Sabtu, Juli 05, 2014

Mencari Sinetron yang Membumi dan bukan yang Mem-“Booming”

Dimuat Pada Majalah FFB - April 2009 (22 Tahun FFB)

Catatan Oleh Rosyid E. Abby
(pengurus/pengamat di Forum Film Bandung (FFB))


Dalam sebuah blog, ada tulisan menarik yang patut kita pahami dan kita maknai, yang di akhir tulisannya berbunyi sebagai berikut:
Apakah bodoh untuk menonton sinetron Indonesia? Tidak.
Apakah bodoh untuk tidak menonton sinetron Indonesia? Tidak juga.
Lalu siapa yang bodoh?
Mereka yang bodoh ialah mereka yang menjadi penggemar setia sinetron Indonesia sambil terus menghujat dan menghujat tapi tak pernah absen untuk duduk manis di depan TV di malam hari.
Tulisan tersebut menyiratkan, bahwa sinema elektronik yang disingkat sinetron itu  banyak menimbulkan pro-kontra bagi masyarakat. Di satu pihak banyak mengundang protes dan kritikan, tapi di lain pihak masyarakat menyenanginya. Di satu sisi kita mempersoalkan kualitas yang tidak terjaga, tapi di lain sisi makin tumbuh dan berkembang sinetron-sinetron yang memanjakan penonton lewat tayangannya yang makin meruak bak jamur di musim hujan. Di satu sisi banyak mengundang cercaan karena ceritanya hanya menjual mimpi, tapi di sisi lain justru sinetron seperti itu ratting-nya tinggi.

Dalam konteks seperti itu, lalu siapakah yang salah? Produser yang punya produksi? Stasiun televisi yang menayangkan? Ataukah kita yang menontonnya? Persoalannya memang jadi klasik, meskipun jenis hiburan ini masih sangat muda usia (mungkin karena masih muda itulah, sinetron masih berjalan terantuk-antuk). Lalu persoalan yang muncul, adalah, melingkar-lingkarnya pertanyaan itu tidak menemukan jawab yang pasti. Ia bagaikan lingkaran setan.

Dalam setahun belakangan ini, pertumbuhan sinetron di Indonesia memang makin menunjukkan kuantitas yang melonjak, tapi tidak dibarengi kualitas yang baik. Kita sering disuguhi cerita-cerita penuh mimpi ala telenovela, tapi tetap saja penonton betah untuk berlama-lama duduk di depan layar televisi. Kita sering disuguhi tema yang tetap berkisar pada pusaran keteraniayaan “Si Gadis Baik” oleh “Si Gadis Jahat” ala Cinderella, tapi toh penonton enggan beranjak dari tempat duduknya hanya untuk menikmati cerita  yang sangat menguras air mata. Kita sering disuguhi sinetron yang baik cerita maupun garapannya seperti film India atau Korea, tapi penonton tak mau sedetik pun melewatkannya. Jika demikian, logika cerita seringkali diabaikan, logika hubungan sosial dan pakaian yang dikenakan tokoh pun seringkali diacuhkan.        

Itulah kenapa produser seringkali berkelit bila disalahkan. Ya, sepanjang masyarakat menyukainya, apa salahnya dengan sinetron semacam itu? Itulah pemikiran para produser kita. Kemudian hal itu “dilegalkan” oleh pihak televisi yang menyiarkannya. Sepanjang ratting-nya naik, banyak mendulang iklan, tak ada salahnya dengan sinetron sejenis itu. Lalu, bagaimana dengan respon masyarakat? Masyarakat pun punya alasan yang masuk di akal: “Soalnya tidak ada pilihan lagi, sih. Ya, jadinya sinetron yang begini ini yang saya tonton!”
Betul-betul lingkaran setan!

Memang, di antara banyaknya sinetron yang menjual mimpi itu, ada pula beberapa yang menapak di realitas keseharian, tidak berlebihan, mampu menggambarkan realitas sosial budaya Indonesia yang sesungguhnya, mampu menapak di bumi. Tapi, sinetron semacam itu bisa dihitung dengan jari. Ia tetap tak mampu membendung gempuran sinetron yang mem-“booming” itu. Ya, kita memang sedang digempur oleh “booming”-nya sinetron-sinetron yang menjual mimpi dan menguras air mata; kisah percintaan si miskin dengan si kaya yang selalu mendapat pertentangan dari orangtua kedua belah pihak, kisah direktur muda yang awalnya membenci si gadis pembantu yang akhirnya menaruh cinta, kisah seorang anak yang berani mencaci-maki orangtuanya, kisah anak SMA yang berani melawan gurunya, kisah sedih yang berujung happy end, dan lain sebagainya, yang justru jauh dari realitas keseharian.

Kita pun, belakangan ini, sangat sulit membedakan mana sinetron hasil adopsi (jiplakan) dan mana yang bukan hasil adopsi, karena cerita pada akhirnya dikembangkan sejauh mungkin, maka tumbuhlah sub-sub cerita dari plot aslinya, tumbuh pula dahan dan ranting-ranting yang semestinya dipapas. Itulah kondisi dunia persinetronan kita. Mengandalkan yang mem-“booming”, tapi sayangnya sangat tidak membumi.

Memang, lazimnya sebagai karya seni dan sebagai hiburan, sinetron tak bisa lepas dari unsur bisnis. Ia adalah produk budaya dan produk industri. Karena itu, ada dua kepentingan yang tarik-menarik, sehingga kalau tak dibarengi kesadaran moral untuk mempertahankan kualitas, dan hanya mengejar keuntungan semata, maka keduanya akan senantiasa berseberangan, tak ubahnya minyak dan air. ,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar