Selasa, April 26, 2016

Ngobrol Bareng Garin Nugroho di Museum Sri Baduga



Nobar dan Diskusi Film Biopic di Museum Sri Baduga dalam Rangka Peringatan Hari Film Nasional



    Sekitar awal tahun 2016 kemarin, dunia film Indonesia kembali diramaikan oleh salah satu film besutan Garin Nugroho: Ach, Aku Jatuh Cinta (AAJC). Terlepas dari akting Cicho Jericho yang dominan (at least banyak yang kurang puas dengan performanya Pevita Pearce di sini), sangat disayangkan sekali kalau film ini terhitung sebentar nangkring di studio XXI.  Ya mau gimana lagi? Nasibnya film Indonesia di bioskop  yang gak bisa survive lebih lama bahkan dibanding film barat yang gak bagus-bagus amat. Hiks. Padahal nama Garin ini adalah nama yang menjamin film yang digarap secara total dan selalu mempertahankan karakternya. Kita akan selalu menjumpai unsur artistik, teaterikal, seni atau budaya lokal dan lagu-lagu di dalamnya, dan unsur lainnya secara detil. Bahkan lagu berbahasa asing pun bisa kita jumpai seperti yang kita saksikan di film Guru Bangsa: Tjokroaminoto. Eh, by the way, sempat nonton film biopic sejarah ini, enggak? 

     
Film perdana Garin di tahun 90an, Cinta Dalam Sepotong Roti yang punya genre romance dewasa dan dibintangi aktor Adjie Massaid ini meraih sejumlah penghargaan di ajang FFI (Festival Film Indonesia) untuk beberapa kategori. Kalau pinjem istilah chart top 40an di radio waktu saya SMA dulu, sutradara yang lebih suka di sapa Mas ini menyandang predikat Hot Shot Debut. Nah lho, bahas shot-shotan (ini istilah yang maksa ga, sih?), Garin ini juga identik dengan predikat sutradara yang punya ciri khas bergaya dokumenter dan shot panjang.

     Dalam sesi diskusi nonton bareng film Guru Bangsa: Tjoktoaminoto di Museum Sri Baduga akhir bulan Maret lalu, beliau juga bercerita shot panjangnya ini sempat dikomplain oleh Raam Punjabi (Produser MVP yang produksi film AAJC). Bikin bingung tepatnya. Padahal, masih ada lho film lainnya yang punya shot sepanjang 1,5 jam. Hayoh, penasaran ga film apa? 
Moderator, Agus Safari (Kiri) bersama Garin Nugoroho (Kanan)

      Menurut Garin yang juga menyutradarai beberapa klip dari musisi Indonesia seperti Negeri di atas awannya Katon Bagaskara, saat ruang dilepas akan membuat akting para pemainnya lebih tumbuh dan hidup. Contoh paling gampang adalah beberapa adegan di film AAJC itu tadi. Hayo, yang ga nonton nyesel, kan ga bisa membayangkannya?

      Ciri khas lainnya dari Garin Nugroho adalah konsep filmnya yang kental dengan isu ke-Indonesiaan. Tema soal pergerakan politik, sejarah, agama, atau lingkungan sudah semuanya diangkat dengan baik ke layar lebar.

     Kalau dibentangkan pada timeline, film-film beliau ini akan mewakili tema yang hangat setiap dekadenya. Mulai dari tahun 1920an yang diwakili film Guru Bangsa: Tjokrominoto itu tadi, sampai film Aku Ingin Menciummu Sekali Saja yang mengambil latar konflik di Papua. Lalu, di pertengahannya, ada film Soegija yang mengangkat profil seorang pastor dengan setting tahun 60an. Film AAJC itu tadi seperti menyempurnakan puzzle koleksi film yang mewakili dekade 70-80an.

     Sayangnya, film Garin ini kurang mendapat apresiasi atau tepatnya memenuhi selera penonton di Indonesia. Padahal siapa sih yang tidak kenal dengan totalitas Reza Rahadian, Alex Komang, Christine Hakim, Didi Petet, atau  aktris Chelsea Islan yang meski masih muda tapi punya talenta yang smart ini?
 
Blogger Bandung turut Memeriahkan acara dan berfoto bersama Garin Nugroho
     But, that is Garin. Dia mah emang gitu orangnya, kalau pinjam quote beberapa waktu lalu yang sempat ngehits. Setiap film yang dibidiknya memang bukan ditujukan untuk memenuhi selera pasar. Sadar dengan idenya yang unik, pentas festival film dunia adalah kecengannya untuk unjuk kreativitas. Sinematografi film lainnya seperti  Bulan Tertusuk Ilalang juga bisa bersaing dengan film-film Eropa. Juga untuk film Bidadarinya yang diperhitungkan di kancah Internasional.


     Ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan ketika kita akan membuat film. Setidaknya ada 7 hal yang saya catat dari sharingnya hari  itu.  Seperti ini, lho.



     Tiga hal pertama, perhatikan pengetahuan, referensi yang luas dan kebebasan. Untuk referensi, beliau mengambil contoh ketika membuat film Aku Ingin Menciummu Sekali Saja.  Untuk menggali ide, Garin bukan saja melalukan riset tapi menggandeng mereka yang bener-bener melek soal Papua. Jangan sampai dong, alur yang terbangun dalam film gak logis.  Hal yang sama juga dilakukannya ketika membuat film Soegija.  Dari referensinya yang luas juga Garin bisa mendapatkan  sponsor  untuk mendukung film ini.



     Berikutnya adalah fungsi dari film. Ada fungsi sosial proyek film, fungsi ekonomi, fungsi CSR, fungsi politik, fungsi artistik dan fungsi modal sosial.  Kalau kita sudah mengenal fungsi sosial proyek dari film ini  akan lebih memudahkan untuk memetakan sumber dana. You know lah, bikin film butuh dana gede. Ya, kan? Alih-alih melirik  sponsor komersil, Garin sangat jeli  membidik sponsornya dengan menyampaikan proposal film Soegija ke pihak gereja.  Tidak banyak birokrasi dan ga ribet dengan printilan lainnya yang bakalan kepo nanya ini itu.



     Meski Garin sangat idealis dalam membuat film, beliau juga tetap memperhatikan fungsi ekonomi dari sebuah film. Maksudnya kalau sudah bisa memetakan fungsi  berikut ini, kita bisa tahu siapa sih calon penonton yang akan dibidik.  Ini juga nantinya akan memengaruhi siapa calon aktor  yang akan dipilihnya untuk membintangi film yang dibuatnya.



     Mentok di dana dan bingung ke mana cari sponsor? Garin Nugroho memberi alternatif pilihan untuk menggarap film dari sisi fungsi CSR.  Cari deh perusahaan/corporate  yang punya fungsi CSR  yang nyambung dengan tema film  yang digarap.



     Film Guru Bangsa: Tjokroaminoto bisa jadi contoh untuk membidik film dari fungsi politik. Meski dalam catatan sejarah terasa ribet dan bikin pusing memahami pergolakan politik dan silang pendapat di antara para tokoh Sarekat Islam pada waktu itu, di film ini membuat kita masih enjoy mengikuti jalan cerita, ga terlalu ribet mikirnya.



    Fungsi Artistik?  Nah ini banyak contohnya, ya. Film Guru Bangsa  dengan latar  budaya masyarakat jawa atau adegan di film AAJC saat latar panggung  teater memunculkan  siluet yang hidup  juga ngena di sini. Banyak banget lah kalau mau di-list soal ini mah. Udah makanan pokoknya beliau. 
 
Garin Nugroho bersama Tim Forum Film Bandung dan FFBComm



     Oke, setelah ngulik semua urusan sumber modal film ternyata masih mentok. Jangan lupakan networking karena yang satu ini bisa jadi pendukung soal dana film.  Fungsi modal sosial, begitu Garin menyebutnya.  Coba dilist, siapa sih, lingkaran dari pertemanan atau koneksi yang mau kasih lampu hijau untuk film  yang akan digarap tanpa rewel nanya ini itu?  Mereka yang  ringan menggelontorkan dana untuk mendukung film ini akan sangat membantu. Semakin banyak semakin baik.  So, jangan remehkan yang namanya silaturahmi. Ini contoh kongkrit kalau yang namanya menyambungkan silaturahmi itu mendatangkan rejeki.



     Last but not least, sutradara yang sudah 35 tahun malang melintang di dunia perfilman ini memungkas dialog hari itu dengan pesan ini. 
Tidak ada karya yang dikerjakan dalam keadaan yang sempurna. Seperti bayi yang dilahirkan, semuanya dilahirkan dalam ruang yang kecil dan kesakitan. Kalau tidak mau hidup, tidak usah tercipta.



Oleh : Efi Fitriyyah (Blogger, Sahabat FFBComm)

, , , ,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar