memiliki daya improvisasi kuat, melalui kisah yang mengkhalayak. 

Bagaimanapun juga, jika menelusuri sukses telenovela Latin, opera sabun, drama korea, melodrama India, sesungguhnya umumnya masyarakat penonton kita menyaksikan serial televisi, terutama karena butuh hiburan. Tidak peduli ceritanya makin panjang makin tidak logis, kian mengada-ada, asalkan bisa mempermainkan emosi penonton, akan tetap bertahan di rating yang tinggi. Setidaknya, cerita seperti itulah yang banyak digemari. 

Wajar jika serial televisi, hingga saat ini, meski di tengah wabah, tetap menjadi salah satu andalan dalam persaingan peringkat stasiun televisi. 
serial televisi tak terpengaruh wabah
Tapi beberapa produser PH, kini banyak yang menggarap sendiri serial melalui web series atau membuat 'tv sendiri' melalui media sosial. Begitu juga pengusaha yang biasa menayangkan iklan di televisi. 

Sedangkan film layar lebar, masih tetap termangu menunggu sampai kapan bioskop bisa bebas didatangi penonton.***


Eddy D. Iskandar