Sabtu, September 20, 2014

Merasa "Berjodoh" Dengan Film

Arsip Majalah FFB 
Dimuat Pada Majalah FFB - September 2014 (27 Th FFB)




Oleh Endah Asih Lestari
(Anggota Pengamat Forum Film Bandung)

Lahir di Jakarta pada 7 November 1984, saya mulai merasakan ketertarikan dalam dunia film saat berusia sepuluh tahun. Saat itu, saya bersama keluarga menyambangi bioskop di Kota Malang untuk menonton sebuah film kartun. Teknologi pembuatan film kartun yang disaksikan pada saat itu, meski jika dipandang dari sudut kekinian sudah ketinggalan zaman, namun pada saat itu membuat penonton terpesona. Film tak hanya dipandang sebagai rekonstruksi imajinasi. Sebuah film adalah ide yang lahir sebagai karya seni dan meleburkan kreativitas orang dengan teknologi.

Pada usia belasan tahun, saya merasa lebih "hidup" setiap kali kali menyaksikan sebuah film diputar di bioskop. Saking menghayati, "realita" yang terjadi pada jalan cerita sebuah film seringkali berlanjut hingga dunia nyata, hehehe. Sekarang, saya seringkali melihat film sebagai penanda zaman.

Saat duduk di bangku SMP, saya semakin banyak menonton film lokal dan internasional secara aktif melalui media DVD dan bioskop. Hobi ini terus berlanjut saat berkuliah di Jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran Bandung, pada 2002. Di Jatinangor, ada sebuah tempat bernama "Cinema Paradiso" yang banyak menambah pengetahuan soal film berkualitas. Meski seringkali lupa pada film-film yang pernah disaksikan, rupanya tak menyurutkan niat untuk terus menonton film.

Bagai gayung yang bersambut, saya terus merasa "berjodoh" dengan film. Saat bekerja paruh waktu di Radio Mara Bandung di sela-sela menyelesaikan kuliah, saya diberikan tanggung jawab yang menyenangkan. Selain menjadi penyiar program musik dan informasi, setiap Sabtu, saya menjadi penyiar film. Pekerjaan itu sangat saya nikmati, karena bisa leluasa memutarkan musik yang merupakan soundtrack sebuah film. Kesempatan untuk bercerita soal film di depan microphone, juga menjadi pengalaman yang selalu saya tunggu setiap akhir pekan.

Tahun 2007, saya bergabung sebagai wartawati HU Pikiran Rakyat Bandung. Saat menunaikan tugas untuk melakukan reportase tertulis soal isu yang sedang hangat, saya juga diberikan kesempatan untuk menulis soal film. Pada 2008-2010, kesempatan itu semakin terbuka lebar karena saya ditugaskan di bagian Seni dan Hiburan. Saat meliput sebuah acara mengenai film (yang berkualitas), saya merasa di sana lah dunia saya. Yang paling menyenangkan adalah saat saya bisa mengetahui proses di balik layar, dan bisa menonton film itu sebelum masyarakat umum menyaksikannya.

Saya bergabung dengan Forum Film Bandung pada Juni 2013, dengan rekomendasi seorang kolega. Saya berpikir, dimana lagi tempat yang bisa menjadi wadah terbaik bagi hobi dan kecintaan saya terhadap film, selain di komunitas yang rasanya sudah seperti keluarga ini? Di FFB, saya belajar banyak soal film. Semakin banyak saya belajar, semakin saya sadar bahwa saya tidak tahu apa-apa.

Dalam kacamata saya, tak ada film yang buruk. Setiap film, meski mendapatkan kritikan pedas dan hinaan dari banyak pihak, tetap merupakan sebuah karya yang patut dihargai. Apalagi, membutuhkan setiap jengkal usaha untuk membuatnya.

Kini, saya semakin tertarik untuk mengikuti perkembangan film lokal, yang (sayangnya) masih dipandang negatif orang banyak orang. Tak bisa dipungkiri, masih banyak orang yang beranggapan bahwa membeli tiket dan pergi ke bioskop untuk menyaksikan film lokal adalah tindakan membuang-buang waktu (dan uang). Padahal, anggapan seperti itu bisa jadi muncul karena kurangnya referensi atau kemampuan memilih film berkualitas secara selektif.

Saya percaya, jumlah film lokal yang berkualitas dari semua sudut pandang, semakin tumbuh dan akan terus berkembang. Selain menjadi tugas pembuat film, kita sebagai penonton juga bisa menentukan arah kemajuan film lokal. Cara saya, adalah terus menonton film berkualitas dan menulisnya. Bagaimana dengan Anda? ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar