Transformers : Age Of Extinction, Sequel yang terlalu panjang... terlalu banyak visual efek... skenario yang miskin dan terpecah-pecah



Oleh Ardityo Danoesoebroto, S.Si., M.T.  
(FORUM FILM BANDUNG)

My Rating : 5.9/10



 Transformers : Age Of Extinction Movie Poster

Film ini mengambil waktu empat tahun setelah peristiwa film ketiga (Transformers : Dark Of The Moon). Chicago hancur dan Pemerintah AS berada pada posisi untuk berburu setiap Transformers/robot yang baik (Autobots) ataupun yang jahat (Decepticons) dari muka bumi, pemerintah merasa bahwa mereka berdua ancaman bagi kemanusiaan. CIA telah membuat kesepakatan dengan transformer antagonist a.k.a Bounty Hunter (Lockdown) untuk mempreteli setiap transformers dan menemukan "Optimus Prime" karena para pencipta mempunyai urusan yang belum selesai dengan Optimus Prime. Juga KSI (Kinetic Sciences Institute) telah menciptakan transformers mereka sendiri dengan sisa transformers yang sudah mati dan sekarang mereka telah membangun sebuah mesin tempur transformers yang lebih baik dan lebih unik. Selanjutnya semua Autobots bersembunyi dan menunggu kembalinya supremo mereka Optimus Prime. Pemeran utama baru kita adalah Cade Yeager (diperankan oleh Mark Wahlberg) yang adalah seorang penemu/inventor yang pada suatu hari tidak sengaja menemukan Optimus Prime yang rusak berat. Setelah itu film ini ber-roller-coaster nonstop adegan laga, ketegangan dan segala sesuatu yang diharapkan dari franchise transformers ini.

The Main Antagonist : Lockdown

Mark Walhberg & Bumblebee 2014 Camaro Concept

Keberhasilan terbesar dari film ini adalah pertama, Adegan laga yang luar biasa dan benar-benar memiliki shot yang lebih lebar dibanding film sebelumnya dan anda benar-benar dapat melihat dan merasakan skala besar dari robot-robot raksasa itu secara rinci dan detail. Kedua, karena memiliki Mark Walhberg, yang terbukti menjadi jauh lebih masuk akal daripada Shia LaBeouf pernah ada dalam tiga film terakhir. Wahlberg bersinar di setiap adegan penuh laga dari film ini dan ditambah dengan genangan efek visual, adegan Walberg tidak diragukan lagi adalah ujung tombak terbesar dari film ini.

The Autobots

Jika ada keberhasilan adapun kegagalannya, kegagalan terbesar Transformers 4 adalah penulisan skenario yang benar-benar miskin dan tidak terarah. Para aktor dan aktris adalah baik tetapi tidak ada bahan yang cukup baik bagi mereka untuk bekerja dan mengembangkan diri. Pesona yang spektakuler dari Mark Wahlberg membuktikan bahwa ia menjadi salah satu keuntungan terbesar dari film ini tetapi pesona tersebut tenggelam akan skenario yang amat sangat jelek  bin mengerikan buruknya itu. Sulit untuk membayangkan bahwa film tersebut dengan anggaran estimasi produksi  $165,000,000 bisa kehilangan akal dan kecerdasan sehingga seluruh durasi dua jam 45 menit itu berjalan anda akan menemukan diri anda bertanya-tanya berapa lama lagi anda bisa bertahan menatap layar sambil berharap sesuatu yang masuk akal selain special efek yang muncul dan menyelamatkan film yang mulai dinilai sebagai kumpulan special efek sampah tanpa adanya akal dan kecerdasan.

» » » Transformers : Age Of Extinction, Sequel yang terlalu panjang... terlalu banyak visual efek... skenario yang miskin dan terpecah-pecah » 2. Struktur Cerita » 1. Film Cerita » » How to Train Your Dragon 2, Lebih Dalam... Lebih Dewasa... Lebih Emotional... Well Done Sequel!
Forum Film Bandung Forum Film Bandung Author
Title: Transformers : Age Of Extinction, Sequel yang terlalu panjang... terlalu banyak visual efek... skenario yang miskin dan terpecah-pecah
Author: Forum Film Bandung
Rating 5 of 5 Des:
Oleh Ardityo Danoesoebroto , S.Si., M.T.   (FORUM FILM BANDUNG) My Rating : 5.9/10  Transformers : Age Of Extinction Mov...

2. Struktur Cerita

.
Struktur Cerita
Oleh  : Jakob Sumardjo


Semua film cerita sebenarnya adalah pendapatopinitanggapan pengalaman sineasnya terhadap kehidupan ini. Kalau menonton film cerita kita sedang berhadapan dengan karya seni yang merupakan pandangan sineasnya terhadap sesuatu gejala kehidupan.Menonton film kita dapat menangkap kecerdasan pembikinnyakejujuranyakurang ajarnyasinismenya,kecintaannyaterhadap suatu gejala hidupyang digambarnya dalam film. Pendek kata dalam film adalah pendapat dan sikap sineas terhadap suatu gejala hidup.

Tetapi pendapat dan sikap rasa tadi bukan diungkapkan secara verbal, melainkan melalui gambar-gambar film. Gambar-gambar ini terindera bersama iringan musikbunyi-bunyian dan bahasa verbal yang memberikan pengalaman inderawi dan emosional serta rasional pada penonton yang akan menanggapinya apakah gambaran pengalaman yang disajikan oleh film bermakna atau tidak bermakna.

Karena karya seni tanggapan seniman atas lingkungan hidupnyamaka ia harus diungkapkan dalam suatu bentukSemua karya seni selalu jelas bentuknya.Lagu “Umar Bakri” Iwan Falslukisan potret diri Affandi, film Kurosawa “kagemuse”, semua jelas batas-batasnyatak lebih dan tak kurang dari yang diungkapnyaBentuk seninya ya seperti yang Anda lihatAnda dengar dan Anda tonton itu. Keseluruhan bentuk itulah dunia tanggapan senimannya.

Bentuk karya itu memiliki dua unsur kontradiksiyakni sederhana dan kompleks. Dalam cerita film,bentuk sederhana itu plot atau alur ceritanyasedang yang kompleks itu jalan ceritanya. Film yang bentuknya amat sederhana tentu akan membosankantetapi film yang bentuknya kompleks saja tentu akan membingungkanAnda boleh menonton serial tv yang puluhan episode, tetapi kalau anda tidak mendapatkan gambaran yang membayangkan kesederhanaan plotnya,puluhan episode itu akan anda tinggalkan karena tidak jelas arah ceritanyaSerial tidak menarik lagi untuk diikuti.

Misalnya sebuah film Italia “The Ages of Love”. Ada dua orang professor tua yang bersahabat. Keduanya sudah tak beristri. Professor yang satu punya anak gadisGadis ini jatuh cinta pada sahabat ayahnya ini. Terjadi konflik permusuhan antara dua sahabat. Sutradarnya,Veronesimematikan professor yang punya anak gadissehingga pasangan tua-muda ini happy end.

Plotnya jelas dan sederhana. Dalam film Anda dapat membuat plot ini menjadi cerita yang panjangtetapi tetap berpegang teguh pada kesederhanaan plot tadiAnda bahkan dapat membangun cerita-cerita lain dalam plot tadiJalan cerita film menjadi kompleks dengan berbagai anak cerita atau sub tema.

Dalam plot sederhana itu Anda dapatmengekspresikan opini Anda tentang perkawinan lelaki tua dengan gadis mudaSekarang bagaimana sikap Anda terhadap peristiwa semacam itu? Apa pendapat Anda?Kalau Anda penganut liberal, seperti sutradara film ini,biarkan saja kedua pasangan beda usia ini terus mencapai keinginan mereka, dengan mematikan ayah gadis yang pandangannya kolotTetapi kalo Anda sendiri seorang kolotmaka yang Anda bunuh justru professor tua yang tidak tahu diri itu (dimainkan Robert de Niro). Kalau Anda moderat maka dicari jalan tengah agar percintaan tetap berlangsung namun si Bapak dan masyarakat juga dapat menerimanya. Misalnya dengan menjelaskan bahwa asmara tidak pandang usia karena cinta semacam berkah Tuhan yang tidak tiap hari Anda dapat memperolehnyaKalau Anda seorang radikalperduli amat bapaknya dan masyarakat tidak setuju. Biarkan sajamereka hidup dengan cara mereka sendiri, kami akan hidup pula dengan cara kami sendirientah dibenci atau disetujui.

Struktur cerita film menjadi kuat kalo ada landasan dasar yang disebut plot atau alur cerita tadiKalo ini sudah adamaka Anda bebas membuat jalan cerita apa sajasangat kompleks atau sederhana pula atau kompleksitasnya sedang. Plot itu mengandung logika ceritamengapa sesuatu yang begini berubah menjadi begitudan berakhir secara begituCara mengakhiri cerita itulah terdapat opinipikiranpandangan dunia Anda.

Bandung, 20 Juni 2014 
Di tulis kembali oleh Eriko Utama,
Anggota Pengamat FFB (Forum Film Bandung)

» » » Transformers : Age Of Extinction, Sequel yang terlalu panjang... terlalu banyak visual efek... skenario yang miskin dan terpecah-pecah » 2. Struktur Cerita » 1. Film Cerita » » How to Train Your Dragon 2, Lebih Dalam... Lebih Dewasa... Lebih Emotional... Well Done Sequel!
Forum Film Bandung Forum Film Bandung Author
Title: 2. Struktur Cerita
Author: Forum Film Bandung
Rating 5 of 5 Des:
. Struktur   Cerita Oleh    :   Jakob   Sumardjo ​ Semua  film  cerita   sebenarnya   adalah   pendapat ,  opini ,  tanggapan  ...

1. Film Cerita


.
Film Cerita
Oleh  : Jakob Sumardjo


          Film adalah cerita yang dituturkan melalui serangkaian gambar-gambar fotografis yang bergerak.  Pada masa film belum bersuara, seluruh cerita hanya dituturkan melalui gambar-gambar bergerak itu, sedang kata-kata para pelaku cerita atau narasi untuk menjelaskan cerita ditulis pada layar yang sama. Setelah dikenal teknologi film yang menyertai bunyi dan suara manusia, maka film berupa penuturan cerita menyertakan suara para tokoh dan bunyi-bunyian yang menggambarkan situasinya.

Inti film cerita adalah bahasa gambar, bukan bahasa kata-kata. Ya apapun gunanya nonton film kalao jalan cerita harus mengikuti pembicaraan para tokohnya saja. Pada tahun 1970-an ada seorang teman yang rumahnya di belakang sebuah tempat pertunjukan film misbar alias gerimis bubar (penontonya) karena memang tak beratap. Tiap malam ia dapat megikuti jalan cerita film dari rumahnya hanya berbekal mendengar pembicaraan para pelaku film, sambil membayangkan kecantikan dan ketampanan suaranya, jahat dan baiknya melalui suara kasar yang membentak dan suara halus yang sabar.

Pada zaman film bisu diatas, orang tak mungkin tahu jalan cerita film tanpa menonton filmnya, bahkan tanpa suara atau bunyi apapun. Film memang untuk di tonton bukan untuk di dengarkan. Bahasa pokoknya adalah visual. Bukan auditif. Dengan melihat dia mengalami apa dampak yang beraneka ragam bagi setiap yang melihatnya. Sebuah gambar berisi seribu kata-kata, bunyi pepatah cina. Betapa hebatnya dampak visual bagi kehidupan seseorang, karena ia memberikan gambar pengalaman yang hanya dapat direkam oleh perasaannya.

Bahasa gambar dalam film adalah bahasa perasaan. Bahasa gambar dalam film bukan sekedar bahasa informasi yang memberitahukan tempatnya sepi, misalnya. Entah kamar yang sepi, jalan yang sepi, desa atau kampung yang sepi, semuanya itu digambarkan kualitas kesepiannya sehingga penonton benar-benar mengalami kesepian itu.

Begitu pula menggambarkan manusia yang kejam, kekejaman itu harus dapat diwujudkan dalam gambar bergerak tadi. Orang kejam tak perlu berteriak-teriak keras melulu, bahkan bisa amat membisu, tetapi ekspresi wajah dan tindak tanduknya menggambarkan kekejaman luar biasa yang belum pernah di lihat para penonton film umumnya. Hanya dengan bahasa visual semua itu dapat disuguhkan kepada penonton sehingga mereka mengalami peristiwa kekejaman yang tak disangka-sangkanya.

           Para penonton film biasanya akan selalu mengenang gambaran film yang memberikan pengalaman rasa yang mendalam itu seumur hidupnya yang akan dijadikan bagian dari jalan hidupnya.

           Bahasa visual sebenarnya masuk dalam rumpun seni rupa. Mereka yang mempunyai kepekaan kerupaan memudahkan dirinya untuk membangun bahasa visual film. Dia peka terhadap tata letak benda-benda atau manusia, atau benda dan manusia, hewan dan benda dan manusia. Bagaimana pula tata letak yang berubah dapat di pahami sebagai pemaknaan visual yang berubah pula. Untuk apa menggeser jarak benda-benda kalau tidak membawa dampak perubahan bermakna atas tuturan cerita.

Bahasa visual juga peka terhadap nuansa gelap-terang. Disamping gelap dan terang mampu memberikan kesan visual volume, tetapi juga membawa dampak perasaan bagi penonton. Kelemahan sinetron Indonesia adalah penggunaan bahasa visual yang terang benderang sepanjang masa jalan cerita. Pencahayaan demikian mungkin penting sebagai bahasa informasi, tetapi sebagai bahasa perasaan sama sekali datar-datar saja. Entah sedang menangis, sedang tertawa, sedang marah-marah, semuanya harus dalam cahaya terang benderang, seolah-olah takut penontonnya tidak mengerti saja. Inilah yang sering disebut membodohi penonton itu.

            Bahasa visual film dalam membawakan sebuah cerita bukan hanya sekedar memberi informasi sedang terjadi apa, tetapi juga bobot hidup yang dapat dijadikan pengalaman rasa bagi penonton. Orang mengenang sebuah film bukan karena ceritanya, tetapi bagian-bagian kecil adegan yang memberikan pengalaman mendalam bagi rata-rata penonton.


Bandung, 20 Juni 2014
Di tulis kembali oleh Eriko Utama,
Anggota Pengamat FFB (Forum Film Bandung)


» » » Transformers : Age Of Extinction, Sequel yang terlalu panjang... terlalu banyak visual efek... skenario yang miskin dan terpecah-pecah » 2. Struktur Cerita » 1. Film Cerita » » How to Train Your Dragon 2, Lebih Dalam... Lebih Dewasa... Lebih Emotional... Well Done Sequel!
Forum Film Bandung Forum Film Bandung Author
Title: 1. Film Cerita
Author: Forum Film Bandung
Rating 5 of 5 Des:
. Film Cerita Oleh   : Jakob Sumardjo           Film adalah cerita yang dituturkan melalui serangkaian gambar-gambar fotografis...

How to Train Your Dragon 2, Lebih Dalam... Lebih Dewasa... Lebih Emotional... Well Done Sequel!



Oleh Ardityo Danoesoebroto, S.Si., M.T.  
(FORUM FILM BANDUNG)

My Rating : 8.0/10


How to Train Your Dragon (2010) adalah film Impor animasi terpuji versi Forum Film Bandung pada tahun 2010 dan secara luas dianggap sebagai salah satu film animasi terbaik yang pernah dibuat oleh Dreamworks Animation. Cerita ini berkisah tentang bagaimana seorang anak Hiccup dan naga peliharaan barunya Toothless benar-benar mengubah sejarah hubungan manusia-naga ternyata menjadi luar biasa dan menawan. Kita semua ingin melihat bab berikutnya dalam kehidupan dua sahabat yang tak terpisahkan dan sudah saatnya bahwa kita mendapatkan sekuelnya untuk film box-office hit ini.

Hiccup & Toothless/Night Fury

How to Train Your Dragon 2 terjadi lima tahun setelah peristiwa installment yang pertama. Hiccup (Jay Baruchel) sekarang seorang pria muda berumur 20 tahun, sudah dipilih oleh ayahnya untuk menjadi kepala baru dari desa mereka yaitu Berk. Namun, Hiccup menemukan plot dari pemberontak bernama Drago Bloodfist (Djimon Hounsou), seorang penguasa biadab yang mempunyai niat untuk menguasai semua naga dan membentuk pasukan naga untuk mengendalikan dunia. Sementara ayahnya Stoick (Gerard Butler) mempersiapkan untuk perang dengan Drago karena Stoick tahu kata-kata damai tidak akan mengubah Drago akan haus kekuasaan, tetapi Hiccup tetap ngotot memutuskan untuk mencari Drago untuk menyelesaikan masalah ini secara damai. Dengan bantuan dari para pengendara naga yang berani Astrid (America Ferrera), Gobber (Craig Ferguson), Snotlout (Jonah Hill), dan banyak lagi, Hiccup pergi untuk menghadapi tirani dan pertempuran untuk nasib manusia - dan nasib para naga-naga. Dalam pencariannya, Hiccup dengan tidak sengaja menemukan dirinya pada sarang es rahasia Dragon Rider yang legendaris, yang ternyata adalah ibu Hiccup yang bernama Valka (Cate Blanchett) yang sudah lama hilang.

Drago Bloodfist

Suara akting dari para karakter utama menambahkan begitu banyak pada kepribadian mereka. Suara Jay Barruchel yang sempurna membuat Hiccup sebagai seorang pemuda yang peyayang dan penuh kasih. Valka diisi oleh suara khas keren Cate Blanchett, karakter dia terpecah antara komitmennya untuk naga dan bersatunya kembali dengan keluarganya. Suara yang memerintah khas Gerald Butler sebagai Stoick adalah prajurit yang meyakinkan dan bisa berubah menjadi lunak penuh kasih dan lembut jika situasi memungkinkan. Butler juga akan mengejutkan kita lagi dengan suara nyanyinya, yang kami pernah rindukan di film Phantom of the Opera (2004) beberapa tahun yang lalu.

Valka

Momen emosional dalam film ini, terutama antara Hiccup dan ibunya lama hilang, Valka, serta reuni mengharukan antara Stoick dan Valka setelah bertahun-tahun terpisah dari satu sama lain dilakukan dengan cara yang sangat pedih yang menangkap hati Anda, film ini berhasil membuat saya menangis tidak hanya sekali, tetapi dua kali.

Adegan Terbang Hiccup & Toothless/Night Fury

Film ini menarik secara visual, efek CGI ditingkatkan dan lebih baik kali ini. Adegan terbang Hiccup dan Toothless, bersama dengan score film, adalah spektakuler dibandingkan sebelumnya. Toothless tetap manis dan mempesona. Film ini juga memperkenalkan generasi baru naga berwarna indah dan masing-masing mempunyai kepribadian yang menciptakan rasa berkesan kepada penonton meskipun penampilan mereka singkat dalam film. Adegan perang antar naga pun ciamik.

Naga dan Pengendara Naga

Akhir kata, How to Train Your Dragon 2 adalah contoh fantastis tentang bagaimana cerita dapat memdalam, mendewasa dan tumbuh dalam hati anak-anak maupun dewasa. Sangat menghibur untuk anak-anak (Toothless tetap merupakan yang terbaik dalam animasi naga-peliharaan/hybrid-dragon pernah ada), tetapi juga memungkinkan penonton untuk mengalami tantangan segar, sukacita dan patah hati dengan karakter-karakter tersebut yang kita sudah tahu dan sekarang diberi kesempatan untuk mencintai mereka semua dengan lebih dalam lagi.




» » » Transformers : Age Of Extinction, Sequel yang terlalu panjang... terlalu banyak visual efek... skenario yang miskin dan terpecah-pecah » 2. Struktur Cerita » 1. Film Cerita » » How to Train Your Dragon 2, Lebih Dalam... Lebih Dewasa... Lebih Emotional... Well Done Sequel!
Forum Film Bandung Forum Film Bandung Author
Title: How to Train Your Dragon 2, Lebih Dalam... Lebih Dewasa... Lebih Emotional... Well Done Sequel!
Author: Forum Film Bandung
Rating 5 of 5 Des:
Oleh Ardityo Danoesoebroto , S.Si., M.T.   (FORUM FILM BANDUNG) My Rating : 8.0/10 How to Train Your Dragon (2010) adalah film...
×