Dokumentasi Persiapan dan Pengumuman Nomine Festival Film Bandung 2014 Tanggal 12 Agustus 2014 di Padepokan Seni Mayang Sunda, Bandung


Courtesy Of Movie Corner - Bandung TV Part I

 Courtesy Of Movie Corner - Bandung TV Part II

 Courtesy Of Movie Corner - Bandung TV Part III

  Courtesy Of Movie Corner - Bandung TV Part IV (End)











































Sumber : http://jabar.tribunnews.com/foto/bank/images/the-changcuters-ffb-2014.jpg





















Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/ffarm/www/imagecache/625x350/ffarm/www/2014/08/12/120814festfilm1.jpg
» » Dokumentasi Persiapan dan Pengumuman Nomine Festival Film Bandung 2014 Tanggal 12 Agustus 2014 di Padepokan Seni Mayang Sunda, Bandung » Dokumentasi Rapat Menjelang Festival Film Bandung 2014 » » » ANTARA NATURALISASI DAN FILM BERKUALITAS » » FILM "PAREH" DAN "MACAN KEMAYORAN" MENGAWALI SERANGKAIAN ACARA FFB 2010 » » KEGELISAHAN LOLA AMARIA TERHADAP NEGERI TANPA TELINGA » DAFTAR LENGKAP KATEGORI PENGHARGAAN FESTIVAL FILM BANDUNG 2014
Forum Film Bandung Forum Film Bandung Author
Title: Dokumentasi Persiapan dan Pengumuman Nomine Festival Film Bandung 2014 Tanggal 12 Agustus 2014 di Padepokan Seni Mayang Sunda, Bandung
Author: Forum Film Bandung
Rating 5 of 5 Des:
Courtesy Of Movie Corner - Bandung TV Part I  Courtesy Of Movie Corner - Bandung TV Part II  Courtesy Of Movie Corner - Bandung...
» » Dokumentasi Persiapan dan Pengumuman Nomine Festival Film Bandung 2014 Tanggal 12 Agustus 2014 di Padepokan Seni Mayang Sunda, Bandung » Dokumentasi Rapat Menjelang Festival Film Bandung 2014 » » » ANTARA NATURALISASI DAN FILM BERKUALITAS » » FILM "PAREH" DAN "MACAN KEMAYORAN" MENGAWALI SERANGKAIAN ACARA FFB 2010 » » KEGELISAHAN LOLA AMARIA TERHADAP NEGERI TANPA TELINGA » DAFTAR LENGKAP KATEGORI PENGHARGAAN FESTIVAL FILM BANDUNG 2014
Forum Film Bandung Forum Film Bandung Author
Title: Dokumentasi Rapat Menjelang Festival Film Bandung 2014
Author: Forum Film Bandung
Rating 5 of 5 Des:
Ibu  ndah selain mengikuti rapat juga suka selfie :)

ANTARA NATURALISASI DAN FILM BERKUALITAS


Arsip Majalah FFB 
Dimuat Pada Majalah FFB - April 2011 (24 Th FFB)


Catatan Oleh Rosyid E. Abby
Ketua Pengamat Film & Anggota Pengamat Sinetron – Forum Film Bandung.



Tema apakah yang paling populer dalam peta perfilman Indonesia, khususnya di tahun-tahun belakangan ini? Tak perlu mengerutkan kening untuk menjawabnya. Ya, sangat mudah. Semudah orang membalikkan telapak tangan. Ya, tema horor dan seks!

Sepanjang tahun 2010 – 2011 (April 2010 – Maret 2011) ada 81 judul film nasional yang diproduksi dan diedarkan di bioskop-bioskop selutuh Indonesia. Dari 81 film, 25 persennya bergenre horor, entah itu horor murni (horor mistik), horor komedi, horor seks, atau campuran dari kesemuanya. Simaklah, judul-judulnya pun mengarah ke sana: Tiran (Mati di Ranjang),  Rayuan Arwah Penasaran, Pocong Keliling, Pengantin Topeng, Selimut Berdarah, Rintihan Kuntilanak Perawan, Hantu Tanah Kusir, Pocong Rumah Angker, Pelukan Janda Hantu Gerondong, Pocong Ngesot, dan masih banyak lagi. Dihitung-hitung, ada 20 judul film horor yang selama setahun ini diputar di bioskop. 

Dari sana kita bisa menilai, lagi-lagi film horor merajai peta perfilman kita. Tidak aneh lagi, sebetulnya. Tokh beberapa tahun belakangan ini produser kita sangat “gandrung” memproduksi film-film jenis ini. Bahkan ada kecenderungan (katakanlah tren) baru, yakni dengan merekrut bintang-bintang film porno dari luar, terutama dari Negeri Sakura, yang beberapa bulan lalu didera tsunami. Dari Miyabi (Maria Ozawa), Rin Sakuragi, hingga Sora Aoi, didatangkan untuk mendongkrak pasar. Bahkan bintang porno Amerika “sekelas” Tera Patrick dan  Sasha Grey pun, akhirnya dibukakan pintu lebar-lebar untuk membintangi film (horor seks) Indonesia. 

Ada proses naturalisasi di sini, meskipun mereka tak dituntut menjadi warga negara sini. Ya, proses naturalisasi yang hampir sama dengan dunia persepakbolaan kita. Kalaulah naturalisasi para pemain sepakbola dibutuhkan untuk memperkuat dan memotivasi tim berdasarkan kecakapan, keterampilan, kecemerlangan, dan pengalamannya dalam bermain bola, tidak demikian halnya dengan film.
Maria Ozawa (Menculik Miyabi dan Hantu Tanah Kusir), Rin Sakuragi (Suster Keramas), Sora Aoi (Suster Keramas 2), Tera Patrick (Rintihan Kuntilanak Perawan), Sasha Grey (Pocong Mandi Goyang Pinggul), pada dasarnya dibutuhkan hanya sekadar menjual nama, menjual bintang. Dengan mainnya bintang-bintang panas di negara kita, tentu ada kejaran utama yang bobotnya lebih pada bisnis. Bukan karena akting mereka yang dianggap cemerlang! Kalau tidak, mengapa tidak merekrut Julia Robert saja sekalian? Atau Sandra Bullock, atau Angelina Jolie, atau Chaterine Zeta Jones, umpamanya?    

Kehadiran mereka yang identik dengan dunia pornografi --meskipun produser berkilah; mereka “bukan bintang porno”, tapi “mantan bintang porno”--  tokh dipersiapkan untuk meraup untung sebanyak-banyaknya, tanpa mempedulikan kualitas filmnya itu sendiri. Bahkan mereka dipasang hanya sekadar tempelan, hanya untuk “bumbu” adegan, yang kalau tidak ada scene mereka pun, tak berpengaruh besar pada cerita. Jangan tanya pula soal cerita, karena cerita yang dibikin terlalu sederhana, bahkan tak jarang di luar logika, tak jelas motif atau sebab-akibatnya. Padahal, menurut para ahli penulisan skenario, skenario yang baik adalah yang motif dan hubungan sebab-akibatnya terungkap secara jelas. Bahkan, film berjenis surealis sekali pun, atau superhero sekelas Spiderman atau Batman pun, dapat diterima akal jika dalam kisahnya terjalin motif dan hubungan sebab-akibat yang jelas. Tapi, itulah potret dunia perfilman kita! Serba tak jelas!

Tapi, di tengah gemuruhnya film-film horor berbumbu seks dan komedi, Indonesia beruntung masih memiliki produser dan sutradara-sutradara yang punya gagasan besar untuk memajukan negeri ini lewat film. Mereka masih tetap mempertahankan idealismenya dalam membuat film yang berkualitas, mendidik secara halus lewat tema-temanya yang universal tapi mengakar di bumi Indonesia, menciptakan imaji-imaji visual yang menyentuh dan dapat diapresiasi dengan baik oleh segenap penonton.  Bagi mereka, film bukan hanya hiburan dan bisnis semata, tapi lebih dari itu: sebagai media pendidikan bangsa. Mereka paham betul pada apa yang dituangkan dalam UU Perfilman No. 33/2009, “Film adalah karya seni budaya yang merupakan pranata sosial dan media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan  kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara dan dapat dipertunjukkan.”

Barangkali ada kesadaran budaya itulah, dibanding tahun-tahun lalu, tahun ini banyak film berkualitas yang dibuat. Sekadar menyebutkan beberapa contoh, film-film berkualitas seperti  Denias, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Get Married, Perempuan Berkalung Sorban, Mak Ingin Naik Haji, King, Garuda di Dadaku, Alangkah Lucunya (Negeri Ini), Tanah Air Beta, Sang Pencerah, terbukti sama sekali tak kekurangan penonton. Dengan membuat film-film berkualitas semacam itu, kita –meminjam istilah Deddy Mizwar-- tak akan  menderita karenanya. Tidak untung secara materi, kata Deddy pula, bakal untung secara pahala!**
» » Dokumentasi Persiapan dan Pengumuman Nomine Festival Film Bandung 2014 Tanggal 12 Agustus 2014 di Padepokan Seni Mayang Sunda, Bandung » Dokumentasi Rapat Menjelang Festival Film Bandung 2014 » » » ANTARA NATURALISASI DAN FILM BERKUALITAS » » FILM "PAREH" DAN "MACAN KEMAYORAN" MENGAWALI SERANGKAIAN ACARA FFB 2010 » » KEGELISAHAN LOLA AMARIA TERHADAP NEGERI TANPA TELINGA » DAFTAR LENGKAP KATEGORI PENGHARGAAN FESTIVAL FILM BANDUNG 2014
Forum Film Bandung Forum Film Bandung Author
Title: ANTARA NATURALISASI DAN FILM BERKUALITAS
Author: Forum Film Bandung
Rating 5 of 5 Des:
Arsip Majalah FFB  Dimuat Pada Majalah FFB - April 2011 (24 Th FFB) Catatan Oleh Rosyid E. Abby Ketua Pengamat Film & Anggota P...

FILM "PAREH" DAN "MACAN KEMAYORAN" MENGAWALI SERANGKAIAN ACARA FFB 2010

Arsip Majalah FFB 

Dimuat Pada Majalah FFB - April 2010 (23 Th FFB)

Catatan Oleh Rosyid E. Abby
(pengurus/pengamat di Forum Film Bandung (FFB))
 

MENJELANG penyelenggaraan Festival Film Bandung tahun 2010 ini terasa istimewa dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Di tahun-tahun sebelumnya, Forum Film Bandung hanya menyelenggarakan acara Pengumuman Nominee, dan seterusnya diakhiri dengan acara puncak Pengumuman Film dan Narafilm Terpuji FFB yang berlangsung setiap bulan April.

Di tahun 2010 ini, penyelenggaraan Festival Film Bandung terasa lebih “hidup” dengan diselenggarakannya acara pemutaran “film tempo doeloe”, yakni “Pareh” (1934) dan “Macan Kemayoran” (1964) di Bioskop Regent, Jl. Sumatera 2, Bandung, yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi. Pemutaran kedua film “jadul” pada tanggal 30 Maret tersebut, selain untuk menyongsong perhelatan Pengumuman Film dan Narafilm Terpuji Festival Film Bandung 2010, juga untuk memperingati Hari Film Nasional ke-60.

Ya, kita semua tahu, bahwa Hari Film Nasional jatuh setiap tanggal 30 Maret. Tanggal tersebut –60 tahun yang lalu (1950)-- adalah hari pertama pengambilan gambar film “Darah dan Do’a” (“Long March of Siliwangi”). Selain dianggap sebagai film lokal pertama yang bercirikan Indonesia, “Darah dan Do’a” juga film pertama yang benar-benar disutradarai oleh orang Indonesia asli (Usmar Ismail), serta dilahirkan dari perusahaan film milik orang Indonesia asli (Perusahaan Film Nasional Indonesia/Perfini). Maka tidaklah mengherankan kalau tanggal 30 Maret ditetapkan sebagai Hari Film Nasional, merujuk pada peristiwa pembuatan film “Darah & Do’a”, dan tidak pada lahirnya film (cerita) pertama di Indonesia, “Loetoeng Kasaroeng” (1926).  Sebagaimana kita ketahui, film “Lotoeng Kasaroeng”, meskipun dianggap sebagai film pertama di Indonesia, dan juga terasa sangat lokal dari segi ceritanya (mengangkat cerita rakyat Jawa Barat) tokoh pembuatannya tidak melibatkan orang Indonesia asli. Disutradarai oleh Heuveldorf, film ini diproduksi di Bandung oleh Java Film Company yang dipimpin oleh G. Krugers dari Bandung dan L. Heuveldorf dari Batavia. Heuveldorf adalah seorang Belanda totok yang telah berpengalaman di bidang penyutradaraan di Amerika, sementara Krugers adalah seorang Indo-Belanda asal Bandung, adik menantu dari Busse (seorang raja bioskop di Bandung).


Potensi Lokal di Film Indonesia

Diputarnya film “Pareh” dan “Macan Kemayoran” dalam rangka memperingati Hari Film Nasional ini, dianggap hal yang paling tepat oleh Ketua FFB Dr. Edison Nainggolan. Dalam sambutannya yang dipandu oleh Master of Ceremony (MC) Dra. Hj. Ratna Djuwita, Edison menandaskan, di dunia perfilman, Bandung merupakan kota pertama di mana film Nasional diproduksi, yaitu dengan diproduksinya film “Loetoeng Kasaroeng” pada tahun 1926. "Bandung sebagai pelopor produksi film nasional, sudah sepatutnya dalam memperingati Hari Film Nasional ini di Bandung diselenggarakan pemutaran film tempo dulu,” ujar Edison dalam sambutannya.
Ir. Chand Parwez sebagai Pembina FFB berharap, dengan diputarnya dua film tempo dulu dalam peringatan Hari Film Nasional ini, para sineas kini tidak melupakan para pendahulunya di bidang film.

Dalam kesempatan itu, hadir di antaranya aktor legendaris asal Bandung Rachmat Hidayat, produser PT Kharisma Starvision Plus Ir. Chand Parwez Servia, Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Jabar Eka Gandara Wk., Dekan Fak. Film & Televisi Institut Kesenian Jakarta (FFTV-IKJ) Gotot Prakosa, Asisten III Bidang Kesra Ferry Suparman (mewakili Gurbernur Jabar), para sastrawan, seniman, budayawan, wartawan berbagai media (elektronik dan cetak), kalangan mahasiswa dan pelajar SMA, serta tentu saja para pengurus dan pengamat dari Forum Film Bandung.

Sebagian besar dari mereka merasa penasaran dengan “keterkenalan” film “Pareh” yang diproduksi tahun 1934 oleh perusahaan film Java Pasific bekerjasama dengan Wong Bersaudara tersebut. Kini, film aslinya tersimpan dengan baik di Sinematek Belanda. Film yang disutradarai oleh dua orang Belanda, Mannus Franken dan Robert Ballink, ini menuturkan drama percintaan antara laki-laki nelayan dengan gadis dari keluarga petani yang saat itu ditentang secara adat. Mungkin karena Franken sangat ahli dalam pembuatan film dokumenter, film yang dibintangi aktor Rd. Mochtar ini sangat sarat menampilkan setting keindahan alam Priangan, beserta kepercayaan masyarakat pada waktu itu.

Film satunya lagi, “Macan Kemayoran”, diproduksi tahun 1964 oleh Aries dan Garuda Film, dengan sutradara  Wim Umboh dan penulis skenario H. Misbach Yusa Biran. Ada banyak aktor ternama dan berkarakter bermain di film ini, sebut saja di antaranya WD Mochtar, Ratno Timur, Rita Zahara, Rahayu Effendy, A. Hamid Arief, Menzano, Iskandar Zulkarnaen (Dicky Zulkarnaen), Rachmat Kartolo, Usbanda, dan I.M. Damsyik.

Selain pemutaran film, acara pada hari itu diisi pula dengan diluncurkannya buku  "Sejarah Film Indonesia" karya Gayus Siagian, serta diskusi mengenai potensi lokal di film Indonesia, dengan narasumber/pembicara Dekan FFTV Gotot Prakosa dan Ir Chand Parwez Servia, dipandu oleh H. Eddy D. Iskandar selaku moderator. Bicara tentang potensi lokal di film Indonesia, memang kedua film “tempo doeloe” itu sangat kental potensi kelokalannya: “Pareh” dengan potensi lokal Parahyangan (Sunda), dan “Macan Kemayoran” dengan potensi lokal Betawi-nya.

Dalam paparannya mengenai potensi lokal tersebut, Gotot mengatakan, bahwa daerah-daerah di Indonesia memiliki potensi untuk memunculkan estetika sinematografi, tidak kalah dengan luar negeri. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi sinematografi yang indah. Estetika itu menjadi penting untuk estetika sebuah film. Bahkan, menurutnya pula, film dengan memunculkan daerah lokal bisa berumur panjang. “Seperti halnya film ’Pareh’, sampai sekarang film ini bisa menghidupi dan terus memberi royalti," tutur Gotot Prakosa.

Umumnya, menurut Gotot, mengangkat budaya lokal baru dilakukan komunitas yang biasa membuat film-film pendek. “Film pendek memang sebagai laboratorium untuk belajar film, dan Bandung termasuk kota yang memiliki banyak komunitas yang bergelut di film-film pendek. Eksperimen atau coba-coba dengan menggunakan basis budaya lokal dan dialek lokal ternyata bisa diterima," ujarnya pula seraya  mengharapkan ke depan ada perusahaan/produser film besar yang peduli pada potensi lokal.

Sementara itu,  Ir. Chand Parwez Servia menandaskan, bahwa media film butuh identitas (kelokalan) tapi harus bisa diterima secara universal. Dia mencontohkan film-film lokal India yang juga sukses dan dibuat ulang menjadi film nasional. “Dengan mengangkat potensi lokal akan ada keleluasaan bahasa, emosi dan akan memberikan pendekatan yang sangat dekat kepada masyarakat, dan akhirnya bisa diterima secara universal,” ujar produser Kharisma Starvision Plus ini, seraya berharap pula agar film-film bercitarasa lokal mulai disebut sebagai film nasional dan dihargai sebagai film nasional.
Semakin jauh memperbincangkan potensi lokal dalam film Indonesia, akhirnya dapat disimpulkan, bahwa perlu adanya komitmen kerjasama antara pemerintah (dalam hal ini Pemda setempat) dengan pihak produser, sebagaimana yang diharapkan oleh budayawan dan wartawan senior Yayat Hendayana. Karena, katanya, film tidak hanya sebagai media hiburan semata, tapi juga telah menjadi media komunikasi yang sangat efektif untuk mengangkat atau menggali potensi-potensi lokal (daerah).***

» » Dokumentasi Persiapan dan Pengumuman Nomine Festival Film Bandung 2014 Tanggal 12 Agustus 2014 di Padepokan Seni Mayang Sunda, Bandung » Dokumentasi Rapat Menjelang Festival Film Bandung 2014 » » » ANTARA NATURALISASI DAN FILM BERKUALITAS » » FILM "PAREH" DAN "MACAN KEMAYORAN" MENGAWALI SERANGKAIAN ACARA FFB 2010 » » KEGELISAHAN LOLA AMARIA TERHADAP NEGERI TANPA TELINGA » DAFTAR LENGKAP KATEGORI PENGHARGAAN FESTIVAL FILM BANDUNG 2014
Forum Film Bandung Forum Film Bandung Author
Title: FILM "PAREH" DAN "MACAN KEMAYORAN" MENGAWALI SERANGKAIAN ACARA FFB 2010
Author: Forum Film Bandung
Rating 5 of 5 Des:
Arsip Majalah FFB  Dimuat Pada Majalah FFB - April 2010 (23 Th FFB) Catatan Oleh Rosyid E. Abby ( pengurus/pengamat di Forum Film ...

KEGELISAHAN LOLA AMARIA TERHADAP NEGERI TANPA TELINGA



Oleh Agus Safari 
FORUM FILM BANDUNG



TAK BANYAK para sineas kita membuat sebuah film tentang korupsi berjamaah dalam bentuk komedi Satir, apalagi film tersebut menyoroti tentang Partai, kekuasaan dan sex. Film “Negeri Tanpa Telinga” adalah sebuah perenungan panjang Lola Amaria dalam menuangkan gagasannya selama 4 tahun karena berbagai hal kendala, namun menginjak tahun ke 5 film “Negeri Tanpa Telinga” ini muncul dan berjalan santai dalam situasi negeri yang malu-malu (memalukan?) dalam kebijakan, kekuasaan dan sex. Sebuah film komedi satir yang ringan namun sekaligus menggelitik pikiran kita dan sekaligus tamparan bagi para penguasa Negeri tercinta ini. Seharusnya sih begitu.

Film “Negeri Tanpa Telinga” menceritakan tentang konspirasi Partai besar yang  bekerjasama dengan importir daging domba untuk memanipulasi uang Negara bagi kepentingan serta keuntungan Partainya. Pemberantasan korupsi dan penangkapan koruptor dari keterlibatan pejabat Partai yang selalu memakai idiom-idiom religi dalam pelaksanaan partainya yang berkiprah dalam korupsi dan sex. Cerita berkembang pada pencalonan Presiden dan lebih menarik dengan melibatkan Tukang Pijat sebagai jembatan untuk merangkai cerita lebih menarik. Tukang Pijat adalah merupakan perwakilan dari rakyat yang setia mendengarkan pendapat, kebijakan serta celoteh para pejabat pemerintah, sementara para pejabat sendiri (Partai dan wakil Rakyat) tak mengindahkan suara rakyat. Mereka selalu ingin didengarkan saja tetapi tidak mau mendengarkan.

Sebagai sebuah symbol atau idiom, telinga merupakan entry point untuk masuk ke arah hati nurani, namun Penguasa dan Pengurus Partai besar tidak mempedulikan pendengaran mereka untuk meraih rakyat dengan baik. Saya pikir inilah yang menjadi kegelisahan Lola Amaria sebagai Sutradara dalam menangkap fenomena sosial di Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini.

Kekuasan main Petak umpet dengan Hukum.
Mencermati karya Lola Amaria dengan kegelisahannya terhadap gejolak sosial, kedigdayaan Partai, dan ketakberdayaan Hukum adalah sebuah keberanian yang patut diajungi jempol pada saat rakyat mulai sedikit apatis terhadap perilaku Penguasa dan Partai dalam konstelasi hukum (keadilan?). Untung saja kita masih bisa menghela nafas ketika Pemberantasan korupsi masih punya nyali dan taringnya. Kegelisahan selama 4 tahun dengan ide/gagasan membuat film “Negeri Tanpa Telinga” adalah sebuah perjalanan panjang dan penuh dinamika dalam sebuah proses kreatif dan  melahirkannya  pada tahun kelima. Sebuah proses dan perenungan yang panjang serta nekat, sehingga nampak secara kasat mata bahwa kekuasaan sedang main petak umpet dengan hukum.

Kenapa nekat? Karena film ini melawan arus dari kebanyakan film saat ini. Namun inilah sebuah pilihan Lola Amaria dalam melahirkan karyanya meskipun sebuah resiko menantinya. Tetapi sebagai sebuah propaganda untuk pemberantasan korupsi, film ini merupakan pilihan yang tepat. Semoga saja.

Bagi masyarakat yang sudah ‘apatis’ terhadap keberadaan dan fenomena sosial di Negeri yang limbung oleh kekuasaan dan sex, serta bagi para pejuang keadilan, penegak Hukum, mari jeda sejenak untuk meluangkan waktu menonton film “Negeri Tanpa Telinga” karya Lola Amaria ini sebagai sebuah istirah dan relaksasi dalam nurani kita. Selamat menonton dan melihat cermin negeri ini.

Salam dan jabat erat, kawan….
» » Dokumentasi Persiapan dan Pengumuman Nomine Festival Film Bandung 2014 Tanggal 12 Agustus 2014 di Padepokan Seni Mayang Sunda, Bandung » Dokumentasi Rapat Menjelang Festival Film Bandung 2014 » » » ANTARA NATURALISASI DAN FILM BERKUALITAS » » FILM "PAREH" DAN "MACAN KEMAYORAN" MENGAWALI SERANGKAIAN ACARA FFB 2010 » » KEGELISAHAN LOLA AMARIA TERHADAP NEGERI TANPA TELINGA » DAFTAR LENGKAP KATEGORI PENGHARGAAN FESTIVAL FILM BANDUNG 2014
Forum Film Bandung Forum Film Bandung Author
Title: KEGELISAHAN LOLA AMARIA TERHADAP NEGERI TANPA TELINGA
Author: Forum Film Bandung
Rating 5 of 5 Des:
Oleh Agus Safari   FORUM FILM BANDUNG TAK BANYAK para sineas kita membuat sebuah film tentang korupsi berjamaah dalam bentuk k...

DAFTAR LENGKAP KATEGORI PENGHARGAAN FESTIVAL FILM BANDUNG 2014


Film Bandung (FFB) merupakan satu-satunya festival yang memiliki komitmen selama 27 tahun ini memberikan penghargaan kepada insan perfilman. Penghargaan FFB diharapkan bisa menjadi penyemangat untuk para penggiat film dalam memajukan film Indonesia.

Pada puncak penghargaan FFB 2014 berdasarkan hasil pengamat regu film FFB yang terlibat, dihasilkan 11 nomine untuk film nasional versi bioskop, 3 nomine untuk sinetron serial, dan 5 nomine untuk film televisi. Sedangkan untuk film impor tidak dinominasikan dan akan di pilih 12 film impor terpuji, selain itu juga FFB
turut memberikan 2 penghargaan Lifetime Achievement bagi insan perfilman yang telah banyak berkontribusi dalam sejarah film Indonesia yang pemenangnya akan secara langsung diumumkan di StasiunTV  SCTV pada puncak FFB pada 13 September 2014 di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Bandung.

Sepanjang periode pengamatan dan penilaian antara 1 Mei 2013 hingga 31 Juli 2014, jumlah sinetron serial yang ditayangkan ditelevisi ada 108 episode. Sementara untuk sinetron lepas atau film televisi ada 360 judul. Film nasional yang diamati 123 judul dan Film impor yang diamati 160 judul.

Berikut Daftar Lengkap Nominasi FFB 2014 untuk Sinetron Serial, FTV, dan Film Nasional :

I. SINETRON SERIAL





II. FILM TELEVISI TERPUJI







III. FILM 


 




















» » Dokumentasi Persiapan dan Pengumuman Nomine Festival Film Bandung 2014 Tanggal 12 Agustus 2014 di Padepokan Seni Mayang Sunda, Bandung » Dokumentasi Rapat Menjelang Festival Film Bandung 2014 » » » ANTARA NATURALISASI DAN FILM BERKUALITAS » » FILM "PAREH" DAN "MACAN KEMAYORAN" MENGAWALI SERANGKAIAN ACARA FFB 2010 » » KEGELISAHAN LOLA AMARIA TERHADAP NEGERI TANPA TELINGA » DAFTAR LENGKAP KATEGORI PENGHARGAAN FESTIVAL FILM BANDUNG 2014
Forum Film Bandung Forum Film Bandung Author
Title: DAFTAR LENGKAP KATEGORI PENGHARGAAN FESTIVAL FILM BANDUNG 2014
Author: Forum Film Bandung
Rating 5 of 5 Des:
Film Bandung (FFB) merupakan satu-satunya festival yang memiliki komitmen selama 27 tahun ini memberikan penghargaan kepada insan perfi...
×