Sabtu, Juli 05, 2014

25 Tahun Festival Film Bandung Tetap Memelihara Idealisme

Dimuat Pada Majalah FFB - Mei 2012 (25 Tahun FFB)



Oleh Eddy D. Iskandar
 
SEBUAH ruang di lantai dua PT Kharisma Jabar Film, 25 tahun yang silam menjadi saksi tempat berkumpulnya beberapa orang dari berbagai profesi; wartawan, pengamat, dan budayawan. Tiap hari Jum’at, mulai jam 14.00, sedikitnya menonton dua buah film terbaru yang akan beredar di bioskop Bandung – apakah itu film Indonesia atau film asing. Setelah menonton film, tidak lantas pulang, melainkan saling mengemukakan pendapatnya masing-masing tentang film yang barusan ditonton. Kadangkala terjadi perbedaan pendapat, tapi umumnya memiliki persepsi yang sama dalam menentukan film yang baik.

Seringnya berkumpul lalu mendiskusikan film yang sudah ditonton, menimbulkan gagasan untuk menyampaikannya kepada khalayak. Salah satunya diapresiasi oleh harian ‘Pikiran Rakyat’ yang bersedia memuat hasil pengamatan mereka. Bahkan kemudian menerbitkan ‘Buletin FFB’, yang memuat kritik dan resensi film yang akan atau sedang beredar di bioskop Bandung, lalu dibagikan kepada pembeli karcis di bioskop, juga didistribusikan ke beberapa perguruan tinggi. Sayang, ‘Buletin FFB’ tak berumur panjang, karena terbentur ketentuan, bahwa media yang beredar untuk umum mesti memiliki ‘Surat Izin Terbit’.

Mereka yang pada awalnya sering berkumpul adalah Chand Parwez Servia, Eddy D. Iskandar, Sudjoko, Us Tiarsa R., Sutardjo A. Wiramihardja, Farida Srihadi, Edison Nainggolan, Hilman Riphansa, Jakob Sumardjo, Saini KM, Sofia F. Mansoor, Drs. Sunaryo, dan Hernawan. Sebagian dari mereka kemudian mencetuskan gagasan berdirinya Forum Film Bandung.

Semula nama yang digunakan adalah Festival Film Bandung. Tapi kemudian ada ‘larangan’ dari Departemen Penerangan RI – melalui Direktur Pembinaan Film dan Rekaman Video, dalam suratnya tertanggal 7 Maret 1988, yang menyarankan agar mengganti istilah ‘festival’, dengan pertimbangan bahwa hanya ada satu festival film di Indonesia yang diakui secara resmi, yakni Festival Film Indonesia. Karena tujuannya bukan untuk bersaing dengan FFI, maka semua sepakat menggantinya dengan Forum Film Bandung (FFB).

Prof. Sudjoko, dosen Senirupa ITB, yang banyak menulis di berbagai harian terkemuka, dikenal pula sebagai seorang ahli bahasa. Dialah yang mengusulkan istilah ‘terpuji’ dan bukan yang ‘terbaik’, untuk nama penerima penghargaan FFB. Istilah-istilah lainnya yang digunakan Sudjoko adalah ‘film laga’ untuk film action, ‘nara film’ untuk penggarap film,  ‘film manca’ untuk film asing, ‘regu pengamat’ untuk dewan juri, ‘regu pengurus’ untuk ‘panitia penyelenggara’, dan banyak istilah lainnya yang kemudian digunakan oleh media massa.

Banyak tokoh perfilman yang terus mendukung secara moril sejak kehadiran FFB, mereka antara lain Hatoek Subroto, Harris Lasmana, H. Misbach Jusa Biran, Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo Djarot, Ilham Bintang, Firman Bintang, Rachmat Hidayat, juga wartawan dari semua media cetak yang terbit di Bandung dan Jakarta. Bahkan kemudian, juga dari media elektronik.

Sewaktu penyelenggaraan FFB 2002, tanggal 1 April, Slamet Rahardjo – mewakili insan perfilman nasional, menyarankan agar nama kegiatan Forum Film Bandung dikembalikan kepada nama awal berdirinya, yakni Festival Film Bandung, karena di era reformasi tak ada lagi ketentuan festival film hanya milik FFI seperti pada masa Orde Baru.. Menanggapi saran tersebut, maka melalui rapat FFB diputuskan, bahwa nama Forum Film Bandung tetap digunakan, sedangkan kegiatan puncaknya mengadakan Festival Film Bandung. Dan itu dimulai sejak tahun 2003. Bahkan kemudian, FFB juga selain menilai film Indonesia dan film asing, juga mengumumkan penilaiannya untuk sinetron.
Piala FFB diciptakan oleh seorang tokoh senirupa terkenal Drs. Sunaryo, yang kini memimpin “Selasar Sunaryo”.

Menghargai Perbedaan
Kehadiran FFB, tak bisa dilepaskan dari sosok Ir. Chand Parwez Servia. Dialah yang memberi fasilitas tempat, bahkan mengeluarkan dana selama puluhan tahun untuk lancarnya kegiatan FFB. Begitu juga para pendiri dan pengamat FFB, dalam menilai film selama setahun tidak menerima honorarium sebagaimana lazimnya menjadi juri atau pengamat untuk sebuah kegiatan.
Dimulai dengan pertemanan Parwez dan Eddy D. Iskandar, sewaktu berlangsung Festival Film Indonesia yang dilangsungkan di Bandung pada tahun 1985. Parwez yang baru pindah dari Tasikmalaya ke Bandung, menempati rumah, kantor, dan preview room di jalan Jendral Sudirman 554, mengajak Eddy untuk menonton di tempatnya. Salah seorang wartawan yang sudah mangkal di situ adalah Hilman Riphansa. Kemudian Parwez, meminta Eddy agar mengajak wartawan film, pengamat, seniman dan budayawan untuk menonton film-film yang akan beredar di bioskop, agar nanti bisa ditulis di media massa. Itulah awal berkumpulnya sejumlah tokoh dari berbagai kalangan, untuk menonton di tempatnya Parwez.

Ketika Parwez pindah ke Jakarta, motor penggerak utama organisasi FFB adalah Edison Nainggolan, Hilman Riphansa, Eddy D. Iskandar, dan Yana Mulyana. Sedangkan yang lainnya, lebih mengutamakan kepada penilaian. Kian berkembangnya FFB, membuat para pengurus FFB sepakat untuk merekrut anggota baru, dengan syarat utama; yang suka menonton film – tak perduli apapun profesinya. Maka bergabunglah sastrawati Aam Amilia, pengamat film Arief Gustaman, dokter gigi spesialis bedah mulut Asri Arumsari, kolumnis Abdullah Mustappa, pelukis Dr. Tetet Cahyati, sutradara teater/wartawan Rosyid E. Abby, penata artistik film dan teater Agus Safari, pengarang dan pengamat film Yus R. Ismail, wartawati Ratna Djuwita, aktivis musik Herry KS, penata teknis Jajat Sudrajat, Peneliti di ITB Ardityo Danoesoebroto, Penata Acara Daan Aria (P.Project) juga Riaz Nizar dan Feroz Nizar sebagai bendahara.

Di jajaran Pembina, yang dipimpin oleh Parwez, ada mantan Kapolda Jabar H. Edi Darnadi, Wagub Jabar H. Dede Yusuf, dan pengusahan film Harris Lesmana. Sedangkan Wali Kota – yang kini dijabat H. Dada Rosada, SH, sebagai pelindung.

Sepanjang perjalanannya, beberapa orang pendiri dan anggota FFB sudah meninggal dunia, yaitu Suyatna Anirun, Bram M. Darmaprawira, Duduh Durahman, Sudjoko, Hilman Riphansa, dan Riaz Nisar. Beberapa orang juga kemudian non aktif.

Ketangguhan FFB yang konsisten menyenggarakan FFB setiap tahun, salah satunya seperti yang diungkapkan oleh Rosyid E. Abby. “Menurut saya, salah satu kelebihan FFB dari organisasi lainnya, karena semua anggota FFB itu saling menghargai perbedaan, dan saling mendukung terhadap setiap keputusan mayoritas. Selebihnya, FFB ibarat sebuah keluarga yang sangat menghargai idealisme dan sangat mengutamakan kerukunan meskipun sering berbeda pendapat,”.

Dalam menilai film Indonesia, FFB punya landasan yang bisa mempersatukan sikap ketika terjadi saling berbeda pendapat, yakni “Lebih mengutamakan segi punca atau tajuk (theme), segi maksud (lir, lid), segi gagasan, segi cipta, segi keaslian atau kejatian (originality), juga segi kebaruan dan kemantapan (consistency). Sementara itu disadari bahwa hal-hal pokok ini dapat didukung atau diganggu oleh aneka rinci (suara, gerak, pencahayaan, tatagambar, peristiwa, dsb), ricik (pakaian, kendaraan, perabot dan anekabenda lain) maupun ajang (taman, pasar, kampung, dll.). Film Indonesia selayaknya berbicara tentang Indonesia, dengan pengamatan, penghayatan, serta penuangannya dalam bentuk film secara utuh dan padu. Pribadi yang ditokohkan hendaknya manusia (di) Indonesia dengan permasalahannya, dilatari unsure-unsur sosial-budaya.”
Istilah ‘terpuji’ yang digunakan dalam Festival Film Bandung, bukan tanpa alasan atau ingin sekedar beda dari penilaian festival lainnya. Sejak awal, Regu Pengamat FFB sudah membuat kesepakatan untuk memilih kata ‘terpuji’ sama dengan ‘yang mendapat pujian’ atau ‘yang patut dipuji’. Hal serupa kita bisa dipahami dari kata-kata ‘teratur’, ‘terhormat’ atau ‘terpandang’. Awalan ‘ter’ di sini tidak menyatakan keadaan ‘paling’, bahkan ‘sangat’ juga tidak. Itu sebagai sikap Regu Pengamat, bahwa dalam memilih film maupun narafilm yang patut diberi gelar ‘terpuji’, Regu Pengamat sepakat untuk tidak punya anggapan, bahwa pilihan mereka itu mutlak yang terbaik. Regu Pengamat hanya ingin mengundang perhatian, dengan niat ingin membantu masyarakat meningkatkan pahaman (appreciation) dan wawasan, agar penonton film Indonesia mempunyai bahan bandingan, baik dengan film sendiri maupun dengan film manca. Karena itulah film maupun narafilm yang terpilih, yang dipuji, boleh jadi ada beberapa, atau lebih dari satu.
Bagi Parwez, FFB merupakan ‘tempat kembali’ yang selalu menginspirasi, membuat pencerahan, di tengah padatnya kesibukan memproduksi film.

Puisi Film
Salah satu sumbangsih FFB bagi dunia perfilman, dalam usianya yang ke-25, FFB menerbitkan buku “Pusi Film”, yang memuat 25 puisi karya 25 penyair ternama – termasuk orang film. Para penulis puisi, antara lain: Putu Wijaya, N. Riantiarno, Slamet Rahardjo Djarot, Armantono, Eddy D. Iskandar, Arthur S. Nalan, Soni Farid Maulana, Ahda Imran, Nenden Lilis A., Iman Soleh, Juniarso Ridwan, Yayat Hendayana, Hawe Setiawan, dll.

Dalam sejarah film Indonesia, memang belum pernah ada buku kumpulan puisi tentang film. Para penyair, dalam buku tersebut – berbeda dengan pengamat atau kritikus film, mereka bicara tentang film Indonesia dengan daya ungkap yang lebih peka bahkan tajam, tidak bicara soal teknis, tapi mengingatkan hilangnya nilai kultural, identitas, serta rasa khawatir yang mendalam. Meskipun tetap memilihara optimisme. Ada juga yang mengungkapkan kenangannya, kesannya, terhadap sineas yang konsisten dengan sikapnya dalam melahirkan film-film yang berkualitas.

Buku “Puisi Film” sesungguhnya bisa menjadi sesuatu yang berarti, jika diapresiasi oleh berbagai pihak. Apalagi jika ada yang memprakarsai untuk dipentaskan dari kota ke kota. Melalui buku tersebut, setidaknya FFB mencoba untuk terus berbuat sesuatu bagi perkembangan film Indonesia.
Kini penyelenggaraan FFB lebih meningkat lagi, karena selalu dihadiri artis film/sinetron, tokoh film, pejabat, seniman budayawan, dll. Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, selalu hadir pada acara puncak FFB. Ketika Kapolda Jabar dijabat oleh Irjen Pol. H. Edi Darnadi, Pangdam III Siliwangi oleh Mayjen Sriyanto, Gubernur Jabar oleh H. Danny Setiawan, mereka pernah hadir pada puncak acara FFB. Juga Menteri Ir. Jero Wacik, dan Wali Kota Bandung H. Dada Rosada, SH.
Beberapa artis, tokoh, sineas, pernah mendapatkan penghargaan khusus FFB atas jasa dan  pengabdiannya, seperti Teguh Karya, Nyak Abbas Acup, Christine Hakim, Dicky Zulkarnaen, Arifin C. Noer, Garin Nugroho, Rachmat Hidayat, H. Rosihan Anwar, H. Misbach Jusa Biran, Kusno Sudjarwadi, Chitra Dewi, Nani Wijaya, Arman Effendy, Deddy Mizwar, dan Mieke Wijaya.
FFB, walaupun diselenggarakan di Bandung, walaupun tidak segebyar Festival Film Indonesia, tapi esensinya, tujuannya, idealismenya, tetap konsisten untuk ikut ambil bagian dalam meningkatkan kualitas film Indonesia, dan memasyarakatkan film-film terpuji.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar