Rabu, Agustus 20, 2014

KEGELISAHAN LOLA AMARIA TERHADAP NEGERI TANPA TELINGA



Oleh Agus Safari 
FORUM FILM BANDUNG



TAK BANYAK para sineas kita membuat sebuah film tentang korupsi berjamaah dalam bentuk komedi Satir, apalagi film tersebut menyoroti tentang Partai, kekuasaan dan sex. Film “Negeri Tanpa Telinga” adalah sebuah perenungan panjang Lola Amaria dalam menuangkan gagasannya selama 4 tahun karena berbagai hal kendala, namun menginjak tahun ke 5 film “Negeri Tanpa Telinga” ini muncul dan berjalan santai dalam situasi negeri yang malu-malu (memalukan?) dalam kebijakan, kekuasaan dan sex. Sebuah film komedi satir yang ringan namun sekaligus menggelitik pikiran kita dan sekaligus tamparan bagi para penguasa Negeri tercinta ini. Seharusnya sih begitu.

Film “Negeri Tanpa Telinga” menceritakan tentang konspirasi Partai besar yang  bekerjasama dengan importir daging domba untuk memanipulasi uang Negara bagi kepentingan serta keuntungan Partainya. Pemberantasan korupsi dan penangkapan koruptor dari keterlibatan pejabat Partai yang selalu memakai idiom-idiom religi dalam pelaksanaan partainya yang berkiprah dalam korupsi dan sex. Cerita berkembang pada pencalonan Presiden dan lebih menarik dengan melibatkan Tukang Pijat sebagai jembatan untuk merangkai cerita lebih menarik. Tukang Pijat adalah merupakan perwakilan dari rakyat yang setia mendengarkan pendapat, kebijakan serta celoteh para pejabat pemerintah, sementara para pejabat sendiri (Partai dan wakil Rakyat) tak mengindahkan suara rakyat. Mereka selalu ingin didengarkan saja tetapi tidak mau mendengarkan.

Sebagai sebuah symbol atau idiom, telinga merupakan entry point untuk masuk ke arah hati nurani, namun Penguasa dan Pengurus Partai besar tidak mempedulikan pendengaran mereka untuk meraih rakyat dengan baik. Saya pikir inilah yang menjadi kegelisahan Lola Amaria sebagai Sutradara dalam menangkap fenomena sosial di Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini.

Kekuasan main Petak umpet dengan Hukum.
Mencermati karya Lola Amaria dengan kegelisahannya terhadap gejolak sosial, kedigdayaan Partai, dan ketakberdayaan Hukum adalah sebuah keberanian yang patut diajungi jempol pada saat rakyat mulai sedikit apatis terhadap perilaku Penguasa dan Partai dalam konstelasi hukum (keadilan?). Untung saja kita masih bisa menghela nafas ketika Pemberantasan korupsi masih punya nyali dan taringnya. Kegelisahan selama 4 tahun dengan ide/gagasan membuat film “Negeri Tanpa Telinga” adalah sebuah perjalanan panjang dan penuh dinamika dalam sebuah proses kreatif dan  melahirkannya  pada tahun kelima. Sebuah proses dan perenungan yang panjang serta nekat, sehingga nampak secara kasat mata bahwa kekuasaan sedang main petak umpet dengan hukum.

Kenapa nekat? Karena film ini melawan arus dari kebanyakan film saat ini. Namun inilah sebuah pilihan Lola Amaria dalam melahirkan karyanya meskipun sebuah resiko menantinya. Tetapi sebagai sebuah propaganda untuk pemberantasan korupsi, film ini merupakan pilihan yang tepat. Semoga saja.

Bagi masyarakat yang sudah ‘apatis’ terhadap keberadaan dan fenomena sosial di Negeri yang limbung oleh kekuasaan dan sex, serta bagi para pejuang keadilan, penegak Hukum, mari jeda sejenak untuk meluangkan waktu menonton film “Negeri Tanpa Telinga” karya Lola Amaria ini sebagai sebuah istirah dan relaksasi dalam nurani kita. Selamat menonton dan melihat cermin negeri ini.

Salam dan jabat erat, kawan….
,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar