Selasa, Mei 27, 2014

Kisah Anak Perawan Yang Disarang dan Disayang Penyamun

Oleh Eriko Utama

(FORUM FILM BANDUNG)

SETELAH hampir sebulan direncanakan, akhirnya Forum Film Bandung atau yang lebih dikenal dengan FFB memutar salah satu film klasik Indonesia yang berjudul "Perawan Disarang Penyamun" karya sutradara Indonesia pertama yaitu Usmar Ismail.

Setelah hampir sebulan direncanakan, akhirnya Forum Film Bandung atau yang lebih dikenal dengan FFB memutar salah satu film klasik Indonesia yang berjudul "Perawan Disarang Penyamun" karya sutradara Indonesia pertama yaitu Usmar Ismail.

Film yang diproduksi tahun 1962 oleh Perfini atau Perusahaan Film Indonesia merupakan salah satu tonggak sejarah dalam perkembangan film nasional yang cukup penting dan sekarang sangat jarang dipertontonkan ke khalayak ramai. Film ini biasanya hanya diputar  untuk konsumsi ilmiah dan pendidikan saja.

Pada hari Rabu, 21 Mei 2014, beberapa penonton muda yang merupakan perwakilan dari komunitas Ruang Film Bandung (RFB), Liga Film Mahasiswa (LFM) ITB, perwakilan mahasiswa dari Unpas, ITHB, Unikom juga beberapa perwakilan dari generasi muda yang bergerak di bidang advertising dan PH berkesempatan menonton.
            
cara ini juga dihadiri oleh Ketua Umum FFB Bapak Eddy D. Iskandar dan Ketua Regu Pengataman FFB Bapak Edison Nainggolan, serta beberapa anggota regu pengamat FFB seperti Ratna Juwita, Agus Safari, Herry KS,  Yana, Jajat, Arditio, dan lain-lain.  Pemutaran film ini dilakukan di Ruang Serba Guna, lantai 1, Sekretariat FFB, Jalan Sudirman No. 560 Bandung.

          

      
        Film berdurasi lebih kurang 1 jam lebih ini mendapatkan antusiasme dari penonton. Sebab, selain memiliki nilai sejarah, cerita, akting, tata sinematografinya merupakan pelajaran berharga bagi penggemar film khususnya untuk para sineas muda Bandung yang hadir di acara ini.

            Sebagai langkah awal dalam kegiatan yang direncakan diselenggarakan secara rutin tiap bulan oleh FFB, film ini merupakan contoh dari apresiasi yang sangat baik dari karya sastra terbaik yang dituangkan dalam kanfas rol film. Sebagai karya sastra, novel berjudul Anak Perawan Disarang Penyamun yang diterbitkan oleh Balai Pustaka di awal tahun 1930-an  dianggap sebagai salah satu tonggak peralihan karya sastra indonesia ke era Pujangga Baru dengan Sutan Takdir Alisyahbana sebagai pengarangnya.

            Karya Sutan Takdir Alisyahbana merupakan karya sastra  yang sangat layak untuk menjadi sumber cerita dalam film. Usmar Ismail sendiri, dikutip dari Madjalah Purnama, No, 17, Tahun I, April 1962, halaman 3, mengatakan bahwa  usahanya  merupakan suatu hal yang pertama kali dilakukan. Yakni melakukan ekranisasi karya sastra.

            Anak Perawan disarang Penyamun adalah sebuah roman gubahan pujangga Sutan Takdir Alisyahbana yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada awal tahun 1930-an. Dalam pertimbangan Usmar Ismail untuk memfilmkan novel Takdir Alisyahbana, tidaklah terdapat aspek-aspek komersil. Sebab buku Takdir bukan merupakan buku best-seller.



            Usmar Ismail  memilih untuk memfilemkan sebuah karya kesusastraan  terdorong hasratnya untuk  merintis sebuah tradisi baru, yakni suatu kerjasama  antara para sastrawan dengan para sineas  film.

            Ditilik dari sudut pandang ini dapatlah kiranya dikatakan bahwa Usmar Ismail itu suatu usaha pelopor (dikutip dari http://jurnalfootage.net/v4/kronik/kerjasama-sastrawan-dan-sinemawan-dirintis-anak-perawan-di-sarang-penyamun).

            Kepeloporan Usmar Ismail dalam menjadikan karya sastra ke dalam bentuk film ini patut mendapatkan apresiasi tinggi dan menjadi inspirasi bagaimana mengolah hasil karya sastra bermutu tinggi namun tak populer (tidak komersil) menjadi bentuk film yang juga bermutu tinggi.

            Dalam diskusi setelah pemutaran film, Eddy D. Iskandar mengatakan bahwa khususnya film Perawan Disarang Penyamun ini,   selain di dukung cerita yang berkualitas, juga penonton di suguhi detail setting yang bagus dan akurat, akting yang menonjol, detail busana, dan juga detail adegan yang menyiasati keterbatasan teknologi perfilman saat itu.

            Beberapa apresiator dari penonton mengemukakan bahwa menyaksikan film ini seperti menonton theater dengan setting di dalam hutan, pergerakan kamera dengan pengambilan long shoot dengan scene-scene yang teatrikal, dan pengambilan gambar yang bermakna banyak atau bahkan ibarat menggunakan bahasa visual puitis.



            Misalnya  Eddy menunjukkan adegan Sayu, sang perawan yang ada di film ini yang di perankan dengan apik oleh aktris cantik dimasa itu, Nurbani Jusuf, yang sedang gundah gulana di sungai, menangis, kamera dengan zooming in memperlihatkan butiran air mata lalu pindah ke gambar sungai mengalir dan suara air sungainya yang seakan akan menggambarkan bagaimana pilunya hati seorang wanita yang kedua orang tuanya meninggal dibantai para penyamun dan dirinya tertawan oleh mereka.

            Pola penggambaran seperti ini sudah sangat jarang kita temui di film-film nasional pada saat ini. Begitu juga kerapihan skenario yang memperlihatkan kerapian adegannya, dari tahap perkenalan tokoh, masalah, konflik, adegan puncak, sampai tahapan penyelesaian.



           Sebagai salah satu generasi yang tidak bersentuhan langsung dengan masa film ini beredar, maka saya sendiri memiliki apresiasi terhadap film ini seperti halnya sebagian besar penonton yang tidak mengenali karya sastra ini. Pola cerita ini serupa dengan karya klasik barat yang pada umumnya berakhir dengan kebahagian (happily ever after).

            Dari sisi cerita tentulah tema ini terkesan sangat kuno bagi pemikiran jaman sekarang yang mana dalam porsi kehidupan yang semakin komplek susah di terima ada perawan yang masih perawan di sarang para penyamun dan tidak "diganggu” oleh para anggota rampok yang pasti terkesan sangat garang dan sadis.

            Namun Usmar Ismail tidak banyak mengubah isi cerita yang sudah demikian kuat dari Novelnya, dan hanya memotong cerita bagian akhir yang apabila di baca dari novelnya, Medasing, sang ketua penyamun yang diperankan oleh aktor Bambang Hermanto, akhirnya menjadi orang kaya yang menikahi Sayu di Kota Pagaralam dan menjadi haji, tentu setelah menunaikan ibadah di Mekah.

            Usmar Ismail cenderung menamatkan film pada cerita Medasing dan Sayu bersama sama akan menuju ke kota saja dan tidak memperlihatkan adegan kekayaan mereka di kota. Di satu sisi, saya pikir ini adalah untuk memberikan efek agar film tidak serta merta sama dengan novelnya, dan kedua secara moral, pesan karya sastra  tahun 30an dan film yang di edarkan tahun 60-an memiliki pergeseran nilai moral, seperti contoh bahwa di era sekarang apalagi pasti memiliki penyelesaian berbeda karena secara moral, pergeseran nya sudah sangat terlalu jauh.

            Ketika Sutan menuliskan karya ini, maka kondisi Indonesia masih dijajah Belanda, dan secara cerdik Sutan Takdir Alisyahbana menuliskan perlawanannya tidak secara terang benderang untuk menghindari tuduhan Belanda bahwa karya sastra ini memuat hasutan, tapi melalui dialog Medasing yang menolak ajakan Sayu untuk kembali ke Pagaralam karena tak sudi ditangkap Belanda.


            Dialog ini merupakan kepiawaian Sutan dalam menyembunyikan maksud dari novelnya yang sebenarnya memiliki nilai perjuangan, penyamun sebagai entity yang dipilih Sutan sebagai subyek utama dalam novelnya bisa juga diartikan sindiran terhadap penjajahan kolonilisme. Sehingga Sutan sangat memerlukan penyelesaian akhir yang sangat Islam sebagai representasi pemikirannya dan pemikiran mayoritas masyarakat disaat itu apabila tobat yang paling kuat adalah naik haji sebagai akumulasi kesempurnaan rukun Islam dan pencitraan itu penting untuk memberikan kesan kalau perperangan antara tokoh jahat, dalam hal ini penyamun dan sayu sebagai tokoh baik namun tak berdaya dapat menang dengan doa, integritas dan pengorbanan yang baik sehingga tokoh jahat dapat menjadi baik.

            Kolonial saat itu sangat kuat dengan persenjataan dan infrastruktur yang lebih baik sangat jauh diatas kondisi rakyat Indonesia, tapi melalui novel ini Sutan yakin Indonesia dengan segala kelemahannya akan mampu menang. Usmar Ismail yang memproduksi film ini di tahun 1962 tentu tidak bisa serta merta memasukan ruh ini kedalam filmnya. Situasi pada saat itu adalah kondisi dimana Indonesia telah merdeka dan musuh yang dihadapi tidaklan senyata pada zaman novelnya di terbitkan.

            Ketika tahun 1962-1965 Indonesia sedang berada dalam konflik yang justru berada di bangsa Indonesia sendiri, antara golongan kanan, nasionalis dengan golongan kiri yang di motori komunis, tidak ada musuh seperti kolonial. Dunia sastra diguncang dengan perang urat sastra, melalui majalah dan koran, pada tahun yang sama dengan penayangan film ini, kritikan tajam dari sebuah essai yang diterbitkan di harian Bintang Timur pada tanggal 7 September 1962 oleh penulis yang menyebut dirinya Abdullah SP yang mengkritik karya sastra Tenggelangnya Kapal Van Der Wijk karya Hamka sebagai plagiat dari novel Magdalena karya sastrawan Mesir Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi yang juga hasil saduran dari novel Sous les Tilleuls karya pengarang Prancis, Alphonse Karr.

            Polemik ini seakan akan menandai perperangan antara golongan kanan dan nasionalis melawan golongan kiri atau komunis pada saat itu melalui media sastra. Hal ini berimbas kepada film ini, dikarenakan salah satu pemainnya diduga masuk dalam golongan kiri,film ini tidak dapat beredar luas di bioskop Indonesia.

            Memang tak mudah menganalisa kejanggalan mengapa film ini tidak dapat beredar, dilihat dari ceritanya secara verbal dan visual tidaklah menyinggung salah satu golongan, namun dugaan saya adalah, saya yakin Usmar Ismail adalah nasionalis, terbukti dari film-film berikutnya yang kebanyakan kental dengan sejarah perjuangan bangsa, dan juga dari kredit title di film yang sekilas saya baca banyak tulisan berisi ucapan terima kasih kepada personal militer.

            Dalam film ini sendiri lantunan ayat suci Al Quran secara lugas di tilawah-kan oleh sayu, dan di kredit title di awal film juga ada ucapan terima kasih kepada ibu-ibu pengajian, cukup membuktikan kalo film ini cukup “kanan”, sehingga alasan badan sensor film melarang peredaran film ini kemungkinan bisa jadi anggota BSF nya pada tahun-tahun tersebut di pengaruhi oleh golongan kiri yang beranggapan sang pengarang dari cerita film ini adalah musuh revolusi.

            Namun dibalik semua kontroversi tersebut, film ini patut di apresiasi tinggai sebagai hasil pertama kolaborasi sineas film dan sastrawan. Walaupun, ada Novel Siti Nurbaya yang terlebih dahulu di filmkan oleh Hindia Belanda dengan Sutradara seorang keturunan Tiongkok pada tahun 1942, namun tetap saja Perawan Disarang Penyamun merupakan hasil karya putra bangsa yang di produseri oleh Perfini yang merupakan perusahaan film nasional pribumi pertama sehingga hal ini tetap menjadi tonggak perpaduan karya sastra dan film.

            Sekarang kita mengenal Laskar Pelangi sebagai film terlaris saat ini di adaptasi dari novel dengan judul yang sama dari Andrea Hirata. Begitupun tidak jauh jauh dari FFB, Film "Gita Cinta dari SMA" merupakan adaptasi dari Novel berjudul sama buah karya Eddy D. Iskandar yang menjadikan film ini sebagai film remaja monumenal dan mengangkat Rano Karno dan Yessy Gusman sebagai idola remaja Indonesia saat itu.

            Patut menjadi catatan penting, dalam dua tahun terakhir, perfilman Indonesia mencetak angka tertinggi untuk film-film yang di adaptasi dari novel, seperti "5 Cm", "Cinta Brontosaurus", "Manusia Setengah Salmon", "Tenggelamnya Kapan Van Der Wijk",  dan masih banyak lagi yang lain.

            Mudah-mudahan apresiasi dari penonton film klasik ini dapat menginspirasi lahirnya karya-karya film yang bermutu.
           
Sampai Jumpa di pemutaran film klasik di bulan Juni berikutnya.






Bandung, 23 Mei 2014

1 komentar:

  1. Terima kasih sudah berbagi pengetahuan dan pengalaman yang berharga ini info selaput dara buatan

    BalasHapus