Jumat, Desember 05, 2014

TUMBUH DALAM FILM - Puisi Jakob Sumardjo

Jakob Sumardjo

TUMBUH DALAM FILM

Tahun 1945
Paman mengajak nonton film di gedung bioskop
Satu-satunya di Klaten
Pengalaman pertama ini tak terlupakan
Gemetar menutup mata
Menyaksikan orang saling bertikam
Dalam gambar hidup putih hitam

Aku tak mau lagi diajak menonton

Tahun 1951
Ayah bekerja di AURI sebagai sopir mobil wagon
Tiap bulan diputar film layar tancap
Aku tertawa terbaha-bahak
Menyaksikan Charlie Chaplin terpeleset kulit pisang
Atau lari-lari tunggang langgang
Dikejar perempuan

Aku merindukan menonton di akhir bulan
 
Tahun 1955
Masa remaja di Yogyakarta
Sekolah SGA
Tiap hari melihat poster film
Di gedung bioskop Rahayu
Gambarnya bagus-bagus asli Amerika
Aku kenal Marlon Brando
James Dean Gregory Peck Jerry Lewis
Ava Gardner Heidy Lamar yang seksi
Tak terlupakan Gery Cooper yang jantan pendiam

Aku tertawa bersama Jerry Lewis
Aku terharu bersama Gery Cooper
Aku mengagumi James Dean dan Marlon Brando
Aku menirukan cara bersandar dia
Cara berjalan dia
Cara mengenakan kemeja

Tak terlupakan pula
Kirk Douglas lelaki jantan kesepian

Tahun 1962
Menjadi guru SMA di Bandung
Mengajar murid yang semua perempuan
Di zaman Demokrasi Terpimpin

Cuma nonton film-film Rusia
Beli buku-buku sastra Rusia
Harganya murah di bawah seliter beras

Untung masih ada Liga Film Mahasiswa ITB
Juga di Panti Budaya
Lumayan memutar film-film Amerika
Meskipun film lama
Tak sempat ditonton waktu remaja

Akan halnya film Indonesia
Sudah nonton lewat layar tancap
Dalam rangka Agustusan di lapangan kampung Balapan
Yang kukenang hanya Chatir Harro dan Netty Herawati
Tentang kisah revolusi
Yang marak tahun 1950-an
Tak terlupakan suara azan
Ketika para pejuang kelelahan masuk kampung dari medan perang

Yang termashur adalah Si Pincang
Yang diputar berkali-kali tiap Agustusan
Namun tetap mempesona sampai hafal ceritanya

Ada juga Lutung Kasarung film berwarna pertama
Namun kecewa lebih hebat beritanya
Ada ular di hutan yang nyata-nyata cuma lukisan

Film Indonesia hanya semarak tahun lima puluhan
Meskipun hitam putih namun sarat makna
Baik komedi maupun yang seriosa
Bing Slamet dalam Tiga Buronan siapa lupa

Tahun 1970
Kebangkitan film Indonesia pertama
Film Bernafas Dalam Lumpur dalam diri Suzanna
Sebenarnya film biasa
Menjadi luar biasa bagi mata film Indonesia
Akibatnya wabah tiruan
Membuat bioskop ditinggalkan

Untung datang Panji Tengkorak
Dan Si Buta Dari Goa Hantu
Namun segera diserbu para peniru
Gedung bioskop benar-benar jadi rumah hantu

Bosan perkosaan dan adu pedang
Tiba-tiba muncul Beranak Dalam Kubur
Para penonton membeli ketakutan
Erat memegang tangan pacar menjerit kegirangan

Tahun 1980
Orang teater masuk arena film Indonesia
Mereka membangun kebangkitan kedua
Teguh Karya Sjumanjaya Arifin
Membikin gedung bioskop diserbu kelas menengah
Seperti tahun lima puluhan
Meninggalkan tradisi kelas bawah
Penggemar hantu, silat, dan perkosaan

Tahun 1990
Titik nadir film Indonesia
Runtuhnya film-film kelas menengah akibat ambisi film seni
Dibicarakan kaum akademisi
Ditinggalkan penggemar Karmila
Akibatnya wabah film Perangkap Janda Muda
Digemari pemuda kampung Cicadas
Tergiur paha mulus Marselina

Awal abad dua puluh satu
Kebangkitan film ketiga
Rombongan kaum muda
Profesional belajar di akademi sinema
Meninggalkan tradisi amatur sebelumnya
Sherina dan Ada Apa Dengan Cinta
Membuka cakrawala baru bagi kaum muda
Tidak usah serius merenung seperti generasi tua
Mengikuti film Amerika
Film adalah tontonan banyak orang
Bertemunya pikiran sineas dan penonton dalam film
Membagi pengalaman dan sekedar renungan
Bukan ekspresi bebas memburu ketenaran

Sinema seni yang mahal
Melibatkan begitu banyak seniman
Perhelatan kawin seni dagang dan seni film
Adalah kemasuk akalan
Sambil berharap dicatat sejarah
Uang menghasilkan uang
Di tangan pemilik kepala cerdas
Tidak peduli dalam film
Perumahan, kuliner, dan pengusaha kaya

Itulah renungan
Seorang tua keranjingan nonton
Belajar sesuatu dari pengalaman nontonnya
Apa yang dahulu dikagumi
Ketika ditonton kembali
Tak sehenat dulu lagi
Tapi ada pula yang dikagumi
Sejak dulu, sekarang, dan nanti
Dari seribu film
Mungkin hanya lima puluh film 
Yang tak bosan ditonton seperti Si Pincang
Film adalah seni sezaman
Ditonton atau tidak ditonton waktu pertama diputar
Bukan seperti buku sastra
Yang baru dibaca generasi berikutnya

Keajaiban gambar hidup
Dari masa kanak-kanak bersama Charlie Chaplin
Sampai masa tua bersama Kagemusha

Mudah-mudahan di akherat nanti
Masih diizinkan menonton film
Panjang dan tidak membosankan
Sesungguhnya sinema adalah
Surga di dunia fana ini

Bandung, 4 Januari 2012    
 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar