Rabu, November 19, 2014

Diskusi Film “Manusia Setengah Salmon” di Habitat Pecinta Buku

(Forum Film Bandung) Bermula dari buku,  kemudian diangkat ke film layar lebar. Itulah kumpulan cerita komedi “Manusia Setengah Salmon”, karya Raditya Dika, yang diterbitkan di penghujung tahun 2011 oleh Gagas Media. Menyusul kesuksesan buku yang ditulis sebelumnya oleh Raditya, “Manusia Setengah Salmon” pun mendapat sambutan hangat dari para pembaca. Selanjutnya buku “Manusia Setengah Salmon” juga kembali bernasib mujur, dengan diangkatnya menjadi film layar lebar oleh rumah produksi Star Vision. Para penggemar Raditya Dika dari toko buku berbondong-bondong ke gedung bioskop.

Berdasarkan awal keberangkatan “Manusia Setengah Salmon”, maka Forum Film Bandung (FFB) bekerjasama dengan Panitia Pesta Buku Bandung 2014, menggelar acara nonton bareng, diskusi, dan jumpa fans film “Manusia Setengah Salmon” di tengah para penggemar buku. Tepatnya di Landmark Convention Hall, Jl. Braga No. 129, Bandung (3/3/2014). Acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan dalam menyongsong Festival Film Bandung 2014.
Para pengunjung acara Pesta Buku Bandung 2014, rela berdesak-desakan memadati area panggung utama, demi menyaksikan acara nonton bareng “Manusia Setengah Salmon”. Acara diskusi  didominasi oleh para pembaca buku, sebelum pada akhirnya mereka pun menjadi penggemar filmnya.



“Sebenarnya saya sudah nonton, tapi pingin nonton lagi, biar ingatan saya segar lagi. Soalnya mau diskusi dengan pembuat dan para pelaku dalam filmnya...” demikian dikatakan oleh salahseorang mahasiswa, yang sengaja datang  ke Landmark untuk mengikuti acara diskusi dan jumpa fans film “Manusia Setengah Salmon”.

Tampil sebagai pembicara dalam diskusi tersebut Chand Parwez Servia, Eriska Rein (pemeran Jessica), MoSidik Christian (pemeran Editor Buku), Mithu Nizar (Produser Eksekutif), dan Eddy D. Iskandar (Ketua Umum Forum Film Bandung). Diskusi yang dipandu oleh Ratna Juwita berlangsung hangat, komunikatif, dan penuh kekeluargaan. Para peserta diskusi mendapat kesempatan untuk berdialog langsung seputar produksi film “Manusia Setengah Salmon”. Kesempatan tersebut dimanfaatkan secara maksimal oleh para peserta diskusi.

Chand Parwez memaparkan bahwa sebagai produser, ia tidak tinggal diam dalam menentukan bahan cerita yang akan diangkat ke layar lebar. Parwez membaca buku-buku best seller. Bahkan dalam mendapatkan ide memproduksi “Manusia Setengah Salmon”, Parwez  sengaja datang ke toko buku di Palasari, Bandung, untuk melakukan semacam survey mengenai buku yang banyak disukai oleh para pembaca. Sampai pada akhirnya Parwez jatuh hati pada buku-buku yang ditulis oleh Raditya Dika, yang pada saat itu bukunya sangat laris.

Kendati demikian, Parwez mengatakan bahwa untuk mengangkat buku ke layar lebar, tentunya tidak asal buku tersebut laku di pasaran. Buku yang diangkat ke layar lebar harus buku bermutu, dan memiliki pesan-pesan moral yang diharapkan dapat diambil manfaatnya oleh masyarakat. Seperti dalam “Manusia Setengah Salmon”, bukan sekadar menampilkan cerita kelucuannya, tetapi yanglebih penting adalah nilai keberanian hijrah sang tokoh untuk menjalani kehidupan yang lebih dan bermakna. Berani meninggalkan zona nyaman, untuk mencari kehidupan yang lebih baik. “Acara ini merupakan sambung rasa antara pengamat, penggemar film, dan insan perfilman, dengan harapan  film-film yang diproduksi ke depannya bisa lebih memiliki  nilai-nilai positif.” Demikian kata Parwez.

Eddy D. Iskandar menuturkan bahwa film-film yang diangkat dari novel biasanya akan mendapat perhatian khusus dari masyarakat pembaca. Bukan tanpa resiko, karena ketika filmnya tidak sesuai dengan harapan pembaca, maka akan mendapat kritikan dari pembaca fanatik. Sebaliknya, jika filmnya berhasil, para pembaca pun akan puas dan bisa dipastikan akan menonton filmnya.  

Sejauh ini, para pembaca “Manusia Setengah Salmon” merasa puas dengan hasil garapan produksi Star Vision. Sebab, cerita yang dihadirkan tidak melenceng dari buku aslinya. Dalam “Manusia Setengah Salmon” menceritakan Dika dan keluarganya yang harus pindah rumah. Pada saat yang bersamaan, Dika juga harus berpindah hati,  meninggalkan pacar lamanya. Dua cerita yang saling merefleksikan satu sama lain, dilengkapi kisah supir Dika yang bau ketek,  adik Dika yang akan menghadapi Ujian Akhir Nasional, dan lain-lain. Film yang disutradarai oleh Herdanius Larobu, berhasil memukau para pecinta film nasional.  “Kekurangan dan kelebihan selalu nampak dalam film yang diangkat dari buku, jika dibandingkan dengan tulisan aslinya.” Demikian kata Eddy, yang novel karyanya pernah juga diangkat ke layar lebar, dengan judul “Gita Cinta dari SMA”.

Kehadiran Eriska Rein pun mendapat sambutan hangat dari para penggemarnya. Eriska mengatakan bahwa film “Manusia Setengah Salmon” merupakan actingnya yang keempat kali. Eriska, yang memerankan tokoh Jessica, menceritakan betapa serunya selama mengikuti proses  pembuatan film tersebut. Eriska menikmati proses produksi sejak awal hingga selesai. ”Ini kesempatan yang sangat beenilai bagi saya. Terimakasih banyak atas kepercayaan produser dan sutradara.” demikian kata Eriska.

MoSidik tampil dengan gaya komedinya yang membuat para peserta diskusi terhibur. Mo mengaku bahwa cita-citanya untuk menjadi artis sudah dikubur sejak sepuluh tahun yang lalu. Namun, ketika Mo terjun menjadi komik dalam  standup commedy, tiba-tiba peluang untuk menjadi artis film terbuka. ”Ini film pertama saya, dan sampai hari ini saya belum mendapat tawaran untuk main film lagi...” demikian kata Mo, disambut gelak tawa para peserta diskusi.

Meski dikenal sebagai komedian, Mo mengaku sangat terkesan dengan film “Manusia Setengah Salmon”. Masalahnya, dalam film tersebut Mo menemukan sebuah pengalaman untuk pertama kalinya orang gendut tidak diperlakukan sebagai orang gendut yang disuruh jatuh terguling dan menjadi bahan tertawaan dan cemoohan. Mo merasa sangat terhormat menjadi orang gendut. Perannya sebagai seorang editor buku, membuka kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan potensi dan ide kreatifnya. Mo mengaku bisa melakukan diskusi dengan sutradara pada saat berlangsung pengambilan gambar, sehingga kreatifitasnya bisa tersalurkan. Mo, sebelumnya pernah menjadi  penyiar di  beberapa radio di kota Bandung.


Menurut Eddy D. Iskandar, acara diskusi seperti ini sudah sejak lama digelar oleh Forum Film Bandung secara rutin, dan akan terus digelar di waktu yang akan datang, untuk lebih meningkatkan afresiasi masyarakat terjadap karya sinematografi. ***(Maruta Bayu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar