Sabtu, Juni 21, 2014

1. Film Cerita


.
Film Cerita
Oleh  : Jakob Sumardjo


          Film adalah cerita yang dituturkan melalui serangkaian gambar-gambar fotografis yang bergerak.  Pada masa film belum bersuara, seluruh cerita hanya dituturkan melalui gambar-gambar bergerak itu, sedang kata-kata para pelaku cerita atau narasi untuk menjelaskan cerita ditulis pada layar yang sama. Setelah dikenal teknologi film yang menyertai bunyi dan suara manusia, maka film berupa penuturan cerita menyertakan suara para tokoh dan bunyi-bunyian yang menggambarkan situasinya.

Inti film cerita adalah bahasa gambar, bukan bahasa kata-kata. Ya apapun gunanya nonton film kalao jalan cerita harus mengikuti pembicaraan para tokohnya saja. Pada tahun 1970-an ada seorang teman yang rumahnya di belakang sebuah tempat pertunjukan film misbar alias gerimis bubar (penontonya) karena memang tak beratap. Tiap malam ia dapat megikuti jalan cerita film dari rumahnya hanya berbekal mendengar pembicaraan para pelaku film, sambil membayangkan kecantikan dan ketampanan suaranya, jahat dan baiknya melalui suara kasar yang membentak dan suara halus yang sabar.

Pada zaman film bisu diatas, orang tak mungkin tahu jalan cerita film tanpa menonton filmnya, bahkan tanpa suara atau bunyi apapun. Film memang untuk di tonton bukan untuk di dengarkan. Bahasa pokoknya adalah visual. Bukan auditif. Dengan melihat dia mengalami apa dampak yang beraneka ragam bagi setiap yang melihatnya. Sebuah gambar berisi seribu kata-kata, bunyi pepatah cina. Betapa hebatnya dampak visual bagi kehidupan seseorang, karena ia memberikan gambar pengalaman yang hanya dapat direkam oleh perasaannya.

Bahasa gambar dalam film adalah bahasa perasaan. Bahasa gambar dalam film bukan sekedar bahasa informasi yang memberitahukan tempatnya sepi, misalnya. Entah kamar yang sepi, jalan yang sepi, desa atau kampung yang sepi, semuanya itu digambarkan kualitas kesepiannya sehingga penonton benar-benar mengalami kesepian itu.

Begitu pula menggambarkan manusia yang kejam, kekejaman itu harus dapat diwujudkan dalam gambar bergerak tadi. Orang kejam tak perlu berteriak-teriak keras melulu, bahkan bisa amat membisu, tetapi ekspresi wajah dan tindak tanduknya menggambarkan kekejaman luar biasa yang belum pernah di lihat para penonton film umumnya. Hanya dengan bahasa visual semua itu dapat disuguhkan kepada penonton sehingga mereka mengalami peristiwa kekejaman yang tak disangka-sangkanya.

           Para penonton film biasanya akan selalu mengenang gambaran film yang memberikan pengalaman rasa yang mendalam itu seumur hidupnya yang akan dijadikan bagian dari jalan hidupnya.

           Bahasa visual sebenarnya masuk dalam rumpun seni rupa. Mereka yang mempunyai kepekaan kerupaan memudahkan dirinya untuk membangun bahasa visual film. Dia peka terhadap tata letak benda-benda atau manusia, atau benda dan manusia, hewan dan benda dan manusia. Bagaimana pula tata letak yang berubah dapat di pahami sebagai pemaknaan visual yang berubah pula. Untuk apa menggeser jarak benda-benda kalau tidak membawa dampak perubahan bermakna atas tuturan cerita.

Bahasa visual juga peka terhadap nuansa gelap-terang. Disamping gelap dan terang mampu memberikan kesan visual volume, tetapi juga membawa dampak perasaan bagi penonton. Kelemahan sinetron Indonesia adalah penggunaan bahasa visual yang terang benderang sepanjang masa jalan cerita. Pencahayaan demikian mungkin penting sebagai bahasa informasi, tetapi sebagai bahasa perasaan sama sekali datar-datar saja. Entah sedang menangis, sedang tertawa, sedang marah-marah, semuanya harus dalam cahaya terang benderang, seolah-olah takut penontonnya tidak mengerti saja. Inilah yang sering disebut membodohi penonton itu.

            Bahasa visual film dalam membawakan sebuah cerita bukan hanya sekedar memberi informasi sedang terjadi apa, tetapi juga bobot hidup yang dapat dijadikan pengalaman rasa bagi penonton. Orang mengenang sebuah film bukan karena ceritanya, tetapi bagian-bagian kecil adegan yang memberikan pengalaman mendalam bagi rata-rata penonton.


Bandung, 20 Juni 2014
Di tulis kembali oleh Eriko Utama,
Anggota Pengamat FFB (Forum Film Bandung)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar