Kamis, Mei 01, 2014

Pokok-Pokok Filosofi Film

Oleh Prof. Drs. Jakob Sumardjo

(FORUM FILM BANDUNG)

q       Film Sebagai Pengalaman:
Sebuah film sampai kepada penonton lewat penginderaan dan pendengaran. Film tidak menghadirkan segala yang terbau, teraba dan terasa. Film hanya dapat dilihat dan didengar. Melalui penginderaan pendengaran dan penglihatan itulah film memberikan pengalaman. Kalau film ingin menyuguhkan pengalaman pembauan kepada penonton, maka sineas harus berusaha lewat gambar dan suara untuk menghadirkan pembauan tersebut. Juga kalau mau menyuguhkan pengalaman rabaan (lembut-halus, kasar, panas, dingin, dsb.), maka peralatan sineas tetap hanya visual-auditif. Seluruh film menghadirkan pengalaman kepada penonton. Pengalaman yang disuguhkan harus tetap menarik, mempesona, menghanyutkan perasaan, memutarbalikkan logika, menjungkirbalikkan kenyataan empiris sehari-hari dan lain-lain. Pengalaman itu menyampaikan berbagai nuansa perasaan dan pemikiran kepada penonton. Di sinilah kita bicara soal nilai-nilai.

q       Film Sebagai Nilai:
Nilai adalah segala sesuatu yang memuaskan kebutuhan-kebutuhan seseorang untuk hidupnya. Kebutuhan manusia itu banyak, yakni kebutuhan badan, kebutuhan psikologi, dan kebutuhan spiritual. Setiap orang menentukan sendiri kebutuhan-kebutuhannya, ada yang semata-mata kebutuhan badan (makan, minum, rumah bagus, kenikmatan badani, dan lain-lain.), kebutuhan psikologi, seperti rasa aman, rasa dihargai, rasa diterima orang lain, rasa dicintai (kebutuhan sosial), dan kebutuhan spiritual (kesempurnaan hidup, kesederhanaan, keindahan, kebenaran, kebaikan dan lain-lain.).

Film sebagai cabang karya seni, memenuhi kebutuhan nilai-nilai yang sifatnya spiritual, yakni nilai keindahan. Film itu bentuk yang menawan, indah, mempesona, orang selalu ingin melihatnya lagi sampai puas betul. Dalam seni film, dikenal adanya dua nilai pokok, yakni nilai bentuk (form) dan nilai isi (content). Nilai ditentukan oleh material atau medium film, yang berupa unsur-unsur rekaman film terhadap peristiwa-peristiwa (bikinan, bukan sungguhan). Inilah nilai bentuk dasar film. Unsur-unsur gambar-gambar rekaman tadi lantas disusun atau distruktur menjadi satu kesatuan yang utuh dan punya makna.

Gambar-gambar rekaman tadi (unsur bentuk) adalah perwujudan dari maksud atau gagasan sineas. Gagasan apa? Yaitu perwujudan dari ungkapan perasaan, pemikiran, pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan seperti nilai-nilai moral, sosial, psikologi, keagamaan dan lain-lain.

Jadi, dengan menonton film mengindera film, mengalami film, penonton menangkap nilai-nilai tertentu yang termuat dalam bentuk film tadi. Pada dasarnya, membuat film adalah menyampaikan nilai-nilai tertentu kepada penonton film. Membuat film adalah menuangkan nilai-nilai tertentu dalam bentuk film.

q       Persoalan Nilai:
Nilai sebagai tempat kebutuhan subyektif seseorang dapat berwujud material maupun non-material. Makan, minum, istirahat di rumah yang hangat, kebutuhan seks, semua itu nilai-nilai material. Tetapi, yang lebih penting adalah nilai-nilai non-material. Inilah makna nilai yang umum. Segala norma, aturan, kaidah, yang disetujui seseorang dan orang-orang lain, agar mereka dapat melangsungkan hidup sesuai dengan apa yang dituntut nilai-nilai tersebut. Ada nilai-nilai ideal, ada nilai-nilai nyata. Setiap manusia memiliki nilai-nilai idealnya masing-masing, baik subyektif-individual maupun subyektif komunal. Inilah nilai-nilai hidup yang diimpikan untuk diwujudkan. Namun dalam kenyataan hidup, banyak tingkah laku manusia yang tidak sesuai dengan apa yang diidealkan itu. Maka terjadilah konflik nilai-ideal dan nilai-realitas tersebut. Inilah yang membuat hidup itu menarik. Inilah yang melahirkan pemikiran dan kreativitas. Inilah yang membuat orang bikin karya seni, bikin film.

Persoalan nilai dimulai ketika seorang sineas menyaksikan adanya ketidaksesuaian antara nilai-nilai idealnya. Atau seorang sineas melihat tidak sesuainya lagi nilai-nilai komunal dengan nilai-nilai ideal temuannya sendiri. Maka sang sineas mulai bekerja mengajukan tata nilai idealnya sendiri dalam konfrontasi dengan kenyataan nilai masyarakatnya atau nilai-nilai ideal masyarakatnya. Misalnya, sineas melihat rata-rata pegawai negeri malas. Ia dapat mengoreksi kenyataan itu dengan menunjukkan nilai-nilai ideal pegawai negeri itu. Atau sineas justru melihat, hal itu bukan kesalahan para pegawai, tetapi sistem kepegawaian (nilai ideal-kolektif) di Indonesia yang harus dirombak. Maka dia bikin film tentang tidak sesuainya sistem dengan kondisi pegawai.

q       Konstelasi Nilai:
Nilai selalu berhubungan dengan kepentingan praktis. Nilai ideal itu ada demi kepentingan hidup praktis ini. Selalu ada subyek nilai,obyek nilai, relasi nilai. Subyek nilai adalah manusia di suatu waktu di suatu tempat. Manusia belajar nilai-nilai dari lingkungan masyarakatnya, tentang apa yang dianggap benar, baik dan bagus. Subyek nilai dapat individual, dapat komunal sosial. Seseorang biasanya menganut sistem nilai masyarakatnya. Obyek nilai adalah sasaran nilai subyek. dapat nilai subyek yang lain (manusia lain) dapat benda-benda. Nilai benda bersifat nilai kualitas. Sedangkan nilai yang berhubungan dengan manusia lain, disebut nilai pragmatik, dalam arti ada kesesuaian nilai antara seseorang dengan seseorang yang lain (ada relasi nilai).

Jadi, nilai-nilai dalam sebuah film ditentukan oleh nilai-nilai masyarakatnya, nilai-nilai subyektif senimannya, dan nilai-nilai subyektif penontonnya. Inilah sebabnya, sebuah film dapat menimbulkan berbagai tafsir makna atau tafsir nilai diantara penontonnya, masyarakatnya, seniman dan penonton, seniman dan masyarakat.

Di bawah ini akan diuraikan berbagai pokok pemahaman tentang konstelasi nilai-nilai tadi, mulai dari seniman, film itu sendiri, penonton dan masyarakat. Dengan memahami pokok-pokok ini, diharapkan seniman film dapat membangun relasi nilai dengan masyarakat dapat memahami kreatifitas seniman film.

dok. FFB

PENONTON DAN HARAPAN NILAI-NILAINYA

Orang menonton film dengan berbagai alasan dan dengan berbagai harapan. Harapan itulah dasar alasannya mengapa ia pergi nonton. Ia pergi nonton karena ingin mendapat apa yang diidamkannya. Dan tiap orang itu berbeda-beda dalam idamannya, harapannya, keinginannya.
Inilah beberapa alasan mengapa orang nonton film:

1.       Orang nonton film karena menyukai jenis film-film efek emosi tertentu, seperti film komedi, film horor, film misteri, film fiksi ilmiah, film western, film silat. Jenis penonton ini hanya menyukai film horor saja, atau horor dan silat, selain itu ia tak mau nonton. Semua film horor bagus baginya, yang bukan horor, bukan film. Tidak ada film horor yang tidak bagus.

2.       Penonton yang menyukai hiburan ringan, santai menyenangkan. Nonton adalah untuk bersenang-senang, bukan untuk berfikir serius, bukan untuk menambah pengetahuan. Nonton film sama nilainya dengan piknik, belanja di toko, hura-hura di mall. Film apa pun bagus kalau film itu dapat memberikan kesenangan, kegembiraan padanya. Biasanya mereka ini menyenangi film-film humor, komedi, film kocak.

3.       Orang nonton film dengan minat serius untuk memahami, mendalami mengetahui secara mendasar kondisi manusia, dengan capaian artistik yang tinggi. Jenis penonton ini mencari nilai-nilai baru dalam film, minat intelektual dan film merupakan bagian pencarian nilai-nilai intelektual.

4.       Orang nonton film dengan tujuan menambah pengetahuan di luar tujuan artistik. Mereka ini hanya kadang-kadang saja nonton film, yakni film-film yang kebetulan mengandung nilai pengetahuan yang masuk bidang minatnya. Mereka film yang berhubungan dengan riwayat para suci agamanya, yang mengandung hal-hal kesenirupaan yang mengandung biografi orang terkenal dan lain-lain.

5.       Orang nonton film karena ingin melihat bintang pujaannya. Setiap film yang dibintangi Stallone, John Travolta, Doris Day, pasti ditonton. Meskipun dalam film itu, Doris Day hanya muncul sebentar, fans berat bintang ini pasti menyempatkan nonton.

6.       Orang nonton film karena ingin membuktikan omongan orang tentang kehebatan film tersebut. Jenis penonton ini mendengar, membaca, atau menonton siaran televisi mengenai film yang dipuji orang itu.

Dengan demikian, terdapat motif tertentu, mengapa orang nonton film, mencari nilai-nilai yang diharapkan diberikan oleh film tersebut. Tentu saja, penggolongan ini tidak mutlak, dalam kenyataan terdapat berbagai alasan campuran untuk nonton film. Setidak-tidaknya, dengan pengetahuan mengenai minat penonton ini, maka sineas dapat merancang film bagaimana yang akan mereka bikin. Kalau bisa membikin film yang dapat memenuhi sebanyak mungkin minat penonton tadi, kalau bisa semua minat penonton tadi dapat ditampung, yakni film yang mengandung efek emosi tertentu, memasang bintang yang banyak penggemarnya mengandung permasalahan cukup serius.

dok. FFB

SENIMAN FILM

             Tujuan/Maksud Membikin Film

Terdapat berbagai alasan pula, seorang seniman film membikin film. Pertanyaan pokok yang dihadapi seorang seniman film adalah apa tujuan saya membikin film ini? Obyek apa, masalah apa yang hendak saya garap dan gagasan saya tentang obyek tersebut?

Jadi, seniman film menghadapi suatu obyek (kejiwaan, sosial, agama, alam), lantas muncul sikap terhadap obyek yang berupa isi film, dan isi berupa gagasan tadi diwujudkan dalam bentuk film, melalui pemanfaatan material medium film.

Seniman – material – medium film – bentuk – isi – sikap – obyek.
Dalam hal ini, seniman film dapat bersikap: memberikan hiburan kepada penonton, membahas obyek dengan tinjauan serius atau obyek disikapi dengan penilaian pribadinya yang khas (auteur).

            Keutuhan Bentuk
Kalau tujuan telah ditetapkan, maka seniman film mewujudkannya lewat elemen-elemen film, seperti cerita, struktur dramatik, simbol-simbol, karakterisasi, konflik, setting, ironi, sinematografi, editing, ukuran film, efek suara, musik, acting dan gaya film (genre atau auteur), menjadi suatu kesatuan yang utuh, bulat, sesuai dengan tujuan. Elemen-elemen tersebut diseleksi sesuai dengan gagasan pokok seniman film, yang termuat dalam tujuan.
   
3. Pendayagunaan Teknologi Film
Dalam dapat diajukan berbagai pertanyaan kepada seniman film. Apakah dia mendayagunakan seluruh potensi mediumnya (lihat unsur-unsur film)?
Apakah dia cukup kreatif dengan menemukan capaian-capaian baru dalam medium film, sehingga memberikan efek kreatif kepada penonton?
Apakah secara tekhnis hasil yang dia capai di atas standar atau di bawah standar?
Setiap seniman adalah manusia yang tidak sempurna, dan kekurangan masing-masing seniman. Seniman A punya kekuatan dalam bidang x dan y, tapi lemah dalam z. Sebaliknya, seniman B kuat dalam z dan y, tapi lemah dalam x.

4. Aktor - Bintang
Kalau sebuah film didasarkan atas penonjolan seorang aktor yang bintang, apakah seniman film memaksimalkan gaya acting bintang tersebut, gaya aktingnya, dan dasar-dasar kepribadiannya yang khas?

5. Seniman Film Auteur
Apakah seniman film memiliki gaya, teknik, dan filosofinya yang tercermin dalam seluruh aspek filmnya? Film auteur adalah refleksi pribadi seniman film, sehingga seluruh element film diperlukan sesuai dengan pribadinya yang khas, termasuk pilihan aktornya.

6. Seniman Film Idea (serius)
Seniman film ini juga dikenal sebagai bersikap humanistik-intelektual, yang cenderung memberikan pencerahan kepada penonton dalam berbagai masalah sosial, moral, agama, psikologi. pendekatan realisme, mimetik.

7. Seniman Film Realistik
Film-film yang dibuatnya cenderung memberikan pengalaman dengan efek emosi yang kuat. Biasanya film dikemas dalam struktur yang padat, penuh aksi, penuh pesona, dan petualangan. Film jenis ini tidak punya ambisi menyampaikan pesan (seperti film-film idea) dan menghindarkan diri dari bias intelektual. pemaparan kisah-kisahnya sederhana, langsung, tanpa pretensi, sehingga menghasilkan film yang sangat realistik.

8. Film Genre atau Formula
Film dengan resep (formula) setting, karakter, konflik, plot, konklusi, dan nilai-nilai imaji dasar, konvensi serta teknik sinematografi yang selalu berulang di tiap film. Film-film genre yang terkenal adalah, film western, film gangster, film detektif, film spionase, film musikal, film komedi, atau sejenis film James Bond. Moral dasarnya adalah kebenaran, keadilan, keberanian akan mengalahkan kejahatan, ketidak adilan dan ketertindasan. Karena sifatnya yang baku dan konvensional, maka seniman film harus pandai-pandai membuat variasi dan penyempurnaan formulanya. Film genre melayani segmen penonton massa di sebuah negara. Di Amerika Serikat, melayani massa penonton film kelas menengah. Seniman film memahami benar nilai-nilai kelas ini dimantapkan lewat film-filmnya, dengan jalan memasang cerita yang mengancam keberadaan nilai-nilai kelas massa ini. Sehingga sang pahlawan berhasil mengembalikan kelestarian nilai masyarakat dengan melenyapkan musuh kelas menengah tersebut. Penonton dipuaskan keinginan dan harapan nilai-nilai kelasnya. Film genre adalah film yang sudah amat diakrabi oleh penontonnya, sehingga mereka merasa berada di dalam rumahnya yang aman.

Resep film genre terletak pada karakteristik:

Setting

Karakter

Konflik

Konklusi

Nilai-nilai komunal-kolektif
Konvensi-konvensi.


BENDA FILM

Film bukan gambar realitas sehari-hari. Film bukan rekaman atau dokumentasi kehidupan jenis film yang demikian dikerjakan oleh film non-cerita, meskipun di situ juga sudah terdapat tujuan tertentu dari seniman film dokumenter. Hanya saja, tak ada acting atau peristiwa bikinan yang direncanakan oleh senimannya. Film adalah realitas baru, yakni realitas transenden (menembus, melampaui, mengatasi realitas empirik). Oleh karenanya, film selalu memberikan pengalaman baru pada penontonnya, pengalaman transenden. Bagaiman transendensi itu hadir? Dengan tiga prinsip pokok:
Setiap film mendasarkan diri pada realitas sehari-hari, tetapi bukan seperti realitas konkret itu. Dalam realitas sehari-hari penonton telah mengenal benar hukum atau dalil sebab-akibat. Misalnya dalil, bahwa orang yang bersalah karena berbuat jahat akan dihukum. Dalam film, logika sehari-hari tadi dipermainkan atau diputar balik, dengan prinsip-prinsip:

·         Suspense atau tegangan, yakni penundaan logika sebab-akibat sehari-hari secara langsung. Orang yang jahat itu memang telah membunuh, tetapi ternyata ia tidak segera memperoleh hukumannya, ia seolah bebas, dan hamba hukum sulit menangkapnya atau mengadilinya. Film memaparkan liku-liku penundaan logika tadi.

·         Surprise atau kejutan di luar dugaan, orang jahat kok malah bebas, sedang  yang tak bersalah kok malah dihukum?

·         Curiosity atau rasa penasaran ingin tahu kesudahannya. Perasaan ini akibat suspens dan surprise yang bermunculan dalam film, sehingga penonton ingin tahu kesudahannya, apakah si jahat benar-benar akan dihukum sesuai dengan logika sehari-hari, atau bertentangan dengan logika dan rasa keadilan masyarakat senyatanya? Di sinilah sikap seniman dituntut untuk memutuskan, apakah dengan harapan penonton, atau menentang harapan penonton? Dalam film genre, tentu harapan penonton akan di penuhi, tetapi belum tentu dalam film auteur.

·         Realitas dalam film: film memotret realitas bikinan, bukan realitas pengalaman sehari-hari, meskipun dasar realitas film adalah realitas sehari-hari. Film adalah ungkapan gagasan, perasaan seniman film atas realitas sehari-hari, hasilnya adalah realitas film yang bersifat menembus, mengatasi dan melampaui pengalaman sehari-hari. Film adalah realitas transenden. Seniman film menciptakan film berdasarkan pengalaman zamannya. Sedangkan pengetahuan seniman diperoleh dari membaca dan mendengar serta menonton film-film yang telah ada. Dengan demikian, titik tolak seniman menciptakan film adalah berdasarkan film-film yang telah ada, atau budaya film. Film-film tersebut dibikin menurut konvensi (aturan, kebiasaan tak mengikat) yang ada. Karenanya hanya konvensi, maka setiap seniman film punya hak untuk menciptakan konvensi baru (kalau kemudian ditiru oleh seniman berikutnya).

·         Bentuk perasaan: film mengandung nilai-nilai kualitas perasaan tertentu. Perasaan dalam film dasarnya juga perasaan dalam pengalaman sehari-hari, tetapi telah diberi makna baru oleh seniman. Perasaan transenden pula. Kalau ada gambaran kesedihan kehilangan kekasih dalam film, maka kesedihan di situ terbentuk dalam hubungannya dengan seluruh sistem film, sehingga kesedihan tersebut adalah kesedihan yang hanya terasa dalam film itu. Perlu dibedakan antara perasaan yang direpresentasikan seniman dalam film dan perasaan yang terasa oleh penonton atas film tersebut. Karena perasaan itu sifatnya subyektif (pengalaman dan pengetahuan) maka perasaan dalam  film juga dapat di tangkap secara berbeda oleh para penontonnya.

·         Bentuk dan makna: peristiwa-peristiwa yang merupakan unsur-unsur film, mengandung makna (arti rasional) dalam suatu kesatuan sistem (ingat tujuan utama pembuatan sebuah film). Peristiwa yang sama, kalau dipasang dalam sistem yang berbeda, akan menghasilkan makna yang berbeda pula. Dapat dibedakan berbagai makna dalam film:

o        Makna refrensial: makna yang hanya dapat difahami berdasarkan ruang dan waktu film. Misalnya, sebuah “toko besar” tahun 1950-an di Glodok, tentu berbeda dengan “ toko besar” di Glodok zaman sekarang.
            Makna eksplisit: makna lugas. Kalau digambarkan seorang anak remaja minggat dari rumah, maka memang makna minggat itu yang dimaksudkan. dan setelah minggat, dengan nasib terlunta-lunta, maka ada kerinduan untuk pulang ke rumah.
o        Makna implisit: minggatnya anak dari rumah. merupakan kegundahan anak yang merasa tak bebas akibat ketergantungannya dengan orang tua, maka ia minggat untuk memperoleh kebebasannya. Kerinduan anak untuk pulang ke rumah, dapat berarti kegamangan anak dalam menempuh kebebasannya. Kebebasan itu penuh risiko, tetapi ia juga enggan pulang, karena di rumah ia tak akan bebas lagi.
o    Makna simtomatik: nilai sezaman yang sekarang telah berubah, misalnya, gadis naik sepeda (berkain) tahun 1930-an dinilai tidak sopan, bisa dicap gadis binal.

Prinsip-prinsip keutuhan bentuk film: film merupakan suatu bentuk utuh karena terdapatnya sistem (pola keterhubungan antara masing-masing unsurnya) yang hanya ada dalam film itu saja. Setiap film memiliki struktur bentuknya sendiri. Setiap film merupakan suatu dunia yang otonom. Meskipun demikian, pokok yang terdapat dalam setiap sistem, yakni:

            Fungsi unsur: setiap bagian sekecil apa pun dalam film menduduki peran dan fungsinya dalam keseluruhan. Tidak ada bagian yang percuma atau tidak diberi peran, sekecil apa pun. Nampaknya hanya kejadian sepele, misalnya kecepatan dalam memencet pisau dalam suatu percakapan, dan ternyata adegan kecil ini akan berperan besar ketika orang tersebut menghadapi saat kritisnya menghadapi musuhnya. Setiap shot harus punya fungsi seperti sebuah kata dalam sebuah puisi.
            
Kesamaan dan pengulangan: dalam film sering kita saksikan munculnya seseorang tokoh yang selalu membawa payung, atau berpakaian dengan warna tertentu, atau mengucapkan kalimat-kalimat tertentu atau kehadirannya diiringi musik tertentu. Inilah motif, yang berarti penegasan demi makna keutuhan film.

            Perbedaan dan variasi: agar film tidak monoton, maka diusahakan agar pengulangan adegan-adegan tertentu diberi perbedaan dengan yang sebelumnya, atau kontras dengan adegan serupa sebelumnya. Kejadian di kamar yang itu-itu juga secara berulang, dapat diberi variasi dengan cahaya, sudut pengambilan, pewarnaan dan lain-lain.

            Perkembangan: hal ini telah dibicarakan dalam penyusunan alur cerita.

            Unity dan disunity: kadang diperlukan suatu shot atau adegan yang tidak nyambung dengan keseluruhan film, sehingga orang akan mengatakan: “itu bukan bagian dari film”. Tetapi kadang ini perlu, kalau dapat memberikan efek demi keutuhan film. Disunity dapat memberikan arti “perkataan yang tak dijawab” oleh film. Lenyapnya suatu tokoh tanpa penjelasan lebih lanjut, merupakan disunity, dan ini dapat merupakan pertanyaan untuk makna film secara keseluruhan.   

FILM DAN MASYARAKAT

Ada film Amerika, film Perancis, film Jepang, film Rusia, film Hongkong, yang masing-masing mempunyai karakteristiknya sendiri. Ini disebabkan, film adalah salah satu karya budaya suatu masyarakat, dan hidup untuk masyarakatnya. Film dibuat menggunakan bahasa masyarakat setempat, sehingga jelas sasaran komunikasinya. Maka, mau tak mau setiap film mempedulikan sistem nilai masyarakat. Kalau orang membikin film dalam bahasa Jawa, jelaslah masyarakat mana yang diajak bicara melalui film tersebut. Film demikian itu, tak mungkin membicarakan masyarakat dan budaya Minang atau masyarakat Jawa yang berada di kota-kota besar.

Bahasa, budaya, mitos-mitos, dan simbol-simbol menjadikan suatu masyarakat sebagai satu kesatuan sistem nilai. Film Indonesia adalah film dengan bahasa Indonesia, tentang budaya dan masyarakat Indonesia, berdasarkan mitos-mitos dan simbol-simbol Indonesia. Pertanyannya, apakah budaya, mitos, dan simbol-simbol Indonesia itu? Jawabnya, semua yang telah masuk dalam kosa kata bahasa Indonesia.

Film Indonesia mempersoalkan nilai-nilai Indonesia itu. Dan nilai-nilai Indonesia itu baru tumbuh, sekurang-kurangnya sejak tahun 1908. Sementara itu masih tumbuh dengan kuat nilai-nilai setempat, yakni daerah-daerah budaya etnik. Maka sering terjadi benturan nilai dalam film Indonesia, manakala film mempersoalkan nilai-nilai budaya etnik dalam pandangan tata nilai Indonesia. Film demikian sering terjebak dalam bias nilai nasional atas budaya etnik. Maka, sebaliknya, pengangkatan nilai-nilai budaya etnik ditinjau dari sistem budayanya sendiri. Berbicara tentang budaya Bali, berdasarkan tata nilai masyarakat Bali sendiri, meskipun film berbahasa Indonesia.

Film Indonesia, sebagian besar diproduksi di Jakarta dengan tata nilai masyarakat metropolitan dan kosmopolit. Jakarta adalah pintu masuk berdasarkan pandangan metropolit-kosmopolit tadi. Inilah sebabnya, pengaruh budaya film kosmopolit cukup besar andilnya dalam mewarnai tata nilai film Indonesia.

Dan film-film demikian itu hanya dapat berbicara kepada masyarakat yang mendukung tata nilai budaya kosmopolit di beberapa kota metropolit Indonesia (Jakarta, Medan, Surabaya, Bandung, Palembang, Makasar, Yogya, Semarang dan lain-lain.).

Berdasarkan orientasi budaya ini, film Indonesia harus menentukan diri berbicara untuk lingkungan masyarakat Indonesia yang mana. Masyarakat Indonesia masih dalam pertumbuhannya menjadi suatu kesatuan budaya berdasarkan budaya-budaya lokal. Sebagian besar masyarakat Indonesia justru masih kuat tata nilai lokalnya. Apakah melayani masyarakat metropolis atau masyarakat daerah-daerah? Menilik sistem produksi dan distribusi film di Indonesia masih kuat sistem metropolis-metropolisnya, maka film-film berdasarkan sistem budaya masyarakat kota-kota besar itu menjadi pilihan satu-satunya. Gedung-gedung bioskop baru di kota-kota kabupaten, belum kecamatan.

Karena masyarakat kota-kota besar kebutuhan akan film telah dapat dipenuhi oleh film-film impor, maka produksi film Indonesia harus menghindarkan diri dari peniruan dan penjiplakan film-film asing tersebut. Film Indonesia adalah film yang berbicara masyarakat Indonesia kota-kota besar, dengan cara dan estetika Indonesia yang harus ditentukan. Dengan demikian, dapat kita berbicara tentang “film Indonesia”. Film Indonesia yang demikian itu akan menyuguhkan tontonan yang berbeda-beda dengan film-film impor. Film silat Indonesia bukan film silat Hongkong. Film drama Indonesia bukan drama Amerika atau Meksiko. Film kepahlawanan Indonesia bukan film kepahlawanan Amerika.

Tradisi atau konvensi film Indonesia yang demikian itu harus ditemukan dalam sejarah perfilman di Indonesia. Manakala film-film Indonesia yang menunjukan karakteristik yang berbeda dengan film-film impor yang membanjiri Indonesia, dan diterima oleh masyarakat kota-kota besar Indonesia. Untuk itu perlu penelitian sosiologis perfilman Indonesia, siapakah di balik produksi film-film Indonesia. Para pembuat film Indonesia dengan latar budayanya amat menentukan jenis-jenis film yang akan diproduksinya.

Film Indonesia adalah “film Indonesia”, bukan tiruan film-film Amerika, Hongkong, atau India. Dengan menyuguhkan film yang berbeda ini, masyarakat kota-kota besar akan memperoleh pilihan baru. Memang bukan kerja mudah, perlu proses, namun pegangan utamanya harus menemukan karakteristik “film Indonesia”.
Film erat sekali hubungannya dengan teknologi dan bisnis. Film diproduksi dengan kalkulasi dagang film. Bagaimana film Indonesia akan laku kalau produksinya tak berbeda jauh dengan film–film impor yang telah kuat kedudukannya di Indonesia. Kita tidak akan berjualan roti kalau produk roti asing jauh lebih bagus. Kita akan menjual yang bukan roti, kalau harus roti pula, maka harus roti dengan selera Indonesia sendiri, yang tidak mungkin diproduksi di luar negeri.

Film Indonesia berdasarkan basis bahasa, budaya, mitos, dan simbol-simbol masyarakat kota-kota besar Indonesia. Film mempersoalkan budaya sendiri, dengan cara sendiri, karena kita memiliki norma-norma etik sendiri pula. Film-film kepahlawanan Jepang misalnya, dibuat berdasarkan tata nilai dan etika masyarakat Jepang tentang kepahlawanan mereka. Film-film semacam itu dihargai oleh budaya-budaya lain, karena menawarkan nilai-nilai lain. Film-film demikian itu akan ikut menyumbangkan wawasan baru dalam budaya global.

Film Indonesia berkonteks budaya masyarakat Indonesia. Entah itu konteks masyarakat metropolisnya atau masyarakat budaya etniknya. Kita menghargai film Iran karena berbicara tentang masyarakat Iran modern, bukan film Iran yang meniru produk film asing. Orang Indonesia akan menonton film Indonesia kalau memuat tata nilai Indonesia, bukan film Indonesia yang bergaya Amerika atau Hongkong.

Selama ini, keindonesiaan data film baru hadir dalam film-film jenis auteur. Film-film genre masih kuat unsur peniruannya, atau setidak-tidaknya masih berorientasi pada film-film impor yang laku kesar di kota-kota besar Indonesia. Sah-sah saja membikin sinetron kelas atas masyarakat metropolit, tetapi apakah benar berdasarkan realitas kelas atas tersebut? Dan dengan gaya penuturan film atau sinetron impor yang laris di sini?
Juallah barang dagangan yang berbeda dengan barang dagangan yang kini tengah digandrungi masyarakat Indonesia.

Sumber Bacaan:
Bill Nicholas. Movie dan Methods. University of California. 1976
James Monaco. How to Read A Film. Oxford University. 1981
David Bordwell, & Kristin Thompson. Film Art, An Introduction. Mc Graw Hill. 1993
Joseph M. Boggs. The Art of Watching Films. Mayfield Publishing. 1991
Tadao Sato. Currents in Japanese Cinema. Kodansha International. 1987

V.F. Perkins. Film As Film. Penguin Books. 1978

Tidak ada komentar:

Posting Komentar