Ngobrol Bareng Garin Nugroho di Museum Sri Baduga



Nobar dan Diskusi Film Biopic di Museum Sri Baduga dalam Rangka Peringatan Hari Film Nasional



    Sekitar awal tahun 2016 kemarin, dunia film Indonesia kembali diramaikan oleh salah satu film besutan Garin Nugroho: Ach, Aku Jatuh Cinta (AAJC). Terlepas dari akting Cicho Jericho yang dominan (at least banyak yang kurang puas dengan performanya Pevita Pearce di sini), sangat disayangkan sekali kalau film ini terhitung sebentar nangkring di studio XXI.  Ya mau gimana lagi? Nasibnya film Indonesia di bioskop  yang gak bisa survive lebih lama bahkan dibanding film barat yang gak bagus-bagus amat. Hiks. Padahal nama Garin ini adalah nama yang menjamin film yang digarap secara total dan selalu mempertahankan karakternya. Kita akan selalu menjumpai unsur artistik, teaterikal, seni atau budaya lokal dan lagu-lagu di dalamnya, dan unsur lainnya secara detil. Bahkan lagu berbahasa asing pun bisa kita jumpai seperti yang kita saksikan di film Guru Bangsa: Tjokroaminoto. Eh, by the way, sempat nonton film biopic sejarah ini, enggak? 

     
Film perdana Garin di tahun 90an, Cinta Dalam Sepotong Roti yang punya genre romance dewasa dan dibintangi aktor Adjie Massaid ini meraih sejumlah penghargaan di ajang FFI (Festival Film Indonesia) untuk beberapa kategori. Kalau pinjem istilah chart top 40an di radio waktu saya SMA dulu, sutradara yang lebih suka di sapa Mas ini menyandang predikat Hot Shot Debut. Nah lho, bahas shot-shotan (ini istilah yang maksa ga, sih?), Garin ini juga identik dengan predikat sutradara yang punya ciri khas bergaya dokumenter dan shot panjang.

     Dalam sesi diskusi nonton bareng film Guru Bangsa: Tjoktoaminoto di Museum Sri Baduga akhir bulan Maret lalu, beliau juga bercerita shot panjangnya ini sempat dikomplain oleh Raam Punjabi (Produser MVP yang produksi film AAJC). Bikin bingung tepatnya. Padahal, masih ada lho film lainnya yang punya shot sepanjang 1,5 jam. Hayoh, penasaran ga film apa? 
Moderator, Agus Safari (Kiri) bersama Garin Nugoroho (Kanan)

      Menurut Garin yang juga menyutradarai beberapa klip dari musisi Indonesia seperti Negeri di atas awannya Katon Bagaskara, saat ruang dilepas akan membuat akting para pemainnya lebih tumbuh dan hidup. Contoh paling gampang adalah beberapa adegan di film AAJC itu tadi. Hayo, yang ga nonton nyesel, kan ga bisa membayangkannya?

      Ciri khas lainnya dari Garin Nugroho adalah konsep filmnya yang kental dengan isu ke-Indonesiaan. Tema soal pergerakan politik, sejarah, agama, atau lingkungan sudah semuanya diangkat dengan baik ke layar lebar.

     Kalau dibentangkan pada timeline, film-film beliau ini akan mewakili tema yang hangat setiap dekadenya. Mulai dari tahun 1920an yang diwakili film Guru Bangsa: Tjokrominoto itu tadi, sampai film Aku Ingin Menciummu Sekali Saja yang mengambil latar konflik di Papua. Lalu, di pertengahannya, ada film Soegija yang mengangkat profil seorang pastor dengan setting tahun 60an. Film AAJC itu tadi seperti menyempurnakan puzzle koleksi film yang mewakili dekade 70-80an.

     Sayangnya, film Garin ini kurang mendapat apresiasi atau tepatnya memenuhi selera penonton di Indonesia. Padahal siapa sih yang tidak kenal dengan totalitas Reza Rahadian, Alex Komang, Christine Hakim, Didi Petet, atau  aktris Chelsea Islan yang meski masih muda tapi punya talenta yang smart ini?
 
Blogger Bandung turut Memeriahkan acara dan berfoto bersama Garin Nugroho
     But, that is Garin. Dia mah emang gitu orangnya, kalau pinjam quote beberapa waktu lalu yang sempat ngehits. Setiap film yang dibidiknya memang bukan ditujukan untuk memenuhi selera pasar. Sadar dengan idenya yang unik, pentas festival film dunia adalah kecengannya untuk unjuk kreativitas. Sinematografi film lainnya seperti  Bulan Tertusuk Ilalang juga bisa bersaing dengan film-film Eropa. Juga untuk film Bidadarinya yang diperhitungkan di kancah Internasional.


     Ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan ketika kita akan membuat film. Setidaknya ada 7 hal yang saya catat dari sharingnya hari  itu.  Seperti ini, lho.



     Tiga hal pertama, perhatikan pengetahuan, referensi yang luas dan kebebasan. Untuk referensi, beliau mengambil contoh ketika membuat film Aku Ingin Menciummu Sekali Saja.  Untuk menggali ide, Garin bukan saja melalukan riset tapi menggandeng mereka yang bener-bener melek soal Papua. Jangan sampai dong, alur yang terbangun dalam film gak logis.  Hal yang sama juga dilakukannya ketika membuat film Soegija.  Dari referensinya yang luas juga Garin bisa mendapatkan  sponsor  untuk mendukung film ini.



     Berikutnya adalah fungsi dari film. Ada fungsi sosial proyek film, fungsi ekonomi, fungsi CSR, fungsi politik, fungsi artistik dan fungsi modal sosial.  Kalau kita sudah mengenal fungsi sosial proyek dari film ini  akan lebih memudahkan untuk memetakan sumber dana. You know lah, bikin film butuh dana gede. Ya, kan? Alih-alih melirik  sponsor komersil, Garin sangat jeli  membidik sponsornya dengan menyampaikan proposal film Soegija ke pihak gereja.  Tidak banyak birokrasi dan ga ribet dengan printilan lainnya yang bakalan kepo nanya ini itu.



     Meski Garin sangat idealis dalam membuat film, beliau juga tetap memperhatikan fungsi ekonomi dari sebuah film. Maksudnya kalau sudah bisa memetakan fungsi  berikut ini, kita bisa tahu siapa sih calon penonton yang akan dibidik.  Ini juga nantinya akan memengaruhi siapa calon aktor  yang akan dipilihnya untuk membintangi film yang dibuatnya.



     Mentok di dana dan bingung ke mana cari sponsor? Garin Nugroho memberi alternatif pilihan untuk menggarap film dari sisi fungsi CSR.  Cari deh perusahaan/corporate  yang punya fungsi CSR  yang nyambung dengan tema film  yang digarap.



     Film Guru Bangsa: Tjokroaminoto bisa jadi contoh untuk membidik film dari fungsi politik. Meski dalam catatan sejarah terasa ribet dan bikin pusing memahami pergolakan politik dan silang pendapat di antara para tokoh Sarekat Islam pada waktu itu, di film ini membuat kita masih enjoy mengikuti jalan cerita, ga terlalu ribet mikirnya.



    Fungsi Artistik?  Nah ini banyak contohnya, ya. Film Guru Bangsa  dengan latar  budaya masyarakat jawa atau adegan di film AAJC saat latar panggung  teater memunculkan  siluet yang hidup  juga ngena di sini. Banyak banget lah kalau mau di-list soal ini mah. Udah makanan pokoknya beliau. 
 
Garin Nugroho bersama Tim Forum Film Bandung dan FFBComm



     Oke, setelah ngulik semua urusan sumber modal film ternyata masih mentok. Jangan lupakan networking karena yang satu ini bisa jadi pendukung soal dana film.  Fungsi modal sosial, begitu Garin menyebutnya.  Coba dilist, siapa sih, lingkaran dari pertemanan atau koneksi yang mau kasih lampu hijau untuk film  yang akan digarap tanpa rewel nanya ini itu?  Mereka yang  ringan menggelontorkan dana untuk mendukung film ini akan sangat membantu. Semakin banyak semakin baik.  So, jangan remehkan yang namanya silaturahmi. Ini contoh kongkrit kalau yang namanya menyambungkan silaturahmi itu mendatangkan rejeki.



     Last but not least, sutradara yang sudah 35 tahun malang melintang di dunia perfilman ini memungkas dialog hari itu dengan pesan ini. 
Tidak ada karya yang dikerjakan dalam keadaan yang sempurna. Seperti bayi yang dilahirkan, semuanya dilahirkan dalam ruang yang kecil dan kesakitan. Kalau tidak mau hidup, tidak usah tercipta.



» » » » » » Ngobrol Bareng Garin Nugroho di Museum Sri Baduga » » » [RAKSASA DARI JOGJA]: Monster yang Mengubah Bian?
Forum Film Bandung Forum Film Bandung Author
Title: Ngobrol Bareng Garin Nugroho di Museum Sri Baduga
Author: Forum Film Bandung
Rating 5 of 5 Des:
Nobar dan Diskusi Film Biopic di Museum Sri Baduga dalam Rangka Peringatan Hari Film Nasional     Sekitar awal tahun 2016 kema...

[RAKSASA DARI JOGJA]: Monster yang Mengubah Bian?



Kekerasan dalam rumah tangga apalagi dilihat secara langsung oleh anak, akan mengakibatkan trauma dan luka mendalam bagi si anak dan mungkin saja akan mengubah pribadi si anak.

       Tidak semuanya keluarga yang terlihat harmonis dan sempurna dari luar, di dalamnya  sesempurna yang terlihat. Terkadang senyuman dan ketegaran hanya kamuflase untuk menutupi luka yang sesungguhnya. Setidaknya, hal ini terjadi pada keluarga Bian. Ia hidup bersama dengan seorang ayah yang selalu kasar terhadap ibunya, bahkan untuk hal-hal kecil. Ayahnya, Raman Wijaya memaksa Bian untuk kuliah di Universitas Indonesia, namun ibunya membiarkan Bian untuk mengikuti kata hatinya. Sebagai kepala keluarga, Raman tidak terima istrinya bicara demikian pada Bian. Ia pun langsung memukuli istrinya tersebut. Apakah ini yang disebut kepala keluarga? Atau justru ia sosiopat?

        Keadaan keluarga yang seperti diuraikan di atas menjadi latar utama film terbaru Monty Tiwa yang diambil dari novel dengan judul yang sama. Film yang diproduksi oleh Starvision ini berusaha menampilkan kekalutan seorang Bian (Karina Salim) yang hidup sebagai anak broken home. Bian pun cenderung pendiam, menutup diri terhadap lingkungan sekitarnya, terlebih ia juga merasa dikhianati oleh sahabat baiknya, Letisha (Adinda Thomas) yang selingkuh dengan cowok yang ia cintai.


     Luka. Trauma. Derita kekerasan dalam rumah tangga akan terus dirasakan oleh anak hingga dewasa, karena anak begitu kuat dalam hal long term memory. Begitu juga Bian yang memutuskan untuk kuliah di Jogjakarta dan tinggal bersama budeknya (baca: bibi) dan juga sepupunya, Kevin (Ridwan Ghanny). Kehidupan Bian di Jogja sedikit agak membaik ketika Ia bertemu Gabriel (Abrar Adrian), seorang lelaki bertubuh tinggi besar yang juga seorang jurnalis di sebuah media.

      Siapa sangka, Gabriel yang ia sangka sebagai cowok baik-baik memiliki reputasi yang jelek di lingkungannya. Ia dikenal sebagai tukang berantem, bahkan beberapa menyebutnya monster dari Jogja. Traumatik Bian muncul saat Gabriel memukuli preman yang menganggunya, seketika bayangan terlintas pada perlakuan kasar ayahnya (Ray Sahetapy) terhadap ibunya (Unique Prisciilia). Rupanya Gabriel tidak beda dengan ayahnya, ia suka kekerasan. 
Dwitasari (Penulis Novel Raksasa Dari Jogja - Kiri), Abrar Adrian (Gabriel - Tengah) dan Karina Salim (Bian - Kanan)


       Konflik yang banyak dihadirkan membuat film yang naskahnya ditulis langsung oleh sang sutradara dan berkolaborasi dengan Ben Sihombing ini memiliki banyak rasa. Film ini terkadang menyebalkan, penuh tawa juga mengharukan, namun ditambah manis dengan akting gemilang dan konsisten dari Karina Salim.

       Lalu siapakah sosok Gabriel sebenarnya? Bagaimanakah perjalanan Bian selanjutnya?

      RAKSASA DARI JOGJA akan menjawab pertanyaan tersebut. Film yang juga didukung oleh aktor senior Dewi Irawan dan Dwi Sasono ini sudah mengudara di bioskop sejak 31 Maret 2016 dan saat ini masih tayang di berbagai bioskop di tanah air. 


Apapun yang terjadi dalam keluarga kita, jangan sampai mempengaruhi hubunganmu dengan orang lain, jangan menutup diri.


» » » » » » Ngobrol Bareng Garin Nugroho di Museum Sri Baduga » » » [RAKSASA DARI JOGJA]: Monster yang Mengubah Bian?
Forum Film Bandung Forum Film Bandung Author
Title: [RAKSASA DARI JOGJA]: Monster yang Mengubah Bian?
Author: Forum Film Bandung
Rating 5 of 5 Des:
Kekerasan dalam rumah tangga apalagi dilihat secara langsung oleh anak, akan mengakibatkan trauma dan luka mendalam bagi si anak ...
×