Minggu, Juli 26, 2015

Ikhlas diatas Ikhlas dalam “Surga Yang Tak Dirindukan”


Catatan Sudama Dipa

Tema poligami tentu saja bukan hal  baru yang diangkat ke layar lebar. Sebelumnya, ada beberapa film bertema poligami yang digarap secara apik dan menarik, semisal film besutan sutradara Nia Dinata berjudul ”Berbagi Suami” (2006) atau film karya sutradara Hanung Brahmantyo ”Ayat-ayat Cinta” (2008).  Pada tahun ini, dalam suasana Idul Fitri 1436 H, hadir lagi sebuah film bertema poligami berjudul ”Surga Yang Tak Dirindukan”.
Diangkat dari sebuah novel karya Asma Nadia, ”Surga Yang Tak Dirindukan” dibintangi oleh Fedi Nuril, yang sebelumnya pernah memerankan tokoh yang kurang-lebih hampir mirip dengan perannya dalam film ”Ayat-ayat Cinta”. Mirip maksudnya sama menjadi lelaki berpoligami. Dan memang Fedi Nuril tampaknya masih belum bisa membebaskan diri dari ”Ayat-ayat  Cinta”, meski sudah berganti nama dari Fahri bin Abdilla menjadi Prasetyo. Terlalu kuat pengkarakteran yang yang dibangun sutradara Hanung terhadap aktor Fedi Nuril, sehingga sulit terlepas saat memerankan tokoh lain. Terlebih lagi karakter tokohnya mirip.
Dari judulnya pun sudah tercium aroma penolakan kaum hawa terhadap poligami. Ketika semua orang merindukan kehidupan di surga atau minimal tidak berharap terjerumus ke neraka, judul ini sudah lebih awal dengan tegas menolak masuk surga jika caranya harus dipoligami. Masih banyak jalan untuk masuk surga, selain harus dipoligami. Suatu keresahan kaum hawa yang tetap aktual. Poligami diperbolehkan dalam ajaran Islam, tetapi dengan syarat-syarat ketat yang harus dipenuhi.
Dalam cerita ”Berbagi Suami”, kesimpulannya yang saya baca, jelas sangat tegas 99% memvonis para lelaki yang berpoligami hanyalah dilatarbelakangi oleh nafsu birahi. Sebab, alasan poligami untuk menghindari perzinahan merupakan alasan lucu dan dipaksakan. Lucu, karena tidak ada jaminan lelaki yang berpoligami tidak akan berzinah. Dan secara sadar atau tidak sadar,  alasan ”menghindari perzinahan” tentu saja sedikit-banyaknya telah memojokkan kaum adam yang tidak berpoligami.
Berbeda dengan film ”Surga Yang Tak Dirindukan”. Alasan Pras berpoligami adalah demi menyelamatkan nyawa seorang wanita cantik bernama Meirose, yang diperankan oleh Raline Shah. Mei ditolong oleh Pras, ketika ia berusaha melakukan bunuh diri dengan sengaja membanting mobilnya hingga terperosok ke tebing.
Pras yang kebetulan melewati lokasi kejadian, langsung menolongnya dan membawa ke rumah sakit. Mei ternyata sedang mengandung, dan pada saat itu bayinya lahir di rumahsakit. Setelah ditolong, Mei tetap berusaha bunuh diri dengan cara mau melompat dari lantai atas Rumah Sakit. Pada momentum itulah, Pras berjanji akan menikahi Mei, asalkan Mei tidak melanjutkan niatnya untuk bunuh diri. Perlu digaris bawahi, bahwa Pras berjanji menikahi Mei adalah semata-mata untuk menyelamatkan nyawa Mei dan tidak mau anaknya Mei kehilangan ibunya.
Itulah awal konflik dalam cerita ”Surga Yang Tak Dirindukan”. Jelas saja, Arini, istri Pras yang telah dikaruniai seorang anak dari hasil pernikahannya, sangat murka ketika mengetahui suaminya telah menduakan cintanya. Berbeda dengan Mei, yang sudah mengetahui Pras sudah beristri. Mei memilih bersenandung ”jadikan aku yang kedua”. Mei resmi menjadi istri Pras. Anaknya Mei, diberi nama ”Akbar” oleh Pras.
Kuntz Agus, sutradara ”Surga Yang Tak Dirindukan” piawai dalam mengolah struktur dramatik, sehingga film ”Surga Yang Tak Dirindukan” menjadi tontonan yang memikat untuk disimak. Cara pengambilan gambar, pencahayaan, dan tata musiknya menyatu dalam sebuah karya film yang sangat layak untuk diapresiasi.
Wajar jika film ini memiliki daya tarik luar biasa untuk mempengaruhi emosi penonton. Saya menonton film ini di tengah isak tangis kaum akhwat yang nampaknya sesekali tak tertahan. Ketika pertunjukan selesai, banyak terlontar pujian  untuk film ini dari wajah-wajah penonton yang menunjukkan ekspresi kepuasan. Film ini sepertinya akan mengulang kesuksesan ”Ayat-ayat Cinta” yang laris manis. Sebab, saya sendiri, beberapa kali harus bolak-balik ke bioskop untuk bisa menonton film ini, karena kursi sudah penuh atau tinggal tersisa satu kursi di jajaran depan.
           
Kebetulan vs Usaha Gigih Manusia
Cerita yang disuguhkan memang banyak mengandung hal-hal yang kebetulan. Dimulai dari pertemuan Pras dengan Arini. Kebetulan ada seorang anak yang jatuh dari sepeda, lalu ditolong oleh Pras, untuk kemudian diantarkan ke masjid. Di sana Arini sedang mengajar mengaji. Selanjutnya pasti sudah diduga, dari pertemuan itulah bermula terbangunnya cinta kasih antara Pras dan Arini, yang dilanjut ke jenjang pernikahan.
Kemudian, Mei secara kebetulan  mencoba melakukan bunuh diri di tempat yang akan dilewati Pras. Lalu masuklah ke masalah utama yang hendak diangkat dalam film ini, yaitu poligami.
Di tengah-tengah kekalutan Pras menghadapi Arini dan Mei, kebetulan pada suatu malam Pras melihat seorang wanita yang akan diperkosa. Pras turun, dan menolong wanita tersebut. Namun naas bagi Pras, karena disana banyak preman. Pras babak-belur dihajar preman dan perutnya ditusuk senjata tajam. Lalu, Pras dirawat di rumah sakit. Di sanalah, pada saat Pras dirawat, menjadi momentum yang bisa menyatukan Mei dan Arini untuk ikhlas menerima poligami.
Maksud saya menggunakan kata kebetulan, karena usaha manusianya kurang terasa. Tentu usaha manusia yang dimaksud adalah perjuangan yang dilakukan Pras untuk mencari solusi dalam menyelesaikan konflik akibat poligami. Pras kurang gigih dalam mengupayakannya. Hanya ada satu adegan yang cukup mengesankan, yaitu ketika Pras mau menyaksikan pertunjukan Nadia, anaknya, tiba-tiba ditelepon oleh Mei yang mengabarkan Akbar sakit. Dari peristiwa itulah, benih-benih keikhlasan Arini mulai terasa. Terutama terlihat ketika Arini memandu cara perawatan Akbar melalui telepon seluler.
            Adegan-adegan lain sudah tidak begitu asing, meskipun tetap menarik dikarenakan struktur dramatiknya yang terpola dengan baik. Misalnya, ketika ibu Pras berlari dari lorong gang menuju ke jalan raya, dan langsung tertabrak mobil. Itu merupakan adegan yang sering disaksikan dalam film-film sebelumnya. Atau juga adegan Mei yang melompat dari atap gedung, kemudian tangannya dipegang Pras. Untungnya pertemuan Pras dan Arini tidak digambarkan dengan adegan  tersenggol ketika sedang berpapasan, lalu buku-buku Arini berjatuhan, Pras membantu memunguti buku, lalu saling pandang, dan jatuh cinta.
           



Penokohan
Acting Fedi Nuril itu sudah tidak perlu diragukan. Namun dalam pengkarakterannya yang terasa agak dipaksakan. Pras terlalu dipaksakan menjadi sosok setengah malaikat, yang setiap kali menemukan peristiwa berbahawa, Pras harus tampil sebagai penolong. Bahkan hampir tidak memiliki rasa takut sedikit pun. Misalnya, ketika menolong anak kecil yang jatuh dari sepeda, ia mengajaknya naik mobil. Di zaman sekarang, apa yang dilakukan Pras justru bisa mencelakakan dirinya, karena jangan-jangan malah disangka tukang culik anak.
Ketika mobil Mei terperosok, Pras juga tidak punya rasa takut sedikit pun untuk langsung berlari ke TKP. Secara logika, apa tidak takut mobilnya meledak. Atau... apa tidak takut Pras justru tersangkut kasus, dianggap orang yang menyebabkan terjadinya kecelakaan Mei. Masalahnya di TKP tidak ada orang sama sekali.
Dan yang lebih berani, ketika Pras menolong seorang wanita yang akan diperkosa, malam hari, di tengah guyuran hujan. Tanpa merasa takut sedikit pun, Pras langsung turun daan mencoba menolong.
Pras ditampilkan sebagai tokoh yang sangat pemberani. Tampaknya tidak pernah merasa takut. Namun, ketika berhadapan dengan klien yang mempermasalahkan keterlambatan proyeknya, Pras tidak seberani menghadapi preman. Bahkan ia hampir melontarkan jawaban yang tidak gentleman, jika saja tidak disambar oleh dialog sahabatnya.
Sementara untuk pengkarakteran Arini dan Mei, sepertinya sudah sangat memuaskan. Beberapa teman memuji-muji akting Arini yang diperankan Laudya Cynthia Bella. Tampil sebagai tokoh sentral, Bella bisa memanfaatkan kepiawaiannya dalam akting. Termasuk saya sendiri, berdecak kagum mengapresiasi peran yang dimainkan Bella. Hebat pokoknya.
Namun, ketika ada seorang teman yang bertanya: siapa yang lebih natural antara Arini dan Mei? Saya langsung menjawab: Mei. Dia sudah bermain sesuai porsinya. Karakter yang harus dimainkan Raline Shah sangat berat. Dari seorang wanita liar harus berubah menjadi rapuh, dan kemudian berubah lagi jadi sosok akhwat solehah. Maksud wanita liar adalah dengan kemunculan pertamanya sebagai sosok seorang wanita yang hamil di luar pernikahan. Anggaplah wanita liar, karena dia hamil bukan karena diperkosa. Lalu, Mei menjadi rapuh dan hampir runtuh. Memang sosok Raline terlalu kuat untuk rapuh, tetapi ia telah berjuang untuk menampilkan akting yang wajar sebagai seorang mantan wanita liar.
Jika kemudian Arini ikhlas dipoligami, perubahan karakternya tidak terlalu jauh, karena sejak awal Arini sudah menjadi sosok muslimah solehah. Berbeda dengan Mei, dari wanita liar menjadi muslimah solehah yang ikhlas. Bahkan pada akhirnya, proporsi keikhlasan Mei ada satu tingkat diatas Arini.
Penasaran? Ayo datang saja ke bioskop, dan saksikan film ”Surga Yang Tak Dirindukan”. Jangan sampai kecewa karena terlewatkan menonton. Ini adalah salahsatu karya sineas kita yang sangat layak untuk disimak.
Tidak sependapat? Coba nonton sekali lagi. Saya dua kali nonton film ini, di Jatos 21 dan BTC 21. Jika masih tidak sependapat, tidak masalah. Sebab, perbedaan seperti inilah salahsatu contoh  yang masuk dalam: dibalik perbedaan terkandung hikmah.

MAJU TERUS PERFILMAN INDONESIA! 

2 komentar:

  1. Hemm. Menurut saya sih akting Raline masih belum bisa dibilang bagus. Masih sama seperti akting dia di film Supernova. Di Surga ini Raline tampil hanya sebagai pemanis saja menurutku. Laudya justru menyelamatkan film ini secara keseluruhan. Karena cerita di film ini begitu membosankan mungkin karena tema nya sudah pernah dipakai di film religi yang serupa. Laudya wajib mendapatkan pujian di film ini. Akting terbaik dari Bella ada di film ini. Salut! Iya.. Sinematografi, Artistik, Musik dan Penata busana sangat bagus 👍

    Overall filmnya menghibur. Pujian besarku untuk sang sutradara: Kuntz Agus dan Aktris Utamanya: Laudya. Sukses!!!

    BalasHapus
  2. Saya setuju! akting Raline memang sangat natural, tidak ada yang dibuat2 dan dipaksakan, semua terlihat mengalir begitu saja keren. Dan yang membuat saya tertarik ada banyak dialog meirose yg menggunakan bhs inggris. Salut dengan Raline yg harus memerankan karakter yg sulit juga sering dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, tapi raline bisa menunjukan akting terbaiknya tanpa takut merubah image pada diri raline. Langka mungkin karakter seperti Meirose. dan Arini menurut saya masih banyak yg mempunyai sifat seperti arini di dunia nyata, jadi kurang menantang untuk bella memainkan karakter ini. dan Fedi? fedi tak usah diragukan aktingnya, selalu bagus :)

    Puas banget sama film ini, saya nonton sampai 5x! keren deh. Trims all cast and crew udah bikin film indonesia yg berkualitas..

    BalasHapus