Selasa, Oktober 28, 2014

Catatan Kecil Penjurian Festival Film Pendek 2014 Tingkat Pelajar

Oleh:
Endah Asih, Wartawan Pikiran Rakyat dan Anggota Dewan Juri Festival Film Pendek 2014
Tingkat Pelajar Se-Jabar



Karinding, Tari Topeng, Hingga Boyband.

BEBERAPA hari ini, malam saya diwarnai oleh kegiatan mengasyikkan, yaitu menonton film pendek yang dibuat oleh pelajar di Jawa Barat. Terinspirasi dari pesan yang disampaikan film "Strawberry Surprise", kita tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi berikutnya dalam hidup. Manis, pahit, ya telan saja.

Begitu pula saat mengambil film pendek yang akan saya tonton lebih dulu secara random. Saya tidak pernah tahu apa yang akan saya temukan dalam film pendek tersebut. Manis, pahit, ya telan saja. Begitu pikir saya.

Dari seluruh film pendek yang masuk ke meja panitia, sepuluh film pendek dinyatakan lolos ke babak penjurian berikutnya. Setelah menonton seluruhnya, terbersit rasa kekaguman saya terhadap pelajar sineas ini. Terlepas dari unsur teknis pembuatan film, ide cerita yang datang cukup orisinal dan menarik. Hampir seluruhnya mengangkat soal kearifan lokal.

Ada yang mengetengahkan soal pelestarian budaya tari topeng, karinding, potensi wisata alam, prasangka, relasi antara anggota keluarga, hingga pengaruh budaya asing dalam bentuk invasi boyband Korea di tanah air. Pengemasannya pun berbeda satu sama lain. Faktor jam terbang dalam hubungannya dengan film tentu berperan besar di sana.

Hanya saja, setelah diamati, sebagian film pendek yang diproduksi memuat unsur mistis di dalamnya. Kadarnya beragam, mulai dari yang hanya menjadikan itu sebagai inspirasi atau bumbu, cerita latar, hingga nyawa film. Apakah begini pola pikir anak muda memandang budaya, tentu tak bisa dipastikan karena perlu diteliti lebih lanjut. Yang pasti, begini cara mereka menginterpretasikan kearifan lokal.

Tapi, mari simpan itu dulu sebagai suatu fenomena menarik yang kapan-kapan harus dibahas. Yang pasti, atensi pelajar mengenai kearifan lokal perlu diacungi jempol. Beberapa film yang lolos bahkan berhasil mengecoh lewat ending yang menohok.

Akhirnya, sampailah kami pada bagian tersulit, yaitu menentukan film pendek terbaik dan beberapa unsurnya. Saya jadi ingat, beberapa reaksi spontan yang sempat saya alami sepanjang menonton sepuluh film pendek itu. Ada rasa kaget, kagum, bergidik karena nuansa mistis, senyum simpul (bukan karena teringat masa menjadi pelajar, hehehe), hingga ingin cepat-cepat menombol fast forward. Manis, pahit, ya telan saja. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar