Kamis, Februari 05, 2015

[SUPERNOVA] : Drama Cinta Biasa, dengan Eksekusi yang Tak Biasa

Oleh 
Raja BlackWhite [@r4dzML]
(Pecinta Film Indonesia)


Di era tahun 2000an hingga saat ini, novel atau media tulisan yang diangkat ke layar lebar sudah jamak dilakukan. Sebut saja, 99 Cahaya di Langit Eropa (Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra), Perahu Kertas (Dewi Lestari), Ayat-ayat Cinta-Ketika Cinta Bertasbih & Dalam Mahrab Cinta (Habiburrahman El-Shirazy), Laskar Pelangi – Sang Pemimpi – Edensor (Andrea Hirata), Jomblo (Adhitya Mulya), Emak Ingin Naik Haji (Asma Nadia) hingga sastra lama angkatan balai pustaka Teggelamnya Kapal Van Der Wijck & Di Bawah Lindungan Ka’bah (HAMKA). Salah satu yang rutin melakukan ini beberapa tahun terakhir adalah rumah produksi Soraya Intercine Film. Pada akhir tahun 2012 mengangkat 5 CM (Dhonny Dhirgantoro) ke layar lebar lewat arahan sutradara Rizal Mantovani. Mengambil bintang-bintang muda cantik, ganteng dan segar seperti Herjunot Ali, Pevita Pearce, Raline Shah dan Fedi Nuril, film ini cukup sukses baik di pasaran maupun di penghargaan. Salah satu penghargaan tertingginya adalah Film Terpuji Festival Film Bandung 2013 dan masuk juga nominasi Film Terbaik Festival Film Indonesia 2013. Setahun kemudian, Soraya Intercine mencoba mengangkat sastra lama, Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk yang coba disutradarai langsung oleh Sunil Soraya. Film ini pun cukup sukses baik di pasaran atau pun penghargaan. Serasa belum puas, tahun ini yang filmnya baru saja saya tonton, Soraya Intercine Film mengangkat Supernova karya Dewi Lestari di bawah arahan Rizal Mantovani. Rupanya Soraya Intercine mengembalikan penyutradaraan pada Rizal Mantovani, mungkin disertai dengan harapan bahwa Supernova akan meraih film terpuji kembali di Festival Film Bandung 2015, mengingat film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang Sunil Soraya sutradarai tidak berhasil mengulang prestasi 5 CM dan harus dikalahkan oleh film apik besutan Hanung Bramantyo, SOEKARNO. Lalu seperti apa Supernova karya Rizal Mantovani yang diadaptasi dari novel laris karya Dewi Lestari???

Sumber : http://sidomi.com/wp-content/uploads/2014/07/supernova-cast-640x546.jpg

    Film Supernova kembali diramaikan oleh aktor & atris 5 CM, mereka adalah Herjunot Ali, Raline Shah dan Fedi Nuril. Film dibuka dengan narasi yang terkesan ilmiah dan dibalut juga dengan visual yang sedap dipandang mata. Sepintas mirip-mirip film luar Lucy atau Transcendence. Lalu adegan dimulai oleh Rouben (Arifin Putra) yang sedang kuliah di Washington DC, lalu bertemu dengan aktor pendatang baru Hamish Daud yang berperan sebagai Dimas. Sebagai informasi, saya belum pernah membaca novel Supernova sedikitpun jadi saya tidak berbekal pengetahuan apapun mengenai Supernova, ekspektasi pertama saya dengan menonton film ini adalah saya harus mengerti apa itu Supernova berdasarkan penjabaran dalam film. Balik lagi kepada akting Rouben & Dimas, yang beberapa menit membuka film ini. Dari gayanya, saya sudah bisa tebak bahwa Dimas adalah seorang (maaf) gay, atau pecinta sesama jenis. Namun karena saya tidak berbekal pengetahuan tentang Supernova, saya biarkan pikiran saya mengikuti alur film. Chemistry yang mereka bangun, meski peran dan porsinya tidak terlalu banyak, dibalut dengan skenario apik, bisa saya katakan cukup sukses. Hingga pada akhirnya mereka “berikrar” bahwa sepuluh tahun mereka akan bikin karya/cerita. Agak menggelitik memang, waktu nonton baik saat nulis sekarang. Namun memang logika yang disediakan film seperti itu, mereka tengah berada di Washington DC yang mungkin “gay” dianggap lumrah disana. Oleh karenanya, sedikit saya pahami bahwa unsur lingkungan yang ingin film ini coba hadirkan adalah liberalism dan freedom. Tidak aneh kok, karena memang pada dasarnya itu pilihan hidup. Beberapa film Indonesia pun sebelumnya ada yang memasukkan unsur gay ke dalam filmnya sebut saja Arisan dan Cokelat Stroberi, bahkan untuk Arisan sendiri memenangkan film terbaik Festival Film Indonesia tahun 2004.

     Singkat cerita 10 tahun berlalu, jujur agak gimana gitu, ngeliat akting Arifin Putra & Hamish Daud, kenapa demikian? Masih terngiang di benak saya, bagaimana akting Arifn Putra di The Raid 2: Berandal yang mengalami kemajuan pesat luar biasa, yang biasanya hanya bermain di film-film melodrama / sinetron. Ok, kita lupakan chemistry mereka, disinilah cerita dimulai. Tagline yang film ini ambil adalah Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh berawal dari cerita / karya Rouben & Dimas. Setelah berdiskusi pada sosok Kesatiria, jatuhlah pilihan mereka pada Ferre (Herjunot Ali) seorang pengusaha muda sukses namun belakang diketahui memiliki latar belakang keluarga yang tidak baik. Ferre tidak percaya cinta, seperti cerita Kesatria dalam dongeng yang akhirnya pengorbanannya hanya menjadikan luka. Namun itu semua berubah setelah bertemu Rana (Raline Shah) yang berperan sebagai Putri dalam cerita rouben & dimas. Rana berperan sebagai Jurnalis yang ingin mewawancarai ferre, hingga akhirnya ia berhasil mewawancarai. Jujur saya salut sama akting keduanya yang begitu memikat dan meyakinkan ditambah skenario yang apik. Salut buat Dhonny Dhirgantoro.

Lalu siapa bintang jatuh? Sosok artis pendatang baru Paula Verhoeven, sukses memperkenalkan diri sebagai Diva. Rouben & Dimas mengarang Diva sebagai seorang wirausaha mandiri dan sukses serta juga sebagai seorang (maaf) pelacur. Perkenalan yang keren, salut buat casting director yang telah memilih Paula sebagai Diva. Perawakan dan ekspresinya sesuai dengan karakter yang ia perankan. Namun kekaguman ini berhenti, ketika Diva mulai berbicara. Lalu bagaimana selanjutnya cerita Ferre, Rana, Diva? Bagaimana kisah cinta Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh tersebut? Lalu bagaimana peran Fedi Nuril dalam ini?
Untuk menjawabnya, tentu kawan-kawan wajib nonton, demi kemajuan perfilman Indonesia. Selanjutnya saya akan review secara garis besar, yang nantinya apakah pertanyaan saya akan terjawab apakah Supernova itu, saya belum tahu.
Ditinjau dari departemen akting, apresiasi positif dan spektakuler saya berikan pada 4 peran, mereka adalah Ferre, Rana, Rouben & Dimas. Herjunot Ali kembali menunjukkan performa terbaiknya di film ini, akting yang paling berkesan bagi saya adalah ketika Ferre mau mengakhiri hidupnya, dan ia berbicara lepas pada Tuhan, mengungkapkan segala curahan hatiya, tentang kedua orangtuanya, tentang masa lalunya. Itu akting terbaik Junot di film itu. Serupa dengan Junot, Raline Shah pun menunjukkan performa terbaik, saat ia berdialog dengan dirinya sendiri mempertanyakan kebahagiaan, beberapa kali Rizal mantovani menggambarkan keadaan Rana yang merana. Emosi dan ekspresi Raline Shah, begitu keren dan berhasil menyampaikan apa yang sedang berkecamuk dalam hatinya. Untuk Rouben &Dimas, tak perlu saya jelaskan lebih panjang, di atas sudah saya certakan bahwa akting mereka memang chemistry yang pas.

Cerita Supernova sebetulnya sederhana, yakni tentang jatu cinta. Setidaknya ada 3 jenis jatuh cinta yang pertama cinta sesama jenis antara Dimas & Reuben, cinta seorang pemuda lajang dengan wanita bersuami (Ferre & Rana) serta cinta Arwin terhadap istrinya, Rana, yang begitu besar namun sepertinya tidak mendapat balasan secara hati, meski secara fisik Arwin dan Rana sama-sama mengarungi bahtera rumah tangga. Bisa dibilang cerita cinta seperti ini memang terjadi di lingkungan sekitar kita, itu mengapa saya bilang sederhana. Akan tetapi kesederhanaan cerita cinta ini dibawa ke dalam skenario yang mendekati fiksi ilmiah, menggunakan bahasa-bahasa yang mungkin hanya orang tertentu yang bisa memahami, misal dikotomi hitam putih dan turbulensi. Saya yakin para abg yang nonton yang masih menggunakan seragam sekolah sepertinya kurang memahami dialog seperti ini, terbukti hampir sepanjang film suasana bioskop XXI BIP Theater 1, hening tanpa makna. Tak ada tawa, tak ada ketegangan, kecuali di beberapa skenario yang dirasa normal atau romantis. Contohnya pada saat Arwin ingin mengajak Rana berhbungan seksual, dengan bahasa lugas mereka berdialog. Arwin mempertanyakan badan Rana yang terasa dingin, lalu Rana bilang sedikit sakit. Kemudian Arwin menimpali dengan ajakan, “Mau mas hangatin badannya”. Sejenak Rana berdialog dengan dirinya sendiri yang menunjukkan dia enggan melakukan hal tersebut dengan Arwin. “Fe, aku diperkosa”, begitu katanya. Sontak penonton ketawa dan berekspresi. Ini salah satu skenario normal yang dipahami penonton, selebihnya seperti mengerjakan soal matematika, perlu pemikiran yang matang dan daya nalar yang tnggi.
Sumber : http://www.google.com/url?sa=i&source=images&cd=&ved=0CAUQjBw&url=http%3A%2F%2Fcdn1-e.production.liputan6.static6.com%2Fmedias%2F762202%2Fbig%2F067722000_1415275392-junot_raline_dah_edit.jpg&ei=pmLTVJ-jLNXo8AXGnYG4BQ&psig=AFQjCNFlRWoThA2mvRaV87_aGrEpWgFwzw&ust=1423225894793839

Meski saya sendiri sempat bingung dengan banyaknya narasi yang abstrak, tapi alur cerita memang dirunut secara baik, meski ada beberapa editing yang kurang halus, seperti saat perpindahan Rana setelah diantar Arwin ke tempat kerjanya, lalu scene pindah ke masa kelulusan Rana hingga akhirnya mereka menikah dan ternyata itu hanyalah bayangan mata Rana. Selain itu potongan yang kurang halus terjadi dari sejak Arwin mengetahui hubungan gelap Rana & fere, kemudian Ariwn mendatangi Fere dan menembak Fere, sesaat kemudian, scene pindah pada Rana yang sedang mengendarai mobil dan semua itu hanyalah bayangan Rana. Awalnya saya mengira bayangan Rana hanyalah saat Arwin membunuh Fere, karena scene bayangan digambarkan Rana dalam mengendarai mobil yang saya artikan Rana menyusul Arwin, tapi ternyata bayangan Rana sejak dari adegan Arwin marah kepada Rana. Ini juga kurang halus, seharusnya bisa dimulai dari Rana mengendarai mobil terlebih dahulu, lalu nampak adegan demi adegan pada bayangan Rana, hingga akhirnya Rana tersadar dan kemudian kecelakaan.

Sejauh ini, saya menganggap bahwa tokoh Rana, Ferre, Diva dan Arwin adalah jelmaan dari karya cerita dari Rouben & Dimas, karena memang suntingannya menunjukkan demikian, setiap pasangan romantis itu bercerita, scene pindah pada tokoh-tokoh film sesuai cerita mereka berdua. Termasuk Supernova yang merupakan Cyber Avatar ciptaan mereka sendiri. Dan akhirnya saya menganggap supernova seperti sebuh akun / blog tepat para tokoh dalam film ini curhat, ya mirip2 dengan blognya mbak Hana dalam sinetron Catatan Hati Seorang Istri (RCTI) yang dijadikan tempat curhat para pembacanya.

Anggapan saya tentang Supernova dan tokoh film sebagai fiksi, masih bertahan, hingga akhirnya akal sehat saya sedikit dikacaukan dengan hadirnya email dari akun Supernova kepada Dimas & Rouben. Ya, bikin pusing, bukankah Supernova adalah buatan mereka juga? Lalu setelah keluar bioskop saya mengingat-ingat skenario dalam film barangkali ada yang mendukung scene tersebut. Akhirnya setelah berpikir keras, saya menganggap bahwa Dimas & Rouben juga melibatkan diri mereka sendiri dalam cerita yang ia buat. Dan adegan Supernova mengirim email kepada mereka adalah bagian dari cerita mereka sendiri. Pusing? Memang agak sedikit mikir nonton film ini, tapi untuk melihat dan mengagumi cantik Raline Shah, tak perlu mikir.

Lalu siapa sebenarnya yang mengenalikan Supernova? Dia ternyata Diva. Sayangnya menurut saya hadirnya Diva sebagai Supernova terlalu mengagetkan, eksplorasi di awal kurang begitu jelas, entah memang sengaja dibuatkan seperti ini atau tidak, berarti Supernova adalah Bintang Jatuh. Namun Bintang Jatuh memberikan kursi admin Supernova pada Ksatria dan Bintang Jatuh memilih pergi menjadi tetangga Putri, yang pada akhirnya Putri mencoba bertahan dengan suaminya. Ya begitulah kisah Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh pada Supernova. Hingga akhir film akhrinya saya hanya bisa menyimpulkan bahwa tokoh nyata dalam film ini hanyalah pasangan Dimas & Roben, sementara tokoh lainnya adalah jelmaan dari cerita yang pasangan tersebuat buat, termasuk Supernova. Intinya mau diapakan cerita Supernova itu terserah Dmas & Rouben, jika merefleksikan ke dunia nyata, maka mau diapakan Supernova ya terserah Dewi Lestari dan Rizal Mantovani.

Bagaimana anggapan saya terhadap Supernova murni pemikiran saya setelah nonton, tanya temen sana-sini yang pernah baca novelnya, berhubung saya belum pernah baca, dan seharusnya juga jika sebuah novel diterjemahkan ke dalam film, maka sang sutradara harus mampu memberikan sajian yang tentu dipahami oleh orang awam, karena memang film dan buku adalah dua media yang dinikmati dengan cara berebda. Sebagai contoh dalam buku Ayat-ayat Cinta, Kang Abik selaku pengarang bebas membuat karakter Fachri sesempurna mungkin, namun nyatanya, ketika casting, Hanung Bramantyo juga kesulitan. So, memang buku dan film dunia yang berbeda.

Finally, sepertinya film ini ingin diarahkan pada scifi (science fiction), sayangnya fiksi ilmiah ini baru sebatas pada kerangka skenario, belum dieksplore lebih jauh, dan bukan film Indonesia namana, jika tidak ada melodrama di dalamnya. Film ini tak lebih dari drama cinta biasa yang pengemasan dan penuturannya dilakukan dengan hal yang tidak biasa. Bagi anda yang memang mencintai novel Dewi Lestari ini, tentu jangan melewatkan menonton film SuperBingung ini, eh Supernova.

Pada akhirnya menonton film ini, buat saya masih sedikit meaningless, selain landscape indah yang dibuat oleh Yudi Datau serta pesona Raline Shah, saya masih harus berpikir keras menenukan jawaban atas Supernova, namun begitu saya ucapkan terimakasih kepada produser, kru dan juga pemain film Supernova yang sudah berkerja keras membuat film beda dari biasanya yang tentu tak bisa dibilang jelek dan juga tak bisa dibilang baik. 

Kredit :
Pemeran Utama Wanita : Raline Shah
Pemeran Utama Pria : Herjunot Ali
Pemeran Pembantu Pria : Fedi Nuril, Arifin Putra, Hamish Daud
Pemeran Pembantu Wanita : Paula Verhoeven, Amanda Zevanya, Fitri Handayani
Sutradara : Rizal Mantovani
Penulis Skenario : Sunil Soraya, Donny Dhirgantoro
Penata Editing : Sastha Sunu, Kelvin Nugroho
Penata Kamera : Yudi Datau
Penata Artistik : Vida Sylvia
Penata Musik : Stevesmith Music Production
, ,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar