Sabtu, Agustus 23, 2014

ANTARA NATURALISASI DAN FILM BERKUALITAS


Arsip Majalah FFB 
Dimuat Pada Majalah FFB - April 2011 (24 Th FFB)


Catatan Oleh Rosyid E. Abby
Ketua Pengamat Film & Anggota Pengamat Sinetron – Forum Film Bandung.



Tema apakah yang paling populer dalam peta perfilman Indonesia, khususnya di tahun-tahun belakangan ini? Tak perlu mengerutkan kening untuk menjawabnya. Ya, sangat mudah. Semudah orang membalikkan telapak tangan. Ya, tema horor dan seks!

Sepanjang tahun 2010 – 2011 (April 2010 – Maret 2011) ada 81 judul film nasional yang diproduksi dan diedarkan di bioskop-bioskop selutuh Indonesia. Dari 81 film, 25 persennya bergenre horor, entah itu horor murni (horor mistik), horor komedi, horor seks, atau campuran dari kesemuanya. Simaklah, judul-judulnya pun mengarah ke sana: Tiran (Mati di Ranjang),  Rayuan Arwah Penasaran, Pocong Keliling, Pengantin Topeng, Selimut Berdarah, Rintihan Kuntilanak Perawan, Hantu Tanah Kusir, Pocong Rumah Angker, Pelukan Janda Hantu Gerondong, Pocong Ngesot, dan masih banyak lagi. Dihitung-hitung, ada 20 judul film horor yang selama setahun ini diputar di bioskop. 

Dari sana kita bisa menilai, lagi-lagi film horor merajai peta perfilman kita. Tidak aneh lagi, sebetulnya. Tokh beberapa tahun belakangan ini produser kita sangat “gandrung” memproduksi film-film jenis ini. Bahkan ada kecenderungan (katakanlah tren) baru, yakni dengan merekrut bintang-bintang film porno dari luar, terutama dari Negeri Sakura, yang beberapa bulan lalu didera tsunami. Dari Miyabi (Maria Ozawa), Rin Sakuragi, hingga Sora Aoi, didatangkan untuk mendongkrak pasar. Bahkan bintang porno Amerika “sekelas” Tera Patrick dan  Sasha Grey pun, akhirnya dibukakan pintu lebar-lebar untuk membintangi film (horor seks) Indonesia. 

Ada proses naturalisasi di sini, meskipun mereka tak dituntut menjadi warga negara sini. Ya, proses naturalisasi yang hampir sama dengan dunia persepakbolaan kita. Kalaulah naturalisasi para pemain sepakbola dibutuhkan untuk memperkuat dan memotivasi tim berdasarkan kecakapan, keterampilan, kecemerlangan, dan pengalamannya dalam bermain bola, tidak demikian halnya dengan film.
Maria Ozawa (Menculik Miyabi dan Hantu Tanah Kusir), Rin Sakuragi (Suster Keramas), Sora Aoi (Suster Keramas 2), Tera Patrick (Rintihan Kuntilanak Perawan), Sasha Grey (Pocong Mandi Goyang Pinggul), pada dasarnya dibutuhkan hanya sekadar menjual nama, menjual bintang. Dengan mainnya bintang-bintang panas di negara kita, tentu ada kejaran utama yang bobotnya lebih pada bisnis. Bukan karena akting mereka yang dianggap cemerlang! Kalau tidak, mengapa tidak merekrut Julia Robert saja sekalian? Atau Sandra Bullock, atau Angelina Jolie, atau Chaterine Zeta Jones, umpamanya?    

Kehadiran mereka yang identik dengan dunia pornografi --meskipun produser berkilah; mereka “bukan bintang porno”, tapi “mantan bintang porno”--  tokh dipersiapkan untuk meraup untung sebanyak-banyaknya, tanpa mempedulikan kualitas filmnya itu sendiri. Bahkan mereka dipasang hanya sekadar tempelan, hanya untuk “bumbu” adegan, yang kalau tidak ada scene mereka pun, tak berpengaruh besar pada cerita. Jangan tanya pula soal cerita, karena cerita yang dibikin terlalu sederhana, bahkan tak jarang di luar logika, tak jelas motif atau sebab-akibatnya. Padahal, menurut para ahli penulisan skenario, skenario yang baik adalah yang motif dan hubungan sebab-akibatnya terungkap secara jelas. Bahkan, film berjenis surealis sekali pun, atau superhero sekelas Spiderman atau Batman pun, dapat diterima akal jika dalam kisahnya terjalin motif dan hubungan sebab-akibat yang jelas. Tapi, itulah potret dunia perfilman kita! Serba tak jelas!

Tapi, di tengah gemuruhnya film-film horor berbumbu seks dan komedi, Indonesia beruntung masih memiliki produser dan sutradara-sutradara yang punya gagasan besar untuk memajukan negeri ini lewat film. Mereka masih tetap mempertahankan idealismenya dalam membuat film yang berkualitas, mendidik secara halus lewat tema-temanya yang universal tapi mengakar di bumi Indonesia, menciptakan imaji-imaji visual yang menyentuh dan dapat diapresiasi dengan baik oleh segenap penonton.  Bagi mereka, film bukan hanya hiburan dan bisnis semata, tapi lebih dari itu: sebagai media pendidikan bangsa. Mereka paham betul pada apa yang dituangkan dalam UU Perfilman No. 33/2009, “Film adalah karya seni budaya yang merupakan pranata sosial dan media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan  kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara dan dapat dipertunjukkan.”

Barangkali ada kesadaran budaya itulah, dibanding tahun-tahun lalu, tahun ini banyak film berkualitas yang dibuat. Sekadar menyebutkan beberapa contoh, film-film berkualitas seperti  Denias, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Get Married, Perempuan Berkalung Sorban, Mak Ingin Naik Haji, King, Garuda di Dadaku, Alangkah Lucunya (Negeri Ini), Tanah Air Beta, Sang Pencerah, terbukti sama sekali tak kekurangan penonton. Dengan membuat film-film berkualitas semacam itu, kita –meminjam istilah Deddy Mizwar-- tak akan  menderita karenanya. Tidak untung secara materi, kata Deddy pula, bakal untung secara pahala!**
, ,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar