Senin, Agustus 24, 2015

Catatan Pengamatan (Penjurian) Festival Film Bandung 2015



Oleh:
Edison Nainggolan, Eriko Utama, Yus R. Ismail, Ardityo Danoesoebroto



1.   Pengantar

     Tanpa terasa, tahun ini menjadi penyelenggaraan Festival Film Bandung yang ke-28. Dengan demikian Forum Film Bandung sebagai penyelenggara Festival Film Bandung telah bergiat selama 28 tahun tanpa pernah berhenti dalam perjalanaan panjang usianya.
     Kiprah Festival Film Bandung dalam penyelenggaraan Festival Film Bandung selama 28 tahun ini tentu merupakan prestasi dan rekor tersendiri, karena dapat dikatakan menjadi satu-satunya festival film di negeri ini yang aktif tanpa pernah absen satu tahun pun. Prestasi ini dapat tercapai karena terbentuknya rasa kekeluargaan antarsesama anggota FFB. Walaupun ada beberapa anggota maupun pendiri FFB yang telah pergi mengahadap sang Khalik, di samping anggota yang karena kegiatannya terpaksa meninggalkan FFB, namun FFB tetap berjalan karena proses regenerasi dan adanya para anggota baru yang potensial. Di samping itu, tentu prestasi ini dapat tercapai berkat dukungan berbagai pihak, di antara para insan film nasional mulai dari produser, artis, sutradara, dan profesi karyawan film lainnya, komunitas-komunitas film, rekan-rekan pers, baik media cetak maupun elektronik, Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, serta Direksi dan segenap jajaran SCTV yang telah memberikan kepercayaan dan menyiarkan secara langsung (live) puncak acara Festival Film Bandung sejak tahun 2012. Tiada yang lebih tinggi dari ucapan terima kasih kepada semua peran dan bantuan semua pihak atas tercapainya 28 tahun FFB.
     Dalam tahun pengamatan 2014-2015 FFB mengamati 111 judul Film Nasional, 30 judul Sinetron Serial, 380 judul FTV (Sinetron Lepas), dan 163 judul Film Impor.


2. Catatan Film Nasional 2014-2015

Dari 111 judul film nasional tahun ini, pengamatannya dibagi menjadi empat periode waktu pengamatan. Setiap tiga bulan sejak Agustus tahun lalu, diadakan diskusi (baik langsung atau dalam grup BBM) dalam rangka mengusulkan film-film yang akan diamati lebih lanjut.
Setiap periode selalu ada film yang disepakati untuk diamati lebih lanjut. Misalnya dalam periode pertama film Tabula Rasa, Supernova, dan Pendekar Tongkat Emas banyak diusulkan pengamat. Dari periode dua ada film 2014, Di Balik 98, Hijab dan sebagainya. Pokoknya setiap periode ada yang dipilih untuk diamati lebih lanjut.
Teknologi film saat ini kadang menjadi hambatan dalam beberapa tahun terakhir ini. Karena film yang sudah habis masa tayangnya di bioskop tidak bisa ditonton ulang. Rilis DVD-nya tentu bukan sesuatu yang bisa ditunggu. Dalam hal ini kami sangat berterima kasih kepada PH atau filmmaker yang membantu mempermudah kerja kami selanjutnya dengan mengirimkan file-file khusus yang bisa kami tonton ulang.
Dari setiap periode itu setidaknya ada dua puluh judul lebih yang kemudian kami setujui bersama. Dari dua puluh film inilah kami mengambil calon nomine untuk kategori yang akan diberi penghargaan terpuji.
Dalam tahap ini kadang diskusi menjadi lebih berat ketika ada masukan bahwa film tertentu yang tadinya diusulkan banyak pengamat, ternyata ada kesamaan konsep, atau mungkin “teridei” oleh film lain dari belahan dunia lain. Diskusi pun kemudian beralih kepada seberapa banyak film itu “teridei” oleh film sebelumnya.
Keterbatasan pengetahuan kami terhadap proses pembuatan film juga menjadi pertimbangan tersendiri. Karenanya sudah tahun kedua ini kami mengundang pengamat (juri) tamu untuk memberikan pencerahan kepada kami. Tahun lalu kami mengundang Slamet Raharjo Djarot, Yadi Sugandi, dan Armantono. Dari pencerahan  mereka itu tentu saja mendapat sesuatu yang sangat bermanfaat. Tahun ini direncanakan kami juga mengundang Widyawati, Hanung Bramantyo, dan Yudi Datau.
Awalnya kami yang tidak begitu perduli dengan box-office atau tidaknya sebuah film, mahal atau murahnya budget sebuah produk, susah tidaknya sebuah tema digarap, setelah mendapat masukan menjadi masukan yang menarik.
Semoga saja dengan usaha yang maksimal seperti itu kami menghindari kecacatan dalam mengamati. Dan memberi masukan dan pencerahan kepada penonton film semuanya.
          Pengamatan Film Nasional yang dilakukan dalam tahun pengamatan FFB 2014/2015 sejak awal Agustus 2014 hingga akhir Juli 2015 atas film nasional yang tayang di seluruh bioskop di Kota Bandung. Dalam hal ini dapat dikatakan terjadi peningkatan peredaran film nasional dibandingkan dengan rata-rata per bulan tahun pengamatan 2013/2014 yang jumlahnya 123 judul film nasional, namun periode pengamatannya diperpanjang hingga 3 bulan karena adanya perubahan jadwal pengumuman Festival Film Bandung. 


Gambar 1. Prosentase Berdasarkan Genre Film,  Periode Aguatus 2014-Juli 2015, FFB 2015


Dari catatan statistik film yang tayang di seluruh bioskop di Kota Bandung, tema film masih di dominasi oleh film bergenre horor, namun demikian tema beragam lainnya mulai menggerus tema film horor ini, sebut saja genre film drama religi yang meningkat cukup pesat dalam periode ini, berbagi dengan kategori lain yang juga sedang banyak dibuat yaitu film dengan genre drama remaja dan komedi. Namun film bertema biopik atau sejarah cukup stabil baik dalam jumlah maupun kualitas, dan jangan lupa tema lama yang mulai muncul lagi di periode ini adalah action atau silat. 


Gambar 2. Prosentase kategori Film Nasional berdasarkan Target Umur Penonton, FFB 2015  

Namun yang menarik untuk diperhatikan adalah berdasarkan data tersebut terlihat pergeseran kecenderungan target penonton film nasional yang mulai mengarah penonton remaja dan minimnya film anak-anak yang hanya diwakili oleh film animasi Singa Pemberani dan CJR itu pun film CJR mulai beralih ke penonton remaja.

Dilihat dari jumlah penonton maka sepanjang tahun 2015 – per tanggal 1 Agustus 2015 (sumber filmindonesia.or.id) daftar jumlah penonton di 10 Besar menyiratkan keberagaman genre namun porsi penonton remaja mendominasi raihan penonton terbanyak. Hal ini cukup berkorelasi dengan daftar nomine Film Terpuji di FFB tahun 2015 yang secara siginifikan menempatkan beberapa film yang memiliki raihan penonton banyak dengan daftar nomine yang artinya secara kualitas di mata FFB mengalami beberapa kemajuan. Namun demikian tidak berarti FFB hanya menyorot pada film-film yang laku, namun banyak juga film-film yang sebenarnya sangat berkualitas tapi sepi penonton.

Gambar 3. Daftar Perolehan Penonton Tahun 2015 (update 1 Agustus 2015). 
Sumber: FilmIndonesia.or.id

Ada yang menarik di periode pengamatan tahun ini, yaitu munculnya tema politik yang terbilang cukup berani di kancah perfilman nasional, serta tema film silat klasik yang juga mewarnai jagat perfilman kita. Selain kedua tema yang cukup berbeda tersebut, tema yang paling menonjol rasanya adalah jalan-jalan keluar negeri, masih meneruskan tren tahun lalu di mana syuting film di luar negeri menjadi magnet baru dalam perfilman nasional. Aktifnya beberapa sineas besar yang terkenal membuat film yang rumit dan tidak mudah di nikmati penonton justru berusaha membuat film-film yang lebih mudah dinikmati penonton awam patut diapresiasi, begitu pun sineas-sineas muda Indonesia mulai menunjukkan taringnya dan membuat film-film yang selain gampang dicerna penonton awam tapi juga kualitas filmnya semakin baik. 
Kisah biografi atau tema yang mengisahkan soal perjalanan hidup seseorang atau sekelompok orang, bermunculan sepanjang pengamatan tahun ini. Jika beberapa tahun lalu kisah semacam ini kurang mengena di pasaran, tak demikian halnya dengan saat ini. Dengan penggarapan yang lebih serius namun natural, kisah semacam ini disuguhkan dan menjadi tontonan yang cukup menghibur. Beberapa di antaranya juga dinilai cukup berkualitas. 
FFB mengapresiasi 111 judul Film Nasional yang tayang di seluruh bioskop Kota Bandung pada periode Agustus 2014 hingga Juli 2015 selama satu tahun pengamatan memberi penilaian kepada hampir 58% dari total 111 judul film nasional sebagai layak untuk diperhatikan lebih detail. Sistem penilaian tahun ini melibatkan lebih banyak pengamat, dari kalangan pemuda/pemudi, yang merupakan anggota aktif dari beberapa komunitas aktif film pendek di kota Bandung, blooger film dan penonton aktif turut memperkaya keberagaman film yang diamati dan dinilai. Akses lebih luas terhadap film-film yang kadang hanya tayang tak lebih dari 7 hari di bioskop-bioskop Kota Bandung perlu dilakukan secara aktif, dan indikator terhadap kualitas film yang diamati menjadi masukan berharga bagi sistem penilaian FFB. Dari 58% total film yang layak diperhatikan lebih detail, hanya setengahnya saja atau lebih-kurang dari 25% dari 111 judul film nasional yang teramati sepanjang periode ini yang mendapat tempat dan ruang dalam diskusi lebih lanjut di FFB dan dari sekitar 28 Judul film tersebut tersaring 15 daftar calon Nomine Film Terpuji beserta unsur-unsurnya (narafilmnya) dan akhirnya mengerucut menjadi 5 Nomine Film Terpuji beserta unsur-unsurnya.
Pada akhirnya, banyak film nasional berkualitas yang telah dihasilkan. Hal tersebut membuat para pengamat (juri) sering harus berdebat dalam setiap pertemuan untuk memilih yang "terpuji" di antara film-film yang layak dipuji. Perdebatan kami akhirnya mengerucut pada beberapa film, dengan berbagai pertimbangan, dan tentunya dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Semoga dengan pengamatan FFB ini, minat masyarakat  untuk mengapresiasi karya film dapat tumbuh semakin baik.


3. Catatan Sinetron 2014-2015

Mengamati sinetron (series atau FTV) tidaklah gampang. Sinetron series seringkali berpanjang-panjang sampai ratusan bahkan ada yang mencapai seribu lebih episode. Sinetron seperti itu memberi peluang kepada tumbuhnya karakter baru, atau bahkan fokus dari cerita pun berpindah. Tentu saja hasil menonton kadang tidak sama karena ada yang intensif nonton di awal ada juga yang menonton di episode yang sudah panjang.
Sementara FTV seringkali ada tayangan ulangan dari produksi tahun lalu atau bahkan beberapa tahun yang lalu. Cara pengamatan kami tentu saja termasuk “gerak cepat” karena terbatasnya tenaga dan anggota pengamat. FTV yang menarik dicatat, dibawa ke meja diskusi, dan kemudian dicarikan kopiannya untuk ditonton bersama. Cara seperti itu tentu saja membawa peluang kepada tidak semua pengamat menonton semua sinetron. Ada pengamat yang hanya menonton FTV yang telah direkomendasikan. Karenanya, ketika saat ini nonton sebuah FTV dan merasa tertarik, ternyata FTV itu ulangan. Tentu saja untuk menghindari hal seperti itu sangat perlu kehati-hatian dan kerja yang lebih ulet. Judul yang sudah diusulkan untuk diamati lebih mendalam, kemudian dicek produksinya satu per satu. Sungguh, kerja yang berat, tapi tetap mengasyikkan karena semuanya dilakukan dengan gembira dan kekeluargaan. Tentu saja untuk meringankan kerja, kami tetap berharap para sinetronmaker, stasiun televisi atau PH, mengirimkan karyanya ke sekretariat kami.
Saat ini semakin banyak stasiun televisi yang menayangkan sinetron. TVRI termasuk yang mulai mencari perhatian publik dengan sinetronnya. Tentu saja setiap stasiun televisi tidak sama fokusnya. Ada stasiun yang lebih perhatian kepada sinetron humor, ada yang tetap fokus kepada sinetron remaja, dan juga ada yang mencoba untuk mengangkat budaya lokal.
Tentu saja kami memilih setiap stasiun televisi terwakili. Bila kemudian ada stasiun yang diwakili oleh beberapa judul sinetron, itu sudah melalui diskusi yang panjang. Semoga kerja kami ini menjadi masukan bagi semua pihak yang berhubungan dengan sinetron, baik itu para pembuat sinetron, stasiun televisi, PH, sampai pemirsa televisi.


4. Catatan Film Impor Festival Film Bandung 2015



5. Penutup

          Tahun ini FFB mengusung tag line “28 Tahun Festival Film Bandung Berjaya”. Semoga tetap berjaya di tahun-tahun mendatang!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar