[PENDEKAR TONGKAT EMAS] : Beda, Spektakuler dan Nyaris Sempurna

oleh Raja BlackWhite [@r4dzML]
(Pecinta Film Indonesia)

Desember atau penghujung tahun selama 3 tahun terakhir memang menjadi “summer” bagi film Indonesia. Selain diminati banyak penonton, film yang hadir penghujung tahun bisa dikatakan film yang berkualitas. Pada tahun 2012, penghujung tahun ditutup oleh 5 CM dan Habibie & Ainun. Keduanya meraih jutaan penonton. Keduanya pula film bagus meski bukan tanpa cela, kelemahan terbesar 5 CM adalah cerita yang terlalu kompleks dan dipaksakan sepadat novelnya sementara dari sisi sinematografi sangat juara. Sebaliknya untuk Habibie & Ainun, departemen skenario sudah cukup apik hanya saja placement sponsor yang saya rasa kurang tepat sehingga mengganggu keutuhan logika film. Beralih ke tahun berikutnya, hadir film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan 99 Cahaya di Langit Eropa yang meraih lebih dari satu juta penonton, serta Soekarno karya Hanung Bramantyo yang mencapai hampir satu juta penonton. Ketiganya film berbiaya besar dengan eksekusi juga cukup bagus. Tahun ini ada Supernova dan Pendekar Tongkat Emas, untuk film Supernova sudah saya buat reviewnya, silakan dicek REVIEW SUPERNOVA. Kali ini, khusus untuk review Pendekar Tongkat Emas.

Sumber : http://www.wowkeren.com/images/news/00061640.jpg

Melihat judul diatas, saya katakan Pendekar Tongkat Emas (selanjutnya disingkat PTE), tampil BEDA. Disaat film Indonesia dipenuhi oleh melodrama yang diangkat dari novel (99 Cahaya di Langit Eropa, Supernova) ataupun tokoh nasional (3 Nafas Likas, Soekarno, Hijrah Cinta) PTE hadir menawarkan sesuatu yang baru dan orisinil. PTE mengangkat tema apa arti sesungguhnya pendekar dalam kehidupan dengan latar belakang dunia persilatan. Saya tidak menganggap bahwa film ini adalah peperangan atau perebutan kekuasaan dalam dunia persilatan. Hal ini diperkuat dengan skenario pembuka oleh tokoh Cempaka (Christine Hakim) yang tersirat mengartikan bahwa pendekar bukanlah pemenang dalam pertarungan yang menjatuhkan korban, karena sejatinya pemenang adalah mereka yang mengabdikan diri dan ilmunya demi kemanusiaan. Apalah arti kesempurnaan ilmu jika tidak diabdikan untuk kemanusiaan. Dari skenario ini saya menangkap, bahwa PTE ingin menunjukkan pada penonton apa arti pendekar sebenarnya. Apakah mereka yang paling jago ilmunya, ataukah mereka yang mengabdikan ilmunya untuk masyarakat.

PTE dibuka dengan cukup apik, dimulai dengan monolog Cempaka, selanjutnya diarahkan pada keempat muridnya yang sedang latihan. Introducing tokoh-tokoh mulai dari Dara (Eva Celia). Biru (Reza Rahadian), Gerhana (Tara Basro) hingga Angin (Aria Kusumah) disuguhkan oleh Ifa Isfansyah degan sangat cermat, lugas dan dapat dimengerti. Lompatan jauh sutradara Ifa Isfansyah yang sebelumnya juga membesut film apik Sang Penari. Sebetulnya saya sempat berpikir, peran Nicholas Saputra apa ya disini, penasaran juga. Tapi saya biarkan dulu pikiran saya mengikuti logika film.
Konflik bermula ketika Cempaka mewariskan tongkat emas pada Dara, padahal Biru dan Gerhana sudah sangat lama menginginkannya. Disinilah peran stereotype Reza Rahadian kembali terlihat. Peran antagonis sepertinya lebih cocok buat Reza Rahadian. Setelah bermain apik di Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Reza sangat berhasil memainkan peran Biru. Kali ini Reza juga ditemani Tara Basro. Reza & Tara pasangan yang berhasil menunjukkan karakternya sebagai orang yang haus kekuasaan dan sombong. Dari sinilah Biru dan Gerhana berusaha merebut tongkat emas dari Dara & Angin. Hingga akhirnya Cempaka terbunuh dan Dara serta Angin berhasil diselamatkan oleh seseorang yang tak dikenal. Disinilah saya mulai menebak, pastinya Nicholas Saputra yang menyelamatkan Eva dan Aria. Dan betul, namun siapa sebenarnya Nicholas Saputra? Lalu bagaimana kelanjutan kehidupan Dara & Angin? Berhasilkah Biru & Gerhana merebut tongkat emas dari Dara & Angin? Silakan kawan-kawan tonton sendiri di bioskop.

Sekarang kita bahas secara detail unsur – unsur film PTE. Dari departemen casting, film PTE mempertemukan para sineas peraih piala citra. Film ini disutradarai oleh Ifa Isfansyah (Sutradara Terbaik FFI 2011 – Sang Penari), ditulis oleh Riri Riza (Penulis Skenario Asli Terbaik FFI 2014 – Sokola Rimba) yang berkolaborasi dengan Mira Lesmana, Seno Gumira dan Jujur Prananto (Pelopor penulis skenario – Ada Apa Dengan Cinta, Petualangan Sherina). Dibintangi oleh dua aktor piala citra Reza Rahadian (Pemeran Utama Pria Terbaik FFI 2013 – Habibie & Ainun) dan Nicholas Saputra (Pemeran Utama Pria Terbaik FFI 2005 – Gie) serta diadu dengan aktris senior peraih 6 piala citra kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI, Christine Hakim. Tidak hanya para pemain utama, untuk cameo pun film PTE menghadirkan aktris peraih piala citra Prisia Nasution (Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI 2011 – Sang Penari). Selain mereka didukung pula oleh Eva Celia (Adriana), Aria Kusumah yang notabene masih pendatang baru di industri film Indonesia serta tokoh senior lainnya seperti Slamet Rahardjo dan Landung Simatupang.

Pemilihan Dara sebagai peran utama yang dijatuhkan pada Eva Celia saya rasa sudah sangat tepat. Ada teman saya yang bilang Eva terlalu “soft” untuk jadi pendekar. Nah kalau saya menangkapnya lain, dalam memahami karakter peran dalam sebuah film, tentu tidak menggunakan logika kita atau logika pada umumnya, tetapi menggunakan logika yang disediakan pada film. Sebagai contoh karakter Raihannun Nabila dalam film Lovely Man karya Teddy Soeriaatmadja. Raihannun digambarkan sebagai gadis pesantren berjilbab namun hamil di luar nikah, jika kita menggunakan logika kita, tentu sangat tidak mungkin meski pada kenyatannya, hal itu bisa saja terjadi. Dalam film tersebut, kita disuguhkan keadaan keluarga Raihannun yang tidak pernah bertemu ayahnya, istilah sekarang broken home. Logika ini cukup untuk menghantarkan Raihannun seperti itu. Balik lagi ke Eva Celia, film ini menuntut tongkat emas diberikan pada orang yang berjiwa besar tak harus berilmu paling tinggi, sesuai dengan keinginan awal film. Maka karakter Eva Celia (yang tidak seperti Tara Basro) menjadi sangat wajar dan tepat. Eva berhasil memainkan peran sebagai Dara setidaknya sampai ia kehilangan Angin. Kenapa saya katakan demikian? Karena, ketika ia mulai berguru pada Nicholas Saputra untuk mempelajari jurus pamungks tongkat emas, Eva Celia seharusnya bertransformasi lebih “sangar” menunjukkan kekecewannya terhadap Biru & Gerhana yang telah membunuh Cempaka & Angin. Namun disini Eva Celia belum terlalu dapat menunjukkan emosi dan ekspresi yang demikian. Meski begitu, saya salut pada kerja kerasnya, karena pastinya tidak mudah berperan sebagai Dara. Namun saya berharap jika peran ini dijatuhkan pada Prisia Nasution.

Selain Dara, seluruh cast bermain dengan lebih sempurna. Saya tidak akan membahas akting aktris senior Christine Hakim, udah pasti keren meski hanya sebagai pemeran pendukung. Seperti sudah dibahas sebelumnya Reza Rahadian dan Tara basro keren sangat, meski untuk Reza tidak terlalu kaget karena ia sudah biasa berakting bagus. Beda dengan Tara Basro, kejutan yang saya dapatkan adalah senyuman sinis dan tatapan mata Tara Basro yang menusuk jantung. Ia berhasil memainkan peran sebagai Gerhana yang mendukung Biru dengan sangat sempurna. Selain itu, kembalinya aktor Ada Apa Dengan Cinta, Nicholas Saputra juga tampil cukup baik. Berperan sebagai Elang dan menjadi partner Dara, Nicholas menyuguhkan akting yang tak kalah apik dari pemain lainnya. Dan, yang paling mencuri perhatian saya adalah peran anak kecil, Angin oleh Aria Kusumah, pendatang baru. Ini cast paling amazing, untuk perdana main film layar lebar, saya sangat salut sama salutnya ketika saya menyaksikan Tanta Ginting (Soekarno) dan Bebeto Letually (Cahaya Dari Timur : Beta Maluku). Aria Kusumah berperan sangat apik sepanjang perjalanannya bersama Dara hingga akhirnya ia terbunuh oleh Biru & Gerhana.

Dari departemen sinematografi dan pemilihan lokasi, wow, banget. PTE juga menyuguhkan kekayaan alam Indonesia. Sama halnya seperti 5 CM yang berhasil memamerkan Mahameru, PTE pun berhasil memamerkan padang Sumba. Shot demi shot di alam terbuka  dan beberapa siluet saya sangat salut. Namun betul kata temen saya, ketika shot adegan silat banyak dlakukan dengan metode close up, sehingga tidak terlalu bisa dinikmati. Meski begitu, adegan terakhir pertarungan Biru & Gerhana melawan Dara & Elang, betul – betul saya nikmati. Dramaturgi dan filosofi film ini sangat kuat dan berhasil disampaikan dengan baik oleh Ifa Isfansyah.

Dari departemen cerita dan skenario, PTE menyajikannya dengan cukup apik. Rasanya hampir seluruhnya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Editing pun cukup rapih memainkan cerita, sehingga tidak sulit untuk dimengerti arahnya kemana film ini akan dibawa. Musik arahan komposer ternama Erwin Gutawa pun sangat pas dimainkan dalam film ini. Salut juga buat Chitra Subiyakto sebagai penata busana, yang sangat detail dan sesuai.

Terlepas dari semua kelebihan film PTE, jika film ini mengklaim dirinya sebagai film action, saya rasa cerita dan eksekusi terlalu lambat, saya tetap menganggap film ini sebagai film drama hanya saja dengan latar belakang dunia persilatan, sehingga cara bertutur dalam film ini dibuat secara sederhana mulai dari konflik pewarisan tongkat emas, fitnah keji terhadap Dara & Angin, naik tahtanya Biru & Gerhana, hingga akhirnya klimaks di perebutan kembali tongkat emas oleh Dara yang dibantu Elang. Jadi jika anda yang berekspektasi menonton PTE sama halnya dengan ekspektasi anda melihat The Raid, saya rasa anda keliru. Secara umum, PTE tidak menawarkan silat sebagai komoditi utama, tapi lebih menekankan kepada inti cerita, bahwa pendekar adalah orang yang mempergunakan ilmunya demi kemanusiaan. Porsi silat tidakjauh berbeda sebagaimana porsi lokasi Sumba hanyalah sebagai alat dan promosi bagian kekayaan budaya dan alam Indonesia.

Sumber : http://uniqpost.com/wp-content/uploads/2014/08/video-dibalik-layar-nicolas-saputra-dan-eva-celia-dalam-pendekar-tongkat-emas.jpg

Film ini saya bisa katakan SPEKTAKULER, karena dikerjakan dengan serius dengan hasil yang NYARIS SEMPURNA, selain adegan perkelahian menggunakan metode close up shot yang rasa kurang bisa dinikmati, hampir tidak ada cela dari film ini. Bisa saya katakan juga, film ini adalah film terbaik Indonesia tahun 2014, meski masih akan ada dua film yang tayang yakni Merry Riana (Chelsea Islan) dan Assalamualaikum Beijing (Revalina S. Temat)
Akhir kata, terimakasih kepada seluruh kru, produser, pemain dan semua tim yang sudah bekerja keras menghasilkan film keren, semoga film Indonesia terus dicintai oleh negerinya sendiri khususnya anak muda Indonesia. Bangga Film Indonesia, MAJU TERUS PERFILMAN INDONESIA.

Kredit :
Pemeran Utama Wanita :
Eva Celia
Pemeran Utama Pria : Nicholas Saputra
Pemeran Pembantu Pria : Reza Rahadian
, Aria Kusumah, Slamet Rahardjo, Whani Dharmawan, Darius Sinathrya
Pemeran Pembantu Wanita : Tara Basro, Christine Hakim, Prisia Nasution
Sutradara :
Ifa Isfansyah
Penulis Skenario :
Mira Lesmana, Mira Lesmana, Jujur Prananto
Penata Editing : W Ichwandiardono
Penata Kamera : Gunnar Nimpuno
Penata Artistik : Eros Eflin
Penata Musik : Erwin Gutawa
» » » » [PENDEKAR TONGKAT EMAS] : Beda, Spektakuler dan Nyaris Sempurna » » » [KACAUNYA DUNIA PERSILATAN] : Berharap Ada Versi Full Animation » » » [HIJAB] : Bungkus “Ayat-ayat Cinta”, Rasa “Jomblo” » » » [GARUDA SUPERHERO] : Semangatnya Layak Diapresiasi » » » [DIBALIK 98] : 89 Untuk Debut Perdana Sutradara Lukman Sardi
Forum Film Bandung Forum Film Bandung Author
Title: [PENDEKAR TONGKAT EMAS] : Beda, Spektakuler dan Nyaris Sempurna
Author: Forum Film Bandung
Rating 5 of 5 Des:
oleh  Raja BlackWhite [@r4dzML] (Pecinta Film Indonesia) Desember atau penghujung tahun selama 3 tahun terakhir memang menjadi “ summer...

[KACAUNYA DUNIA PERSILATAN] : Berharap Ada Versi Full Animation

Oleh 
Raja BlackWhite [@r4dzML]
(Pecinta Film Indonesia)


Kekacauan memang sering terjadi dalam dunia persilatan. Perguruan silat Cempaka dikacaukan oleh anak buahnya sendiri Biru dan Gerhana yang haus akan kekuasaan hingga akhirnya rela membunuh gurunya sendiri dan memfitnah saudara seperguruannya Dara dan Angin yang oleh Cempaka diwariskan tahta berupa tongkat emas. Meski kekacauan itu sudah bisa diatasi oleh Dara dengan dibantu Elang, meski Dara harus kehilangan Angin, kekacauan kembali terjadi di dunia persilatan. Memang KACAUNYA DUNIA PERSILATAN tidak akan pernah berhenti. Kali ini pengacau datang dari Panji Tengkorak, Datuk Berdahak, Wira Sobling, Siluman Antik dan Kembang Goyang. Namun niat jahat mereka harus berhadapan dengan Ki Beruk Sepuh, Broma Membara, Matrilik, SamUrat dan Si Buta Dari Gua Buat Lo. Semuanya terkumpul dan semakin kacau dalam KACAUNYA DUNIA PERSILATAN.

Sumber : http://3.bp.blogspot.com/-75x7LtKol1w/VJbrd3ldopI/AAAAAAAAX0c/2RRpxTLmx-U/s1600/Kacaunya%2BDunia%2BPersilatan%2B2015.jpg

Kesuksesan Comic 8, Marmut Merah Jambu dan Bajaj Bajuri The Movie, film bergenre komedi yang masuk 10 besar film terlaris 2014, bahkan salah satunya berada di posisi puncak, membuat sineas sepertinya banyak membuat komedi tahun ini. Setelah Hijab ala Hanung Bramantyo, kini Hilman Mutasi (yang merangkap sebagai penulis skenario) hadir dalam Kacaunya Dunia Persilatan. Beberapa waktu ke depan sepertinya ada juga film komedi yang diperankan Reza Rahadian dan Adinia Wirasti. Film KACAUNYA DUNIA PERSILATAN memang tidak bertahan lama di bioskop Bandung hanya 6 hari, perdana tayang pada tanggal 22 Januari 2015 dan berakhir di tanggal 28 Januari 2015. Lalu seperti apa film ini?

ANIMASI
Point plus bahkan keunggulan terbesar film ini adalah teknologi animasinya. Sedikitpun tidak terlintas di benak saya bahwa film ini akan menggunakan animasi. Film dibuka dengan narasi dan animasi yang menggambarkan bagaimana kondisi dunia persilatan. Ada dua golongan, Golongan Putih dan Golongan Hitam. Ya wajar, hidup ini memang punya dua sisi, tidak selamanya putih tidak selamanya hitam. Animasi pembuka film ini membuat saya takjub, bagus banget, keren pokoknya. Dan kembali saya dikejutkan di paruh terakhir battle antara golongan hitam dan golongan putih juga menggunakan animasi semacam permainan game online. Aslinya, keren sangat.. Thanks buat Epix Studio, berharap ada sekuel Kacaunya Dunia Persilatan yang full animation.

MATERI
Penulis skenario rasanya cukup cerdik dalam mengambil materi atau bahan buat jokes. Materi-materi yang memang sudah orang kenal dan cocok untuk dijadikan bahan lucu-lucuan. Mulai dari klinik Tong Fang, sumpah Demi Tuhan Arya Wiguna, press conference Vicky Prasetyo dan Zaskia Gotik hingga acara kuis di televisi, “Ya, Tidak, Ya Ya, Tidak, Ya Tidak“, pastinya tahu dong kuis apa yang dimaksud. Tentunya semuanya dijadikan plesetan. Di beberapa bagian memang ada yang hambar, penonton malah dibuat mengernyitkan kening seperti saat para tokoh dari golongan hitam dan golongan putih saling bertemu dan kaget, ternyata mereka bertemu dengan tukang rujak dan tukang bakso (kalo gak salah), owh ternyata dua tempat yang berbeda ah garing, heheheh.

Berbicara teknik penokohan dan konflik, saya rasa cukup bagus. Setidaknya ada 10 tokoh seperti yang sudah saya sebutkan di awal. 5 perwakilan dari golongan Hitam dan 5 Golongan Putih. Konflik bermula ketika Pedang Pusaka Dewa yang merupakan simbol perdamaian dunia persilatan yang tersimpan dengan sangat aman di perguruan KeraMas (makanya pemimpinnya sering creambath), dikabarkan hilang. Maha Guru Ki Beruk Sepuh selaku pemimpin perguruan tersebut, meminta murid-muridnya seperti Broma Membara (Darius Sinarthya) dan adiknya Mantriloh (Vicky Monica) untuk mencari pedang tersebut, karena khawatir jika jatuh pada orang yang tidak bertanggungjawab maka KACAULAH DUNIA PERSILATAN. Mereka meminta pertolongan kepada Pendekar Golongan Putih seperti Si Buta Dari Gua Buat Elo (Tora Sudiro) dan Samurat Jepang (Ery Makmur). Introduction tokoh-tokohnya menarik disertai dengan karakter masing-masing. Mereka mencurigai bahwa pedang pusaka dewa dicuri oleh pendekar golongan hitam yang dipimpin Panci Tengkorak (Agung Saga), Siluman Antik (Amink), Datuk Berdahak (Joe P. Project) dan Wira Sobling (Guntur Nugraha). Hadirnya tokoh Dewi Kembang Goyang yang asalnya dari golongan putih namun hijrah ke golongan hitam karena cintanya pada Broma Membara ditolak membuat penokohan dalam film ini cukup naturalis dan manusiawi, bahwasanya manusia selalu memiliki dua sisi, termasuk ketika Darius malah memilih Amink (mungkin sisi yang lainnya muncul, hehehe, piss)

KACAUNYA AMING, TORA DAN DARIUS
Tidak seperti film Hijab yang banyak membuat saya tertawa spontan, tanpa harus mengernyitkan kening, Kacaunya Dunia Persilatan masih menyisakan jokes hambar, mungkin karena materi yang disajikan juga beda, atau memang eksplorasi karakter yang masih kurang. Terkecuali Aming, Tora Sudiro dan Darius Sinarthya yang memang sudah dari sananya “kacau”, berhasil membuat Kacaunya Dunia Persilatan menjadi bener-bener kacau. Salah satu kekacauan mereka adalah saat Amink dan Tora akan berbicara melalui telepati di salah satu scene. Dipadu suntingan gambar bang Ryan Purwoko, membuat scene ini memang begitu hidup dan lucu. Nggak nyangka aja, akan ada ngorol lewat telepati dan nyambung, keren bang Ryan. Adegan-adegan yang menampilkan Amink, Tora dan Darius, menjadi karakter terkuat dalam film ini, meski sebetulnya karakter Amink masih bisa terus dieksplorasi.

Sumber : http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/ki-ka-si-buta-dari-gua-buat-elu-tora-sudiro-_141218134841-182.jpg

Hal yang unggul dalam film ini, juga adalah tata musik, yang belakangan saya tahu digarap serius oleh Candil. Musik dan suasana pas mengalun menyatukan cerita. Artistik dan kostum juga dikerjakan secara apik dan konsisten. Rajutan cerita juga rapih, tidak seperti Comic 8 yang masing-masing cerita berdiri sendiri. Di Comic 8, fokus bagaimana membuat penonton tertawa, tapi disini cerita juga cukup diperhatikan dan memang berkesinambungan secara utuh.
Finally, melihat animasi di film ini saya sangat berharap akan ada sekuel Kacaunya Dunia Persilatan versi full animasi. Sumpah keren! Terus tonton film Indonesia, jadikan film Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bangga Film Indonesia

Kredit :

Pemeran Utama Wanita : Vicky Monica
Pemeran Utama Pria : Tora Sudiro, Darius Sinathrya
Pemeran Pembantu Pria : Amink, Joe P Project, Agung Saga, Ery Makmur, Guntur Nugraha, Iang Darmawan
Pemeran Pembantu Wanita : Zahra Jasmine, Elly Ermawati
Sutradara : Hilman Mutasi
Penulis Skenario : Hilman Mutasi
Penata Editing : Ryan Purwoko
Penata Kamera : Ophie Yuphie
Penata Artistik : Jimtay da Cruz
Penata Musik : Candil
» » » » [PENDEKAR TONGKAT EMAS] : Beda, Spektakuler dan Nyaris Sempurna » » » [KACAUNYA DUNIA PERSILATAN] : Berharap Ada Versi Full Animation » » » [HIJAB] : Bungkus “Ayat-ayat Cinta”, Rasa “Jomblo” » » » [GARUDA SUPERHERO] : Semangatnya Layak Diapresiasi » » » [DIBALIK 98] : 89 Untuk Debut Perdana Sutradara Lukman Sardi
Forum Film Bandung Forum Film Bandung Author
Title: [KACAUNYA DUNIA PERSILATAN] : Berharap Ada Versi Full Animation
Author: Forum Film Bandung
Rating 5 of 5 Des:
Oleh  Raja BlackWhite [@r4dzML] (Pecinta Film Indonesia) Kekacauan memang sering terjadi dalam dunia persilatan. Perguruan silat C...

[HIJAB] : Bungkus “Ayat-ayat Cinta”, Rasa “Jomblo”

Oleh Raja BlackWhite (Pecinta Film Indonesia)
A: Sudah nonton film HIJAB?
B: Ah,males apaan sich film Indonesia, Assalamualaikum Beijing aja masih tayang, masih aja film kerudungan.
A: Tapi yang ini beda B
B: Emang siapa sutradaranya?
A: Hanung
B: Owh, sorry ah, males, paling juga isinya kayak Ayat-ayat Cinta

Mengusung genre komedi cerdas dengan judul agak “segmented” ditambah ada embel-embel bahwa ini buatan sutradara (katanya) kontroversial Hanung Bramantyo tidak serta membuat penonton percaya bahwa HIJAB adalah sebuah film komedi. Namun haram hukumnya bagi saya komentar atau bahkan mencaci maki sebuah film jika belum menontonnya. Terlepas nanti saya akan kecewa atau puas setelah menoton film. Dari trailer dan poster yang penuh warna, HIJAB sudah menunjukkan dirinya bahwa ia komedi. Namun komedi apa yang dihadirkan dalam film HIJAB? Seperti apa karya Hanung yang satu ini? Tonton di bioskop segera.


RELAKSASI HANUNG BRAMANTYO
Siapa yang tak kenal sutradara kondang Hanung Bramantyo? Beberapa tahun terakhir filmnya selalu mengundang kontroversi dari berbagai pihak. SANG PENCERAH – film yang menceritakan biopik K.H Ahmad Dahlan tokoh Muhammadiyah ini ditolak oleh panitia FFI dikarenakan menurut mereka banyak ketidakakuratan sejarah yang menyebabkan dipecatnya dewan juri FFI yang masih bersikukuh atas film Sang Pencerah. Meski begitu, Sang Pencerah malah berjaya di Festival Film Bandung termasuk menyabet Film dan Sutradara Terpuji. TANDA TANYA (?) – film yang bercerita tentang heterogen beragama dan bersuku bangsa ini juga memicu kontroversial, bahkan ketika akan ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta, salah satu ormas Islam (katanya) melakukan demo dan akan melakukan sweeping ke stasiun TV tersebut jika tetap menayangkan film ini. CINTA TAPI BEDA – film tentang kisah cinta beda agama ini, diprotes akibat salah satu tokohnya, Diana (Agni Pratishta), yang berasal dari salah satu daerah, namun agama yang dianutnya bukan mayoritas agama di daerah tersebut. Hal ini berbuntut pada penghentian dan penurunan layar di bioskop-bioskop tanah air. Terakhir, SOEKARNO – film ini mengundang kontroversi dari salah satu putri proklamator, Ibu Rachmawati Soekarno Putri, entah apa yang menjadi penyebab utamanya. Ironisnya, putra proklamator yang lain mendukung film ini. Meski berpengaruh terhadap jumlah penonton yang bahkan tidak sampai satu juta, film ini tetap berjaya di penghargaan termasuk Film Pilihan Tempo 2013, Film Terpuji Festival Film Bandung 2014, dan 4 penghargaan di Festival Film Indonesia 2014.

Jauh sebelum Hanung mengerjakan megaprojectnya yang serba kontroversial, mari kita kilas balik di awal karir seorang Hanung Bramantyo. Tercatat film-film dengan cerita ringan seperti Brownies, Catatan Akhir Sekolah, Jomblo, Get Married hingga Tarix Jabrix. Film-film seperti inilah yang membuat Hanung berhasil meraih sutradara terbaik Festival Film Indonesia dua kali pada jarak waktu yang tidak terlalu jauh yakni 2005 dan 2007. Pada awal tahun 2008, sepertinya ambisius Hanung dimulai dengan mencoba menghadirkan Ayat-ayat Cinta, novel Islami karya Habiburahman El-Shirazy, ke layar lebar. Sukses dan kontroversial. Setelahnya dilanjut oleh-oleh film berat lainnya seperti Perempuan Berkalung Sorban dan Doa Yang Mengancam

Nah, pastinya Hanung juga jenuh secara ia juga manusia biasa jika terus menerus membuat megaprojek ambisius yang serba kontroversial, makanya ia membesut film HIJAB dengan genre komedi. Komedi yang cerdas alias komedi tanpa bencong dan kata-kata hinaan fisik yang sarkasme. Namun buat saya, tidak seru jika Hanung tidak membuat film yang berat, heheh, jadi saya yakini HIJAB hanyalah sebuah relaksasi bagi Hanung Bramantyo, mengingat tahun ini pun sudah ada 2 film lainnya yang mungkin akan tayang pada tahun ini juga. “2014” film yang sudah lama tertunda penayangannya serta kabar yang beredar Hanung pun tengah menghadirkan “”AZAN TAK PERNAH INGKAR JANJI” dengan seorang bintang India sebagai pemeran utamanya, sebelum akhirnya membesut GUNDALA pada tahun 2016 yang sudah lebih dulu dilakukan konferensi persnya.

8 CAST GARDA DEPAN – HIDUP dan APIK
Kecuali Anin (Natasha Rizky), 7 dari 8 cast yang ditempatkan di garda depan mereka adalah para aktor dan aktris yang juga pernah main film arahan atau yang berafiliasi dengan Hanung Bramantyo. Mereka adalah Zaskia Adya Mecca (Doa Yang Mengancam), Tika Bravani (Soekarno), Carissa Puteri (Ayat-ayat Cinta), Mike Lucock (Habibie & Ainun), Ananda Omesh (Hijrah Cinta), Nino Fernandez (Get Married 2) dan Dion Wiyoko (Perahu Kertas). Film Hijab berhasil mengarahkan mereka menghidupkan karakternya sendiri dan menjadikan film ini begitu hidup. Rasanya kedelapan pemain ini semuanya bermain apik, totalitas dan sesuai porsinya. Mereka seperti yang betul-betul sudah kenal lama, melihat performa kita dibawa ke kehidupan sehari-hari ngobrol-ngobrol santai sesekali bergurau. Untuk film sejenis ini, rasanya saya kesulitan menentukan mana pemeran utama mana pemeran pendukung. Roh utama film ini memang ada di 4 pemeran wanita, namun konflik cerita dramanya dibawa pada keempat pemain prianya. Semuanya terjalin dengan baik. Teknik penokohannya pun sangat pas dan selaras dengan skenario yang disusun. Oleh karenanya jika saya juri penghargaan maka saya akan memasukkan keempat pemeran wanita sebagai pemeran utama dan dua tokoh yang berhasil mencuri perhatian saya adalah Anin (Natasha Rizky) dan Tata (Tika Bravani). Selain 8 pemain di garda depan, Hijab juga menghadirkan banyak pemain papan atas sebagai cameo sebut saja Epy Kusnandar, Meriam Bellina, Mathias Muchus, Marini, Rina Hasyim hingga Jajang C. Noer.

PEREMPUAN DAN ISLAM
Jika anda penggemar film Hanung Bramantyo dan juga cermat menontonnya, maka isu perempuan bukanlah yang pertama diangkat Hanung dalam filmnya. Di film Hijab Hanung coba mengangkat kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki. Hal ini banyak tercermin dari skenario yang disusun oleh Hanung sendiri bersama rekannya Rahabi Mandra. Bagaimana hukum dan kedudukan wanita dalam Islam? Apakah wanita bersuami boleh bekerja? Apa saja hak-hak seorang perempuan dalam Islam?. Jauh sebelum Hanung menjawab dengan lugas melalui film Hijab, Hanung sudah menjawabnya dalam film Perempuan Berkalung Sorban dengan lebih ambisius. Kalau masih ingat (silakan tonton lagi filmnya), ada skenario Khudori (Oka Antara) kepada Annisa (Revalina S. Temat), yang kurang lebih menyatakan bahwa ada kodrat wanita yang sudah Tuhan atur yang tidak bisa digantikan oleh pria seperti mengandung dan melahirkan, di luar itu laki-laki dan perempuan sama. Hijab pun melakukan hal serupa, hanya saja kali ini Hanung tahu batasannya. Hal ini digambarkan secara jenaka oleh dialog 4 orang pria mengenai apakah wanita boleh bekerja, apakah laki-laki juga bisa gantian ngurus anak dengan masing-masing tokohnya berbeda pendirian seperti Gamal (Mike Lucock) yang bersikeras bahwa itu haram atau Chaky (Dion Wiyoko) yang tidak mempermasalahkan hal tersebut. Inilah komedi cerdas, rasanya saya melihat Hanung telah kembali. #KipasKipasSosisBakar.

HIJAB & FASHION
Film Hijab menyoroti fenomena saat ini dimana Hijab yang semula dikenal hanya untuk melaksanakan kewajiban sebagai muslimah kini menjadi sebuah trend. Bahkan di salah satu skenario disebutkan, diakui atau tidak, Hijab memang menjadi fashion yang menggantikan konde dan sanggul di zaman orde baru. Mungkin juga jika dulu wanita berjilbab di sekolah itu dianggap kuper, justru sekarang mungkin yang nggak berjilbab itu yang dibilang kuper. Trend berhijab juga dilakukan para selebritis wanita dimana selebriti di negeri ini masih menjadi acuan masyarakat sebut saja Dewi Sandra, Inneke Koesherawati bahkan sang pemeran utama Zaskia Adya Mecca. Adakah pergeseran makna hijab, lalu bagaimana seharusnya hijab dalam Islam? Film ini memang tidak dimaksudkan untuk menjawab itu dan saya pun tidak berkapasitas menjawab itu, mari kita tanya ketua MUI saja, Bpk. Din Syamsudin yang konon sudah nonton film ini.

KOMEDI DAN DRAMA
Film ini sukses membuat saya ketawa ngakak – mungkin kalau nggak terkontrol, saya bisa sampe jatuh dari kursi bioskop – sejak awal film ini dimulai. Kalau dijelasin satu-satu rasanya banyak yang bikin ketawa dan ngakak, semuanya spontan. Dengan satu kata, Anjrit! aja sudah bisa ketawa, lho kok bisa? Penasaran ya? Makanya nonton aja di bioskop. Selain anjrit, hadirnya Dijah Yellow – saya juga nggak tahu siapa dia, yang jelas komentar tentang dia paling kejam datang dari temen saya, yang kalau lihat mukanya bikin muntah, maaf ya, hahahah –  tapi dibalik semua pembullyan terhadapnya, Dijah Yellow tampil cukup lama dan cukup menghibur, hingga akhirnya saya harus mengucapkan “Tenkiiiiiiiw” tentunya ala Dijah Yellow. Juga anda akan dibuat geli-geli gimana gitu, oleh boneka Annabelle yang jika di Hollywood sana membuat anda kabur ketakutan, tapi di Hijab, Anna(belle) membuat anda geli. Hahahahahahaha, sumpah ane ngakak bahkan seharian ane kepikiran terus ma film Hijab.

Paruh pertama film saya terpingkal-pingkal, terbahak-bahak, ngakak abis, sejurus kemudian Hanung membawa emosi saya ke dalam kesedihan, dengan konflik pemeran utama wanita dengan masing-masing pasangannya. Sari (Zaskya Adya Mecca) yang ditinggal pergi suaminya, Gamal, nggak pulang, sekitar tiga atau empat hari, nah nuansa film udah sedih, jadi komedi yang mempertanyakan berapa hari Gamal nggak pulang, jujur garing. Ada juga Bia (Carissa Puteri) si gadis hidayah, seorang istri selebritis, juga ditinggal suaminya yang nggak pulang, kayaknya malu karena ketahuan lagi syuting film bodoh (ala Sophia Latjuba). Begitu juga Tata (Tika Bravani), anaknya masuk rumah sakit karena kurang diperhatikan dan suaminya, Ananda Omesh pun kecewa, aktingnya disini Omesh cukup meyakinkan. Namun ketiga kesedihan tersebut tidak bisa saya rasakan, mungkin karena sebelumnya tertawa terbahak-bahak kali ya, bisa jadi orang gila saya, sebentar ketawa kemudian nangis heehh. Namun memang Hanung cerdas, kesedihan mereka bertiga hanya sebagai jembatan untuk kita merasakan kesedihan yang lebih mendalam. Dimanakah kesedihan itu?

Skenario selanjutnya – sepertinya diujarkan oleh Carissa Puteri – mengatakan bahwa di saat Tata, Bia dan Sari memiliki masalah dengan suaminya masing-masing, Anin malah sibuk dengan cowok barunya, anak teman mamanya yang kuliah dan besar di Paris. Anin yang Paris Lovers tentu lebih memilih dia dan meninggalkan Chaky. Seketika saya benci sama cewek kayak gitu (heheh, pengalaman pribadi soalnya), namun apa yang terjadi? Tiba-tiba saya menangis. Saat Micelle cowok barunya itu memberikan hadiah buku yang dalam skenario dikatakan bahwa ini tidak bisa didapat di Indonesia hanya di Perancis. Lho kok sebuah novel aja nangis. Seketika suntingan Cesa David Lukmansyah dan Wawan I Wibowo mengarah pada adegan kilas balik kamar Anin. Ternyata Anin sudah memiliki novel tersebut yang ia dapat sebagai pemberian dari Chaky. Kenapa membuat menangis? Kalau saja penonton cerdas mengartikan scene dan skenarionya, adegan ini menggambarkan bahwa saking cintanya Chaky pada Anin, ia rela mendapatkan buku yang kata Micelle, hanya bisa didapatkan di Perancis. Sepertinya Anin mulai sadar betapa besanya cinta Chaky cowok yang telah ditinggalkannya, ditambah dengan backsoundSatu Yang Tak Bisa Lepas dari Andien yang ditata dengan apik menambah kesenduan theather 4 XXI BTC.

Film Hijab betul-betul membawa saya pada pengalaman menonton yang spektakuler. Konten cerita menjadi daya pikat terbesar film ini, yang dijahit dengan hati-hati. Hasilnya pun rapih. Hanung juga banyak membuat kritikan halus terhadap isu-isu perfilman nasional, seperti demo oleh salah satu ormas Islam (yang dalam demonya ada foto Hanung, sutradara narsis, heheh), juga terhadap karya bodoh yakni film-film tentang pocong, ditambah pemeranan Dion Wiyoko sebagai sutradara kontroversial seperti merefleksikan diri Hanung Sendiri. Hehehh. Ya gimana nggak kontroversial, grup Nasyid pakaian Cadas Metal, tapi ide gila ini saya suka. Karena saya juga suka dengan ide ide gila seperti ini.

Sumber : http://www.kekayuan.com/wp-content/uploads/2014/10/IMG_20141006_141854.jpg

Pada akhirnya Hijab membawa kita pada konklusi mengapa para pemeran utama menggunakan hijab. Kurang lebih 100 menit, pertanyaan yang dilontarkan oleh sutradara di awal scene yang mempertanyakan kenapa berhijab, terjawab sudah. Hijab memang tidak menjawab bagaimana hukum berhijab bagi wanita muslimah, hijab seperti apa yang sesuai syariat, atau peran perempuan bersuami dalam Islam. Film Hijab resmi menyoroti fenomena hijab fashion yang kini tengah melanda negeri yang mayoritas ummatnya beragama muslim ini, dengan ringan, cerdas,santai dan menyenangkan. So. #LetItBeTheir Way.
Finally, segera tonton Hijab di bisokop terdekat di kota anda. Menonton film Hijab seperti anak kecil sedang makan permen dengan bungkus Ayat-ayat Cinta rasa Jomblo. Manis dan menyenangkan. Bangga Film Indonesia

Kredit :
Pemeran Utama Wanita :
Carissa Puteri, Zaskia Adya Mecca, Tika Bravani, Natasha Rizky
Pemeran Utama Pria : Nino Fernandez
, Mike Lucock, Ananda Omesh, Dion Wiyoko
Pemeran Pembantu Pria : Slamet Rahardjo Djarot
, Epy Kusnandar
Pemeran Pembantu Wanita : Marini Soerjosoemarno, Jajang C Noer, Rina Hassim, Meriam Bellina, Sophia Latjuba
Sutradara :
Hanung Bramantyo
Penulis Skenario :
Hanung Bramantyo
Penata Editing : Wawan I Wibowo
Penata Kamera : Faozan Rizal
Penata Artistik : Angela Halim
Penata Musik : Hariopati Rinanto
» » » » [PENDEKAR TONGKAT EMAS] : Beda, Spektakuler dan Nyaris Sempurna » » » [KACAUNYA DUNIA PERSILATAN] : Berharap Ada Versi Full Animation » » » [HIJAB] : Bungkus “Ayat-ayat Cinta”, Rasa “Jomblo” » » » [GARUDA SUPERHERO] : Semangatnya Layak Diapresiasi » » » [DIBALIK 98] : 89 Untuk Debut Perdana Sutradara Lukman Sardi
Forum Film Bandung Forum Film Bandung Author
Title: [HIJAB] : Bungkus “Ayat-ayat Cinta”, Rasa “Jomblo”
Author: Forum Film Bandung
Rating 5 of 5 Des:
Oleh  Raja BlackWhite (Pecinta Film Indonesia) A: Sudah nonton film HIJAB? B: Ah,males apaan sich film Indonesia, Assalamualaikum Beiji...

[GARUDA SUPERHERO] : Semangatnya Layak Diapresiasi


Oleh
Raja BlackWhite [@r4dzML]
(Pecinta Film Indonesia)


GARUDA SUPERHERO. Itulah salah satu film Indonesia pembuka dari 3 film yang tayang di awal Januari 2015 selain Erau Kota Raja dan Tanah Mama. Ini salah satu film yang saya tunggu semenjak kabar tentang film ini berhembus, hingga akhirnya dijadwalkan tayang mulai Kamis, 8 Januari 2015. Lalu film apakah ini? Dari judul dan trailer nya mungkin anda bisa menebak bahwa ini film action dengan superhero sebagai jagoan utamanya, ya semisal Batman atau Spiderman lah. Cerita dimulai ketika dunia dikejutkan akan ada asteroid yang menabrak bumi dan menghancurkannya, lalu Indonesia mampu membuat senjata yang mampu menghancurkan asteroid sebelum akhirnya asteroid tersebut masuk ke atmosfer bumi, namun senjata tersebut jatuh ke tangan Durja (Slamet Rahardjo) orang jahat yang ingin menguasai bumi. Tentu senjata tersebut harus direbut kembali namun apa daya tak ada yang bisa melawan Durja, disaat itulah muncul sosok Garuda (Rizal Al Idrus) yang membantu merebut senjata tersebut hingga akhirnya Garuda berhasil merebut dan melumpuhkan kawanan Durja dan cerita ditutup dengan peledakan asteroid oleh Garuda sendiri yang membawa senjata tersebut ke luar angkasa, hebat bukan? Garuda bisa menjadi superhero yang membanggakan bagi Indonesia khususnya Metro City. Memang hebat, asteroid tersebut tidak jadi menabrak bumi namun malah meluluhlantakkan film menjadi berantakan.

Sumber : http://www.21cineplex.com/data/gallery/pictures/141195329146186_500x833.jpg

TEKNOLOGI
Karena film ini mengklaim film Indonesia pertama yang menggunakan teknik CGI maka teknologi menjadi sorotan utama dalam film ini. Pengguna sosial media terutama twitter banyak yang nyinyir, bahkan baru nonton trailernya saja sudah banyak yang bilang (maaf) tahik/tai. Buat saya kata-kata tersebut memprihatinkan, untuk film horror yang jelas-jelas hanya menjual dada dan selangkangan saja, saya tak berani bilang film itu dengan kata “tai”. Film dibuka dengan screenplay tembak-tembakan, aksi dan lain sebagainya serupa film-film action pada umumnya untuk meyakinkan bahwa film ini akan memacu adrenalin. Namun memang sungguh disayangkan bahwa teknologi yang digunakan masih kasar. Saya memang bukan orang yang berkapasitas dalam hal teknologi, namun sebagai penikmat film rasanya tidak berlebihan jika saya mengutarakan pengalaman menonton saya. Yang paling mengganggu pandangan mata saya adalah, aksi dengan latar tidak nyambung. Tokoh dan latar film kurang selaras, serasa tumpang tindih. Lebih sayangnya lagi hampir seluruh film menggunakan efek visual, bahkan untuk set-set yang nyata pun menggunakan efek visual.
Untuk menggemakan sosok Garuda sebagai superhero, film ini masih kurang berhasil memperkenalkan Garuda. Kenapa demikian, hampir separuh film diisi oleh flashback sebelum Bara menjadi Garuda. Bahkan porsi Garuda menurut saya masih ketutup oleh porsi Durja King. Introduction yang terlalu lama, membuat film ini terlalu cepat selesai apalagi dengan durasi yang singkat, sehingga tidak terlalu terasa bagaimana Garuda itu menjadi Superhero.

MEMUNGKINKAN SEKUEL
Tokoh-tokoh yang muncul dalam film ini masih kurang eksplorasi. Termasuk sosok Garuda itu sendiri. Film dengan durasi sekitar 90 menit harus berbagi waktu memperkenalkan tokoh-tokoh yang banyak. Memang tidak semua harus dieksplorasi minimal tokoh-tokoh yang berada di lingkaran utama Garuda dan Durja. Namun hal ini bisa menjadi kabar baik buat sutradara X-JO atau sutradara lainnya membuat sekuel. Ke depannya sekuel ini bisa dilengkapi dengan Garuda Car, Garuda Motorcycle, jadi Garuda tidak hanya memiliki sayap, tapi juga memiliki peralatan / aksesoris tersendiri. Untuk film ini, jadinya seperti sinetron episode 1, cukup untuk memperkenalkan para tokoh dan sedikit sekali porsi aksi Superhero, namun karena ini film yang sekali tamat, maka satu cerita harus tuntas, lebih baik eksplorasi skenario di action dibanding skenario di hal-hal lainnya. Apa maksud eksplorasi skenario ini? Baca ke bawah ya, hehhe

Sebetulnya skenario yang dimainkan cukup banyak menggunakan twist yang bagus, karena cerita yang bagus itu diawali dengan kenapa lalu kemudian memberikan jawabannya. Sayangnya twist itu banyak dilakukan penulis skenario tidak pada alur utama melainkan pada alur-alur pendukung. Contohnya, tiba-tiba dokter bisa menstop mobil Bara, darimana ia tahu Bara?Bagamana ia bisa bertemu Bara? Bahkan teman saya pun mempertanyakannya, namun semua itu terjawab pada adegan kilas balik. Juga pada adegan dimana ayah Bara yang tiba-tiba sembuh total padahal dokter memvonis koma. Adegan kilas balik lagi. Menurut saya twist yang bagus bukanlah kejutan kilas balik, itu hanya akan membingungkan penonton dengan alur maju mundur apalagi terlalu banyak dihadirkan dalam film. Twist yang bagus bisa memainkan skenario dan menjebak tebakan penonton. Entah disadari atau tidak, sebetulnya ada twist yang cukup bagus, yakni saat Agus Kuncoro menangkap Alexa Key, dan Agus berujar bahwa nasibmu akan dihabiskan di penjara. Ya pasti penonton akan berpikir Alexa Key akan membusuk di penjara, namun ternyata Alexa Key merebut senjata salah satu pasukan dan akhirnya Agus Kuncoro berhasil menembaknya, itu twist yang cukup bagus, sayangnya eksekusinya terlalu cepat. Sebagai contoh, Agus Kuncoro bisa membawa Alexa Key keluar, lalu di tengah jalan Alexa Key berusaha merebut senjata pasukan dan berhasil hingga terjadi baku hantam kembali dengan Agus Kuncoro. Dengan adegan diboyong keluar dulu meyakinkan penonton akan skenario Agus Kuncoro bahwa Alexa Key akan membusuk di penjara, bahkan twist ganda bisa dilakukan dalam penulisan skenario, karena untuk memacu adrenalin selain tata musik Aghi Narottama dan tata suara Khikmawan Santosa yang menjadi poin plus dari film ini, harus dilengkapi dengan twist yang ganda. Sebagai referensi film serupa (alur yang serupa) bisa belajar dari film World War Z (Brad Pitt). Sebetulnya suntingan Yoga Krispratama sudah cukup baik dalam interpretasi cerita, meski sang sutradara banyak menggunakan flashback. Namun satu tokoh di akhir film saya rasa kurang mendapat pengenalan yang cukup, tokoh bapak tua yang mukanya hancur yang tiba-tiba melemahkan Alexa Key dan Slamet Raharjo, lha apa gunanya Garuda Superhero, twist yang mengejutkan memang, namun saya rasa keluar dari alur utama film. Mungkin twistnya bisa diatur seperti ini, isi bapak tua ini bisa menjadi informan kelemahan Durja King, nah Garuda yang tetap melakukan eksekusi atas informasi bapak tua tersebut.

YANG PERTAMA
Tidak mudah diterima menjadi yang pertama, namun yakinlah meski bukan yang terbaik anda akan dikenal sebagai pelopor. Ada Apa Dengan Cinta memunculkan film serupa Tentang Dia, Eiffel I’m in Love, Apa Artinya Cinta?, Heart hingga Love is Cinta. Drama cinta remaja yang tidak lebay, namun jika dilihat dari segi teknis produksi Ada Apa Dengan Cinta tidak sebagus Heart. Namun bagaimanapun Cinta dan Rangga tetap di hati. Begitu juga dengan Petualangan Sherina, memunculkan Denias Senandung di Atas Awan, Anak-Anak Borobudur hingga Di Timur Matahari. Alenia Pictures yang paling sering memunculkan film anak-anak seperti ini, namun sayang perkembangannya tidak signifikan, bisa dikatakan hanya muncul setahun sekali. Beda dengan film horror setelah Jelangkung dan Tusuk Jelangkung, film horror berkembang pesat secara kuantitas namun mengalami pergeseran kualitas yang menurun. Kuntilanak dan seriesnya, Pocong 2, Mirror adalah judul-judul yang masih layak dianggap  bagus, namun pergeseran terjadi sekitar 2010/2011 dimana film-film ini dirusak oleh artis-artis dan sutradara kurang tanggung jawab(sorry to say), hantu muncul semenit sekali, dada kemana-mana, belum selangkangan, industri film Indonesia buram. Pencerahan terjadi tahun lalu, dimana menurut filmindonesia.org, genre horror ter kick off dari 10 film terlaris 2014. Action, Komedi dan Drama Religi apalagi diangkat dari novel masih menjadi jaminan larisnya film Indonesia. Sebut saja Comic 8, The Raid 2: Berandal hingga Hijrah Cinta yang menempati 3 besar film terlaris 2014.

Sumber : http://img.duniaku.net/wp-content/uploads/2015/01/garuda01-800x534.jpg

Tahun 2015, Garuda Superhero menjadi pembuka untuk lahirnya film sejenis. Ini yang paling saya apresiasi dari X-JO dan kawan-kawan. Semangat dan spirit ini yang saya tangkap, bukan artinya saya menutup mata dari kekuranan film ini, yang menurut banyak pengamat sepertinya hampir semuanya kurang, tapi perjuangannya ini layak apresiasi. Jika mendapat sedikit penonton (BTC, 9 Jan 2015, pukul 13.00 WIB hanya 6 orang), memang wajar untuk kelas film perdana. Jangankan X-JO, sutradara Hanung Bramantyo pun yang pada tahun 2013 menyuguhkan Gending Sriwijaya sebagai film kolosal fiksi rasanya sepi peminat, karena masyarakat Indonesia mindsetnya suka nyinyir duluan mending kalau nonton, cuman baca pengamat orang lain sudah merasa paling hebat, bukan berarti saya hebat, namun saya lebih apresiasi mereka yang kritik tapi memang menontonnya bukan berdasarkan review orang lain. Karena percayalah film itu selera, pengalaman kita bisa berbeda-beda dalam menonton film. Sebulan sebelum Garuda Superhero, ada Pendekar Tongkat Emas yang menawarkan genre berbeda, namun apa, pergerakan penontonnya pun tidak terlalu bagus, orang lebih memilih Supernova, Merry Riana, dan Assalamualaikum Beijing (bukan berarti 3 film ini tidak bagus, bagus semua kok). Saya begitu memuji Pendekar Tongkat Emas, dan terus promo di twitter namun yach, sepertinya tidak akan masuk box office. Begitu juga Garuda Superhero, saya akan membantu Julia Perez untuk promo di twitter, sebelum (ditakutkan) akhirnya turun layar pada kamis depan, karena akan ada dua film yang promonya sangat gencar yakni Dibalik 98 (Lukman Sardi) dan Hijab (Hanung Bramantyo) tayang pada kamis tanggal 15 Jan 2015.

Terlepas dari teknologi dan porsi penceritaan yang kurang dari film ini, ditambah banyak cerita yang sebetulnya bisa dibuang dan alihkan pada penceritaan maksimal sosok Garudaseperti drama orang tua Bara ala Putri Yang Ditukar, karena tidak memberikan apa–apa pada keutuhan filmsaya tetap merasakan adrenalin cerita Garuda Superhero. Buat saya film ini tetap layak tonton, saya bangga dengan film ini, karena bagi saya film tidak hanya memotret realitas (kebanyakan film) tapi juga menciptakan realitas. Film luar sudah banyak yang menjadi ajang menciptakan realitas sebagai promosi negara, brainwash atau politik. Nah film Garuda Superhero sudah selangkah lebih maju dalam perfilman Indonesia karena mampu menciptakan realitas, karena memang tak adil rasanya jika membandingkannya dengan film hollywood serupa keluaran Marvel Studio.

Akhir kata, terimakasih bang X-JO dan kawan-kawan sudah memberikan suguhan yang beda, meski masih banyak yang kurang terutama cerita dan teknologi, namun ini akan menjadi harapan dan semangat baru bagi perfilman Indonesia, mungkin akan banyak sineas yang latah (khas Indonesia) bikin film serupa tentu harus dengan kualitas sinema yang lebih baik, masih ada Gundala atau bahkan Saras 2015 dan Panji Manusia DPR,upz, bagi anda yang mengkritik wajar-wajar saja kok namun jangan keterlaluan, jangan bikin takut sineas bikin hal baru, masa iya film kita tiap tahun selalu drama berbau “arab”, komedi, horror melulu. Semoga X-JO berlapang dada atas pro kontra (lebih dominan kontranya – mungkin jumlah yang kontra sebanyak porsi efek visual dalam filmnya) atas film perdananya dan menjadikannya sebagai pecut untuk berkarya lebih baik lagi. Maju terus Garuda Superhero, Bangga Film Indonesia.

Kredit :
Pemeran Utama Wanita :
-
Pemeran Utama Pria : Rizal Al Idrus
Pemeran Pembantu Pria : Slamet Rahardjo
, Robby Sugara, Agus Kuncoro, Rudy Salam, Jacob Maugeri, Roy Chunonk
Pemeran Pembantu Wanita : Alexa Key
, Kia Poetri, Tya Arifin
Sutradara :
x.Jo
Penulis Skenario :
x.Jo
Penata Editing : x.Jo
, Aristo Pontoh, Yoga Krispratama
Penata Kamera : Yoyok Budi Santoso
Penata Artistik : x.Jo
Penata Musik : Aghi Narottama



» » » » [PENDEKAR TONGKAT EMAS] : Beda, Spektakuler dan Nyaris Sempurna » » » [KACAUNYA DUNIA PERSILATAN] : Berharap Ada Versi Full Animation » » » [HIJAB] : Bungkus “Ayat-ayat Cinta”, Rasa “Jomblo” » » » [GARUDA SUPERHERO] : Semangatnya Layak Diapresiasi » » » [DIBALIK 98] : 89 Untuk Debut Perdana Sutradara Lukman Sardi
Forum Film Bandung Forum Film Bandung Author
Title: [GARUDA SUPERHERO] : Semangatnya Layak Diapresiasi
Author: Forum Film Bandung
Rating 5 of 5 Des:
Oleh Raja BlackWhite [@r4dzML] (Pecinta Film Indonesia) GARUDA SUPERHERO . Itulah salah satu film Indonesia pembuka dari 3 film yan...

[DIBALIK 98] : 89 Untuk Debut Perdana Sutradara Lukman Sardi

Oleh 
Raja BlackWhite [@r4dzML]
(Pecinta Film Indonesia)


DIBALIK 98. Ada apa dibalik 98? Jawabannya di tahun tersebut sudah ada produk awet muda setidaknya hingga 17 tahun ke depan. Lha maksudnya apa? Ikuti saja reviewnya, nanti di akhir ulasan juga akan ketemu jawabannya. Dibalik 98 merupakan film debut perdananya aktor hebat Lukman Sardi (Sang Pencerah, Rectoverso) sebagai sutradara. Nampaknya Lukman tidak main-main membesut film yang bercerita tentang drama (fiksi) sebuah keluarga dengan latar belakang kejadian Mei 1998. Seperti apa filmnya, kawan wajib tonton film yang sudah tayang mulai 15 Januari 2014 kemarin.

GENDERANG PERANG MNC PICTURES
Satu lagi rumah produksi yang sepertinya akan rutin memproduksi film-film berkualitas, MNC Pictures. Jika kawan mendengar kata MNC tentu sudah tak asing lagi, namun kiprahnya di perfilman (bukan sinetron) nasional masih bisa dihitung dengan jari. Tercatat, sepengetahuan saya, film perdananya adalah Asmara Dua Diana (Aura Kasih & Luna Maya) pada tahun 2008. Hasilnya bisa saya bilang masih minim alias di bawah rata-rata. 2 Tahun kemudian MNC Pictures melakukan lompatan jauh dengan membuat Hari Untuk Amanda (Reza Rahadian, Oka Antara & Fanny Febriana). Filmnya banyak menuai penghargaan termasuk wara-wiri di nominasi Festival Film Indonesia 2010. 4 Tahun vakum, November 2014, MNC Pictures memberikan sinyal bahwa ia layak bersanding dengan MD Pictures, MVP Pictures atau StarVision Plus, dengan mengembalikan artis cantik Dian Sastrowardoyo (Ada Apa Dengan Cinta) dan menduetkannya dengan Lukman Sardi dalam 7 Hari 24 Jam di bawah arahan Fajar Nugros. Hasilnya lumayan, di atas rata-rata. Sinyal itu kini makin berubah menjadi genderang perang setelah MNC Pictures menghadirkan Dibalik 98. Dari 4 film yang telah diproduksi, rasanya Dibalik 98 merupakan film terbaik MNC Pictures. Lalu kejutan apa lagi yang akan dihadirkan oleh MNC Pictures? Semoga Affandi Rachmansang produser – bisa menduetkan Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra, saya kira bisa membuat AADC : Reunion.
Sumber : http://kvltmagz.com/wp-content/uploads/2015/01/Di-Balik-98-Film-Indonesia-Banner.jpg

Dibalik 98, merupakan film yang bikin saya merinding, bahkan sejak paruh pertama film. Rasanya saya tidak percaya kalau ini film buatan sutradara perdana. Jika ditinjau dari penulisan skenario, rasanya memang Dibalik 98 masih menyajikan sesuatu yang biasa, untungnya penceritaan tersebut dibantu dengan visualiasi yang keren yakni perpaduan sinematografi ala Yadi Sugandi (Pasir Berbisik, Tanda Tanya), ditambah dengan suntingan Yoga Krispratama (Claudia/Jasmine, Cahaya Dari Timur: Beta Maluku) dan tata musik Thoersi Ageswara (Alangkah Lucunya Negeri Ini, The Mirror Never Lies) serta tata suara Khikmawan Santosa&M. Ikhsan Sungkar (3 Nafas Likas) dipadu dengan begitu mengagumkan ditambah dengan artistik Frans X.R Paat (Sang Kiai) membuat film ini betul-betul hidup sebagai karya sinema dengan cerita dan teknis yang bagus. Jelas ini bukan film asal-asalan. Awalnya nama-nama kru tidak disebutkan di awal yang bikin saya penasaran, kok bisa ya tata suara dan tata musiknya bagus, suntingannya keren, ini film pertama yang saya tonton credit titlenya hingga habis hingga copyright, ternyata orang-orang hebat disini. Salut buat jajaran kru belakang layar semua.

ESSEMBLE CAST YANG SEMPURNA
Pemilihan cast dan essemblenya sangat apik dan memuaskan. Menghadirkan para cameo yang berperan sebagai tokoh nyata, mulai dari Presiden Soeharto, BJ Habibie, Amien Rais, Wiranto dan Harmoko yang cukup sentral dalam film ini ditambah beberapa tokoh terkenal lainnya yang muncul (mungkin) sekali dalam film seperti Gus Dur, Nurcholis Madjid dll. Dua jempol saya berikan pada Amaroso Katamsi (Cinta Suci Zahrana) yang berperan sebagai Presiden Soeharto. Dari semua essemble cast yang hadir di Dibalik 98, Pak Presiden ini yang paling mirip secara gekstur, namun bukan hanya penampilan, akting dan ekspresinya pun mampu menggambarkan suasana batin yang mungkin terjadi pada pak Presiden Soeharto waktu itu, meski saya juga baru berumur 8 tahun waktu itu, dan nggak tahu apa-apa mengenai kejadian waktu itu.

Selain Presiden Soeharto, hadir pula tokoh BJ. Habibie yang diperankan oleh Agus Kuncoro (Tendangan Dari Langit, Gending Sriwijaya). Berbicara akting seorang B.J Habibie tentu seketika ingatan kita akan mengarah pada aktor Reza Rahadian yang bermain apik dalam Habibie & Ainun. Memang tidak tepat dan bukan pada tempatnya membandingkan akting Reza dan Agus sebagai seorang Habibie mengingat peran dan porsinya berbeda. Dibalik 98 menempatkan BJ Habibie sebagai tokoh pendukung yang membuat Agus Kuncoro harus memaksimalkan kemampuan aktingnya agar penampilannya jadi berkesan. Lalu? Dari segi suara, saya memang lebih suka Agus Kuncoro, namun untuk gekstur Reza Rahadian masih juaranya.

Tidak hanya menghadirkan tokoh-tokoh sentral di balik pintu istana, Lukman Sardi pun menghadirkan tokoh-tokoh di luar pintu istana. Menggambarkan dua sisi yang berbeda, Lukman Sardi berhasil menghadirkan Chelsea Islan (Merry Riana, Street Society) &Boy William (Rumah Gurita, Radio Galau FM) sebagai kaum yang berpendidikan serta kaum marginal yang diwakili Teuku Rifnu Wikana (Jokowi, Negeri Tanpa Telinga) dan Bima Azriel (Sepatu Dahlan), ayah dan anak yang berprofesi sebagai pemulung. Setelah terpesona pada bintang cilik Nasya Abigail (Perempuan Berkalung Sorban), Gecca Tavara (99 Cahaya di Langit Eropa) dan Aria Kusumah (Pendekar Tongkat Emas), saya harus jujur bahwa saya terpesona oleh tokoh Gandung si anak pemulung ini, tidak banyak memang kemunculannya, namun memberikan kesan yang bagus. Ekspresinya dapet, juara lah.

Masih berbicara penokohan, Lukman Sardi pun menyambungkan tokoh istana dengan luar istana oleh sepasang suami istri Bagus dan Salma. Bagus yang diperankan oleh Donny Alamsyah (Fiksi, 9 Naga) bekerja sebagai tentara sementara istrinya Salma, yang diperankan oleh Ririn Ekawati (Kisah 3 Titik, Rindu Purnama) sebagai juru masak di dapur istana. Selain dua jempol diberikan pada Amaroso Katamsi, tidak berlebihan jika dua jempol juga saya berikan pada Donny Alamsyah dan Ririn Ekawati. Berhasil memainkan peran emosional terutama saat melihat beberapa wanita (keturunan Tionghoa – mungkin) diperkosa (mungkin juga) di depannya, ia bermaksud menghentikan kejadian tersebut namun apa daya, dirinya sedang hamil dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ririn berhasil menguras emosinya sekaligus juga emosi saya untuk mengeluarkan air mata. Ririn betul-betul masuk ke dalam perasaan seorang perempuan, seorang (calon) ibu ketika menyaksikan kejadian di depannya. Setelah berakting apik juga di film Kisah 3 Titik, saya rasa Ririn Ekawati perlu diperhatikan lebih lanjut oleh para produser ataupun sutradara agar bisa terus eksplorasi kemampuan aktingnya. Serupa dengan Ririn, Donny Alamsyah yang lebih banyak diam menghadapi sikap adik iparnya, Chelsea Islan, ini mampu memainkan emosi dengan klimaks dan sangat tepat. Klimaksnya terjadi saat demo, dan adik iparnya itu terus menyindir profesinya sebagai seorang tentara dan menyalahkan dirinya atas hilangnya Salma istrinya sekaligus juga kakak Diana. Donny pun membalasnya dengan suguhan yang tak terduga, luar biasa. Seperti apa aktingnya? Tonton aja ah. Selain mereka nama-nama besar berikut pun ikut meramaikan film Dibalik 98 seperti Fauzi Baadila, Verdi Soelaeman dan Alya Rohali.

PEMANIS FILM
Film ini bukanlah film tentang seseorang, sehingga cast berjalan sebagaimana porsinya. Serupa dengan Tanda Tanya karya Hanung Bramantyo, untuk film banyak cast seperti ini akan sulit untuk menentukan siapa peran utamanya. Dibalik 98 pun tidak memiliki peran utama yang menonjol, semua cast memiliki benang merah yang sama terhadap isi film, kecuali Chelsea Islan dan Boy William semua cast bermain apik dan masuk ke dalam ruh film. Lha, emang mereka tidak bermain apik? Drama Diana dan Daniel hanya dijadikan sebagai pembuka dan penutup film saja. Mereka merupakan representasi mahasiswa dengan karakter yang berbeda. Tidak ada pengembangan karakter keduanya. Peran mereka sama saja dengan extras mahasiswa lainnya. Malah dua orator mahasiswa (yang entah saya tidak tahu namanya) yang membuat saya merinding. Diana dan Daniel hanya sebagai tokoh yang ditonjolkan ke permukaan (kebetulan karena mereka artis, heheheh) hanya sebatas mahasiswa biasa di antara ratusan kerumunan mahasiswa. Kenapa tidak Diana saja yang orator? Lalu konflik batin Daniel yang tidak suka dengan kekerasan bisa diperdalam sebagai konsekuensi logis atas pencantuman kedua namanya di bagian pertama pada jajaran cast di credit title. Untungnya, MNC Pictures cukup cerdik, memasang Chelsea dan Boy sebagai pemanis film. Untungnya lagi, filmnya bagus. Meski sebetulnya tanpa kehadiran Diana dan Daniel pun film ini tetap utuh.

Film ini bercerita dimulai dari demo mahasiswa Trisakti hingga akhirnya Presiden Soeharto mengundurkan diri, tanpa mengungkap sejarah apapun. Ini pun dijelaskan oleh Lukman Sardi pada credit tittle bahwa ini murni film fiksi drama yang berlatar kejadian tahun 1998. Film ini dibuka dan ditutup dengan setting tahun 2015, tak ada yang salah dengan pembuka namun sedikit mengganjal di penutup film. Diana dan Daniel bertemu kembali di Jakarta pada tahun 2015, setelah sebelumnya Daniel digambarkan pergi ke luar negeri. Ia kembali ke Jakarta untuk menaburkan abu kremasi almarhum ayahnya di tanah kelahirannya. Hebatnya Boy William – 1998 ke 2015 – 17 tahun berlalu, tidak nampak perubahan apapun dalam diri Boy baik wajah ataupun penampilan. Hebat bukan, ini yang saya sebut di awal mungkin di balik 98 ada produk yang bisa bikin awet muda hingga setidaknya 17 tahun ke depan. Tidak Boy, tidak juga Chelsea. Rasanya kalau saya anggap usia mereka saat mahasiswa adalah 20 tahun maka mereka bertemu dalam usia 37 tahun. Kalau ada cewek 37 tahun masih seperti Chelsea Islan, mau lah saya, heheheh, mungkin Chelsea Islan pake Garnier yang sempat ia bawa ke Singapore (emangnya Merry Riana). Untuk hal ini, meski minor tapi setidaknya sutradara bisa lebih cermat mengarahkan tata rias dan tata busana untuk lebih apik. Meski dramanya fiksi, namun settingnya nyata di film ini, so tetap butuh logika. Pertemuan mereka di akhir film dengan setting tahun 2015 ini, membicarakan semangat reformasi dimana Diana masih merasa gagal memperjuangkan reformasi hingga akhirnya mereka bercerita (sekilas) tentang anak mereka masing-masing. Owh rupanya mereka sudah menikah toh, kayaknya kalau Chelsea Islan menikah dengan Dion Wiyoko dech (sindrom Merry Riana lagi), tapi entah kalau Boy William dengan siapa. Tapi kayaknya Chelsea sudah cerai dengan Dion Wiyoko, karena ia malah berencana menikah dengan Natasha Rizky (alah ini mah film Hijab) Intermezzo, saking banyaknya film Indonesia yang bagus akhir-akhir ini.
Sumber : http://cdn.klimg.com/muvila.com/resources/real/2014/12/29/2692/donny-alamsyah-dan-chelsea-islan.jpg

Finally, dengan rasa kagum saya yang tinggi pada semua kru dan pemain, saya sangat rekomendasikan film ini untuk ditonton tentunya di bioskop, jangan download bajakan apalagi nunggu d TV (plis MNC jangan ditayangin d TV, lama-lamain aja, ini film bagus).
Akhir kata menonton film ini bikin merinding, memacu adrenalin dan turut hanyut ke dalam cerita film. Pembuatan judul yang menarik serta cast yang apik, membuat saya sangat yakin Dibalik 98 akan menjadi box office film Indonesia tahun ini. Ada apa dibalik 98? Ada 89 point dari 100 untuk Lukman Sardi dan tentunya untuk Dibalik 98 juga. Maju terus film Indonesia.

Kredit :
Pemeran Utama Wanita : Chelsea Islan
Pemeran Utama Pria : Donny Alamsyah
, Boy William
Pemeran Pembantu Pria : Amoroso Katamsi
, Agus Kuncoro, Iang Darmawan, Eduwart Soritua
Pemeran Pembantu Wanita : Ririn Ekawati
, Alya Rohali
Sutradara :
Lukman Sardi
Penulis Skenario :
Samsul Hadi, Ifan Ismail
Penata Editing : Yoga Krispratama
Penata Kamera : Yadi Sugandi
, Muhammad Firdaus
Penata Artistik : Frans XR Paat
Penata Musik : Wachdanya Thoersi Argeswara
» » » » [PENDEKAR TONGKAT EMAS] : Beda, Spektakuler dan Nyaris Sempurna » » » [KACAUNYA DUNIA PERSILATAN] : Berharap Ada Versi Full Animation » » » [HIJAB] : Bungkus “Ayat-ayat Cinta”, Rasa “Jomblo” » » » [GARUDA SUPERHERO] : Semangatnya Layak Diapresiasi » » » [DIBALIK 98] : 89 Untuk Debut Perdana Sutradara Lukman Sardi
Forum Film Bandung Forum Film Bandung Author
Title: [DIBALIK 98] : 89 Untuk Debut Perdana Sutradara Lukman Sardi
Author: Forum Film Bandung
Rating 5 of 5 Des:
Oleh  Raja BlackWhite [@r4dzML] (Pecinta Film Indonesia) DIBALIK 98 . Ada apa dibalik 98? Jawabannya di tahun tersebut sudah ada pr...
×