Kamis, Mei 01, 2014

Pengabdian Rahmat Hidayat Untuk Sinema Indonesia

Oleh Eddy D. Iskandar

(FORUM FILM BANDUNG)

KALAU saja tak ada Usmar Ismail, belum tentu nama Rachmat Hidayat akan dikenal sebagai seorang bintang film. Mungkin ia masih menjalani kehidupannya sebagai seorang jagoan yang disegani. Bahkan sutradara Usmar Ismail tertarik kepada Kang Rachmat (begitu ia biasa dipanggil), juga karena di hadapan Usmar, Kang Rachmat menunjukkan sosok jagoannya. Di tangan Usmar, Kang Rachmat yang pernah mengecap jadi Polisi Militer, kemudian menjelma menjadi seorang pemain yang menonjol aktingnya.

Beberapa film karya Usmar Ismail yang dibintangi Kang Rachmat, antara lain Toha Pahlawan Bandung Selatan, Anak Perawan di Sarang Penyamun, The Big Village, dan Ananda.

”Akang banyak menimba ilmu dari Pak Usmar. Beruntung Akang ditemukan oleh seorang sutradara yang dikenal sebagai pelopor perfilman Indonesia”, ungkap Kang Rachmat. Tentu keberuntungan Kang Rachmat bukan hanya sampai di situ. Ia juga merasa beruntung, sebab pernah merasakan arahan sutradara yang menonjol reputasinya, misalnya dalam film Flamboyant (Syuman Djaya), Senyum di Pagi Bulan Desember (Wim Umboh), Tikungan Maut (Nyak Abbas Akup), Bos Carmad (Chaerul Umam), Kasmaran (Slamet Rahardjo), Pacar Ketinggalan Kereta (Teguh Karya), November 1828 (Teguh Karya),  Buce Malawau (Potret), dan lain-lain.



Tahun enam puluhan, Kang Rachmat sempat jadi produser dan pemeran utama film Tikungan Maut, berpasangan dengan Nani Wijaya. Tentang film tersebut, Slamet Rahardjo yang sempat menyaksikannya beberapa tahun lalu, merasa sangat terkesan dengan akting Kang Rachmat yang dianggapnya begitu kuat. Soal kekuatan akting, tidak hanya tergambar dari penilaian Slamet, sebab Kang Rachmat juga pernah mendapatkan penghargaan Piala Citra sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik melalui film Pacar Ketinggalan Kereta, dan Pemeran Pembantu Terbaik melalui film Bos Carmad. Bahkan tahun enam puluhan, ia pun mendapatkan penghargaan sebagai Aktor Terbaik dari PWI Jaya Seksi Film. 

Kalau di masa muda Kang Rachmat pernah merasakan diburu produser sebagai bintang idola, maka pada masa tuanya pun popularitasnya seakan  tak pernah pupus. Buktinya ia mampu mengimbangi popularitas Si Kabayan (Didi Petet), melalui perannya sebagai Abah dalam film produksi kerjasama PT Kharisma Jabar Film dan Pemda Provinsi Jabar, Si Kabayan Saba Kota, Si Kabayan dan Gadis Kota, Si Kabayan dan Anak Jin, Si Kabayan Saba Metropolitan, dan Si Kabayan Mencari Jodoh. Bahkan gerutuannya yang khas, begitu dikenal khalayak, yakni ucapan Si Borokokok! Film‑film lainnya yang dibintangi Kang Rachmat, Sanrego, Mat Peci Pembunuh Berdarah Dingin, Beningnya Hati Seorang Gadis, Dalam Kabut dan Badai, Gadis Marathon, Jual Tampang, dan lain-lain. Ketika produksi film Indonesia mengalami masa surut, seperti halnya pemain film lain, Kang Rachmat juga main dalam sinetron. Bahkan ia memerankan tokoh utama dalam sinetron produksi Indosiar yang begitu populer Pondok Pak Djon. Sinetron tersebut, dibuat lebih dari seratus episode.

PENGABDIAN Kang Rachmat, tidak hanya ditunjukkannya dengan mengukir prestasi melalui film. Ia juga menjadi Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Cabang Jabar. Kedudukannya sebagai ketua, seolah tak tergantikan, sebab sosoknya begitu disegani, mau banyak berkorban demi kepentingan organisasi. Kebanyakan produser atau sutradara yang hendak melakukan syuting di Bandung, seringkali mengadakan konsultasi dengan Kang Rachmat, sebab ia memang dituakan, dijadikan tempat bertanya dan meminta pendapat. Dan Kang Rachmat pun tak segan‑segan untuk membantu dan memberi dukungan moril. Di bawah kepemimpinannya, Parfi Jabar begitu solid dan disegani Parfi Pusat. Bahkan dalam setiap pemilihan Ketua Umum Parfi Pusat, suara Parfi Jabar selalu jadi penentu. Tidak heran kalau Kang Rachmat juga sempat diusulkan untuk menjadi Ketua Umum Parfi Pusat, tapi ditolaknya. Bagi Kang Rachmat, memajukan artis dan perfilman Jabar jauh lebih penting dan memiliki kepuasan tersendiri. Sama halnya dengan sikapnya untuk tetap tinggal di Bandung. Kalau saja sejak dulu Akang mau pindah ke Jakarta, pasti kehidupan materi Akang akan jauh lebih baik. Di Jakarta kan pusatnya produksi film, Akang akan dengan mudah main dari satu film ke film lain, sebab umumnya sutradara dan produser begitu dekat dengan Akang, tutur Rachmat beberapa tahun silam.

Tapi Kang Rachmat tidak tergiur untuk pindah ke Jakarta. Ia memilih didugdag dari Bandung ke Jakarta untuk syuting film. Bahkan tahun enam puluhan, ia masih kuat menggunakan Harley Davidson dari Bandung ke Jakarta. Salah satu alasan enggan pindah ke Jakarta, karena Akang sangat mencintai Bandung, dan Akang ingin selalu mengharumkan nama Bandung. Di kalangan artis film Jakarta saat itu, Kang Rachmat juga begitu disegani. Semua memanggilnya dengan sebutan Akang. Malah kalau ada konflik di lingkungan Parfi, atau di kalangan artis film, ia selalu jadi juru damai. Kehadirannya senantiasa mampu meredam konflik.

TAHUN 2003, sosok Kang Rachmat sepertinya tak begitu mencuat. Aktivitasnya tidak banyak diketahui. Tiba‑tiba, banyak yang merasa kaget, ketika muncul berita Kang Rachmat kena serangan stroke. Banyak yang tak percaya, sosok lelaki tampan berbadan kekar itu mendapat serangan penyakit yang bisa melumpuhkan profesinya. Dalam usia 70 tahun, sebelum mengalami stroke, ia masih tetap gagah, meskipun rambutnya memutih dan garis ketuaannya kian menguat.

Tapi begitu mengalami stroke, berat badannya agak menyusut. Saya sendiri sangat terharu, sewaktu Kang Rachmat datang menghadiri resepsi pernikahan putri saya. Ia berjalan tertatih‑tatih dengan menggunakan tongkat, menyalami dan merangkul saya dengan mata berkaca‑kaca. Tapi saya juga begitu bersyukur, sebab Kang Rachmat bisa bertemu dengan tokoh film yang begitu dekat dengannya H. Misbach Jusa Biran dan istrinya Hj. Nani Wijaya, yang juga hadir dalam resepsi itu.

Ketika kemudian Kang Rachmat ditampilkan sebagai cover tabloid Sunda Galura, kepada wartawan Galura M. Malik dan Herry K.S., Kang Rachmat menceritakan penyebab penyakit stroke. Akang diundang makan oleh sahabat Akang zaman muda. Ia menyediakan makanan favorit Akang, yaitu semur jengkol dan petai serta ikan asin. Entah kenapa, saat itu Akang merasakan nikmat yang luar biasa. Setelah pulang ke rumah, Akang mengalami pusing dan selanjutnya kena stroke.

Yang luar biasa, karena Kang Rachmat menceritakan semua pengalaman sakitnya itu tidak dengan mengeluh, tapi dengan penuh canda. Semangatnya untuk memulihkan stamina juga sangat kuat. Ia disiplin berlatih jalan kaki, agar bisa berjalan tanpa tongkat lagi. Ia juga sering diajak mancing oleh rekan‑rekannya yang sudah lanjut usia. Beberapa orang sineas, ada yang datang menengoknya, antara lain Slamet Rahardjo.

Bahkan ada yang memaksa menawari main sinetron. Tapi Kang Rachmat ingin main sinetron lagi dalam kondisi fisik yang lebih baik. Kendati pun didera penyakit yang ditakuti banyak orang di usia lanjut, semangatnya untuk main dalam film atau sinetron tak pernah pudar. Bisa jadi karena ia merasa total ada di dunia film. Hanya itu yang jadi ladang penghasilan dan kebanggaan Akang, ujarnya. Rachmat Hidayat, bagaimana pun juga seorang aktor berprestasi yang besar jasa dan pengabdiannya terhadap film Indonesia, bahkan juga mengharumkan Bandung ‑ kota yang begitu dicintainya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar