Rabu, September 19, 2018

DAFTAR LENGKAP NOMINASI PENGHARGAAN FESTIVAL FILM BANDUNG KE-31 TAHUN 2018

11:24 PM

Nominasi Serial Televisi dan Naraserial Televisi
Festival Film Bandung 2018



Nominasi Film Televisi dan Narafilm Televisi Terpuji
Festival Film Bandung 2018


Nominasi Film dan Narafilm Terpuji
Festival Film Bandung 2018




50 Nominasi Film Impor
Festival Film Bandung 2018



Jumat, September 14, 2018

LAPORAN: Pengamatan Film Impor Periode 1 Agustus 2017 - 31 Agustus 2018 (Data & Statistik)

2:05 PM

Oleh Ardityo Danoesoebroto, S.Si., M.T. (Ketua Regu Pengamat Film Impor FORUM FILM BANDUNG)




List Pengamatan Film Import 1 Agustus 2017- 31 Agustus 2018 yang Beredar Di Bioskop Bandung (213 Judul Film)






Keterangan :
Jenis-Jenis Genre Film

1. LAGA
Laga adalah Jenis film yang mengandung banyak gerakan dinamis para aktor dan aktris dalam sebagian besar adegan film, seperti halnya adegan baku tembak, perkelahian, kejar mengejar, ledakan, perang dan lainnya.

2. PETUALANGAN
Petualangan adalah jenis film yang menitik beratkan pada sebuah alur petualangan yang sarat akan teka teki dan tantangan dalam berbagai adegan film.

3. ANIMASI
Animasi adalah Jenis film kartun animasi dengan berbagai alur cerita. Biasanya genre film ini memiliki sub genre hampir sama dengan genre utama film non animasi.

4. KOMEDI
Komedi adalah Jenis film yang dipenuhi oleh adegan komedi dan lelucon sebagai benang merah alur cerita film.

5. KEJAHATAN
Kejahatan adalah Jenis film yang menampilkan skenario kejahatan kriminal sebagai inti dari keseluruhan film.

6. DRAMA
Drama adalah Jenis film yang mengandung sebuah alur yang memiliki sebuah tema tertentu seperti halnya percintaan, kehidupan, sosial, dan lainnya.

7. HORROR
Horror adalah Jenis film yang berisi tentang kejadian mistis dan berhubungan dengan kejadian-kejadian yang menyeramkan dan menakutkan sebagai nyawa dari film tersebut.

8. ROMANSA/PERCINTAAN
Romansa adalah Jenis film yang berisikan tentang kisah percintaan.

9. SCI-FI
Sci-Fi (Fiksi Ilmiah) adalah Jenis film fantasi imajinasi pengetahuan khususnya yang bersifat exact yang dikembangkan untuk mendapatkan dasar pembuatan alur film yang menitikberatkan pada penelitian dan penemuan-penemuan teknologi.

10. THRILLER
Thriller adalah Jenis film yang penuh dengan aksi menegangkan dan mendebarkan dan biasanya tipe alur ceritanya biasanya berupa para jagoan yang berpacu dengan waktu, penuh aksi menantang, dan mendapatkan berbagai bantuan yang kebetulan sangat dibutuhkan yang harus menggagalkan rencana-rencana kejam para penjahat yang lebih kuat dan lebih lengkap persenjataannya.



Rating Film :
G (General Audience)
Ini adalah kode bahwa film dengan label G, bisa ditonton oleh semua umur. Film berlabel G bebas adegan-adegan tabu, kata-kata kotor, sadis, maupun obat-obatan terlarang sehingga bisa dinikmati oleh semua kalangan.

PG (Parental Guidance)
Artinya adalah Bimbingan Orang Tua. Label PG disematkan dalam film ini karena sebagian materi dalam film belum cocok ditonton oleh anak-anak di bawah umur. Ketidaksopanan film PG ini biasanya masih sebatas kata-kata kasar atau adegan bullying ringan, sehingga orang tua wajib memberikan pengertian.

PG-13 (Parental Guidance-13)
Bimbingan Orang Tua untuk anak di bawah usia 13 tahun. Tingkatan ini lebih kuat kebutuhannya akan dampingan orang tua di banding sekedar PG saja, karena adegan-adegan tak sopan dalam film ber-rating PG-13 biasanya rentan ditiru oleh anak-anak di bawah usia tersebut. 

R (Restricted)
Film-film berlabel R adalah film yang diperuntukkan bagi usia 17 tahun ke atas. Bahkan film kartun atau animasi pun terkadang ada yang berlabel R. Di sinilah pentingnya orang tua memahami kode rating film.

NC-17 (No One and Under Admitted)
Bahkan mereka yang sudha berumur 17 tahun pun disarankan untuk jangan dulu menonton film ini sebelum usia yang lebih dewasa. Film berlabel NC-17 sarat adegan-adegan mengerikan yang belum cocok ditonton di bawah usia 17 tahun, yang ditayangkan secara gamblang.

Nb. Pengelompokan FFB menggabungkan G & PG Menjadi Rating PG, PG-13 Tetap PG-13, dan R & NC-17 menjadi Rating R, sehingga hanya ada 3 pengelompokan genre, ini dilakukan karena sangat sedikitnya film bergenre "semua umur" atau G dan bahkan film rating "diatas umur 21" atau NC-17 hampir jarang sekali.  

Sumber :
www.imdb.com
sinemapedia.com

Senin, Agustus 27, 2018

Si Doel The Movie: Dilema Konsekuensi Status Pernikahan

12:46 PM

     Saya bukanlah fans setia sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang sempat jadi sinetron hits pada tahun pertengahan tahun 90an sampai tahun 2006. Hanya sedikit detil karakter dan konflik di antara mereka yang terekam, kecuali karakter Mak Nyak, Karyo dan Mandra yang paling banyak diingat. Tapi walau begitu, tidak membuat kehilangan minat untuk nonton versi layar lebarnya.

     Konflik Si Doel the Movie dibuka ketika Doel - ditemani Mandra - diundang Hans sahabatnya waktu kuliah dulu untuk datang Belanda. Sebelum berangkat, Mak Nyak (Aminah Tjendrakasih) sempat mewanti-wanti agar Doel tidak tergoda untuk mencari keberadaan Sarah (Cornelia Agatha) di Belanda.

     Sebelum filmnya resmi rilis di bioskop, sudah banyak status-status di media sosial yang membahas soal ini. Jadi bisa dibilang ada dua kubu yang mengklaim sebagai kubunya Zaenab (Maudy Koesnaedi) dan satu lagi kubunya Sarah. Saya sendiri memosisikan diri sebagai kubu netral karena secara emosional tidak punya keterikatan yang kuat dibanding penonton setia sinetronnya. 
  
     Konflik cinta segitiga yang sudah ada sejak versi sinetronnya memang jadi greget tersendiri. Status pernikahan Doel dan Sarah jadi tidak jelas setelah Sarah pergi, sementara Doel tidak berusaha mencari keberadaannya. Sementara Zaenab seakan-akan berada dalam posisi 'perebut suami orang' bagi 'Pendukung Sarah'.

     Alur film sepanjang 85 menit - yang penulisan naskah dan disutradarai oleh Rano Karno sendiri - sebenarnya berjalan normal, artinya tidak terlalu cepat ataupun datar. Hanya saja ekspresi datar dari Doel yang ngomong seperlunya membuat film produksi Falcon Pictures yang berkolaborasi dengan Karnos Film terasa menggemaskan. Dilema yang dihadapi membuat Doel seakan-akan jadi karakter suami yang plin-plan, tidak tegas dan label menyebalkan lainnya.

     Penasaran dengan apa yang terjadi ketika Sarah dan Si Doel di masa lalu, saya coba menonton versi sinetron ketika Doel menikah dengan Sarah dan pernikahan Zaenab dengan suami sebelumnya. Di sini Doel dan Sarah lebih ekspresif dan tidak seirit dan kagok versi filmnya.

     Karakter Doel yang memang dibuat 'lempeng' saat bertemu anaknya Sarah sukses bikin kesal. Komentar semacam "laki-laki nyebelin" atau "ga punya perasaan" adalah hal yang wajar kalau terlontar. Kegamangan Doel dengan situasi yang dialaminya adalah salah satu dari alasan mengapa Doel begitu iritnya berbicara. Untungnya, ada akting Mandra yang menghidupkan suasana di hampir sepanjang film dengan celetukan-celetukan sekenanya dengan Atun (Suty Karno) atau Hans (Adam Jagwani), dan Sarah. Selain Mandra, bagi saya sebenarnya kehadiran Doel kecil (Rey Bong) bisa membuat film jadi lebih emosional, jika konfliknya digali lebih dalam. Tapi tali kasih antara ayah dan anak bukanlah target utama dari cerita yang ingin disampaikan.

      Dalam salah satu adegan di film, Mak Nyak yang sudah tidak bisa melihat berseloroh cuek waktu mengatakan ia kasihan dengan Koh Ahong (Salman Al Farisi) yang masih belum saja menikah. Saya yang tidak mengikuti sepenuhnya alur cerita versi sinetron menemukan jawabannya di episode pernikahan Doel dan Sarah. Bisa dibilang kalau ini bukan saja cinta segitiga tapi juga segiempat, hanya saja porsi Koh Ahong yang pernah mencintai Zenab dalam film memang tidak sebanyak tokoh lainnya. Cinta yang bertepuk sebelah tangan bisa sampai segitunya membuat seseorang memutuskan untuk berhenti berharap namun tidak bisa move on untuk melupakan kesedihannya.

     Entah apa yang akan terjadi dengan Koh Ahong nanti, dan bagaimana perjalanan cinta segitiga antara Doel, Sarah dan Zaenab yang masih belum menemukan penyelesaiannya. Walau secara norma hukum, sighat ta'liq talak (pernyataan talak yang dibacakan setelah akad nikah) jadi acuan hak Sarah sebagai istri untuk mengajukan gugatan cerai. Sebaliknya, bagi Doel sebagai suami dengan adanya ikrar ini artinya bersedia menerima gugatan, bukan hal yang mudah untuk memutuskan untuk bercerai. Doel yang digambarkan sebagai anak yang soleh, rajin salat dan mengaji juga tidak akan tega mengabaikan amanah ibunya untuk baik-baik memperlakukan Zaenab yang sudah sepenuh hati mencintainya.

     Dalam sebuah pernikahan, mantan suami atau mantan istri bukan hal yang aneh tapi perceraian tidak pernah memutuskan hubungan biologis antara anak dan orangtuanya. Sialnya, bukan hanya Doel kecil yang memiliki hubungan biologis tapi Zaenab yang mual-mual menunjukkan tanda-tanda akan mengandung anak dari Doel juga.

     Posisi Doel memang sangat dilematis. Jadi wajar saja kalau ia begitu suntuk dan mumet, tergambar dalam penghayatannya di film. Tapi pengalaman yang berbeda dari setiap orang yang menonton juga tidak bisa disalahkan sehingga mempunyai penilaian dan pilihan masing-masing. Jadi siapa yang dipilih Doel? Sarah atau Zaenab? Atau memilih netral?