Jumat, Desember 05, 2014

DENDANG PERAWAN - Puisi Slamet Rahardjo Djarot

Slamet Rahardjo Djarot

DENDANG PERAWAN

Lingsir wengi
dendang perawan malam hari,
wing semriwing,
semerbak wangi dupa setanggi,
mimpi diatas mimpi
melayang aku pengen jadi bidadari,
oh harapan muara keinginan,
beken diatas beken,
gregetan aku berkhayal jadi keren,
eh siapa tahu,
coba punya coba,
bisa lebih keren dari penganten,

Ning nang ning gung,
dendang seribu peri dilembah gunung,
oh para peri dunia perewangan,
dengan kuasamu bawalah aku terbang,
eh siapa nyana,
bisa salaman sama dewa,
dewa sakti bernama ketenaran,

Gregah....perawan nangtung,
geura gede, geura jangkung
perawan bangkit
dan kaki menjejak bumi

Duk duk duk,
bumi dijejak tiga kali,
mata terpejam dan mantram dilafalkan,
toroktok oleolean,
mendadak kesunyian mendatang,
sepi tanpa suara...

Gelegaaaar...geledeg siang hari
bumi bergetar petir dan kilat berbenturan,
gemerlap cahaya menyilaukan,

Oh engkaukah itu dewa ketenaran?
cahayamu menyilaukan,
kedatanganmu mendebarkan,
duh biyang pengharapan,
benarkah itu baju keemasan yang harus kukenakan?

Sim salabim terusannya patpat gulipat
siluman dan jutawan jadi sahabat,
impian disulap jadi kenyataan,
seorang dewi layar perak diciptakan,
pemenuh selera dunia hiburan,
gambar dan namanya menyebar,
bertebaran disetiap majalah dan koran,

Oh terimakasih juragan pengharapan,
mimpi anak perawan telah jadi kenyataan,
kini jadilah dia pesohor baru perfilman,
tak perduli celoteh kawan apalagi lawan,
orang orang sirik, menjuluki dia ratu siluman,
memang benar,
dialah putri cantik si raja setan,
primadona film indonesia,
ratingnya tinggi bukan buatan,

Dan lagi apa salahnya,
semua ini kan cuma tontonan,
tontonan memang bukan tuntunan,
tak perduli seribu bocah kesurupan
bukankah itu memang tugas siluman?

Cingcangkeling panon ulah jadi juling,

Sok atuh..film tuntunan teh tugasna saha?
halimun sunda bertanya.
ayo jawab pertanyaan para hiyang
jika tak mampu jangan geregetan,

Iki salahe sopo?
sing baurekso takon bopo,
kok gampang jadi kagetan,
wah malah ada yang tegang keheranan,
tak ada jawaban, sepi pemikiran,
si pembuat tuntunan lupa daratan,
hilang pekerti haus kekuasaan,
ringkih wibawa tanpa teladan,

Dangdangtut anak siluman rebutan kentut,
bumi menghilang ditelan ular kadut,

Jangan salahkan siluman,
jika berdiri sambil metentheng,
mana dadaku, ini susuku,
siluman mengulang lagi tantangan,
mana nyali dan kuasamu
tak ada kata sambutan,
membisu terjerat sepi,
si pembuat tuntunan membisu,
berdiri kaku di kejauhan,
makin lama makin mengabur,
menghilang,
menghablur...

Duh Gusti amukti jagad,
jangan biarkan kami hilang derajat.


jakarta, 16 januari 2012







Tidak ada komentar:

Posting Komentar