Jumat, Desember 05, 2014

MASIH BAYANGAN? - Puisi N. Riantiarno

N. Riantiarno

MASIH  BAYANGAN?


semula yang mengemuka hanyalah sesosok benda
layar putih segiempat, kosong, seolah tanpa makna
namun saat gambar-gambar meruang jadi kehidupan
yang kosong mengisi, lalu batas persegi tak ada lagi
bayangan bergerak; ada tawa, airmata, juga cinta
suasana pun hadir, keindahan yang seakan nyata

 imaji-imaji menggigit, imajinasi terproyeksi
ekspresi emosi, waktu yang diperangkap, eksplorasi
ribuan lakon yang digali dari peristiwa-peristiwa
jadi drama, apa pun yang direkam kemudian menyejarah
kepadanya kita bisa mempertimbangkan, juga berkaca
alangkah subtil masa lalu, terasa mustahil masa kini

masa depan dikhayal pula lewat banyak dugaan
bahkan arus dalam kemanusiaan dan semesta alam
jagat makro dan mikro, yang nampak atau disembunyikan
segalanya mungkin, waktu kemudian membuktikan
segala mempesona ketika yang tiada menjadi ada
dan mereka yang tak bernyawa mampu berbicara

berawal dari inspirasi
sumbernya bulan dan matahari
kemanusiaan jadi tujuan
kesenian adalah jalan
lalu eksperimentasi
kerja tak kenal henti
tapi setelah keberhasilan diraih
perubahan bisa terjadi
seni menjadi komoditi
menyusul pula politik

entah mengapa tega
mengotori layar putih
dengan kumpulan jargon
slogan-slogan hampa
janji-janji belaka
lalu belenggu aturan
sensor mencekik pula
pembinaan yang diniatkan
jadi hantu pembinasaan
politik kekuasaan

ada nyanyian berbunyi; ‘citra, engkaulah bayangan’
jadi itulah peranmu; ‘bayangan yang dinyanyikan’
nasib barangkali telah mematokmu cuma jadi bayangan
wujud yang berdiri di depan, bukanlah dirimu itu
kau dibikin ada dan dimuliakan saat dibutuhkan
tapi segera dicampakkan begitu tujuan sudah di tangan

sebagai bayangan kau hadir di saat senja yang temaram
sebagai bayangan kau hanyalah sosok yang terlanjur hitam
lebih jelaslah wujud didepanmu dan memetik keuntungan
aku trenyuh menatapmu, mengingat nasibmu yang rapuh
aku hanya bisa prihatin karena tak mampu menolongmu
seharusnya kau bukan lagi bayangan tapi sudah mewujud

semula yang mengemuka hanyalah sesosok benda
layar putih segiempat, kosong, seolah tanpa makna
namun saat gambar-gambar meruang jadi kehidupan
yang kosong mengisi, lalu batas persegi tak ada lagi
bayangan bergerak; ada tawa, airmata, juga cinta
suasana pun hadir, keindahan yang seakan nyata

o, enerji tak berbatas itu
kini dibanduli batu-batu
sesak nafasmu, aku tahu
jerat erat mengikat tubuh
langkah-langkah pun diatur
berdiri goyah, lari tak mampu
tapi bisikmu masih kudengar;
‘hari ini, dulu, aku dilahirkan,
hari ini, dulu, aku dihadirkan,
hari ini, dulu, aku mengada’

suara bisikan, meski terdengar lembut
rasanya masih sanggup menusuk kalbu
kini, senjamu seharusnya jadi fajarmu


Jakarta, Januari 2012.




foto: www.tempo.co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar