Nasib Perfilman Indonesia di Era Pandemi Covid-19


SETELAH sejarah panjang penuh pasang surut, perfilman Indonesia bertumbuh sehat sejak tahun 2016 hingga 2019. Perolehan jumlah penonton naik signifikan, dan jumlah film yang meraih penonton di atas 1 juta semakin banyak. Indikasi ini sejalan bertambahnya layar bioskop dan minat menonton film Indonesia, dibarengi peningkatan market share-nya.


Tahun 2020 diprediksi jadi awal tinggal landas perfilman Indonesia menuju era keemasannya. Diharapkan mencapai penonton 60 juta, dengan market share di atas 40%, dan akan ada 20 film Indonesia berpenonton di atas 1 juta. 

Pandemi Covid-19 karena virus korona memupus impian sejak film Darah & Doa mengawali pembuatan film karya sineas Indonesia 65 tahun lalu di kota Bandung, 30 Maret 1955. 
Kuartal pertama akhir tahun 2020 awal masa-masa sulit, hingga akhirnya bioskop ditutup 23 Maret 2020. Akibatnya banyak film yang sudah menjalankan promosi dan siap edar, batal tayang. Sebagai ilustrasi film Mariposa yang diprediksi akan meraih di atas 1 juta penonton terpaksa ditunda, dengan perolehan penonton 741.496. 

Perfilman Indonesia terpaksa berhenti dari mulai produksi hingga peredarannya di bioskop. Sekitar 35.000 insan perfilman yang tergantung kehidupannya dari perfilman Indonesia mengalami situasi penuh ketidakpastian. 

Lebih dari 6 bulan masyarakat kehilangan kesempatan untuk bersosialisasi dan mendapatkan quality time dengan menonton film di bioskop. Bioskop telah bertumbuh menjadi civic centre. Kegiatan menonton di bioskop sudah jadi habit yang tidak sekedar untuk hiburan tapi jadi ruang diskusi, khususnya film Indonesia yang memberi pencerahan sosial dan budaya dengan muatan kearifan lokal, karena itulah keunggulan film Indonesia dari film asing.

Media lain yang tadinya komplementer perlahan mensubsitusi kebutuhan menonton masyarakat. Tayangan digital semakin marak. Kondisi ini mirip dengan era tahun 1990-an ketika televisi swasta hadir saat bioskop terdampak bajakan, akibat munculnya teknologi video. Ketika itu televisi perlahan mensubsitusi bioskop, hingga akhirnya bioskop menerapkan konsep sinepleks dan hadir di mall, dan tidak jadi kegiatan stand alone. 

Butuh waktu lama hingga bioskop kembali jadi primadona, di antaranya berkat hadirnya teknologi digital yang murah mengganti peredaran film seloluid. Sehingga memungkinkan peredaran film secara serentak sejak akhir 2012.

Persoalan pandemi virus korona ini belum usai, yang pasti kerugiannya bisa dihitung dengan mudah. Apabila ada 60 juta penonton film Indonesia dengan rata-rata tiket Rp.50.000,- maka ada 3 Triliun rupiah bisa diperoleh film Indonesia lewat bioskop. Kenyataannya perolehan penonton di tahun 2020 hingga film beredar 12 Maret baru mencapai 12,2 Juta. Angka yang kurang maksimal karena sejak Maret dampak pandemi virus korona bikin gaduh sosmed dibarengi chaos oleh dagelan politik. Padahal untuk mencapai 15 Juta penonton hingga Maret 2020 dalam situasi normal, relatif mudah.

Persoalan nasib film Indonesia tentunya jadi pertanyaan banyak insan perfilman, khususnya pelaku usaha dan kreatifnya, disamping masyarakat penonton.

Marilah kita membaca sejarah kehadiran televisi swasta sejak 1990. Awalnya televisi swasta dianggap penyelamat, dan menumbuhkan kegiatan di bidang audio visual. Tapi perlahan produk dari televisi swasta dibentuk sesuai kebutuhan rating, karena kiblatnya adalah menarik minat pemasang iklan. 

Padahal merujuk Undang Undang Perfilman No.33 Tahun 2009, “Film adalah karya seni budaya yang merupakan pranata sosial dan media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara dan dapat dipertunjukkan”. Inilah yang jadi dasar idealisme selama ini, bahwa film Indonesia adalah cagar budaya nasional disamping produk kreatif. 

Selanjutnya kita bisa belajar dari kebangkitan perfilman Indonesia di 2016 sampai ditutupnya bioskop. Ketika film Indonesia bersanding dengan film raksasa berbujet besar dari Hollywood di sinepleks, bagaimana film Indonesia bisa mengimbangi atau unggul? Itu semata karena muatan budaya, kedekatan cerita di samping juga bahasa, dan inilah bukti peran film Indonesia sebagai cagar budaya. 


Ketika platform digital menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasarnya dari pasar global mereka, strategi awal tentunya perlu memanfaatkan fanatisme minat masyarakat terhadap film Indonesia. Rahasia sukses platform digital di Indonesia adalah harus menayangkan film dan serial Indonesia, disamping film dan serial asing. Merekapun membeli film Indonesia yang batal tayang di bioskop, dan langsung tayang secara streaming untuk menarik subscriber yang lebih banyak. Hal yang juga terjadi di beberapa negara lain. 

Persoalannya apakah ini akan terus berlanjut atau sementara saja. Secara sederhana kita mengetahui bahwa bioskop memberikan kontribusi penerimaan terbesar untuk film Indonesia, kemudian pasar ke dua ini adalah platform digital/streaming (menggantikan pasar DVD), selanjutnya pasar televisi, dan sisanya pasar lain yang relatif kecil. 

Sebagai manuver awal, platform di posisi pasar ke dua bisa memaksakan membayar pasar utama bioskop, demi pencitraan hingga posisi mereka solid di masyarakat. Kemudian mereka bisa produksi sendiri, sebagaimana televisi mempunyai in-house production. Bedanya pemain digital sekarang ini kelas dunia yang akan memprio-ritaskan pasar global bukan pasar lokal. Apakah di titik ini mereka akan memikirkan pranata sosial dan seni budaya melalui karya bermuatan lokal? 



Jakarta, 16 September 2020 



Chand Parwez

Posting Komentar

0 Komentar