Senin, Desember 26, 2016

[Review] Pasukan Garuda I Leave My Heart in Lebanon




Antara Profesionalisme dan Kisah Cinta yang Rumit
oleh: Efi Fitriyyah (Sahabat FFBComm) 

     Menyelaraskan antara profesionalisme pekerjaan dan urusan pribadi bukanlah hal yang mudah bagi setiap orang. Dalam situasi tertentu harus ada skala prioritas. Seperti itu juga yang dialami oleh Satria (Rio Dewanto) yang sedang menyiapkan pernikahannya dengan Diah (Revalina S Temat). Saat ibunya Diah (Tri Yudiman) meragukan keseriusan calon menantunya, Satria mendapat tugas berangkat ke Lebanon sebagai pasukan penjaga perdamaian di sana.

     Sejak permulaan, Pasukan Garuda: I Leave My Heart in Lebanon yang berdurasi 93 menit ini banyak menyuguhkan keharuan baik ketika keluarga para prajurit melepas mereka sebelum pergi atau ketika mereka sudah berada di Lebanon. Beberapa balutan kelucuan spontanitas bisa menggariskan lengkung senyum ditengah-tengah keharuan yang menyergap penonton. Serka Gulamo yang diperankan oleh Boris Bokir adalah salah satu karakter yang paling banyak membuat kelucuan dalam film dengan celetukan spontannya.

      Ada satu tokoh film yang mencuri perhatian saya waktu menonton film ini. Salma, anak dari Rania (Jowy Khoury) yang juga membuat hubungan Satria dengan Diah semakin terusik. Padahal sebagai seorang tentara yang profesional, Satria hanya ingin membantu Salma pulih dari trauma (ayahnya meninggal karena serangan bom di pasar) yang membuat gadis kecil itu tidak ingin bicara. 

     Usaha Satria yang ingin menyembuhkan Salma mau tidak mau membuatnya jadi sering bersama dengan Rania, dan ini yang diketahui oleh Diah di tanah air. Setiap adegan film yang menunjukan dialog satu arah Satria dengan Salma sukses membuat saya terharu dan ingin memeluk gadis kecil itu. 

     Selama menonton film ini juga saya merasa tersindir dengan karakter Diah dengan sifat khas yang perempuan banget. Ngambek, tapi gak mau bicara dan gak mau menerima penjelasan. Saya jadi ingat sama meme-meme yang beredar di media sosial ketika perempuan bilang terserah, malah justru membuat para pria serba salah untuk memahahi maunya pasangan. Cukup geregetan ketika dalam salah satu adegan Satria berusaha menjelaskan hubungannya dengan Rania, Diah malah mengabaikannya.

     Jika diperhatikan dengan jeli sikap Satria saat bersama Salma dan Rania,  menurut saya seharusnya penonton akan lebih berpihak pada Satria, bukan menyalahkannya dan membela Diah. Kesal juga saya sama Diah soal komitmennya. Ketika mengantar Satria pergi, Diah yang berprofesi sebagai dokter berdarah Sunda itu bilang kalau datang melepas kepergian Satria karena berharap bertemu lagi dengan Satria saat kembali nanti. Seiring kecemburuannya yang semakin membuncah, ia malah bersikap plin-plan menghadapi Andri yang lebih agresif. Duh, perempuan memang rumit, ya. 

      Momen-momen saat Satria bersama Salma menjadi adegan favorit saya sepanjang film ini. Meski begitu ada yang bikin saya bingung juga ketika dalam situasi sedang berdinas, Satria memberikan baretnya kepada Salma. Padahal waktu itu tidak jauh dari posisinya Danki - begitu Satria disapa teman dan anak-anak buahnya – sedang bersama rombongan pasukan. Kalau itu terjadi di dunia nyata, kira-kira kena konsekuensi hukuman ga, ya? Dalam adegan lainnya anak buah Satria yang membiarkan ponselnya dalam keadaan on pun sempat kena teguran meski alasannya sedang menunggu berita kelahiran anaknya.

     Overall, selama kurang lebih satu jam setengah menonton film besutan Benni Setiawan ini kita akan mendapatkan banyak hal yang menarik untuk dibahas. Selalu ada konsekuensi dari setiap pilihan yang kita ambil. Dibalik hati yang membaja karena pengabdian untuk tanah air, sesungguhnya para prajurit juga sama seperti kita orang-orang biasa. Bukan robot berwajah datar yang tak memiliki perasaan. Ada sisi sentimen yang harus diabaikan demi profesionalitasnya. Hanya siapa yang sanggup bertahan menanti dan menjaga hati dari dugaan yang berlebihan yang justru malah membuat situasi jadi semakin runyam. 

     Walau bukan berasal dari keluarga tentara, sepertinya siapa pun (termasuk saya) yang menonton film ini akan merasakan pengalaman baru memahami hubungan antara keluarga, pekerjaan dan interaksi sosial seperti yang dialami Satria.

, ,

1 komentar: