Sabtu, Juni 21, 2014

2. Struktur Cerita

.
Struktur Cerita
Oleh  : Jakob Sumardjo


Semua film cerita sebenarnya adalah pendapatopinitanggapan pengalaman sineasnya terhadap kehidupan ini. Kalau menonton film cerita kita sedang berhadapan dengan karya seni yang merupakan pandangan sineasnya terhadap sesuatu gejala kehidupan.Menonton film kita dapat menangkap kecerdasan pembikinnyakejujuranyakurang ajarnyasinismenya,kecintaannyaterhadap suatu gejala hidupyang digambarnya dalam film. Pendek kata dalam film adalah pendapat dan sikap sineas terhadap suatu gejala hidup.

Tetapi pendapat dan sikap rasa tadi bukan diungkapkan secara verbal, melainkan melalui gambar-gambar film. Gambar-gambar ini terindera bersama iringan musikbunyi-bunyian dan bahasa verbal yang memberikan pengalaman inderawi dan emosional serta rasional pada penonton yang akan menanggapinya apakah gambaran pengalaman yang disajikan oleh film bermakna atau tidak bermakna.

Karena karya seni tanggapan seniman atas lingkungan hidupnyamaka ia harus diungkapkan dalam suatu bentukSemua karya seni selalu jelas bentuknya.Lagu “Umar Bakri” Iwan Falslukisan potret diri Affandi, film Kurosawa “kagemuse”, semua jelas batas-batasnyatak lebih dan tak kurang dari yang diungkapnyaBentuk seninya ya seperti yang Anda lihatAnda dengar dan Anda tonton itu. Keseluruhan bentuk itulah dunia tanggapan senimannya.

Bentuk karya itu memiliki dua unsur kontradiksiyakni sederhana dan kompleks. Dalam cerita film,bentuk sederhana itu plot atau alur ceritanyasedang yang kompleks itu jalan ceritanya. Film yang bentuknya amat sederhana tentu akan membosankantetapi film yang bentuknya kompleks saja tentu akan membingungkanAnda boleh menonton serial tv yang puluhan episode, tetapi kalau anda tidak mendapatkan gambaran yang membayangkan kesederhanaan plotnya,puluhan episode itu akan anda tinggalkan karena tidak jelas arah ceritanyaSerial tidak menarik lagi untuk diikuti.

Misalnya sebuah film Italia “The Ages of Love”. Ada dua orang professor tua yang bersahabat. Keduanya sudah tak beristri. Professor yang satu punya anak gadisGadis ini jatuh cinta pada sahabat ayahnya ini. Terjadi konflik permusuhan antara dua sahabat. Sutradarnya,Veronesimematikan professor yang punya anak gadissehingga pasangan tua-muda ini happy end.

Plotnya jelas dan sederhana. Dalam film Anda dapat membuat plot ini menjadi cerita yang panjangtetapi tetap berpegang teguh pada kesederhanaan plot tadiAnda bahkan dapat membangun cerita-cerita lain dalam plot tadiJalan cerita film menjadi kompleks dengan berbagai anak cerita atau sub tema.

Dalam plot sederhana itu Anda dapatmengekspresikan opini Anda tentang perkawinan lelaki tua dengan gadis mudaSekarang bagaimana sikap Anda terhadap peristiwa semacam itu? Apa pendapat Anda?Kalau Anda penganut liberal, seperti sutradara film ini,biarkan saja kedua pasangan beda usia ini terus mencapai keinginan mereka, dengan mematikan ayah gadis yang pandangannya kolotTetapi kalo Anda sendiri seorang kolotmaka yang Anda bunuh justru professor tua yang tidak tahu diri itu (dimainkan Robert de Niro). Kalau Anda moderat maka dicari jalan tengah agar percintaan tetap berlangsung namun si Bapak dan masyarakat juga dapat menerimanya. Misalnya dengan menjelaskan bahwa asmara tidak pandang usia karena cinta semacam berkah Tuhan yang tidak tiap hari Anda dapat memperolehnyaKalau Anda seorang radikalperduli amat bapaknya dan masyarakat tidak setuju. Biarkan sajamereka hidup dengan cara mereka sendiri, kami akan hidup pula dengan cara kami sendirientah dibenci atau disetujui.

Struktur cerita film menjadi kuat kalo ada landasan dasar yang disebut plot atau alur cerita tadiKalo ini sudah adamaka Anda bebas membuat jalan cerita apa sajasangat kompleks atau sederhana pula atau kompleksitasnya sedang. Plot itu mengandung logika ceritamengapa sesuatu yang begini berubah menjadi begitudan berakhir secara begituCara mengakhiri cerita itulah terdapat opinipikiranpandangan dunia Anda.

Bandung, 20 Juni 2014 
Di tulis kembali oleh Eriko Utama,
Anggota Pengamat FFB (Forum Film Bandung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar