Sabtu, September 24, 2016

Para Pemenang Film Impor Terpuji Festival Film Bandung 2016


Para Pemenang Film Impor Terpuji FFB 2016
Mengapa Terpuji?

Oleh 

Ardityo Danoesoebroto Ssi. M.T. & Eriko Utama, Ssi.


Pada tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya Forum Film Bandung dengan bangga mengumumkan 12 film impor terpuji, mengapa dan kenapa terpuji silahkan lanjutkan membaca tulisan ini, sebelumnnya film Impor yang beredar di bioskop bandung pada periode pengamatan 1 Agustus 2015 - 31 Juli 2016 berjumlah 166 judul lalu kami mensortir kembali 166 judul (yang banyak itu) menjadi hanya 40 film, apa saja film-film itu bisa di lihat pada halaman Press Release : Pengumuman Nominasi Film dan Narafilm Terpuji Festival Film Bandung 2016, poin 4. Catatan Film Impor Festival Film Bandung 2016. Nah... dari 40 ini dipilih kembali 12 film impor terpuji. Berikut para pemenangnya dan mengapa "terpuji".

1.       The Martian / PG-13 / 2015 [Fiksi-Ilmiah Komedi Terpuji]
Sutradara : Ridley Scott
Produksi : Twentieth Century Fox Film Corporation, TSG Entertainment & Scott Free Productions


Sewaktu misi berawak ke Mars, Astronot Mark Watney (Matt Damon) diperkirakan tewas setelah badai ganas dan ditinggalkan oleh krunya. Tetapi Watney ternyata selamat dan menemukan dirinya terdampar dan sendirian di planet itu. Dengan hanya sedikit pasokan makanan, dia harus menemukan cara untuk bertahan hidup dan mencoba menghubungi/mensinyal ke bumi dan memberitahu bahwa dia masih hidup, tetapi itu juga berarti bahwa orang bumi harus menemukan cara untuk mendapatkan dia kembali.

Dalam film ini proses penciptaan alam semesta di mana manusia belajar untuk menggunakan sumber dayanya untuk mengatasi kesulitan dan ketidakberuntungan ketika dia ditinggalkan oleh krunya sangat nikmat diikuti, cerita film ini begitu bagus dan secara harfiah menyentuh hati anda dan pada saat yang sama pula membuat anda merasa seperti anda adalah bagian dari film, dan memberikan anda kesempatan untuk benar-benar tidak hanya peduli tentang karakter dan misi penyelamatan, tetapi juga membuat anda peduli tentang bagaimana mereka mencoba untuk menyelamatkan Watney.


The Martian terus membuat saya duduk di tepi kursi saya sepanjang waktu dengan ketegangan dan kegembiraan yang asik dan film ini lucu di beberapa bagian dan saya bisa mengatakan bahkan lebih lucu daripada kebanyakan komedi yang telah keluar pada tahun lalu. Apa yang membuat film ini unik adalah titik optimis sudut pandang Matt Damon. Dia percaya bahwa dia tidak akan mati di Mars, dan ini merubah situasi yang menyedihkan ketika akan menghadapi kematian/keputusasaan menjadi sesuatu yang lucu sebagai gantinya. Tetapi ketika Anda benar-benar berpikir tentang hal itu, film ini sangat pribadi bercerita tentang beberapa orang yang datang bersama-sama untuk menyelamatkan Matt Damon. Dan di dunia sekarang ini, bagus mendengar cerita tentang orang-orang yang datang bersama-sama untuk menyelamatkan salah satu dari mereka sendiri.

Film The Martian barangkali adalah film komedi survival pertama tentang manusia terdampar di Mars. The Martian berhasil melihat ruang angkasa dengan fiksi ilmiah yang sedikit dan komedi yang lebih banyak. Para penulis berhasil mendasarkan film dengan ilmu pengetahuan yang secara mengejutkan akurat dan tampak realistis. Atas dasar inilah Film The Martian adalah Film Terpuji kami yang no. 1 karena berhasil memadukan fiksi-ilmiah yang akurat, realitis dan nikmati untuk diikuti dan lebih lagi komedinya yang lucu. ***Ardityo

2.       Spotlight / R / 2015 [Drama Terpuji]
Sutradara : Tom McCarthy
Produksi : Participant Media, First Look Media & Anonymous Content


Setelah membaca kolom tentang seorang Romo di Boston yang melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak lalu Uskup Agung Boston yang memilih untuk mengabaikan kejahatan seksual ini, Marty Baron (Liv Schreiber) yang dipekerjakan sebagai editor baru The Boston Globe pada tahun 2001, ia membentuk Tim Spotlight yang dipimpin oleh Walter "Robby" Robinson (Michael Keaton), sekelompok kecil wartawan investigasi yang diberi tenggang waktu 1 tahun untuk menerbitkan sebuah cerita tentang pelecehan tersebut, tim tersebut terdiri dari Michael Rezendes (Mark Ruffalo), Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams), Matt Carroll (Brian d'Arcy James) dan Ben Bradlee Jr (John Slattery), Baron mendesak Tim Spotlight untuk menyelidiki cerita itu. Awalnya mereka berpikir sedang menyelidiki satu kasus saja, ternyata tim segera mengungkap pola pelecehan seksual terhadap anak-anak oleh beberapa romo katolik di Boston yang berkelanjutan dan berusaha ditutupi oleh Keuskupan Agung Boston.

Tim dari 4 wartawan penyelidik membongkar rahasia 30 tahun yang memiliki akar yang mendalam dalam hirarki gereja katolik yaitu cerita tentang penganiayaan anak-anak oleh para imam romo katholik. Sebagian besar anak-anak yang dilecehkan sekarang sudah umur 30 tahunan kemudian mempunyai anak-anak sendiri, telah melalui banyak rintangan karena tindakan tidak bermoral yang mengerikan. Beberapa dari mereka telah mengambil jalan hidup dengan jarum suntik dan obat-obatan. Lainnya sudah gila, skizofrenia dan sebagian lainnya telah membunuh diri mereka sendiri karena mungkin malu harus hidup dengan pengalaman seperti itu. Sebagian besar anak-anak yang telah dilecehkan tidak akan berbicara tentang tindakan tersebut karena mereka berpikir melakukan hal yang baik, bergaul dengan para romo melakukan apa yang diminta para romo-romo tersebut yang ternyata itu adalah pelecehan seksual lalu terlalu takut dan terlalu malu untuk berbicara dengan seseorang tentang hal ini.

Spotlight  menunjukkan pentingnya kerja para wartawan investigasi dan juga mereka memiliki kekuatan untuk mengungkapkan misteri besar kepada masyarakat tidak peduli seberapa gelap dan mengerikan misteri tersebut, memang dibutuhkan tekad yang kuat untuk menunjukkan cerita ini kepada orang-orang yang bisa membawa efek rentan yang serius pada budaya Boston bahkan kepada dunia. Film ini menampilkan bagaimana hal itu terjadi dan bahwa tidak mudah untuk hanya melepaskan sebuah cerita di depan umum terutama cerita yang menyesakkan seperti ini. Cerita dalam film dikerjakan dengan baik setiap detail dari proses ini dilakukan dengan kecepatan yang sangat baik, mengungkapkan setiap detail informasi yang disembunyikan oleh orang-orang yang rentan dan memberikan argumen menarik tentang hal ini sehingga masyarakat akan siap untuk mendengar cerita ini. Spotlight dengan kuat, mantap dan sempurna menggambarkan kompleksitas dalam jurnalisme.

Scripting film ini sangat dinamis dan dialog-dialog pada film menaburkan rasa takjub dan ketidakpercayaan ke penonton dengan cara yang dramatis. Seperti diriku sendiri yang tidak akan pernah percaya bahwa peristiwa bejad seperti itu benar-benar terjadi padahal saya adalah seorang katholik yang taat. Saya diingatkan berulang-ulang oleh fakta yang diberikan dan saya hanya terpana saja dalam ketidakpercayaan dan akhirnya sadar bahwa itu benar adanya.

Aspek paling keras dari Spotlight adalah, bahwa didasarkan pada kisah nyata. Sebuah cerita yang secara mengerikan benar adanya. Tetapi ini adalah kisah heroik tentang orang-orang yang pergi melawan gereja & mengekpose para romo-romo yang mempunyai kebiasaan yang menyimpang atau kebiasaan demonic kepada anak-anak yang polos dan tidak bersalah itu. Spotlight adalah cerita yang sangat menantang, tidak bisa dipungkiri atau dihindari, dan akhirnya keadilan disajikan kepada yang berhak dan diberi hukuman murni dan setimpal.

Spotlight bekerja sangat baik malah lebih baik dari baik dari awal sampai akhir. Skenario Tom McCarthy dan Josh Singer adalah sangat kuat dan mengerikan benar apa adanya. Skenarionya menolak untuk memperlambat, hajaran akan fakta-fakta membabi buta menyerang alam sadar & narasinya mengasyikkan, pokoknya drama bertenaga tinggi dan tidak pernah gagal, dengan alasan yang panjang-lebar, film terpuji drama #FFB2016 tahun ini jatuh pada Spotlight. ***Ardityo

3.       Inside Out / PG / 2015 [Animasi Terpuji]
Sutradara : Pete Docter & Ronnie Del Carmen
Produksi : Pixar Animation Studios & Walt Disney Pictures


Inside Out mengeksplorasi pikiran seorang gadis muda bernama Riley, di benaknya kita diperkenalkan dengan emosi 'Kegembiraan' (Joy), 'Kesedihan' (sadness), 'KeJijikan' (Disgust), 'Kemarahan' (Anger) dan 'Ketakutan' (Fear). Mereka memiliki peran mengendalikan emosi yang mereka lakukan melalui sudut pandang Riley dari kantor pusat yang berada di kepala Riley, mereka memutuskan bagaimana bereaksi terhadap Riley (misalnya, jika Riley ingin bahagia, maka emosi 'Kegembiraan' akan memiliki kontrol untuk melakukannya) dan juga mereka mengumpulkan 'kenangan inti' yang disimpan ke memori jangka panjang Riley di mana sepanjang film ditampilkan dengan momen-momen kebahagiaan, cinta, kesedihan dan lain sebagainya sehingga mengatur kepribadian Riley. Namun, ketika keluarga Riley membuat langkah besar pindah ke kota besar perubahan peran emosi dalam Riley, men-trigger petualangan si 'Kegembiraan' dan 'Kesedihan' (emosi yang sering dikesampingkan) menjadi konflik utama dalam film ini.

Inside Out adalah sebuah film yang unik & luar biasa!. Tidak pernah sebelumnya dalam sejarah sinema, ada film yang pernah menggali begitu dalam ke dalam berbagai emosi dari pikiran manusia. Karena film ini adalah animasi, tidak ada cara yang lebih menyenangkan & kreatif untuk menampilkan berbagai aspek pikiran & imaginasi dari seorang gadis muda. Apa yang membuat film animasi ini sangat baik sempurna adalah campuran dari imajinasi, hati dan secara harfiah emosi itu sendiri; konsep seperti ini mungkin pada awalnya tampak tidak mungkin untuk membuatnya ke layar lebar tetapi Pixar telah datang dari pemikiran yang out-of-the-box dan di luar angan-angan untuk menciptakan karya yang original yang bersifat terbuka, inspirasi dan benar-benar membuat kita melihat sesuatu dalam cara yang baru tentang bagaimana emosi kita bekerja dan pengalaman pribadi akan hidup kita terjadi. Pixar menciptakan karya yang sempurna. Film ini adalah cerita yang paling asli & kreatif dari mereka. Meskipun kehadiran emosi seperti, 'Kesedihan' (sadness), 'KeJijikan' (Disgust), 'Kemarahan' (Anger) dan 'Ketakutan' (Fear) yang saya rasakan hanyalah emosi 'Kegembiraan', 'Kegembiraan' dan 'Kegembiraan' lagi saat menonton film ini. Animasi adalah standar tertinggi. Dalam pikiran Riley adalah warna-warni, penuh dengan kehidupan & perlakuan visual yang menyenangkan. Animasi dan penggunaan warna yang tepat untuk penggambaran karakter dalam film sangat baik maksud saya dalam hal ini warna, emosi sendiri memiliki warna tertentu yang mewakili mereka sebagai bagaimana kita memahami mereka. Contohnya : 'Kegembiraan' (Joy) adalah warna kuning, 'Kesedihan' (Sadness) adalah warna biru, 'KeJijikan' (Disgust) adalah warna hijau, 'Ketakutan' (Fear) adalah warna ungu dan 'Kemarahan' (Anger) adalah tentu saja berwarna merah. bravo! untuk itu.

Sang sutradara pun meletakkan standar kreatif terbaik untuk Inside Out. Cara sutradara menyulap kisah ini yang sebagian besar terjadi dalam pikiran seorang gadis, menunjukkan bagaimana brilian dia. Film ini begitu kuat, saya benar-benar terharu pada saat-saat akhir film. Tetapi Jangan salah paham loo, ada banyak adegan komedi dalam film juga dan lucu ampe terpingkal-pingkal saya. Pengisi suara dalam film adalah kualitas tertinggi. Amy Poehler adalah kumpulan energi sebagai 'Kegembiraan' (Joy). Phyllis Smith sempurna sebagai 'Kesedihan' (Sadness) yang meriah tapi lesu nan antusias. Richard Kind manis sebagai Bing Bong. Bill Hader histeristis seperti 'Ketakutan' (Fear). Lewis Black adalah ganas seperti 'Kemarahan' (Anger). Mindy Kaling mengagumkan sebagai 'kejijikan' (Disgust). Kaitlyn Dias hebat seperti Riley. Diane Lane & Kyle MacLachlan cocok berperan masing-masing sebagai sang ibu & sang ayah. dan juga Karakter-karakter pendukung yang mengesankan. Akhir kata film inside out adalah film animasi terpuji tahun ini karena ide originalnya yang penuh imaginasi dan menyentuh hati, unik, dan kreatif yang sempurna. ***Ardityo

4.       Star Wars: Episode VII - The Force Awakens / PG-13 / 2015 [Petualangan Terpuji]
Sutradara : J.J. Abrams
Produksi : Lucasfilm, Bad Robot & Truenorth Productions


Tiga puluh tahun setelah penghancuran Death Star yang kedua dan penggulingan Kekaisaran, kekuatan baru telah bangkit dari abu; yaitu The First Order. Luke Skywalker (Mark Hamill) adalah Jedi terakhir telah menghilang dan dicari oleh the first order dan para pemberontak, yang sekarang dikenal sebagai The Resistance sedang mencari dia. Sebuah peta lokasi dimana Luke Skywalker berada telah ditemukan dan telah diberikan kepada pilot the resistance Poe Dameron (Oscar Isaac) tetapi pasukan gurun the first order menyerangnya sebelum ia bisa memberikannya kepada the resistance dan dalam keadaan terserang ia memberikan peta tersebut ke droid-nya BB-8, dan mengatakan untuk pergi sejauh mungkin. Lalu Dameron ditangkap oleh penjahat kejam Kylo Ren (Adam Driver) tetapi kemudian ia dibantu oleh seorang pasukan gurun yang membelot bernama Finn (John Boyega) untuk melarikan diri. Dalam usaha melarikan diri mereka tidak kabur begitu jauh, pesawat mereka jatuh dan hancur tampaknya seolah-olah Dameron sudah mati. Sementara droid BB-8 ditemukan oleh seorang pemulung bernama Rey (Daisy Ridley), dia segera bertemu dengan Finn dan berpikir Ia adalah bagian dari the resistance dan mereka berhasil melarikan diri bersama sebuah kapal asing. Perjalanan mereka ke pangkalan the resistance membawa mereka ke dalam kontak dengan beberapa karakter-karakter yang familiar dan banyak bertemu dengan situasi-situasi kematian pula, petualangan antara the resistance dan the first order dalam menemukan luke menjadi pengalaman roller-coaster yang meledakkan pikiran saya.

Siapa saja yang telah melihat film original Star Wars akan menemukan bahwa Star Wars: Episode VII - The Force Awakens meminjam banyak cerita dari trilogi asli ini mungkin menjadi masalah bagi beberapa penonton tetapi tidak untuk saya. Ada banyak aspek yang sama tetapi kalau boleh jujur, tidakkah bahwa itu semua yang kita inginkan? semua itulah yang membuat saya merasa seperti anak-anak lagi dan merasa ternostalgia. Semua orang begitu mencintai original Trilogy, mengapa kita harus mengeluh jika ada beberapa kesamaan? Itu tidak masuk akal bagi saya. Orang-orang ini hanya mengharapkan terlalu banyak menurut saya. Mereka tidak bisa merasa puas dengan apa pun.

Fans Star Wars yang lama atau yang baru, pasti akan merasa merinding mengaliri nadi dan relung hati, tubuh saya pun bergejok ketika saya melihat Harrison Ford, Carrie Fisher, Chewbacca dan Mark Hamill di layar lebar lagi. Semua itu benar-benar menakjubkan untuk melihat semua tiga pemeran tersebut kembali beraksi lagi. Begitu menyenangkan untuk melihat bahwa usia bukanlah kendala untuk menjadi bintang dalam film kelas dunia yang begitu legendaris. Tentu saja juga kita tidak bisa melupakan fenomenal karakter-karakter tambahan baru untuk franchise Star Wars, seperti Daisy Ridley, John Boyega, Oscar Isaac dan Adam driver. Saya sangat senang bahwa ini adalah orang-orang yang di casting untuk menghidupkan kembali semesta Star Wars yang telah istirahat begitu lama. Tetapi mungkin itu semua untuk yang terbaik untuk memberikan waktu pada franchise ini untuk memanifestasikan dirinya untuk generasi kita saat ini.

Star Wars: Episode VII - The Force Awakens adalah petualangan tenaga tertinggi dengan visual yang epik dan terbaik dari semua franchise Star Wars yang pernah ada dan merupakan tambahan yang layak untuk franchise ini karena cerita yang membawa kita kembali ternostalgia. Tak terbantahkan lagi secara mutlak kami memilh Star Wars: Episode VII - The Force Awakens adalah film impor terpuji untuk genre petualangan untuk tahun ini. ***Ardityo

5.       Bridge Of Spies / PG-13 / 2015 [Thriller Terpuji]
Sutradara : Steven Spielberg
Produksi : Amblin Entertainment, DreamWorks SKG & Fox 2000 Pictures


Bridge of Spies adalah film yang mengambil kejadian pada saat Perang Dingin di mana James B. Donovan (Tom Hanks), pengacara asuransi dari Brooklyn yang diminta pemerintah AS untuk membela / mewakili mata-mata Rusia Rudolf Abel (Mark Rylance) selama Perang Dingin. Klimaks dari film datang ketika Donovan berada di Jembatan Glienicke (Berlin, Jerman) untuk menukar Rudolf Abel dengan pilot pesawat U2 Francis Gary Powers (Austin Stowell) yang merupakan mata-mata AS yang ditembak jatuh di atas wilayah Uni Soviet dan Frederic Pryor (Will Rogers), mahasiswa ekonomi AS yang ditahan tawanan di Berlin Timur selama sekitar 6 bulan.

Durasi film Bridge Of Spies adalah 2 jam 22 menit, yang mungkin tampak film yang cukup lama durasinya mengingat tidak banyak laga untuk disaksikan. Namun, sang sutradara dapat mengembangkan cerita yang terintegrasi dengan penuh ketegangan. Jangan berharap ketengangannya dalam bentuk pengejaran yang mendebarkan, tembak-menembak atau apa pun yang biasa yang kita lihat di film James Bond atau Mission Impossible. Tetapi ketegangan yang dimaksud adalah terfokus dalam bentuk dialog, kita ditunjukkan bagaimana upaya satu orang James B. Donovan dalam melakukan pembicaraan atau negoisasi untuk setiap situasi, dan tetap menjadi batu yang berdiri kokoh diatas hajaran gelombang serangan kritik, kebencian, dan bahkan bisa berakhir dalam kehilangan nyawanya. Anda dapat belajar banyak hal yang berguna dari sebuah buku pelajaran sejarah, tetapi anda tidak bisa belajar dari perjalanan James B. Donovan yang berjuang sendirian tanpa ada yang mendukung dia untuk apa yang dia percaya.

Untuk tahun ini para pengamat mengapresiasi film Bridge of Spies sebagai film thriller terpuji tahun ini dengan alasan tidak selamanya film thriller adalah ketegangan bentuk laga, tembak-tembakan yg mendebarkan atau sejenisnya tetapi keterampilan ciamik James B. Donovan dalam menyelesaikan kasus spionase dengan negoisasi tingkat-dewa yang menyesakkan dada dan menegangkan. ***Ardityo 

6.       Sicario / R / 2015 [Thriller Kejahatan Terpuji]
Sutradara : Denis Villeneuve
Produksi : Black Label Media, Lionsgate & Thunder Road Pictures


Sicario dimulai dengan pemerintah federal yang dengan hati-hati dan diam-diam mendekati rumah di pinggiran kota Phoenix, Arizona. Mereka menyerbu rumah dan berusaha mencari sandera; tetapi bukan sandera yang ditemukan melainkan menemukan puluhan mayat dikemas didalam dinding. Ini adalah bisnis kartel narkoba Meksiko, dan sekarang telah merayap melewati perbatasan masuk ke kota Phoenix. Sicario adalah gambaran tak henti-hentinya perang narkoba yang tampaknya tak dapat dimenangkan dan lebih crusial lagi, para bos kartel yang kejam yang akan melakukan apa saja untuk menyebar ketakutan kepada siapa saja.

Sicario diperankan oleh Kate Mercer (Emily Blunt), polisi muda dan berbakat dari Phoenix, Arizona, Ia ditugaskan sebagai penghubung antara 'satuan tugas' dan Pemerintah AS. Dalam pertemuan tersebut, dia bertemu dengan Agen Matt Graver (Josh Brolin) yang menjelaskan padanya tentang misi dan tujuan operasi. Tapi segera ia menyadari bahwa 'satuan tugas' tersebut bebas tindakan hukum yang legal dan tidak memiliki keterbatasan dalam menggunakan kekerasan terhadap para penjahat yang akan ditangkap. Selanjutnya dia bertemu pasangannya Graver, Alejandro (Benicio del Toro), yang memperkenalkan dirinya sebagai ahli kartel. Dia adalah kasar dan sangat berhati dingin. Sepanjang film, kita menyadari bahwa sebenarnya dia seorang pembunuh yang mempunyai dendam pribadi terhadap kepala kartel yang memerintahkan pembunuhan mengerikan terhadap istri dan putrinya. Tujuan sebenarnya dari misi ini yang merupakan twisting story dalam film adalah untuk menciptakan pengalihan untuk memungkinkan Alejandro untuk memenuhi pembalasan dendam dan membunuh pemimpin kartel dan keluarganya yang pada akhirnya ia lakukan dengan darah dingin dan juga itu membantu negara paman sam dalam meminimalkan bisnis kartel yang sesungguhnya tak terjamah oleh penegak hukum di negeri tersebut sehingga merupakan penyelesaian yang win-to-win solution... yang menurut saya dari sudut penulisan skenario adalah very well done twist.

Dalam Sicario tidak ada perasaan dibikin-bikin. Sang sutradara Denis Villeneuve menata adegan laga dengan seriuos dan sungguh-sungguh. Ini adalah masterpiece ketegangan dan suspense. Adegan dibangun perlahan-lahan dengan teknik presisi yang mantap. Penata musik dan sinematografi (Roger Deakins) menyoroti bahaya di setiap sudut film, tetapi dalam keadaan yang sama mampu menampilkan keindahan lokasi, langit-langit di malam hari benar-benar membuat nafas ini terhenti. Skenario (Taylor Sheridan) juga adalah hardcore, tidak melarang apapun untuk dibeberkan. Hal ini berlangsung menyasikkan & Anda terasa terinvestasikan dalam karakter sepanjang film. Twisting cerita yang cerdik disuguhkan dengan apik & intensitas yang selalu di level tertinggi.

Film Sicario adalah Film Thriller Kejahatan terpuji tahun ini karena memenuhi semua syarat sebagai film kejahatan yang mengesankan, tapi sinis yang memukau. Dari awal sampai akhir, kisahnya tak kenal ampun tentang perang & kekerasan yang mengerikan dan meresahkan, namun didukung skenario yang berkualitas tertinggi, serta bertutur secara masterful. ***Ardityo

7.       The Walk / PG / 2015 [Biografi Terpuji]
Sutradara : Robert Zemeckis
Produksi : Sony Pictures Entertainment, TriStar Productions & ImageMovers

The Walk mengambil setting pada tahun 1974 dan bercerita tentang artis tali-kawat-tinggi bernama Philippe Petit (Joseph Gordon-Levitt) yang tinggal di Paris. Dia melihat foto di sebuah majalah tentang pembangunan Menara Kembar di New York City dan mendapat inspirasi untuk berjalan diatas tali-kawat-ketat yang dihubungkan melalui dua bangunan tersebut. Ini sangat ilegal dan sangat berbahaya. Dia bertemu dengan seorang gadis bernama Annie Allix (Charlotte Le Bon) yang jatuh cinta padanya dan juga mendukung mimpinya itu. Dia pun menemukan seorang mentor dan figur ayah, Pappa Rudy (Ben Kingsley) dan lima orang pembantu lain yang mendukung dia dalam petualangan hidup atau mati ini. Film The Walk  adalah cerita kisah nyata.

The Walk memiliki nuansa dongeng modern yang tidak bergantung pada sandiwara tapi cerita itu sendiri adalah faktor utama yang mengintrik penonton. Penyajian film yang diceritakan melalui mata Philippe Petit memungkinkan untuk melihat perspektif lebih menawan dan asyik. Story-tellingnya mengisyaratkan penghormatan yang mengharukan yang ditujukan kepada sang artis. Setelah mendapat perlakukan digital dalam pembangunan kembali kota New York City dengan keakuratan sejarah yang menakjubkan, Sang sutradara (Robert Zemeckis) telah melakukan pekerjaan yang indah dalam menciptakan peristiwa aktual kehidupan Petit dan menurut saya berhasil dalam mementaskan pertunjukkan Philippe Petit selama 40 menit pada tali-kawat, di ketinggian 1.600 kaki di atas jalan, sebagai salah satu yang paling indah, mengerikan, menegangkan, dan penuh kegembiraan dalam sejarah film. Film dengan durasi 2 jam 3 menit mungkin, terlalu panjang dan memiliki paruh awal yang lambat, tetapi kegelisahan, dedikasi, kemenawanan, kinerja yang bergairah dari Joseph Gordon-Levitt memberi energi yang mantap pada paruh babak pertama sebelum skenario bermetamorfosis menjadi keindahan yang menegangkan dan penuh kegembiraan di babak kedua. Jika anda memiliki rasa takut ketinggian atau bahkan jika tidak, anda akan berada di tepi kursi anda sebagaimana Philippe Petit melakukan salah satu prestasi paling berbahaya yang pernah dicoba dalam sejarah umat manusia. Anda akan berharap dengan harapan bahwa Philippe Petit akan berhasil mengubah hidupnya dengan berjalan diatas tali-kawat-tinggi. Sang sutradara dengan ciamik menempatkan Levitt dengan pesona yang indah nan disilangkan dengan tekad yang keras namun gila dan membuat kita tidak mungkin untuk tidak jatuh cinta dengan Philippe Petit ketika ia mencoba melakukan apa yang terdengar gila dan dapat membunuh dirinya. Joseph Gordon-Levitt sukses dan luar biasa sebagai Philippe Petit. FFB mengapresi fakta bahwa Levitt belajar seni tali berjalan & berbicara dalam aksen prancis yang sempurna adalah patut mendapatkan pujian dari kami.

Kami memberikan apresiasi tertinggi kepada film The Walk sebagai film biografi terpuji tunggal tahun ini karena menceritakan kehidupan aktual Philippe Petit yang indah, menawan, mengerikan, menegangkan dan penuh kegembiraan yang didongengkan secara modern dari mata sang artis dan merupakan prestasi paling berbahaya yang pernah dicoba dalam sejarah umat manusia, serta membuat anda percaya dan yakin bahwa segala sesuatu itu adalah mungkin jika anda menempatkan fokus dan pikiran anda untuk itu dan bahwa juga mimpi itu bukan sekedar angan-angan tetapi bisa menjadi kenyataan.  ***Ardityo

8.       The Revenant / R / 2015 [Drama Terpuji]
Sutradara : Alejandro G. Iñárritu
Produksi : Regency Enterprises, RatPac Entertainment & New Regency Pictures


The Revenant (2015) disutradarai oleh Alejandro González Iñárritu film kisah yang begitu nyata tentang bertahan hidup di hutan belantara yang ekstrim. Film ini juga bercerita tentang: balas dendam, seorang pria datang kembali dari kematian. Manusia yang bertahan hidup dan menuntut balas dendam itu adalah seorang petualang dan pedagang bulu bernama Hugh Glass (Leonardo DiCaprio) yang hidup di barat laut Amerika pada tahun 1823. Penonton langsung disuguhkan ke adegan laga perang yang difilmkan dengan indah antara pedagang dan penduduk pribumi asli Amerika. Glass dan apa yang tersisa dari kelompoknya berhasil melarikan diri dari penyergapan penduduk pribumi dengan perahu. Setelah menemukan tempat yang aman untuk merapat, Glass pergi sendiri lalu tanpa sengaja ia diserang dan terluka parah setelah diterkam dengan kejam oleh beruang grizzly dalam sebuah adegan yang cukup lama, fenomenal dan sangat intens. Hampir sekarat, dianggap oleh John Fitzgerald (Tom Hardy) terlalu riskan untuk melakukan perjalanan bersama yang lain, sehingga Fitzgerald memutuskan membiarkan Glass mati karena Glass sudah begitu terluka. Adapun anak tunggal dari Glass juga dibunuh oleh Fitzgerald. Setelah di tinggal mati, Glass kemudian mulai mencari jalan pulang untuk membalas dendam.

The Revenant pada dasarnya adalah sebuah cerita sederhana tentang bertahan hidup dan balas dendam yang dikisahkan polos dan luar biasa secara detail dan benar adanya serta dikombinasikan dengan kebrutalan, perjuangan dan tekad untuk bertahan hidup dan balas dendam seperti kehidupan di abad awal ke-19. Meskipun penyelesaian dalam film ini adalah 'balas dendam', hal utama dari film ini sebenarnya adalah usaha Glass dalam terus melangsungkan hidupnya di alam liar. Dia telah kehilangan segalanya dalam hidup, anaknya dibunuh dan nyawanya disia-siakan tetapi dia terus berusaha pergi ke titik balas dendam itu untuk membalas perbuatan Fitzgerald padanya. Perjalanannya ke menunju titik balas dendam dilaluinya dengan harus memakan daging mentah, lalu mendapat serangan oleh beruang dan harus tidur di dalam perut kuda, tapi ia masih tidak akan berhenti dan menyerah.

Prestasi besar dari film ini tidak lain dan tidak bukan adalah sinematografinya yang luar biasa oleh Emmanuel Lubezki. Di sini, ia menunjukkan bahwa ia adalah sinematografer terbaik saat ini. Sinematografi yang benar-benar mendebarkan hati, sepanjang film, ia bekerja hanya dengan cahaya alami yang dibuat oleh sinar matahari dan api, dan menggunakan mereka dengan indah. Film ini terlihat menakjubkan dan memiliki fitur pemandangan yang indah, pengambilan jarak panjang dibutuhkan untuk meningkatkan intensitas dan sudut pengambilan gambar yang teliti sekali. Ada begitu banyak gambar indah dan itu membuat saya berpikir bagaimana mereka melakukannya, saya hanya masuk dalam keruhnya kebingungan. Sinematografi level-expert, sangat terlihat dalam pertempuran pada adegan pembuka, yang menurut saya adalah sangat epik, pengambilan gambar hanya dalam satu take yang intens dan panjang di mana sudut-gambar kamera bergantian perspektif dari satu karakter ke karater yang lain dan terbunuhnya orang-orang disana adalah dengan cara yang paling brutal dan benar-benar nyata. Lalu ada, adegan serangan beruang grizzly akan menjadi sesuatu yang tidak terlupakan selama bertahun-tahun dengan efek visual yang sempurna seluruh adegan sangat realistis. Adapun sentuhan-sentuhan kecil namun efektif dimasukkan ke dalam film di sana-sini untuk membuatnya sedikit lebih masuk akal dan real. Misalnya, ketika beruang bernafas dekat dengan kamera, dapat melihat kamera sedang berkabut sejenak, efek kecil tetapi mind-blowing dan efektif. end-of-discussion, Sinematografi di film ini adalah salah satu yang terbaik yang pernah ada.

Sebenarnya kami ingin memberi penghargaan sebagai film "Drama Bertahan hidup dan Balas Dendam" terpuji, tetapi dirasa terlalu panjang dan berlebihan a.k.a lebay, jadi pendek saja ya... film Drama Terpuji #FFB2016 yang kedua setelah Spotlight dengan alasan kebertahanan hidup dan balas dendam yang polos, luar biasa, detail dan benar adanya yang dikombinasikan dengan kebrutalan, perjuangan dan tekad yang besar untuk bertahan hidup dan balas dendam, dan jangan lupa... kamipun melemparkan kedalam alasan kami juga sinematografi yang terbaik untuk tahun ini. ***Ardityo  

9.       The Hateful Eight / R / 2015 [Kejahatan Terpuji]
Sutradara : Quentin Tarantino
Produksi : Double Feature Films & FilmColony


The Hateful Eight berkisah tentang 8 orang yang saling tidak kenal. Pertama adalah, John 'The Hangman' Ruth (Kurt Russell), seorang pemburu hadiah (bounty hunter) mempunyai niat untuk mengantar seorang kriminal ke suatu kota bernama Red Rock untuk diadili. Kedua, Daisy Domergue (Jennifer Jason Leigh), seorang kriminal yang ditangkap oleh Ruth. Ketiga, Mayor Marquis Warren (Samuel L. Jackson)  yang juga pemburu hadiah sedang dalam kedinginan salju, setelah kudanya tumbang ia harus 'nebeng' dengan Ruth. Tetapi tidak seperti Ruth yang lebih suka menangkap buronannya dalam keadaan hidup, Warren cenderung untuk membunuh korbannya karena lebih mudah dalam pentransportasian daripada bepergian dengan buronan yang hidup dalam keadaan terborgol. Di Perjalanan dalam salju yang dingin ini juga mereka mendapatkan pe-nebeng lain juga bernama Chris Mannix (Walton Goggins), seorang pria yang mengaku dia sheriff baru di kota Red Rock. Karena badai salju yang parah, mereka harus berlindung di Minnie's Haberdashery  (sebuah persinggahan pos kuda). Ketika mereka tiba, Ruth, Warren, Domergue dan Mannix bertemu dengan 4 orang asing lainnya: Oswaldo Mobray (Tim Roth), Meksiko Bob (Demián Bichir), Joe Gage (Michael Madsen) dan Sandy Smithers (Bruce Dern). Ruth di sisi lain, mencurigai bahwa salah satu atau lebih dari mereka memiliki keinginan untuk menghentikannya dalam mengantarkan Domergue kepada pihak berwenang dan mengklaim 10.000 dollarnya. Mulai dari titik ini, film mulai mengungkapkan latar belakang sisi gelap para karakter-karakternya, karakter Samuel L. Jacksons mendapat sorotan pribadi dan sempurna ditulis oleh Tarantino. Film mulai terbuka dan berdinamis serta menciptakan alur cerita yang lebih dalam. Tidak ada satupun karakter dalam film yang aman, mereka saling mencurigai dan penonton dibiarkan bingung siapa adalah siapa. Ketika film bergulir dan bertutur menciptakan misteri yang menegangkan dengan jenis pembunuhan yang berjenis naratif.

Paruh pertama film ini sangat character-driven dan dialog-driven, dialognya kuat dan akting yang bagus untuk membantu menjelaskan tentang masing-masing karakter, darimana mereka berasal, dan siapakah mereka itu. Skenario film mempunyai khas sendiri dan benar-benar berada dalam level lain dengan skenario film western yang lain membuat anda merasa terhempas lepas dari kursi anda. Built-up plot cerita memang lambat tetapi itu tidak selalu adalah hal yang buruk, karena built-upnya benar-benar superb dan rumit. Plot itu sendiri benar-benar baik & luar biasa dan ketika cerita dalam film berkaitan, Anda akan merasa seperti "ahhhh, ini adalah benar-benar sesuatu yang lain". Ini adalah plot sederhana namun diceritakan dengan cara yang kompleks dan cerdas. Sepanjang seluruh film, isu-isu rasial memang dialamatkan sebagai black humor yang cukup lucu dan menyenangkan. Secara keseluruhan, skenario yang sangat, sangat baik di sepanjang film. Kerja keras dan waktu yang dihabiskan Tarantino untuk skenario ini sangat jelas, dan harus diakui bahwa ia telah menciptakan skenario yang sangat baik. Akting di The Hateful Eight mungkin adalah salah satu pertunjukan akting/pemeran ensamble terkuat oleh semua karakter secara keseluruhan dalam sebuah film. Samuel Jackson, Kurt Russell, Jennifer Jason Leigh, Walton Goggins, Tim Roth, Demián Bichir, Michael Madsen, dan Bruce Dern.

Alasan mengapa terpuji memang saya paparkan dari sudut skenario yang baik dan built-up plot yang rumit, superb dan cerdas. Tetapi film ini masuk dalam kategori film kejahatan terpuji tahun ini karena kesimpulan dari akhir film ini yang memang tentang kejahatan dari masing-masing karakter yang saling mencurigai, saling membenci dan mempunyai agenda menjebak dan membunuh karakter lain dengan cara yang akan membuat anda merasa kagum dan terhempas. ***Ardityo

10.   The Mermaid / R / 2016 [Komedi Fantasi Terpuji]
Sutradara : Stephen Chow
Produksi : China Film Group, Edko Films, The Star Overseas & Hehe (Shanghai) Pictures Co.,Ltd


Mermaid adalah komedi fantasi, yang menceritakan dongeng modern dengan lelucon dewasa dengan adegan darah yang terbatas dan tidak pernah kehilangan pesona komedi yang genius. Film ini bercerita tentang sebuah proyek real-estate yang melakukan reklamasi laut sehingga mengancam kehidupan manusia-manusia duyung yang mengandalkan laut untuk bertahan hidup. Liu Xuan (Chao Deng) adalah orang dibalik proyek ini, dia adalah seorang pengusaha playboy yang merusak lingkungan untuk proyek real-estatenya dan untuk meraih keuntungan, sedikit dia tahu bahwa sekelompok manusia duyung dengan tekad murka ingin menghentikan dia. Yang manusia-manusia duyung lakukan untuk menghentikan dia adalah dengan mengirimkan salah satu dari mereka sendiri untuk merayu dan membunuh Sang pengusaha. Si Putri Duyung a.k.a Shan (Yun Lin) diberi tugas untuk melakukan pembunuhan itu namun yang terjadi Liu Xuan malah jatuh cinta padanya, kisah cinta mereka penuh dengan kejenakaan yang konyol.

Menurut saya alasan yang paling penting di balik kesuksesan film ini adalah film ini berhasil membawa plot yang mendasari dan mengajarkan kita bahwa nilai-nilai penting tentang ekosistem dan pelajaran hidup tentang uang dan materialisme. Penyelamatan lingkungan menjadi benang merah dalam Mermaid. Adegan-adegan dalam film bisa sangat mengganggu karena mereka menunjukkan rekaman kehidupan nyata dari hewan laut seperti lumba-lumba ditangkap, burung laut terlumuri dalam minyak dan serangan terhadap manusia-manusia duyung.

Sutradara di sini adalah Stephen Chow, populer dengan penyutradaraannya dalam film-film Shaolin Soccer (2001), Kung Fu Hustle (2004), dan CJ7 (2008). Jika Anda akrab dengan pekerjaannya, Anda akan tahu apa yang diharapkan dengan Mermaid. Film alur cerita mulai ringan-hati kemudian secara bertahap menjadi suram. Menunjukkan bagaimana keserakahan bisa menghancurkan dunia kita dan dia berhasil memberi kita sebuah film energi tinggi yang apik nan aneh yang bergerak dengan langkah yang cepat dari awal sampai akhir. Ada beribu-ribu ton lelucon yang konsisten; komedinya adalah tepat-sasaran, seperti yang diharapkan dari seorang Stephen Chow. Tanda tangannya ada dimana-mana seperti contoh rangkaian peristiwa kebodohan yang malang secara efektif memberikan tawa yang luar biasa. Transisi dari komedi ke drama dan bahkan sedikit horror tapi menggelegar itu baik sekali dan tidak ada yang bisa melakukannya lebih baik daripada Stephen Chow. Campuran pun dimainkan dengan lancar dan apik, kadang-kadang memiliki saat-saat sedih dan lucu di scene yang sama. Bagi saya menonton film ini adalah seperti naik roller coaster. 90% Paruh pertama dari film ini diisi dengan penuh air mata ketertawaan, sedangkan porsi 10% terakhir dari film diisi dengan penuh air mata kecemasan, sakit hati dan keputusasaan. Ya efek visual mungkin benar-benar konyol untuk beberapa orang tapi pesan konservasi lingkungan balik film ini sangat baik.

Film Ini mungkin bukan salah satu masterpiece karya Stephen Chow. Tetapi karena pesan penyelamatan/konservasi lingkungan, dan mengajarkan nilai-nilai penting tentang ekosistem dan pelajaran hidup tentang uang dan materialisme yang dibalut dengan komedi konyol yang genious namun tidak garing, forum film bandung memilih Mermaid sebagai film komedi fantasi terpuji untuk tahun ini. ***Ardityo  

11.   The Big Short / R / 2015 [Drama Komedi Terpuji]
Sutradara : Adam McKay
Produksi : Plan B Entertainment & Regency Enterprises



Tidak mudah membuat film komedi yang berisi, lucu tapi tetap mengandung drama yang cerdas misalnya, atau sebaliknya tidak mudah juga drama tentang dunia keuangan atau saham yang jelimet namun mampu disajikan dengan ringan dan menarik. Adam McKay, yang biasanya menjadi produser dan penulis skenario untuk film-film komedi seperti Step Brothers (2008), Anchorman: The Legend of Ron Burgundy (2004), Anchorman 2: The Legend Continues (2013), The Boss (2016) mendapat kepercayaan dari Brad Pitt yang seringkali akhir-akhir ini memproduksi film yang "berkualitas Oscar” menyutradai sebuah film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Michael Lewis tahun 2010 tentang keruntuhan pasar investasi bisnis properti akibat bubble economic system yang terjadi di pasar uang Amerika Serikat pada tahun 2007-2008 silam namun krisis tersebut untungnya tidak sampai ke Indonesia sehingga mungkin banyak penonton Indonesia tidak merasakan dampak buruk dari krisis ini sehingga ketika menonton filmnya juga kebanyakan tidak merasa ada keterkaitan sosiologis sebagai mana rakyat Amerika ketika menonton ini, padahal akibat krisis ini jutaan penduduk amerika tiba-tiba kehilangan rumah dan kredit menumpuk menyebabkan ekonomi amerika berguncang hebat.

Hal ini pula yang membuat Adam McKay dan Charles Randolph menulis skenario film dengan cara pandang berbeda yaitu dengan cara membawa krisis multidimensi yang tergambarkan dalam novel menjadi ringan dan tidak menusuk melalui komedi drama sehingga penonton yang mungkin terkena dampak ini tidak terlalu tersakiti dan penonton awam masih dapat menikmati film ini dengan pemahaman yang diinginkan oleh sang produser film yaitu film sebagai sarana edukasi, sarat informasi yang actual & progresif dan sebagai penanda jeda untuk mawas diri apabila terjadi kejadian seperti ini kembali di masa depan. Pilihan penulisan skenario ini terbukti jitu membuahkan penghargaan the best adapted screenplay pada Oscar 2016. 

The Big Short bercerita tentang sistem moneter atau krisis ekonomi yang terjadi pada era 2000-an di Pasar Moneter Amerika Serikat tahun 2006-2009 yang juga menyebabkan krisis keuangan global. Dalam film ini diceritakan, Wall Street menggunakan sistem Subprime Mortgage Bonds, sebuah sistem tentang obligasi kredit rumah yang pada prakteknya ternyata memiliki banyak sisi lemah yang dimanfaatkan para broker untuk menumpuk hutang dalam hutang. Bank menerbitkan kredit kepada kreditur, dan kreditur ternyata menjual kembali kredit tersebut untuk broker-broker properti dalam subprime mortgage bonds sehingga banyak konsumen yang mengira membeli properti ke bank ternyata hanya membeli hutang dari para broker tersebut sehingga banyak terjadi CDO atau Collateralized Debt Obligations dan Credit Default Swap yang menyebabkan banyak konsumen kehilangan Rumah dan para broker yang tadinya menikmati kekayaan akibat bubble ekonomi kini menjadi miskin serta jutaan kredit tidak terbayarkan menyebabkan system perbankan lumpuh. Ini hanya bagian kecil saja istilah ekonomi yang jelimet bertebaran di film ini yang secara teori akan membosankan, tapi tunggu dulu ternyata film ini sangat bisa dinikmati oleh bahkan orang yang bukan berkecimpung di ekonomi atau pasar modal sekalipun karena ada Selena Gomez dan Margot Robbie yang membantu sang professor ekonomi pemenang Penghargaan Nobel menjelaskan istilah-istilah tersebut dengan ringan dan informatif, disinilah peran sutradara dan skenario sangat intense sehingga film yang bertema berat menjadi ringan dan seperti adegan biasa dalam film yang membuat penonton tanpa ribet dan antusias menerima kuliah singkat selama 2 jam 10 menit ini.

Mengapa pengamat film FFB memilih film ini sebagai drama komedi terpuji sudah sangat jelas, sebagai film yang ‘berisi’, namun tidak monoton dan berat, malah terasa ringan dan mudah dipahami maka film ini berhasil memberikan nilai-nilai yang baik serta pengetahuan bagi penontonnya, dan seperti layaknya visi sang produser maka film ini bisa jadi acuan sejarah apabila nanti terjadi bubble ekonomi lain di masa depan, khususnya di Indonesia. Kedepan banyak ahli telah meramal, seperti halnya tokoh-tokoh utama yang secara brilliant bermain di film ini, dimasa yang akan datang bubble economic mungkin saja terjadi untuk bisnis IT, sosial-media dan lain sebagainya. Film adalah produk budaya, dimana tersimpan arsip dimana penonton dapat mempelajari sesuatu dengan mudah dari film yang seharusnya berat dan monoton tapi karena produser, sutradara, skenario, aktor/aktris serta semua pendukung filmnya membuat film ini terasa ringan, energik, tapi tetap berbobot dan berkualitas tinggi sehingga sangat wajar FFB menghargai film ini dengan tinggi pula. ***Eriko Utama

12.   Room / R / 2015 [Drama Keluarga Terpuji]
Sutradara : Lenny Abrahamson
Produksi : Element Pictures & No Trace Camping


Film ini terpilih sebagai film terpuji kategori Drama Keluarga dalam Festival Film Bandung tahun 2016 karena sebagai film drama keluarga yang mengambil tema penculikan anak, selain sangat menyentuh perasaan yang digarap dengan brilliant oleh Sutradara Lenny Abrahamson, serta penulisan skenario yang sangat cerdas melalui dialog anak – ibu (sosok ibu diperankan sangat apik oleh Brie Larson - peraih Piala Oscar 2016 untuk kategori Pemeran Utama Wanita serta Jacon Tremblay yang berperan sebagai anak yang lugu). Film ini mengandung bobot muatan psikologi yang intens. Sang sutradara mampu membangun setiap adegan dalam film yang terasa berat namun dapat membuat penonton secara berlapis terbawa dalam penyajian yang filosofis. Konflik psikologi yang dialami oleh Ma (Brie Larson), namun dihadapan anaknya Jack (Jacon Tremblay ) seolah-olah kehidupan yang mereka jalani adalah normal dalam ruangan yang selalu terkunci oleh seorang laki-laki yang hanya di kenal oleh Jack sebagai Old Nick (Sean Bridgers) yang sesungguhnya adalah penculik Ma dan ayah biologis Jack.
Premis film ini saja sudah sangat berat dan apabila tidak dikendalikan oleh skenario dan visi sutradara yang biasa-biasa aja akan menjadikan film ini ‘lebay’ oleh penderitaan dan tangisan. Untunglah film ini tidak demikian, filosofi film ini sangat optimis walau dalam ruangan sempit kebebasan terasa terkungkung namun di dunia bebas pun ancaman terhadap integritas tidaklah lebih ringan ketimbang dalam ruangan. Setidaknya penonton di giring kepemahaman bahwa penderitaan itu bukanlah dari hal yang hanya terlihat secara aktual saja, tapi justru diri kitalah yang harusnya bisa memberikan opini bagi kebahagiaan atau penderitaan itu sendiri. Dalam salah satu adegan yang memuat dialog antara Ma dan Jack menggambarkan hal ini, ketika Ma mengeluh giginya sakit lalu Jack menasihatinya “Jika tidak dipikirkan, tidak akan jadi masalah”. Pada adegan awal Ma selalu memberi dongeng dan berdialog cerdas dengan Jack sejak kecil, terlihat pada adegan awal Jack bangun lalu mengucapkan selamat pagi ke setiap elemen yang dia lihat di kamar, ucapan selamat pagi bukan hanya sekedar ucapan melainkan melambangkan sikap optimis bagi pengucapnya. Bukan seperti agent ansuransi yang selalu membekali anggotanya ucapan selamat pagi ini sebagai stimulasi bagi diri sendiri untuk selalu semangat. Maka premis film ini sangat menarik dan filmnya sendiri menggambarkan hal ini. Sangat pantas untuk FFB menghargai film ini sebagai Film Drama Keluarga Terpuji Tahun 2016.


Satu hal lain yang menarik dari film ini adalah konflik batin yang tunjukkan oleh sosok Ma yang diperankan oleh Brie Larson sehingga pantas mendapat ganjaran Oscar, antara kepentingan sayang terhadap anak yang ditunjukkan sejak awal film hingga menjelang paruh film, serta ketika akhirnya mereka mendapatkan kebebasan dan tentu saja ini adalah peluang bagi Ma untuk menyingkirkan sesuatu yang dia benci sebenarnya (Jack sendiri adalah anak dari Old Nick akibat perkosaan yang dialami Ma) dimana konflik ini sebenarnya tergolong standar, tapi mampu digambarkan dengan beda, lebih intens dalam cakrawala dialog yang cerdas, ditunjang akting para aktor/aktris pendukung lain yang tampil sesuai porsinya sehingga film ini sangat percaya diri menjalankan misi untuk menjual filosofis yang positif, dalam artian tidak menjual penderitaan sebagai materi pokok namun justru memberikan gagasan bahwa penderitaan dan kebahagiaan adalah kesetimbangan psikologi. Pada adegan-adegan akhir Ma belajar untuk menerima kebenciannya terhadap peristiwa penculikan dan pemerkosan terhadapnya melalui pertanyaan “apakah aku ibu yang tidak baik?” dihadapan Jack yang menjawab dengan lugunya “Kamu tetap seorang ibu" dan Ma menjawab "Ya aku tetap seorang ibu”, menunjukkan bagaimana intense-nya hubungan yang kuat antara ibu dan anak dan film ini mengajarkan hal itu dengan cara yang tidak biasa. Drama Anak – Ibu yang digambarkan dalam film ini, walau pun dengan tema yang extraordinary, divisualisasikan dalam bahasa gambar yang natural namun dengan dialog cerdas dan adegan brilliant dengan visi dan filosofi yang positif optimis membuat pengamat FFB menjadikan film ini sebagai film drama keluarga terpuji tahun 2016. ***Eriko Utama
, ,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar