Rabu, Agustus 10, 2016

Press Release : Pengumuman Nominasi Film dan Narafilm Terpuji Festival Film Bandung 2016



Bandung, Museum Sri baduga, 10 Agustus 2016

1.      Pengantar

      Tanpa terasa, tahun ini menjadi penyelenggaraan Festival Film Bandung yang ke-29. Dengan demikian Forum Film Bandung sebagai penyelenggara Festival Film Bandung telah bergiat selama 29 tahun tanpa pernah berhenti dalam perjalanaan panjang usianya.
      Kiprah Forum Film Bandung (FFB) dalam penyelenggaraan Festival Film Bandung selama 29 tahun ini tentu merupakan prestasi dan rekor tersendiri, karena dapat dikatakan menjadi satu-satunya festival film di negeri ini yang aktif tanpa pernah absen satu tahun pun. Prestasi ini dapat tercapai karena terbentuknya rasa kekeluargaan antar sesama anggota FFB. Walaupun ada beberapa anggota maupun pendiri FFB yang telah pergi menghadap sang Khalik, di samping itu ada anggota yang karena kegiatannya terpaksa meninggalkan FFB, namun FFB tetap berjalan karena proses regenerasi dan adanya para anggota baru yang potensial. Di samping itu, tentu prestasi ini dapat tercapai berkat dukungan berbagai pihak, di antara para insan film nasional mulai dari produser, artis, sutradara, dan profesi karyawan film lainnya, komunitas-komunitas film, rekan-rekan pers, baik media cetak maupun elektronik, Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Propinsi Jawa Barat serta Direksi dan segenap jajaran SCTV yang telah memberikan kepercayaan dan menyiarkan secara langsung (live) puncak acara Festival Film Bandung sejak tahun 2012. Tiada yang lebih tinggi dari ucapan terima kasih kepada semua peran dan bantuan semua pihak atas tercapainya 29 tahun FFB.
      Dalam tahun pengamatan 2015-2016 FFB mengamati 115 judul Film Nasional, 36 judul Serial TV, 384 judul FTV (Sinetron Lepas), dan 166 judul Film Impor.

2. Catatan Film Nasional 2015-2016
Dari 115 judul film nasional tahun ini, pengamatannya dibagi menjadi empat periode waktu pengamatan. Setiap tiga bulan sejak 1 Agustus 2015, diadakan diskusi (baik langsung atau dalam grup BBM/WA) dalam rangka mengusulkan film-film yang akan diamati lebih lanjut.
Setiap periode selalu ada film yang disepakati untuk diamati lebih lanjut dan setiap periode tersebut ada yang dipilih untuk diamati lebih lanjut.
Teknologi film saat ini kadang menjadi hambatan dalam beberapa tahun terakhir ini. Karena film yang sudah habis masa tayangnya di bioskop tidak bisa ditonton ulang. Rilis DVD-nya tentu bukan sesuatu yang bisa ditunggu. Dalam hal ini kami sangat berterima kasih kepada PH atau filmmaker yang membantu mempermudah kerja kami selanjutnya dengan mengirimkan file-file khusus yang bisa kami tonton ulang.
Dari setiap periode itu setidaknya ada dua puluh judul lebih yang kemudian kami setujui bersama. Dari dua puluh film inilah kami mengambil calon nomine untuk kategori yang akan diberi penghargaan terpuji.
Dalam tahap ini kadang diskusi menjadi lebih berat ketika ada masukan bahwa film tertentu yang tadinya diusulkan banyak pengamat, ternyata ada kesamaan konsep, atau mungkin “ter-ide-i” oleh film lain dari belahan dunia lain. Diskusi pun kemudian beralih kepada seberapa banyak film itu “ter-ide-i” oleh film sebelumnya.
Keterbatasan pengetahuan kami terhadap proses pembuatan film juga menjadi pertimbangan tersendiri. Karenanya sudah tahun kedua ini kami mengundang pengamat (juri) tamu untuk memberikan pencerahan kepada kami. Tahun 2014 kami mengundang Slamet Raharjo Djarot, Yadi Sugandi, dan Armantono serta tahun 2015  Widyawati, Hanung Bramantyo, dan Yudi Datau. Dari pencerahan  mereka itu tentu saja mendapat sesuatu yang sangat bermanfaat.
Awalnya kami yang tidak begitu perduli dengan box-office atau tidaknya sebuah film, mahal atau murahnya budget sebuah produk, susah tidaknya sebuah tema digarap, setelah mendapat masukan menjadi masukan yang menarik. Semoga saja dengan usaha yang maksimal seperti itu kami menghindari kecacatan dalam mengamati dan memberi masukan serta pencerahan kepada penonton film semuanya.
            Pengamatan Film Nasional yang dilakukan dalam tahun pengamatan FFB 2015/2016 sejak awal Agustus 2015 hingga akhir Juli 2016 atas film nasional yang tayang di seluruh bioskop di Kota Bandung. Dalam hal ini dapat dikatakan terjadi peningkatan peredaran film nasional dibandingkan dengan rata-rata per bulan tahun pengamatan 2014/2015 yang jumlahnya 111 judul film nasional, namun periode pengamatannya diperpanjang hingga 3 bulan karena adanya perubahan jadwal pengumuman Festival Film Bandung.
            Dari catatan jumlah film yang tayang di seluruh bioskop di Kota Bandung, tema film tahun ini cukup beragam mulai dari film bergenre horor, thriller, dan genre film drama religi yang meningkat cukup pesat dalam periode ini, berbagi dengan kategori lain yang juga sedang banyak dibuat yaitu film dengan genre drama remaja dan komedi. Namun film bertema biopik atau sejarah cukup stabil baik dalam jumlah maupun kualitas, dan jangan lupa tema lama yang mulai muncul lagi di periode ini adalah laga atau silat.
            Namun yang menarik untuk diperhatikan adalah berdasarkan data tersebut terlihat pergeseran kecenderungan target penonton film nasional yang mulai mengarah penonton remaja dan film anak-anak.
            Dilihat dari jumlah penonton maka sepanjang tahun 2015 – per tanggal 1 Agustus 2015 (sumber filmindonesia.or.id) daftar jumlah penonton di 10 Besar menyiratkan keberagaman genre namun porsi penonton remaja mendominasi raihan penonton terbanyak. Hal ini cukup berkorelasi dengan daftar nominasi Film Terpuji di FFB tahun 2016 yang secara signifikan menempatkan beberapa film yang memiliki raihan penonton banyak dengan daftar nomine yang artinya secara kualitas di mata FFB mengalami beberapa kemajuan. Namun demikian tidak berarti FFB hanya menyorot pada film-film yang laku, namun banyak juga film-film yang sebenarnya sangat berkualitas tapi sepi penonton.
            Ada yang menarik di periode pengamatan tahun ini, yaitu munculnya tema politik yang terbilang cukup berani di kancah perfilman nasional, serta tema film silat yang juga mewarnai jagat perfilman kita. Selain kedua tema yang cukup berbeda tersebut, tema yang paling menonjol rasanya adalah jalan-jalan keluar negeri, masih meneruskan tren tahun lalu di mana syuting film di luar negeri menjadi magnet baru dalam perfilman nasional. Aktifnya beberapa sineas besar yang terkenal membuat film yang rumit dan tidak mudah dinikmati penonton justru berusaha membuat film-film yang lebih mudah dinikmati penonton awam patut diapresiasi, begitu pun sineas-sineas muda Indonesia mulai menunjukkan taringnya dan membuat film-film yang selain gampang dicerna penonton awam tapi juga kualitas filmnya semakin baik. 
            Kisah biografi atau tema yang mengisahkan soal perjalanan hidup seseorang atau sekelompok orang, bermunculan sepanjang pengamatan tahun ini. Jika beberapa tahun lalu kisah semacam ini kurang mengena di pasaran, tak demikian halnya dengan saat ini. Dengan penggarapan yang lebih serius namun natural, kisah semacam ini disuguhkan dan menjadi tontonan yang cukup menghibur. Beberapa di antaranya juga dinilai cukup berkualitas. 
            FFB mengapresiasi 115 judul Film Nasional yang tayang di seluruh bioskop Kota Bandung pada periode Agustus 2015 hingga Juli 2016 selama satu tahun pengamatan dengan memberikan penilaian kepada hampir 58% dari total 115 judul film nasional sebagai layak untuk diperhatikan lebih detail. Sistem penilaian tahun ini melibatkan lebih banyak pengamat, dari kalangan pemuda/pemudi, yang merupakan anggota aktif dari beberapa komunitas aktif film pendek di kota Bandung, blooger film dan penonton aktif turut memperkaya keberagaman film yang diamati dan dinilai. Akses lebih luas terhadap film-film yang kadang hanya tayang tak lebih dari 7 hari di bioskop-bioskop Kota Bandung perlu dilakukan secara aktif, dan indikator terhadap kualitas film yang diamati menjadi masukan berharga bagi sistem penilaian FFB. Dari 58% total film yang layak diperhatikan lebih detail, hanya setengahnya saja atau lebih-kurang dari 25% dari 115 judul film nasional yang teramati sepanjang periode ini yang mendapat tempat dan ruang dalam diskusi lebih lanjut di FFB dan dari sekitar 30 Judul film tersebut tersaring 15 daftar calon Nomine Film Terpuji beserta beberapa judul film lain yang hanya dinominasikan unsur-unsurnya (narafilmnya).
            Pada akhirnya, banyak film nasional berkualitas yang telah dihasilkan. Hal tersebut membuat para pengamat (juri) sering harus berdebat dalam setiap pertemuan untuk memilih yang "terpuji" di antara film-film yang layak dipuji. Perdebatan kami akhirnya mengerucut pada beberapa film, dengan berbagai pertimbangan, dan tentunya dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Semoga dengan pengamatan FFB ini, minat masyarakat  untuk mengapresiasi karya film dapat tumbuh semakin baik.

3. Catatan Sinetron 2015-2016
Mengamati sinetron (series atau FTV) tidaklah gampang. Sinetron series seringkali berpanjang-panjang sampai ratusan bahkan ada yang mencapai seribu lebih episode. Sinetron seperti itu memberi peluang kepada tumbuhnya karakter baru, atau bahkan fokus dari cerita pun berpindah. Tentu saja hasil menonton kadang tidak sama karena ada yang intensif nonton di awal ada juga yang menonton di episode yang sudah panjang.
Sementara FTV seringkali ada tayangan ulangan dari produksi tahun lalu atau bahkan beberapa tahun yang lalu. Cara pengamatan kami tentu saja termasuk “gerak cepat” karena terbatasnya tenaga dan anggota pengamat. FTV yang menarik dicatat, dibawa ke meja diskusi, dan kemudian dicarikan kopiannya untuk ditonton bersama. Cara seperti itu tentu saja membawa peluang kepada tidak semua pengamat menonton semua sinetron. Ada pengamat yang hanya menonton FTV yang telah direkomendasikan. Karenanya, ketika saat ini nonton sebuah FTV dan merasa tertarik, ternyata FTV itu ulangan. Tentu saja untuk menghindari hal seperti itu sangat perlu kehati-hatian dan kerja yang lebih ulet. Judul yang sudah diusulkan untuk diamati lebih mendalam, kemudian dicek produksinya satu per satu. Sungguh, kerja yang berat, tapi tetap mengasyikkan karena semuanya dilakukan dengan gembira dan kekeluargaan. Tentu saja untuk meringankan kerja, kami tetap berharap para sinetronmaker, stasiun televisi atau PH, mengirimkan karyanya ke sekretariat kami.
Saat ini semakin banyak stasiun televisi yang menayangkan sinetron. TVRI termasuk yang mulai mencari perhatian publik dengan sinetronnya dan FTV. Tentu saja setiap stasiun televisi tidak sama fokusnya. Ada stasiun yang lebih perhatian kepada sinetron humor, ada yang tetap fokus kepada sinetron remaja, dan juga ada yang mencoba untuk mengangkat budaya lokal.
Tentu saja kami memilih setiap stasiun televisi terwakili. Bila kemudian ada stasiun yang diwakili oleh beberapa judul sinetron, itu sudah melalui diskusi yang panjang. Semoga kerja kami ini menjadi masukan bagi semua pihak yang berhubungan dengan sinetron, baik itu para pembuat sinetron, stasiun televisi, PH, sampai pemirsa televisi.

4. Catatan Film Impor Festival Film Bandung 2016
Festival Film Bandung 2016, menilai 166 judul film impor yang beredar di bioskop bandung periode 1 Agustus 2015 – 31 Juli 2016 (Data & Listing Film Impor -> http://goo.gl/1DyjCO), naik 3 judul dari pengamatan tahun sebelumnya. Pengamatan tahun ini yang terdiri dari film-film produksi dari Amerika, Eropa, India, China, Korea dan Norwegia yang di produksi antara tahun 2014 sampai 2016.
Dari 166 judul film yang diamati film produksi lama tahun 2014 berjumlah 10 judul/6 % dan produksi terbesar adalah dari tahun 2015 yaitu 95 judul/57% sedangkan tahun 2016 adalah 61 Judul/37%. Untuk tahun ini produksi lama 2014 hanya 6% sangat kecil, bioskop sudah mulai jeli dalam menaikkan film ke bioskopnya karena dengan mudahnya mendapatkan DVD bajakan atau dengan canggihnya dunia internet film lama sudah sangat mudah diunduh dari internet sehingga penonton tidak tertarik ke bioskop. Adapun kemungkinan yang lain biasanya film-film produksi lama ini adalah merupakan produksi distributor independen bukan dari jaringan distribusi MPAA (Motion Pictures Association of America, seperti Universal Pictures, Marvel Studios, Warner Bros. Pictures, Twentieth Century Fox Film Corporation dan lain sebagainya) sehingga dari pembiayaan pendistribusian untuk diputar di seluruh dunia pun terbatas di negara-negara tertentu dan jika ada keuntungan lebih, baru setelah itu akan masuk ke negara lain lagi sehingga tidak serentak di seluruh dunia.

Jika Berdasarkan pengelompokan kategori umur (kami menggunakan pengelompokan rating luar negeri disertai equivalensi rating dalam negeri), film rating PG (Semua Umur) ada 23 judul/14% adalah porsi paling kecil, lalu berikutnya adalah film dengan rating R (Dewasa/Diatas 17 dan 21 Tahun) ada 68 Judul/41% dan porsi terbesar adalah rating PG-13 (Dibawah 13 tahun/Remaja) ada 75 judul/45%. Menurut hasil pengamatan kami di bioskop banyak penonton-penonton sudah mulai "jeli" dalam memilih film seperti contoh jika membawa anak-anak ke bioskop film dengan rating PG/Semua Umur menjadi pilihan. Film-film semua umur diantaranya genre-genre Animasi, contohnya The Angry Birds Movie, Ice Age: Collision Course atau Snoopy & Charlie Brown, atau Film-film dengan cerita yang sederhana tanpa unsur narkoba, kata-kata kotor, ketelanjangan dan kekerasan, contohnya BoyChoir a.k.a Hear My Song atau Pelé: Birth of a Legend.  

Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa kami membagi genre film menjadi 10 jenis genre, dengan jumlah dan persentase masing-masing untuk pengamatan 5 tahun terakhir.

Tabel 1. Pengelompokan Film Berdasarkan Genre 5 Tahun Terakhir
No.
Jenis Genre
Jumlah Judul Film / Persentase
FFB 2016
FFB 2015
FFB 2014
FFB 2013
FFB 2012
1
Genre Laga
41 / 25 %
30 / 18 %
42 / 26 %
38 / 28 %
29 / 26 %
2
Genre Drama
30 / 18 %
24 / 15 %
20 / 13 %
31 / 23 %
26 / 23 %
3
Genre Komedi
14 / 8 %
15 / 9 %
19 / 12 %
15 / 11 %
12 / 11 %
4
Genre Animasi
11 / 7 %
16 / 10 %
16 / 10 %
9 / 7 %
10 / 9 %
5
Genre Horror
17 / 10 %
18 / 11 %
15 / 9 %
10 / 7 %
15 / 13 %
6
Genre Kejahatan
13 / 8 %
14 / 9 %
11 / 7 %
0 / 0 %
0 / 0 %
7
Genre Petualangan
14 / 8 %
13 / 8 %
11 / 7 %
11 / 8 %
9 / 8 %
8
Genre Sci-Fi
8  / 5 %
13  / 8 %
10  / 6 %
10  / 7 %
5  / 4 %
9
Genre Thriller
11 / 7 %
13 / 8 %
8 / 5 %
11 / 8 %
7 / 6 %
10
Genre Romansa/Percintaan
7 / 4 %
7 / 4 %
8 / 5 %
0 / 0 %
0 / 0 %

Total
166 / 100 %
163 / 100%
160 / 100%
135 / 100%
113 / 100%

Berdasarkan hasil pengelompokan film untuk FFB 2016, film bergenre laga, drama, horror,  komedi dan petualangan menduduki posisi 5 teratas sebenarnya pengelompokan ini agak sedikit subjektif karena ada pun film laga yg memiliki unsur thriller seperti film London Has Fallen atau film genre  thriller yang memiliki unsur horror seperti film The Boy dan seterusnya. Tetapi kami mencoba mengelompokannya berdasarkan genre yang paling menonjol dan menjadi benang merah dari cerita dari film-film tersebut.

Dari Tabel 1 dapat di lihat juga judul film impor yang diputar di bioskop bandung terus meningkat dalam 5 tahun terakhir mulai dari FFB 2012 yang berjumlah 113 judul, 135 judul, 160 judul, 163 judul dan pada FFB 2016 166 judul film. Pada tabel tersebut juga ditunjukkan dalam 5 tahun terakhir film-film dengan genre laga dan drama selalu menempati posisi teratas untuk menjadi pilihan para distributor film untuk memutar film-film di Indonesia dan untuk 3 genre terakhir yaitu genre komedi, animasi dan horror mengikuti dengan persentase yang masing-masing cukup dekat.

Setiap tahunnya Forum Film Bandung yang menyelenggarakan Festival Film Bandung, memilih sejumlah film-film impor yang menurut pengamatan para juri/pengamat adalah terpuji dan layak untuk ditonton oleh masyarakat bandung dan seluruh Indonesia. Film-film impor dinilai tidak seperti film-film Indonesia, film-film Indonesia dinilai berdasarkan unsur-unsurnya seperti penata musik, penata editing, penyutradaraan, pemeran-pemeran utama dan pembantu sampai film terpuji dan lain sebagainya tetapi film impor dinilai secara keseluruhan secara satu kesatuan utuh film. Bagaimana para pengamat menilai film-film ini? tentu ada kriteria-kriteria, antara lain seperti ini :

Ø  Alur cerita dengan tahapan-tahapan peristiwa yang tepat sehingga menjalin sebuah cerita secara keseluruhan yang baik, walaupun hanya alur cerita yang sederhana tetapi harus tepat. Seandainya jika alur cerita yang rumit dengan penuh twist tetap harus masuk logika yang dapat diterima.
Ø  Film yang mempunyai logika yang baik, dengan artian penyusunan peristiwa dalam film harus baik, kuat akan logika dan pola sebab akibatnya, sehingga mencerminkan potret kehidupan manusia pada umumnya. atau kalopun film bergenre sci-fi misalnya, logika yang dipresentasikan mampu memanipulasi logika kita sehingga kita merasa dibawa ke alam atau ke dunia yang lain.
Ø  Film dengan rasa emosional yang baik. Misalnya, jika menonton film thriller, ada rasa tegang karena adegan-adegan kejar-kejaran dalam film sehingga pengaruh emosional terasa luar biasa.
Ø  Para pemeran di dalam filmpun menjadi kriteria, apakah mampu menghidupkan jalan cerita dan mampu membawakan dan bersenyawa dengan karakternya sehingga merupakan cerminan refleksi dinamis dari tokoh yang diperankannya atau tidak.
Ø  Kriteria-kriteria lain juga dipertimbangkan seperti editing, penataan musik, visual effect, sinematografi, dan lain sebagainya sehingga mampu membangun dan menciptakan suasana jalan cerita yang sinergis.

Jika kriteria-kriteria yang telah disebutkan kurang lebih dapat dipenuhi maka akan kami nobatkan sebagai film import terpuji. Dari 166 judul film impor para pengamat telah memilih dan mensortir 40 film impor yang dianggap terpuji dan kandidat-kandidatnya sebagai berikut :

1)     Genre Laga : Mission: Impossible - Rogue Nation, X-Men: Apocalypse, Captain America: Civil War, Deadpool, Ip Man 3 dan 13 Hours: The Secret Soldiers of Benghazi
2)     Genre Drama : Bridge Of Spies, Room, Spotlight, The Program dan The Big Short
3)     Genre Komedi : The Intern, The Mermaid dan Daddy's Home
4)     Genre Animasi : Inside Out, Zootopia, The Little Prince, Kungfu Panda 3 dan Finding Dory
5)     Genre Horror : The Canal, The Conjuring 2, Southbond, dan The Vatican Tapes
6)     Genre Kejahatan : Secret In Their Eyes, Black Mass, Sicario, The Hateful Eight, Criminal dan Solace
7)     Genre Petualangan : Star Wars: Episode VII - The Force Awakens, The Jungle Book dan The Revenant
8)     Genre Sci-Fi : The Martian dan Startrek Beyond
9)     Genre Thriller : The Walk, The Gift, Fan dan Eye In The Sky
10) Genre Romansa/Percintaan : Time Renegades a.k.a Siganitalja dan The Choice

Dari film-film yang telah ditentukan diatas akan disortir kembali dan akan dipilih 12 (dua belas) film impor terpuji, yang akan kami umumkan pada malam anugerah Festival Film Bandung tanggal 24 September 2016. Perlu diketahui bahwa kami mencoba memberi pilihan kepada para penikmat film dari masing-masing genre diatas adalah film-film yang menurut kami layak untuk ditonton berdasarkan genre karena terkadang ada beberapa orang yang mempunyai "feel" yang berbeda-beda terhadap suatu film misalnya seseorang menyukai film laga tetapi tidak menyukai film drama atau hanya menyukai film Sci-fi dan seterusnya. Dalam pemilihan pemenang film impor terpuji, salah satu genre bisa terdapat 2 atau 3 pemenang, atau bisa saja dari salah satu genre tidak terdapat pemenang sama sekali, sehingga bukan berarti dari setiap genre ada pemenang, tujuan pengelompokan hanya semata untuk memberikan pilihan yang lebih luas dan memberikan rekomendasi dari masing-masing genre bahwa film-film itulah yang layak di apresiasi. 

5. Penutup
            Tahun ini  (2016) FFB genap 29 Tahun Festival Film Bandung”. Semoga tetap berjalan terus dalam independensi serta menyuarakan bangga film Indonesia!.







REGU PENGURUS
FORUM FILM BANDUNG
Periode 2014-2017

Dewan Pembina
:
Ir. H. Chand Parwez Servia
H. Dede Yusuf
H. Ilham Bintang
Harris Lasmana
Prof. Drs. Saini KM

Ketua Umum
:
H. Eddy D. Iskandar
Ketua
:
Dr. Edison Nainggolan
Sekretaris
:
Agus Safari


Bendahara

: 
H. Feroz Nisar Ahmad
Rudi Setiawan
Mochamad Rachmat Barokah




Bidang Humas/Publikasi
:
Dra. Hj. Ratna Djuwita (Koord.)
H. Iwan Kusmawan
Ardityo Danoesoebroto, S.Si., M.T
Dhipa Galuh Purba, S.Sos., M.Ag.


Bidang Apresiasi
:
Rosyid E. Abby (Koord.)
Ardityo Danoesoebroto, S.Si., M.T.
Ilma Indriasri Pratiwi
Gorivana Ageza


Bidang Acara Festival






:
Agus Safari (Koord.)
Dra. Hj. Ratna Djuwita
Rosyid E. Abby
Herry K.S.
Raja Lubis
Ina Khuzaimah








REGU PENGAMAT
FORUM FILM BANDUNG
Periode 2014-2017

Ketua Bidang Pengamatan
:
Dr. Edison Nainggolan
Regu Pengamat Film Indonesia
:
Eriko Utama, S.T. (Ketua)
Rosyid E. Abby


Agus Safari
Prof. Dr. Sutardjo A. Wiramihardja
Prof. Drs. Jakob Sumardjo
Drg. Asri Arumsari, Sp.B.M.
H. Eddy D. Iskandar
Yus R. Ismail
Dra. Hj. Ratna Djuwita
Hj. Aam Amilia
Ardityo Danoesoebroto, S.Si., M.T.
Endah Asih Lestari, S.Si.
Dhipa Galuh Purba, S.Sos., M.Ag.


Regu Pengamat Film Impor
:
Ardityo Danoesoebroto, S.Si., M.T. (Ketua)


Eriko Utama, S.T.
Prof. Dr. Sutardjo A. Wiramihardja
Prof. Drs. Jakob Sumardjo
Drg. Asri Arumsari, Sp.B.M.
Endah Asih Lestari, S.Si.
Dhipa Galuh Purba, S.Sos., M.Ag.



Regu Pengamat Sinetron
:
Rosyid E. Abby (Ketua)
Yus R. Ismail


Hj. Aam Amilia
Drg. Asri Arumsari, Sp.B.M.
Agus Safari
Dra. Hj. Ratna Djuwita
Dhipa Galuh Purba, S.Sos., M.Ag.



, , ,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar