Embie C. Noer: Musik Filmnya Kaya dengan Nuansa Tradisi

TAHUN 1989, Festival Film Bandung (FFB) pernah menghadiahinya sebagai Penata Musik Terpuji dalam film Djakarta 66 (sutradara Arifin C. Noer). Kini, 31 tahun telah berlalu. Di tahun 2020, di FFB ke-33 ini, dia “mendapat anugerah” kembali dari FFB. Bukan sebagai penata musik terpuji, namun sebagai seorang seniman yang “prestasi, jasa, dan pengabdiannya terhadap perkembangan perfilman nasional“ sangat layak untuk diberi penghargaan Lifetime Achievement. 

“Terimakasih pada Festival Film Bandung yang telah menganugerahi saya dengan penghargaan Lifetime Achievement ini,” ucapnya, saat pengurus dan pengamat Forum Film Bandung (Rosyid E. Abby, Agus Safari, Radja Lubis, Arya Pratama, Agustina K. Dewi) menjumpainya di sebuah hotel di kawasan Dago (Jl. Ir. H. Djuanda, Bandung). 
https://www.festivalfilmbandung.com/2020/12/embie-c-noer-musik-filmnya-kaya-dengan.-nuansa-tradisi.html

“Ini adalah satu penghormatan bagi saya. Mudah-mudah-mudahan penghargaan ini tidak salah alamat, artinya saya memang betul-betul telah berjasa bagi film Indonesia, meskipun rasanya kerja saya untuk film Indonesia masih sangat kecil. Untuk FFB, saya berharap, teruslah menjadi festival film kebudayaan yang akan menjadi barometer film Indonesia, film sebagai science art.” 

Sebelumnya, karena di masa pandemic, kami sepakat mengadakan janji untuk wawancara via Zoom Meetings. Namun, berhubung dia sedang berada di Bandung, menjadi juri (daring/online) Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Jenjang SMA Tingkat Nasional, maka janji tersebut diubah menjadi “janji temu” di sebuah hotel. Ya, syukurlah, berbincang langsung dengan tatap-muka tentu akan lebih menyenangkan daripada meeting via Zoom. Toh, saat berbincang itu, kami tetap menggunakan protokol kesehatan. 

Tradisi: Sensualitas dan Heroisme 

Bagi yang pernah atau sering menonton tayangan film Pengkhinatan G-30S/PKI tentu namanya sudah tak asing lagi. Dia adalah penata musik film tersebut. Juga adik kandung sutradara film yang sangat fenomenal tersebut. Ya, dia adalah Embie C. Noer, adik kandung Arifin C. Noer yang meninggal di tahun 1995 itu. 

Seperti kita ketahui, sejak dirilis tahun 1984 silam, film Pengkhianatan G30S/PKI ini sangat fenomenal sekaligus kontroversial. Selain disebut-sebut sebagai film terlaris pada masanya, film ini dijuluki superinfra box-office. 

Sempat diwajibkan oleh pemerintah Orde Baru untuk diputar di semua stasiun televisi setiap 30 September untuk memperingati insiden Gerakan 30 September 1965. Peraturan ini kemudian dihapus pada tahun 1997, meskipun pada akhirnya pihak stasiun televisi berinisiatif sendiri untuk menayangkannya setiap tanggal itu. Film tersebut telah “menghadiahi” Piala Citra bagi Arifin sebagai Penulis Skenario Terbaik, dan nominasi bagi Embie C. Noer sebagai Penata Musik Terbaik (Festival Film Indonesia/FFI 1985). 

Dalam penataan musik –baik untuk musik film maupun teater— nama Embie C. Noer memang sangat patut untuk diperhitungkan. Ia pernah bergabung dengan Teater Koma (pimp. N. Riantiarno), kemudian dengan Teater Kecil (pimp. Arifin C. Noer). Embie sering diminta menjadi penata musik untuk film-film garapan kakaknya. Namun kemudian, ia juga terlibat sebagai penata musik di beberapa film garapan sutradara lainnya. 

Sebelum dinominasikan dalam film Pengkhianatan G30S/PKI, Embie pernah meraih nominasi Penata Musik Terbaik untuk film Arifin C. Noer, Yuyun Pasien Rumah Sakit Jiwa dalam FFI 1980. Namun, Piala Citra baru diperolehnya melalui film Arifin berikutnya, Serangan Fajar (FFI 1982). 

Setelah itu, Embie berkali-kali masuk nominasi lagi, yaitu untuk penataan musik Pengkhianatan G30S/PKI, Lebak Membara (FFI 1984), Carok (FFI 1985), Matahari-matahari (1987), Biarkan Bulan Itu (1987), Si Badung (FFI 1989, untuk skenario dan musik), Taksi (FFI 1990) dan Saur Sepuh III: Kembang Gunung Lawu (FFI 1990). Dalam sinetron pun Embie berkali-kali masuk nominasi, antara lain Tasi... Oh Tasi (karya Arifin C. Noor) dalam Festival Sinetron Indonesia (FSI 1992) dan Kado Istimewa (FSI 1998). 

Sebagai penata musik, baik musik untuk teater, film maupun sinetron, Embie tentu tak main-main. Dunia musik sudah digelutinya sejak remaja dulu. 

“Sejak kecil saya memang senang dengan musik. Bapak saya tukang sate dan tukang jagal kambing, tapi semua saudara saya menyenangi seni. Ada yang senang musik seperti saya dengan saudara saya, Rihana, misalnya. Ada yang senang seni rupa, ada yang akhirnya menjadi sound designer. Kakak kedua saya, Mas Arifin, senang seni juga kan. Beliau berkarya di film, teater, bahkan sastra. Jadi tak bisa dipungkiri, saya lahir dari lingkungan seni yang juga sangat bersentuhan dengan seni tradisi di mana kami lahir dan tumbuh,” ujar anak kelima keluarga Mohammad Adnan, kelahiran 17 Juli 1955, di Pasuketan, Cirebon, Jawa Barat, ini. 

Masa kecil Embie C. Noer, sampai SD, dihabiskannya di tempat kelahirannya itu. Namun, menginjak SMP, ia dibawa tinggal bersama kakaknya, Arifin C. Noer, di Solo. Ia mengakui, kesenian Cirebon yang tumbuh di kalangan rakyat, seperti tarling, sintren, wayang, tayub, sangat memengaruhi darah seninya. 

“Semasa kecil saya di Cirebon, bila menonton tayub, saya melihat penari-penarinya yang cantik-cantik. Bila menonton wayang golek, saya melihat sindennya. Jadi, ketika itu, saya membayangkan, musik tradisi masuk ke dalam diri saya itu dalam bentuk sensualitas. Satu-satunya musik tradisi yang tidak sensual, bagi saya waktu itu, adalah kendang penca. Ketika menonton kendang penca di masa kecil saya dulu, saya mulai melihat sisi lain dari musik tradisi, yakni heroisme. Jadi musik tradisi saya lebih nglangut (terhanyut, mengarah, -Pen.) ke erotisme,” kenangnya. 

Ketika kemudian waktu SMP hidup di Solo, Embie mengalami semacam culture shock. Seni tradisi Cirebon yang tumbuh di kalangan rakyat, harus “berbenturan” dengan seni tradisi Solo yang halus, yang umumnya tumbuh di lingkungan keraton. Embie harus menerima itu dengan “legowo”, karena keduanya saling memengaruhi secara alami. Justru dengan pengaruh kedua kultur itu, Embie merasa kaya dibuatnya. Kaya pengalaman batin. Kaya rasa seni. Hingga kekaryaannya semakin peka dan kaya dengan nuansa tradisi. 

Itulah sebabnya, mengapa kemudian Embie sangat intens terhadap musik tradisi, atau musik etnik, sesuatu yang justru menjadi “pewarna” bagi musik film dan teaternya. Pergelaran-peegelaran karya musiknya yang pernah dipertunjukkannya pun, bertumpu pada musik etnik, antara lain “Tekno Tarling” di Taman Ismail Marzuki/TIM Jakarta (1997), “Tinggal Endas”, “Gambuh Instant”, dalam Pekan Komponis 1998 Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), “Niatingsun” (2000), dan “Traitor” (2001). Bahkan, Embie pun masih melakukan eksplorasi bersama kelompok-kelompok kesenian rakyat di kampung halamannya, Cirebon, antara lain bersama kelompok Genjring Dog-Dog, Gendang Topeng Cirebon dan Sinden Cirebon. 

“Meskipun bidang spesialisasi saya musik etnik, namun harus diakui, pertama kali belajar musik itu dari lagu pop-nya Koes Plus. Ya, awal bisa bermain gitar itu ketika SMP, dengan belajar memainkan instrument lagu Manis dan Sayang ciptaan Tonny Koeswoyo,” ujar musisi yang pernah terlibat Festival Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS) bersama Teater Kecil, serta sering pentas di berbagai kota di Malaysia dan Singapura ini. 

Persinggungannya dengan seni pertunjukan modern, ketika di Solo dibuka Pusat Kesenian Jawa Tengah (PKJT), tahun 1972 (ketika itu Embie sudah berusia 17 tahun), dengan pembukaan pertunjukan drama-teatrikalnya Budiman S. Hartoyo, berjudul Khotbah, karya WS Rendra. 

https://www.festivalfilmbandung.com/2020/12/embie-c-noer-musik-filmnya-kaya-dengan.-nuansa-tradisi.html


“Nah, dari sanalah saya mulai hidup nyeniman, bergaul dengan tokoh-tokoh seniman yang sudah ‘jadi’. Kemudian ikut kumpul-kumpul dan diskusi dengan para seniman karawitan di Sasono Mulyo. Dengan bangganya hal itu saya ceritakan sama Mas Arifin. Bukannya merasa bangga, eh dia malah membentak, ‘Buat apa kamu diskusi?! Tugas kamu di sini sekolah, bukan diskusi!’” tutur Embie yang pada 1979 sempat kuliah Sinematografi di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (sekarang Institut Kesenian Jakarta/IKJ) ini, sambil tertawa ngakak. 

Eksperimen Arifin 


Dilahirkan dengan nama Rumli Chairil Noer, seniman ini bisa dikata sangat dekat dengan kakaknya semasa masih hidup. 

“Mungkin saya ini sangat baong (nakal, -Pen.), sehingga saya sering dijadikannya eksperimen dia. Banyak hal yang tak terduga yang sering dilakukannya pada adiknya yang baong ini. Dia sering mengejek apa yang saya lakukan. Misalnya ketika saya melukis, dia bilang: ‘Melukis pake areng dulu jangan pake cat segala macem. Kamu juga Picasso gak tau perspektif!’ Saya nulis puisi, dia bilang: ‘Ketika saya seusia kamu, sastra Indonesia sudah habis saya baca!’ Itulah cara Arifin C. Noer dalam mengarahkan dan mendidik saya sebagai adiknya. Tepatnya, lebih terkesan saya ini eksperimennya dia. Tak henti-hentinya dia memberikan kuliah dengan cara begitu.” 

Bagi Embie, Arifin C. Noer –di masa hidupnya-- bukan hanya sebagai kakak, tapi juga sebagai sahabat, guru, dan pengganti bapaknya yang telah tiada. Sebagai guru, Arifin tak henti-hentinya mengajari sang adik, terutama tentang estetika. 

“Tanggal 28 Mei 1995, Mas Arifin meninggal karena kanker hati. Seminggu sebelum meninggal, dia memanggil saya. ‘Saya tidak ingin bicara tentang estetika lagi. Saya cuma ingin mengatakan, ternyata di dunia ini ada tiga macam orang besar.’ Begitu kata Mas Arifin, dan kalimat itu masih terngiang di telinga saya,” ujarnya, dengan sedikit berkaca-kaca. 

Tiga orang besar yang dikatakan Arifin pada Embie, pertama, adalah orang yang besar karena koar-koar, yang kedua orang yang besar karena dia sibuk mencatatkan diri dalam sejarah, dan yang ketiga ada orang besar karena karya. 

“’Bisa nggak kamu jadi yang ketiga, jadi orang besar karena karya? Tapi jangan cari efek. Berkaryalah semurni mungkin!’ Itulah yang dikatakan Mas Arifin pada saya. Maka saya berusaha untuk terus berkarya, berkarya, dan berkarya tanpa mencari efek,” tandasnya. 

Kalau pun pada akhirnya kekaryaannya di bidang penataan musik mendatangkan penghargaan Lifetime Achievement dari FFB, itu bukan efek yang sengaja dicari olehnya. Itu adalah efek dari luar, dari organisasi yang ingin mengucapkan terimakasih pada orang yang sangat berjasa memelihara dan mengembangkan perfilman di Indonesia lewat karya illustrasi musiknya.*** 


Rosyid E. Abby

Posting Komentar

0 Komentar