Edge Of Tomorrow, Thriller Fiksi-Ilmiah tentang Invasi Alien


Oleh Ardityo Danoesoebroto, S.Si., M.T.  
(FORUM FILM BANDUNG)

My Rating : 8.1/10
 

Edge of Tomorrow adalah film alien thriller fiksi-ilmiah yang dibintangi Tom Cruise dan Emily Blunt dan disutradarai oleh Doug Liman. Film ini dibuat berdasarkan novel pendek Jepang 'All You Need is Kill' oleh Hiroshi Sakurazaka
 

Film ini menceritakan bahwa Letnan Kolonel Bill Cage (Tom Cruise) adalah seorang perwira militer yang tidak berpengalaman dalam pertempuran, ditempatkan ke misi tempur melawan alien dan bertentangan dengan kehendaknya. meskipun Cage terbunuh dalam hitungan menit dalam pertempuran yang spektakuler yang mirip dengan pembukaan di film Saving Private Ryan (1998). Untuk alasan yang tidak diketahui dia, Cage segera bangun di hari sebelumnya, menghidupkan kembali setiap detail lagi, dan lagi ... dan lagi. Ini terdengar dan mirip seperti film Groundhog Day (1993), di mana karakter Bill Murray kembali hidup di hari yang sama berulang-ulang sampai ia telah belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik, film Edge of Tomorrow adalah seperti Groundhog Day tanpa alien dan perang.


Setelah menemukan dirinya mulai lagi dari awal dalam lingkaran waktu, Cage terbangun dan mengingat peristiwa yang alaminya dia memutuskan untuk belajar lebih baik untuk melawan alien, bersama Rita Vrataski a.k.a Full Metal B*tch (Emily Blunt), Vrataski mementor Cage sampai batas kemampuannya melalui pelatihan intensif dan melelahkan. Setelah kematian tak terhitung jumlahnya, Cage menjadi mesin pertempuran yang super dan mereka berdua mulai percaya bahwa Cage dapat menjadi kunci untuk untuk mengakhiri invasi asing untuk keselamatan manusia.


Ras alien yang menyerang bumi yang selanjutnya akan disebut dengan Mimics, berpenampilan sangat menakutkan dan menyerupai gurita-serangga. Para penonton tidak diberitahu mengapa mereka ada di sini, tetapi pada pertengahan adegan dipaparkan, tidak peduli mengapa mereka di sini, mereka ada di sini sekarang dan itulah yang terpenting dan tidak ada penjelasan yang berbelit-belit yang ada bagaimana mengalahkan mereka itu saja.

Doug Liman sebagai sutradara secara cerdas mengexploitasi aspek "Terulang kembalinya hari" tanpa membuatnya rumit dan tidak menjadi bosan dengan memasukkan beberapa momen pertempuran manusia dengan alien yang berkualitas dan juga memasukkan drama cinta antara Tom Cruise dan Emilly Blunt. Alur cerita film sangat kuat dan tidak pernah kehilangan dirinya, akting dari Cruise dan Blunt adalah baik, penuh chemistry dan benar-benar epik, casting lain juga termasuk Bill Paxton, Brendon Gleeson dan bahkan aktor Australia Noah Taylor dan Kick Gurry memberikan penampilan dan kinerja yang sangat baik pula.



Efek visual benar-benar top notch, urutan set-laga yang terkoreograf dengan sangat baik dan bahkan tegang di menit pertama pembukaan film. Alien/Mimics yang mereka melawan, bentuk dan penampilannya benar-benar luar biasa.

Film Edge Of Tomorrow secara efektif menggabungkan time-travel dan laga, untuk mereka yang menyukai film dengan cerita repeating timeline atau time loops, seperti Groundhog Day, Source Code, atau Butterfly Effect, film ini cocok untuk anda.  




» » » Edge Of Tomorrow, Thriller Fiksi-Ilmiah tentang Invasi Alien » Kisah Anak Perawan Yang Disarang dan Disayang Penyamun » Menakar Pentingnya Sebuah Resensi Film » » X-MEN Days of Future Past » » GODZILLA, Reboot dengan Laga dan CGI yang menawan
Forum Film Bandung Forum Film Bandung Author
Title: Edge Of Tomorrow, Thriller Fiksi-Ilmiah tentang Invasi Alien
Author: Forum Film Bandung
Rating 5 of 5 Des:
Oleh Ardityo Danoesoebroto , S.Si., M.T.   (FORUM FILM BANDUNG) My Rating : 8.1/10   Edge of Tomorrow adalah film alien thriller fiksi...

Kisah Anak Perawan Yang Disarang dan Disayang Penyamun

Oleh Eriko Utama

(FORUM FILM BANDUNG)

SETELAH hampir sebulan direncanakan, akhirnya Forum Film Bandung atau yang lebih dikenal dengan FFB memutar salah satu film klasik Indonesia yang berjudul "Perawan Disarang Penyamun" karya sutradara Indonesia pertama yaitu Usmar Ismail.

Setelah hampir sebulan direncanakan, akhirnya Forum Film Bandung atau yang lebih dikenal dengan FFB memutar salah satu film klasik Indonesia yang berjudul "Perawan Disarang Penyamun" karya sutradara Indonesia pertama yaitu Usmar Ismail.

Film yang diproduksi tahun 1962 oleh Perfini atau Perusahaan Film Indonesia merupakan salah satu tonggak sejarah dalam perkembangan film nasional yang cukup penting dan sekarang sangat jarang dipertontonkan ke khalayak ramai. Film ini biasanya hanya diputar  untuk konsumsi ilmiah dan pendidikan saja.

Pada hari Rabu, 21 Mei 2014, beberapa penonton muda yang merupakan perwakilan dari komunitas Ruang Film Bandung (RFB), Liga Film Mahasiswa (LFM) ITB, perwakilan mahasiswa dari Unpas, ITHB, Unikom juga beberapa perwakilan dari generasi muda yang bergerak di bidang advertising dan PH berkesempatan menonton.
            
cara ini juga dihadiri oleh Ketua Umum FFB Bapak Eddy D. Iskandar dan Ketua Regu Pengataman FFB Bapak Edison Nainggolan, serta beberapa anggota regu pengamat FFB seperti Ratna Juwita, Agus Safari, Herry KS,  Yana, Jajat, Arditio, dan lain-lain.  Pemutaran film ini dilakukan di Ruang Serba Guna, lantai 1, Sekretariat FFB, Jalan Sudirman No. 560 Bandung.

          

      
        Film berdurasi lebih kurang 1 jam lebih ini mendapatkan antusiasme dari penonton. Sebab, selain memiliki nilai sejarah, cerita, akting, tata sinematografinya merupakan pelajaran berharga bagi penggemar film khususnya untuk para sineas muda Bandung yang hadir di acara ini.

            Sebagai langkah awal dalam kegiatan yang direncakan diselenggarakan secara rutin tiap bulan oleh FFB, film ini merupakan contoh dari apresiasi yang sangat baik dari karya sastra terbaik yang dituangkan dalam kanfas rol film. Sebagai karya sastra, novel berjudul Anak Perawan Disarang Penyamun yang diterbitkan oleh Balai Pustaka di awal tahun 1930-an  dianggap sebagai salah satu tonggak peralihan karya sastra indonesia ke era Pujangga Baru dengan Sutan Takdir Alisyahbana sebagai pengarangnya.

            Karya Sutan Takdir Alisyahbana merupakan karya sastra  yang sangat layak untuk menjadi sumber cerita dalam film. Usmar Ismail sendiri, dikutip dari Madjalah Purnama, No, 17, Tahun I, April 1962, halaman 3, mengatakan bahwa  usahanya  merupakan suatu hal yang pertama kali dilakukan. Yakni melakukan ekranisasi karya sastra.

            Anak Perawan disarang Penyamun adalah sebuah roman gubahan pujangga Sutan Takdir Alisyahbana yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada awal tahun 1930-an. Dalam pertimbangan Usmar Ismail untuk memfilmkan novel Takdir Alisyahbana, tidaklah terdapat aspek-aspek komersil. Sebab buku Takdir bukan merupakan buku best-seller.



            Usmar Ismail  memilih untuk memfilemkan sebuah karya kesusastraan  terdorong hasratnya untuk  merintis sebuah tradisi baru, yakni suatu kerjasama  antara para sastrawan dengan para sineas  film.

            Ditilik dari sudut pandang ini dapatlah kiranya dikatakan bahwa Usmar Ismail itu suatu usaha pelopor (dikutip dari http://jurnalfootage.net/v4/kronik/kerjasama-sastrawan-dan-sinemawan-dirintis-anak-perawan-di-sarang-penyamun).

            Kepeloporan Usmar Ismail dalam menjadikan karya sastra ke dalam bentuk film ini patut mendapatkan apresiasi tinggi dan menjadi inspirasi bagaimana mengolah hasil karya sastra bermutu tinggi namun tak populer (tidak komersil) menjadi bentuk film yang juga bermutu tinggi.

            Dalam diskusi setelah pemutaran film, Eddy D. Iskandar mengatakan bahwa khususnya film Perawan Disarang Penyamun ini,   selain di dukung cerita yang berkualitas, juga penonton di suguhi detail setting yang bagus dan akurat, akting yang menonjol, detail busana, dan juga detail adegan yang menyiasati keterbatasan teknologi perfilman saat itu.

            Beberapa apresiator dari penonton mengemukakan bahwa menyaksikan film ini seperti menonton theater dengan setting di dalam hutan, pergerakan kamera dengan pengambilan long shoot dengan scene-scene yang teatrikal, dan pengambilan gambar yang bermakna banyak atau bahkan ibarat menggunakan bahasa visual puitis.



            Misalnya  Eddy menunjukkan adegan Sayu, sang perawan yang ada di film ini yang di perankan dengan apik oleh aktris cantik dimasa itu, Nurbani Jusuf, yang sedang gundah gulana di sungai, menangis, kamera dengan zooming in memperlihatkan butiran air mata lalu pindah ke gambar sungai mengalir dan suara air sungainya yang seakan akan menggambarkan bagaimana pilunya hati seorang wanita yang kedua orang tuanya meninggal dibantai para penyamun dan dirinya tertawan oleh mereka.

            Pola penggambaran seperti ini sudah sangat jarang kita temui di film-film nasional pada saat ini. Begitu juga kerapihan skenario yang memperlihatkan kerapian adegannya, dari tahap perkenalan tokoh, masalah, konflik, adegan puncak, sampai tahapan penyelesaian.



           Sebagai salah satu generasi yang tidak bersentuhan langsung dengan masa film ini beredar, maka saya sendiri memiliki apresiasi terhadap film ini seperti halnya sebagian besar penonton yang tidak mengenali karya sastra ini. Pola cerita ini serupa dengan karya klasik barat yang pada umumnya berakhir dengan kebahagian (happily ever after).

            Dari sisi cerita tentulah tema ini terkesan sangat kuno bagi pemikiran jaman sekarang yang mana dalam porsi kehidupan yang semakin komplek susah di terima ada perawan yang masih perawan di sarang para penyamun dan tidak "diganggu” oleh para anggota rampok yang pasti terkesan sangat garang dan sadis.

            Namun Usmar Ismail tidak banyak mengubah isi cerita yang sudah demikian kuat dari Novelnya, dan hanya memotong cerita bagian akhir yang apabila di baca dari novelnya, Medasing, sang ketua penyamun yang diperankan oleh aktor Bambang Hermanto, akhirnya menjadi orang kaya yang menikahi Sayu di Kota Pagaralam dan menjadi haji, tentu setelah menunaikan ibadah di Mekah.

            Usmar Ismail cenderung menamatkan film pada cerita Medasing dan Sayu bersama sama akan menuju ke kota saja dan tidak memperlihatkan adegan kekayaan mereka di kota. Di satu sisi, saya pikir ini adalah untuk memberikan efek agar film tidak serta merta sama dengan novelnya, dan kedua secara moral, pesan karya sastra  tahun 30an dan film yang di edarkan tahun 60-an memiliki pergeseran nilai moral, seperti contoh bahwa di era sekarang apalagi pasti memiliki penyelesaian berbeda karena secara moral, pergeseran nya sudah sangat terlalu jauh.

            Ketika Sutan menuliskan karya ini, maka kondisi Indonesia masih dijajah Belanda, dan secara cerdik Sutan Takdir Alisyahbana menuliskan perlawanannya tidak secara terang benderang untuk menghindari tuduhan Belanda bahwa karya sastra ini memuat hasutan, tapi melalui dialog Medasing yang menolak ajakan Sayu untuk kembali ke Pagaralam karena tak sudi ditangkap Belanda.


            Dialog ini merupakan kepiawaian Sutan dalam menyembunyikan maksud dari novelnya yang sebenarnya memiliki nilai perjuangan, penyamun sebagai entity yang dipilih Sutan sebagai subyek utama dalam novelnya bisa juga diartikan sindiran terhadap penjajahan kolonilisme. Sehingga Sutan sangat memerlukan penyelesaian akhir yang sangat Islam sebagai representasi pemikirannya dan pemikiran mayoritas masyarakat disaat itu apabila tobat yang paling kuat adalah naik haji sebagai akumulasi kesempurnaan rukun Islam dan pencitraan itu penting untuk memberikan kesan kalau perperangan antara tokoh jahat, dalam hal ini penyamun dan sayu sebagai tokoh baik namun tak berdaya dapat menang dengan doa, integritas dan pengorbanan yang baik sehingga tokoh jahat dapat menjadi baik.

            Kolonial saat itu sangat kuat dengan persenjataan dan infrastruktur yang lebih baik sangat jauh diatas kondisi rakyat Indonesia, tapi melalui novel ini Sutan yakin Indonesia dengan segala kelemahannya akan mampu menang. Usmar Ismail yang memproduksi film ini di tahun 1962 tentu tidak bisa serta merta memasukan ruh ini kedalam filmnya. Situasi pada saat itu adalah kondisi dimana Indonesia telah merdeka dan musuh yang dihadapi tidaklan senyata pada zaman novelnya di terbitkan.

            Ketika tahun 1962-1965 Indonesia sedang berada dalam konflik yang justru berada di bangsa Indonesia sendiri, antara golongan kanan, nasionalis dengan golongan kiri yang di motori komunis, tidak ada musuh seperti kolonial. Dunia sastra diguncang dengan perang urat sastra, melalui majalah dan koran, pada tahun yang sama dengan penayangan film ini, kritikan tajam dari sebuah essai yang diterbitkan di harian Bintang Timur pada tanggal 7 September 1962 oleh penulis yang menyebut dirinya Abdullah SP yang mengkritik karya sastra Tenggelangnya Kapal Van Der Wijk karya Hamka sebagai plagiat dari novel Magdalena karya sastrawan Mesir Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi yang juga hasil saduran dari novel Sous les Tilleuls karya pengarang Prancis, Alphonse Karr.

            Polemik ini seakan akan menandai perperangan antara golongan kanan dan nasionalis melawan golongan kiri atau komunis pada saat itu melalui media sastra. Hal ini berimbas kepada film ini, dikarenakan salah satu pemainnya diduga masuk dalam golongan kiri,film ini tidak dapat beredar luas di bioskop Indonesia.

            Memang tak mudah menganalisa kejanggalan mengapa film ini tidak dapat beredar, dilihat dari ceritanya secara verbal dan visual tidaklah menyinggung salah satu golongan, namun dugaan saya adalah, saya yakin Usmar Ismail adalah nasionalis, terbukti dari film-film berikutnya yang kebanyakan kental dengan sejarah perjuangan bangsa, dan juga dari kredit title di film yang sekilas saya baca banyak tulisan berisi ucapan terima kasih kepada personal militer.

            Dalam film ini sendiri lantunan ayat suci Al Quran secara lugas di tilawah-kan oleh sayu, dan di kredit title di awal film juga ada ucapan terima kasih kepada ibu-ibu pengajian, cukup membuktikan kalo film ini cukup “kanan”, sehingga alasan badan sensor film melarang peredaran film ini kemungkinan bisa jadi anggota BSF nya pada tahun-tahun tersebut di pengaruhi oleh golongan kiri yang beranggapan sang pengarang dari cerita film ini adalah musuh revolusi.

            Namun dibalik semua kontroversi tersebut, film ini patut di apresiasi tinggai sebagai hasil pertama kolaborasi sineas film dan sastrawan. Walaupun, ada Novel Siti Nurbaya yang terlebih dahulu di filmkan oleh Hindia Belanda dengan Sutradara seorang keturunan Tiongkok pada tahun 1942, namun tetap saja Perawan Disarang Penyamun merupakan hasil karya putra bangsa yang di produseri oleh Perfini yang merupakan perusahaan film nasional pribumi pertama sehingga hal ini tetap menjadi tonggak perpaduan karya sastra dan film.

            Sekarang kita mengenal Laskar Pelangi sebagai film terlaris saat ini di adaptasi dari novel dengan judul yang sama dari Andrea Hirata. Begitupun tidak jauh jauh dari FFB, Film "Gita Cinta dari SMA" merupakan adaptasi dari Novel berjudul sama buah karya Eddy D. Iskandar yang menjadikan film ini sebagai film remaja monumenal dan mengangkat Rano Karno dan Yessy Gusman sebagai idola remaja Indonesia saat itu.

            Patut menjadi catatan penting, dalam dua tahun terakhir, perfilman Indonesia mencetak angka tertinggi untuk film-film yang di adaptasi dari novel, seperti "5 Cm", "Cinta Brontosaurus", "Manusia Setengah Salmon", "Tenggelamnya Kapan Van Der Wijk",  dan masih banyak lagi yang lain.

            Mudah-mudahan apresiasi dari penonton film klasik ini dapat menginspirasi lahirnya karya-karya film yang bermutu.
           
Sampai Jumpa di pemutaran film klasik di bulan Juni berikutnya.






Bandung, 23 Mei 2014
» » » Edge Of Tomorrow, Thriller Fiksi-Ilmiah tentang Invasi Alien » Kisah Anak Perawan Yang Disarang dan Disayang Penyamun » Menakar Pentingnya Sebuah Resensi Film » » X-MEN Days of Future Past » » GODZILLA, Reboot dengan Laga dan CGI yang menawan
Forum Film Bandung Forum Film Bandung Author
Title: Kisah Anak Perawan Yang Disarang dan Disayang Penyamun
Author: Forum Film Bandung
Rating 5 of 5 Des:
Oleh Eriko Utama (FORUM FILM BANDUNG) SETELAH hampir sebulan direncanakan, akhirnya Forum Film Bandung atau yang lebih dikenal denga...

Menakar Pentingnya Sebuah Resensi Film

Oleh DHIPA GALUH PURBA

(FORUM FILM BANDUNG)

Resensi adalah kupasan atau bahasan mendalam mengenai suatu karya intelektual yang telah disiarkan melalui media. Adapun yang dimaksud karya intelektual adalah hasil suatu pemikiran dan kecerdasan manusia, yang bisa berbentuk desain, seni, karya tulis, atau penerapan praktis suatu ide. Maka karya-karya intelektual yang biasanya diresensi adalah buku, film, teater atau drama, lagu, dan lain-lain. Film merupakan karya seni, yang tentu saja menjadi sebuah karya intelektual.
            Resensi berasal dari bahasa Latin, yaitu revidere atau recensere. Artinya melihat kembali, menimbang, atau menilai. Pada bahasa Belanda, dikenal dengan istilah recensie. Sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah review. Jadi, kalau melihat kata asalnya,  review bisa merupakan kupasan atau bahasan tentang berbagai hal selain karya intelektual. Namun di Indonesia kata “Resensi” sudah biasa digunakan untuk membahas karya-karya intelektual yang telah disiarkan oleh media. Adapun media yang dimaksud tergantung pada karyanya sendiri. Karya tulis, m├ędianya buku, koran, majalah, atau website. Karya film, media penyebarannya bioskop, televisi, atau website. Karya teater, media pementasannya panggung.

     
       Jadi, Resensi Film adalah kupasan atau bahasan mendalam mengenai sebuah film yang telah disebar melalui media. Di dalam resensi, mengandung kritik membangun. Maka bagi para pencipta karya seni, termasuk film, harus siap dikritik pada saat menciptakan sebuah karya. Kritik itu sehat. Manusia akan lebih terhormat mendapat kritikan atas karya-karyanya, dibandingkan manusia yang tidak pernah dikritik karena tidak pernah melahirkan karya apapun. Sebab, kritik film atau kritik karya apapun merupakan sebuah afresiasi terhadap karya. Afresiasi adalah sebuah wujud penghargaan bagi orang atau sekumpulan orang yang melahirkan karya.
            Maka, tujuan utama membuat resensi film pun tiada lain sebagai wujud afresiasi terhadap para sineas  yang telah melahirkan karya berupa film. Selain itu, resensi film juga bertujuan untuk memaparkan pemahaman komprehensif  dari  film tersebut. Kemudian, penulis resensi bisa mengajak para penikmat film lainnya untuk memikirkan, merenungkan, dan mendiskusikan lebih jauh fenomena  yang muncul dalam film tersebut. Dari semua itu,  pada akhirnya sebuah resensi film diharapkan bisa memberikan pertimbangan kepada calon penonton atau penikmat film, dan memberikan masukan yang sangat berharga kepada masyarakat dalam memilih film.
            Iklan-iklan film tersebar hampir di sebuah media cetak. Trailernya pun mudah didapatkan di website atau sengaja ditampilkan di televisi. Masyarakat perlu mendapat pencerahan tentang film yang beredar tersebut. Kalau perlu, merekomendasikan untuk menonton atau bahkan tidak perlu menonton film-film tertentu. Kata ”tidak perlu” memang terlihat cukup kejam. Namun, untuk film-film yang memang tidak patut ditonton, tak ada salahnya menyarankan untuk tidak perlu ditonton. Hal itu berkenaan dengan kurang berfungsinya lembaga sensor film. Para pengurus yang menduduki kursi lembaga sensor film saat ini, tidak bekerja secara maksimal dalam menyensor film. Sudah menjadi rahasia umum bahwa film-film yang tidak patut ditonton, ternyata memiliki label lulus sensor.
            Belum lagi maraknya DVD bajakan yang tidak ada instansi manapun sanggup meredamnya. Masyarakat semakin bebas membeli film dengan harga yang super murah. Harga DVD bajakan rata-rata Rp 5.000,-. Dalam satu keping DVD, ada yang memuat 10 judul film. Artinya, satu judul film hanya dihargai Rp 500,-. Lebih murah dibanding harga satu batang rokok. Selain DVD bajakan yang mudah didapat dan murah, ditambah lagi dengan website yang menyediakan beragam film untuk didownload dengan gratis. Jelas peran resensi film untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat semakin penting. Paling tidak, masyarakat tidak terlalu kalap untuk menonton segala film yang justru bisa menjadi salahsatu pendorong keruntuhan nilai-nilai moral.
            Dengan kondisi seperti itu, seorang penulis resensi film harus sigap untuk menyaksikan film lebih awal. Sebab, pada saat film diluncurkan, akan selalu bersamaan dengan penyebaran sinopsis dan pencitraan film tersebut yang sama-sama mengaku bernama resensi film. Atau bisa saja dikatagorikan sebuah resensi deskriptif. Suatu resensi yang hanya berisi pemaparan datar mengenai sebuah film, berisi sinopsis dan pujian tanpa argumen yang kuat. Sementara resensi yang bagus harus deskriptif evaluatif atau bahkan lebih hebat lagi kalau deskriptif komparatif.

Langkah-langkah Membuat Resensi Film
Pertama-tama tentunya harus mengenali film yang akan diresensi. Artinya harus menyimak atau menonton filmnya terlebih dahulu. Kuncinya jangan lupa, bahwa penulis skenario harus sigap untuk menonton. Jangan sampai film sudah tidak tayang di bioskop, resensinya baru ditulis, meskipun tetap saja bermanfaat.
Memilah unsur ekstrinsik dan intrinsik dalam film. Hal yang termasuk dalam unsur intrinsik adalah tema film, plot, alur, latar tempat, konflik, penokohan, tata suara, musik, dan segala hal yang nampak dalam film tersebut. Sedangkan unsur ekstrinsik meliputi latar belakang para sineas dibalik film tersebut, baik yang tergabung dalam tim sinematik maupun non sinematik. Singkatnya, yang termasuk dalam tim sinematik adalah orang-orang yang berhubungan langsung dengan sinematografi. Yakni, tim yang bekerja dalam pengambilan gambar dan suara dalam film tersebut, terutama sutradara, penulis skenario, dan para aktor/ aktrisnya. Pada saat pengambilan gambar, penulis skenario memang tidak perlu terlibat langsung di lapangan, tapi naskahnya menjadi rujukan sutradara. Maka jelas penulis skenario pun termasuk dalam tim sinematik.
Sedangkan tim non-sinematik adalah orang yang sama-sekali tidak terlibat dalam pengambilan gambar dan suara, tetapi tetap berpengaruh dalam proses pembuatan film. Diantaranya produser, unit manager, dan marketing. Bahkan khusus bagi produser, meskipun tidak terlibat dalam pengolahan film, tetapi perannya cukup signifikan. Sebagai penyandang dana, produser bisa saja memaksakan keinginannya dalam film tersebut. Maka, alangkah baiknya jika seorang produser merangkap menjadi sutradara. Sebab, ia akan memahami film yang akan dibuatnya dengan pertimbangannya sebagai pengusaha dan seniman. Berbeda dengan seorang produser  yang orientasinya hanya keuntungan belaka. Perlu dipelajari latar belakang tempat tinggalnya, hal yang berkaitan dengan sosial budaya, pandangan ideologinya, agamanya, ekonominya, pendidikannya, dan jejak rekam lainnya yang bisa dikaitkan dengan film tersebut. Produser yang sehari-harinya memegang ajaran agama, tidak akan mengeluarkan biaya untuk membuat film sembarangan. Contoh produser yang merangkap sutradara adalah  Dedy Mizwar pada sireal ”Kiamat Sudah Dekat”, Rano Karno pada serial ”Si Doel Anak Sekolahan”.
            Setelah mengamati unsur instrinsik dan ekstrinsik film yang akan diresensi, maka bisa dimulai dengan menuliskan tema film tersebut dan  membuat sinopsisnya. Boleh membaca sinopsis yang dibuat oleh orang lain sebagai bahan perbandingan. Tapi biasakan untuk menanamkan keyakinan bahwa sinopsis yang benar adalah sinopsis hasil dari pengamatan sendiri. Bisa sama dengan yang dibuat orang lain, bisa sedikit berbeda. Lalu menuliskan latar belakang cerita dalam film tersebut. Apakah film itu diangkat dari kisah nyata kehidupan (biofic) semisal Habibie Ainun atau 99 Cahaya di Langit Erova? Apakah berlatar sejarah? Ataukah Fiksi murni? Penulis resensi juga bisa menelesuri apakah cerita dalam film tersebut diangkat dari  sebuah novel, cerpen, sandiwara radio, dongeng, cerita legenda, dan lain-lain.
Kemudian menentukan golongan/ genre film yang diresensi. Lalu menandai bagian film yang akan dijadikan sebagai kutipan. Biasanya berupa adegan atau dialog yang dianggap penting. Dan yang terpenting adalah menganalisanya. Lebih baik lagi kalau membandingkan dengan film lainnya yang dianggap relevan sebagai bahan perbandingan.
Setelah semuanya selesai, buatlah judul resensinya. Judul resensi tidak perlu menuliskan nama judul film. Misalnya untuk meresensi film ”99 Cahaya di Langit Erova”, kita bisa membuat judul ”Pluralisme di Erova” atau ”Perjalanan Menyusuri Bumi Erova”. Membuat judul harus semenarik mungkin. Dan sebagai catatan, judul resensi bisa dibuat sebelum resensinya ditulis atau setelah resensinya selesai. Tergantung dari kebiasaannya. Tapi biasanya ide untuk membuat judul itu muncul setelah resensinya selesai atau di tengah perjalanan menulis resensi.


» » » Edge Of Tomorrow, Thriller Fiksi-Ilmiah tentang Invasi Alien » Kisah Anak Perawan Yang Disarang dan Disayang Penyamun » Menakar Pentingnya Sebuah Resensi Film » » X-MEN Days of Future Past » » GODZILLA, Reboot dengan Laga dan CGI yang menawan
Forum Film Bandung Forum Film Bandung Author
Title: Menakar Pentingnya Sebuah Resensi Film
Author: Forum Film Bandung
Rating 5 of 5 Des:
Oleh DHIPA GALUH PURBA (FORUM FILM BANDUNG) Resensi adalah kupasan atau bahasan mendalam mengenai suatu karya intelektual yang tela...

X-MEN Days of Future Past

Sebuah jembatan antara karakter dan cerita para X-Men di masa lalu dan masa depan, Brilliant Film!

Oleh Ardityo Danoesoebroto, S.Si., M.T.  
(FORUM FILM BANDUNG)

My Rating : 8.5/10

Film X-Men baru, berjudul Days Of Future Past, merupakan adaptasi dari tahun 1980-an alur cerita komik dengan nama yang sama. Diperbarui untuk film baru, bercerita tentang  masa depan X-Men terhadap kepunahan dari program Sentinel tahun 1970-an. Untuk menghentikan masa yang mengerikan ini, Wolverine telah melakukan perjalanan waktu ke tahun 1973 untuk meyakinkan rekan tim lamanya untuk mengubah kejadian di masa lalu sehingga mereka dapat bertahan hidup di masa depan. Dalam urutan kronologis, film ini merupakan sekuel yang dimulai beberapa tahun setelah peristiwa X-Men: The Last Stand dan The Wolverine di masa depan yang dystopia, dan melibatkan perjalanan waktu kembali ke masa beberapa waktu setelah peristiwa X-Men: First Class, di pertengahan tahun 1970-an.



Para aktor yang kita kenal dan cintai dari semua film sebelumnya hadir disini : Hugh Jackman (sebagai Logan / Wolverine), Patrick Stewart dan James McAvoy (sebagai Charles Xavier sebagai tua dan muda) , Ian McKellen dan Michael Fassbender (sebagai Eric / Magneto tua dan muda ) , Si Shape-Shifter, Jennifer Lawrence (sebagai Raven / Mystique) - semua melakukan perannya sangat baik dalam karakternya masing-masing. Ada juga Nicholas Hoult perannya sebagai Hank McCoy muda / Beast. Akan ada adegan pendek dan mengejutkan oleh Halle Berry dan Anna Paquin sebagai Storm dan Rogue. Adapun Shawn Ashmore (Iceman), serta beberapa tambahan baru termasuk Omar Sy (Bishop) dan Booboo Stewart (Warpath). Untuk anggota cast baru, Evan Peters bersinar dalam kinerja yang luar biasa sebagai Quicksilver, karakter yang dilakukannya adalah bergerak dengan cepat, lebih cepat dari peluru barangkali bahkan lebih. Ellen Page muncul sebagai Kitty Pryde, yang kekuatannya memungkinkan bagi Wolverine / Logan untuk melakukan perjalanan kembali ke masa lalu. dan yang terakhir Bingbing Fan (Blink)  adalah favorit saya dari urutan ini, kekuatannya membuka dan menutup portal digunakan dalam cara-cara yang benar-benar kreatif sehingga laga film mengalir dengan baik.




Banyak pengembangan karakter dalam film ini dari semua pelaku baik di masa lalu maupun masa depan. Tetapi orang yang diam-diam mencuri isi film bagi saya adalah Jennifer Lawrence / Raven / Mystique yang praktis mencuri setiap adegan yang ia mainkan, bukan hanya karena sebagian besar plot cerita tergantung pada jalur karakternya yang menjadi baik atau menjadi buruk, tapi dalam film ini kita melihat lebih banyak dari diri batinnya yang sampai saat ini tidak begitu terekspose. Pada tahun 1973 darahnya akan digunakan untuk membuat mesin robot khusus yang dibuat oleh Dr. Bolivar Trask (Peter Dinklage) dan disebut dengan nama Sentinel dan 50 tahun setelah itu akan menjadi penentu apokaliptik dari kepunahan dunia.


"X-Men: Days of Future Past" tidak pernah bingung atau lost-story dengan sekelompok karakter mutan dan selalu fokus ke topik utama. Semua pemeran utama dan pemeran pembantu ditempatkan sebagaimana mestinya dan diberikan porsi yang hampir sama pada setiap karakter sementara plot itu sendiri terstruktur dengan baik antara waktu masa depan dan masa lalu yang diatur dengan rapih. Campuran laga-drama-komedi diletakkan di tempat yang tepat dan tidak pernah mengurangi faktor menyenangkan dari yang ditawarkan film ini. Menurut saya sedikit referensi sejarah seperti penangkapan dan dipenjaranya Magneto di Pentagon untuk tuduhan membunuh JFK (tidak diceritakan secara detail pada film, silakan buka link ini : Mini Documentary - The Bent Bullet), atau adegan dengan Presiden Richard Nixon sebagai contoh memberikan seluruh cerita dimensi tambahan referensi sejarah membuatnya lebih menyenangkan. 





Special effects dan aksi penuh CGI dengan visual yang mengesankan hadir pula di film ini. Khususnya adegan jail-break Magneto dari Pentagon oleh pahlawan X-Men, terutama mutan super cepat dengan nama Quicksilver (Evan Peters). Adegan Slow-Motion bercampur rasa humor dan lagu "Time in a Bottle" di latar belakang membuatnya sangat mengesankan, lucu dan indah. Adegan yang difilmkan dengan cemerlang oleh sutradara Bryan Singer dalam format khusus 3600 frame/menit. Ini berarti bahwa Quicksilver akan bergerak 1.500 kali lebih cepat daripada berjalan normal di sekitar ruangan dan sekaligus melumpuhkan mereka. Keren! Top-Markotop!. Urutan epik lain adalah ketika sebuah arena olahraga seluruhnya diangkat dari fondasinya dan digunakan untuk mengepung Gedung Putih oleh Michael Fassbender / Magneto muda.
 


Seperti film-film Marvel lainnya, menunggulah sampai akhir credit karena ada klip pendek ekstra seorang sosok berjubah dan sebuah Piramida. Adegan bonus ini adalah untuk Installment X-Men berikutnya dengan judul X-Men: Apocalypse (2016). Sedikit bocoran, kamera dimulai di padang gurun dan diperlihatkan sosok berkerudung berdiri di atas gundukan pasir raksasa, membelakangi dan menghadap jauh dari penonton. Kerumunan ratusan manusia tunduk kepadanya dibawah meneriakkan "En Sabah Nur." Saat ia mengangkat tangannya piramida raksasa mulai terbentuk. Kamera berputar untuk mengungkapkan wajahnya pucat dengan bibir biru, serta empat penunggang kuda berdiri di atas sebuah bukit di kejauhan. "En Sabah Nur" adalah nama Egyptian/Mesir dari salah satu penjahat favorit penggemar X-Men, Apocalypse. Dalam komik, Apocalypse dibesarkan di Mesir kuno dan memiliki kulit abu-abu dan bibir biru. Biasanya, ia ditemani oleh empat penunggang kuda. Saya sudah tidak sabar menunggu installment berikutnya dikarenakan Bryan Singer sudah mengkonfirmasi bahwa X-Men Apocalypse akan mengandung lebih banyak Mass Destruction daripada film-film X-Men sebelumnya.  
» » » Edge Of Tomorrow, Thriller Fiksi-Ilmiah tentang Invasi Alien » Kisah Anak Perawan Yang Disarang dan Disayang Penyamun » Menakar Pentingnya Sebuah Resensi Film » » X-MEN Days of Future Past » » GODZILLA, Reboot dengan Laga dan CGI yang menawan
Forum Film Bandung Forum Film Bandung Author
Title: X-MEN Days of Future Past
Author: Forum Film Bandung
Rating 5 of 5 Des:
Sebuah jembatan antara karakter dan cerita para X-Men di masa lalu dan masa depan, Brilliant Film! Oleh Ardityo Danoesoebroto , S.Si., M....

GODZILLA, Reboot dengan Laga dan CGI yang menawan


Oleh Ardityo Danoesoebroto, S.Si., M.T.  
(FORUM FILM BANDUNG)

My Rating : 6.7/10

Film Godzilla ini bukanlah remake dari Godzilla tahun 1998 melainkan reboot dari seri-seri Godzilla tahun 1954, tidak ada hubungannya dengan film godzilla yang remake itu. Timing dari peluncuran film ini di bioskop cukup menarik karena setelah bencana pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima-Daiichi di Jepang tahun 2011, memberikan film ini beberapa relevansi kontekstual. Godzilla selalu identik dengan tenaga nuklir dan perang antar monster. 'Si Raja Monster' pertama kali dipopulerkan oleh produser film Tomoyuki Tanaka pada 1950-an sebagai respon terhadap Perang Dunia Kedua dan pemboman Hiroshima sebagai cara untuk memvisualisasikan ketakutan serangan nuklir di masa depan. Sejak saat itu Godzilla menjadi pokok budaya yang sangat besar di Jepang, Godzilla termasuk dalam kelompok makhluk yang disebut "Kaiju" yang dalam bahasa Jepang berarti "makhluk aneh". Nama Godzilla (Gojira atau dalam bahasa Jepang) adalah kombinasi dari "gorira" (gorilla) dan "kujira" (paus). Menurut Wikizilla Godzilla adalah "daikaiju" yang menekankan kekuatan monster. Ada dua puluh delapan film Jepang tentang Godzilla atau Gojira, yang pertama difilmkan pada tahun 1954 oleh Ishiro Honda.




Cerita ini dimulai di Jepang pada tahun 1999 sebagai ahli fisika nuklir Joe Brody (Bryan Cranston) menyelidiki aktivitas seismik di pembangkit listrik tenaga nuklir Janjira. Ketika sebuah tim di pabrik termasuk istrinya yang seorang ilmuwan, Sandra (Juliette Binoche) , meninggal dalam apa yang orang percaya adalah bencana alam, Joe mendedikasikan hidupnya untuk membuktikan bahwa apa yang menyebabkan gempa bumi/kerusakan adalah bukan alami.

Lima belas tahun kemudian, kita bertemu dengan Ford Brody (Aaron Taylor-Johnson) yang merupakan anak putra dari Joe yang tinggal  di San Francisco dan tinggal bersama istrinya (Elizabeth Olsen) dan anak mereka. Ia dipanggil ke Jepang untuk membebaskan ayahnya, yang ditangkap saat mencoba menyelinap ke rumah keluarga tua didalam area karantina. Joe menjadi terobsesi kerena ingin menemukan sumber kecelakaan, dan penelitian saat ini menunjukkan bahwa insiden yang sama yang pernah menghancurkan hidupnya diambang terjadi lagi. Ford enggan setuju untuk membantu ayahnya tetapi karena diluar rasa ingin tahu, Ford dan Joe kembali di lokasi kecelakaan, di mana pemerintah Jepang menyembunyikan sesuatu yang besar. Sesuatu yang sangat besar.

Film ini secara visual sangat sempurna, acungan jempol untuk orang-orang di balik efek visual, sinematografi, editing,  penata suara, mixing, adegan laganya luar biasa, tetapi dilain hal cerita sangat lemah dan akting yang buruk, dan saya menemukan bahwa film ini kurang menceritakan tentang Godzilla dan lebih banyak tentang kehidupan tak berdaya dari Ford Brody. Karakter-karakter dalam film tidak menarik atau tidak memiliki banyak kepribadian pada dasarnya hanya stereotip bukan orang yang nyata dan karena itu benar-benar sulit untuk peduli apa yang terjadi pada mereka dan sehingga seluruh film menjadi tidak menarik. Para pemeran melakukan banyak ekspresi emosi, mata berkaca-kaca dengan satu sama lain atau melihat kekacauan di sekitar mereka dan ada banyak tragedi pribadi dan lain-lain tetapi semuanya terasa tak bernyawa.

Satu-satunya peran yang terasa menarik dan mengalihkan perhatian saya adalah akting Bryan Cranston, peran dia sangat baik. Dalam adegan di mana istrinya meninggal saya percaya bahwa ia benar-benar sedih. Seluruh kinerjanya yang luar biasa agak memilukan karena dia hanya muncul untuk mungkin 20-25 menit dan kemudian hanya mati meninggalkan saya dengan seluruh cerita untuk diberitahu melalui putranya, Ford Brody. Karakter Ford terasa sedikit satu dimensi untuk saya. Seperti dia tidak punya cukup karakter. Aku lebih peduli melihat istrinya (Elizabeth Olsen) tetap hidup dan bersembunyi di suatu tempat sementara, sedangkan Ford mempertaruhkan hidupnya untuk menjinakkan bom untuk menyelamatkan ribuan orang. Peran lain Ken Watanabe seperti biasanya bagus.

Salah satu dari produser film Brian Rogers pada tahun 2010 membocorkan bahwa film Godzilla (2014) akan berkelahi dengan monster lain. Pada 2013 di San Diego Comic-Con, diperkenalkan makhluk serangga yang akan menjadi musuh Godzilla, diungkapkan bahwa salah satu monster yang ditampilkan dalam film bernama "M.U.T.O" dan memiliki delapan kaki dan di tegaskan pula bahwa ada monster lain yang akan memiliki sayap. Musuh Godzilla yaitu M.U.T.O (Massive Unidentified Terrestrial Organism, definisi: makhluk supernatural yang merupakan "musuh" Godzilla dan hidup dengan mengkonsumsi energi radioaktif).


Godzilla bukan "pahlawan" dan bukan juga "musuh" dia hanya binatang mencoba untuk mengalahkan/menghancurkan hal-hal yang menurutnya mengancam dirinya. Dia tidak menyerang manusia. Saya merasa dia tidak menyerang manusia hanya karena... mereka manusia, kalaupun dia sepertinya menyerang manusia itu langkah yang tidak sengaja. Mereka bukan ancaman baginya, mereka mencoba untuk menjatuhkan bom nuklir pada dirinya dan dia hanya santai saja pergi seolah-olah tidak ada yang terjadi. Dia berkelahi dengan M.U.T.O karena mereka ancaman baginya. Pertarungan antara Godzilla dan M.U.T.Os adalah sesuatu yang keluar dari mimpi masa kecil saya . Dia melempar dan membanting para M.U.T.O kemana-mana, dan yang berikutnya akan melihat ekornya menyala biru, saya sempat mendapatkan perasaan yang menakjubkan karena tahu apa yang akan terjadi. Iya betul... NAPAS ATOMIC!! Godzilla mengambil rahang dari M.U.T.O yang lebih besar dan saya pikir dia akan mematahkan rahang itu dan itu akan menjadi luar biasa tetapi nyatanya apa yang dia lakukan? Godzilla menggunakan NAPAS LASER dan menembaknya ke bawah tenggorokan M.U.T.O sampai kepalanya LEPAS!. Semua bagian yang paling penting dari apa yang membuat Godzilla ikonic hadir di sini, termasuk gemuruh/teriakan/raungan, 'Nafas Atom/Nafas Laser' dan penghacuran monster-monster lain dan Ia digambarkan sebagai semacam pahlawan yang menyelamatkan seluruh kota dari musuhnya.
» » » Edge Of Tomorrow, Thriller Fiksi-Ilmiah tentang Invasi Alien » Kisah Anak Perawan Yang Disarang dan Disayang Penyamun » Menakar Pentingnya Sebuah Resensi Film » » X-MEN Days of Future Past » » GODZILLA, Reboot dengan Laga dan CGI yang menawan
Forum Film Bandung Forum Film Bandung Author
Title: GODZILLA, Reboot dengan Laga dan CGI yang menawan
Author: Forum Film Bandung
Rating 5 of 5 Des:
Oleh Ardityo Danoesoebroto , S.Si., M.T.   (FORUM FILM BANDUNG) My Rating : 6.7/10 Film Godzilla ini bukanlah remake dari Godzilla t...
×