Jumat, Agustus 01, 2014

Film HIJRAH CINTA REVOLUSI MENTAL ALA UJE, BERANIKAH ATAU WANI PIRO?

Oleh Agus Safari FORUM FILM BANDUNG


 “… bila kita menyampaikan sesuatu dengan pikiran, maka orang akan menerimanya dengan pikiran, tapi jika kita menyampaikannya dengan hati, maka orang akan menerima dengan hati….”

KALIMAT di atas adalah merupakan cuplikan dari dialog film Hijrah Cinta yang membuat Sang Ustad Jeffri semakin merenungi apa yang diucapkan oleh seseorang yang menjadi penasehat spiritual rekan Jeffri. Kalimat tersebut meng-inspirasi setiap langkah Jeffri dalam menyampaikan syiarnya. Film ini pun mengalir apa adanya serta leluasa dalam mengeksplore masa lalu hingga akhir hayat tokoh sentralnya, yaitu Jeffri. Memang ini merupakan film kisah nyata tentang perjalanan Ustad Jeffri Al Buchori yang dikenal dengan panggilan akrabnya, yaitu Uje (Ustad Jeffri) . Tanpa basa-basi film tentang Uje ini mengalir dengan alur dan plot yang sederhana serta adegan yang berlipat: dulu-kini, kini-dulu. Kesederhanaan dan kejujuran inilah yang menjadi kekuatan film Hijrah Cinta ini memasuki diri kita secara perlahan-lahan, dan mengaduk-aduk hati serta mengetuk-ngetuk nurani kita yang masih berkutat dengan perdebatan benar-salah, baik dan buruk, hingga berakhir pada sebuah keharuan yang dalam bagi keprihatinan manusia secara umum lewat kejujuran yang ditawarkan film tersebut.


Sambil menikmati suguhan kejujuran dan kesederhanaan setiap adegan demi adegan, kejujuran demi kejujuran tak terasa ada air mengalir secara malu-malu lewati sudut kedua mata, tapi saya tak malu untuk menyeka air mata dengan perlahan, sekilas penonton samping kiri–kanan dan depan juga melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan.
Dengan keberaniannya Jeffri membuat keputusan untuk hijrah ke tempat yang lebih baik dan ‘nyaman’ lewat perkenalan dengan seorang gadis, yaitu Pipik. Sebuah keputusan yang tidak bisa dianggap mudah, karena persoalan duniawi bagi Jeffri sangat mudah ia raih, namun hidup haruslah memilih dan itulah pilihan Jeffri dalam perjalanan kehidupannya; hijrah ke dalam udara bersih, menepis udara kotor.
Begitulah film ini berkisah-kasih.
 

Hijrah adalah Revolusi Mental.
Film Hijrah Cinta lewat tokohnya Jeffri adalah sebuah lakon tentang bagaimana proses hijrah sang tokoh setelah tenggelam terhadap kenikmatan duniawi dan kembali pada titik balik kesadarannya. Perjuangan yang mustahil dilakukan oleh seorang yang saat itu begitu mudah memperoleh kenikmatan duniawi dan ditinggalkannya dengan tekad yang luar biasa. Tentu saja di balik perjuangannya itu tak luput dari andil wanita yang ia dambakan yaitu; Pipik.
Hijrah tidak hanya sebuah keputusan yang bermodalkan keberanian saja, tetapi ada yang menyertai dari keberanian tersebut, yaitu Mental. Bila keberanian sebesar apapun kalau mentalnya ‘budak’
maka akan menjadi sia-sia usaha terhadap keinginan untuk berhijrah. Saya kembali teringat dengan salah satu misi dari Presiden terpilih Republik Indonesia tahun 2014 adalah dengan Revolusi Mental. Hijrah adalah sebuah revolusi mental yang saat ini diperlukan bagi seluruh masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Tawaran Revolusi Mental ini menarik.


Indonesia hari ini ke depan memerlukan Revolusi Mental, tentu saja. Untuk siapa revolusi ini, Rakyat? Jajaran Pemerintah Pusat dan Daerah? Para Koruptor atau Calon Koruptor? Atau hanya wacana saja? Rakyat, saya pikir tak perlu untuk direvolusi mentalnya, karena akan sia-sia bila semua unsur pemerintahan tidak direvolusi mentalnya secara total untuk menghirup udara bersih seperti apa yang dilakukan Jeffri dalam Film Hijrah Cinta. Rakyat akan mencontoh para Pemimpinnya bila patut dicontoh, namun rakyat tidak akan mematuhi jejak pemimpinnya bila tidak ada apa yang layak untuk ditiru. Rakyat sudah tidak perlu lagi ditawari pikiran-pikiran jenius para pemimpinnya, tapi mereka membutuhkan para pemimpin yang berbicara dan memberi contoh dengan hati.


Sebagai sosok dalam keberaniannya berhijrah ke arah yang lebih baik, Uje (Ustad Jeffri) adalah sosok yang patut dicontoh dalam me-revolusi mental-nya dengan gigih untuk mendapat kenyamanan dalam menghirup udara bersih. Lalu bagaimanakah realisasi dari Presiden terpilih Indonesia mengenai Revolusi Mental ini? Kita tunggu, semoga bukan hanya gembar-gembor ala demokrasi di Negeri ini, dan hilang ditelan gelombang riuh semangkuk kue. Tetapi yang pasti bagi Presiden terpilih Republik Indonesia, ada yang harus dilakukan sebagai langkah pertama dan kongkrit bagi susunan Kabinet dan jajaran Pemerintahannya adalah wajib menonton Film Hijrah Cinta sebagai referensi serta warming-up untuk realisasi program Revolusi Mental. Berani nggak yaaa… atau wani piro..?!


Salam dan jabat erat, kawan..
,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar