Untuk informasi dan aktivitas FFB terkini, tonton video terbaru di Channel Youtube kami. Subscribe Here!

Daging Apa yang Dimakan Naysilla Mirdad di Film Inang?

Simak interview film Inang, horor thriller berbalut mitos Jawa bersama Fajar Nugros dan Naysilla Mirdad yang sarat ketegangan!

Film Inang karya sutradara Fajar Nugros menghadirkan angin segar sekaligus tantangan baru dalam khazanah perfilman horor Indonesia. 

Lewat wawancara eksklusif bersama tim Forum Film Bandung (FFB), Fajar Nugros bersama dua pemeran utamanya, Naysilla Mirdad dan Dimas Anggara, membagikan kisah seru dan dinamika di balik layar pembuatan film psychological thriller berbasis mitos tradisi Jawa ini.

Fajar Nugros mengungkapkan bahwa menggarap film Inang merupakan pertaruhan dan tantangan besar dalam karier penyutradaraannya. Selama ini publik lebih mengenalnya lewat karya-karya komedi dan drama seperti serial Yowis Ben

Selain itu, film ini bukan diangkat dari kekayaan intelektual (intellectual property) yang sudah ada, tidak mengandalkan jumpscare murahan, serta mendapuk Naysilla Mirdad yang sebelumnya identik sebagai bintang sinetron ketimbang pemain film layar lebar.

Namun, Fajar justru melihat potensi besar pada diri Naysilla untuk keluar dari zona nyaman. 

Karakter Naysilla yang kuat dalam membawakan adegan drama penderitaan dinilai sangat pas untuk menggambarkan perjuangan seorang wanita hamil yang harus bertahan hidup di tengah kepungan ancaman mistis. 

Keunikan makin terasa karena dalam film ini, Naysilla beradu akting langsung dengan ibu kandungnya sendiri, Lydia Kandou, di mana keduanya dituntut profesional saling menganggap sebagai orang asing saat di depan kamera. 

Naysilla sendiri mengaku harus membiasakan diri melafalkan dialog dan ekspresi yang tak pernah ia gunakan sehari-hari.

Secara naratif, Inang mengangkat mitos tradisi Rebo Wekasan—sebuah kepercayaan dalam budaya Jawa mengenai hari diturunkannya kesialan bagi anak yang lahir di hari tersebut. 

Fajar menjelaskan bahwa hampir setiap bangsa dan suku di dunia memiliki konsep "hari sial" dalam penanggalannya. 

Alih-alih jualan sosok hantu, film ini mengemas rasa takut lewat atmosfer psychological thriller, di mana situasi yang tampak ramah, indah, dan biasa tiba-tiba berubah menjadi ancaman mematikan bagi karakter utamanya.

Di akhir perbincangan, seluruh tim berharap film Inang tidak hanya memberikan pengalaman menonton horor yang berbeda dan mengajak penonton berpikir, tetapi juga meningkatkan rasa empati sosial serta kesadaran untuk terus melestarikan warisan budaya dan mitos lokal Indonesia. 

Wawancara pun ditutup dengan ucapan selamat dan sukses untuk gelaran Festival Film Bandung.

Post a Comment

Terima kasih sudah mengunjungi website resmi Festival Film Bandung. Sila tinggalkan jejak di kolom komentar. Hindari spamming dan kata-kata kasar demi kenyamanan bersama.
© Forum Film Bandung. All rights reserved.