Kamis, Mei 01, 2014

Paradoks Dalam Film “Jalanan”

Oleh Endah Asih Lestari
(FORUM FILM BANDUNG)

TIGA pekan sebelum ditayangkan di Bandung, "Jalanan" banyak menyedot perhatian. Tak hanya pelaku di dalam industri perfilman, kritikus film pun memberikan aspirasi -mayoritas- positif. Tak ketinggalan, netizen pun bereaksi lewat kicauan di dunia maya.

Sempat tersembul pertanyaan, apakah peredaran film ini akan sampai ke Bandung? Kalau tidak, artinya saya harus datang ke Jakarta untuk melampiaskan rasa penasaran.

Untungnya, tidak perlu. Pekan lalu, "Jalanan" (Streetside) ditayangkan di bioskop Kota Bandung. Hanya ada satu jaringan XXI yang menayangkan, yaitu Trans Studio Mall. So, here I am. Berada di studio 7 TSM bersama sembilan penonton lainnya. Dari detik pertama film bergulir sampai credit title selesai, kami -yang tak saling mengenal- benar-benar tak meninggalkan tempat duduk.



Marjinal adalah frase yang menjadi nafas film ini. Film dokumenter ini mengisahkan tiga musisi jalanan: Boni, Ho, dan Titi. Meski banal, film ini menelanjangi cukup banyak aspek kehidupan kaum marjinal yang jarang tersentuh keberpihakan. Uniknya, lewat serangkaian kisah, penonton justru berpihak karena bersimpati kepada ketiga tokoh yang menjadikan sequence bergulir.

Hal yang menjadikan film dokumenter ini bernyawa, adalah jarak yang ditepis sedimikian rupa antara kamera dengan objek yang diceritakan. Menampilkan fakta laten, film dokumenter ini menyuguhkan beberapa hal tertutup dari suatu fenomena yang sebenarnya terbuka dan mudah ditemui siapapun.

Tak ada kesan canggung. Hanya ada kedekatan yang sederhana. Untuk poin ini, pujian saya berikan kepada sutradara sekaligus produser (dan atas banyak peran lain yang dilakukan sendiri), kepada sang sutradara, Daniel Ziv.

Meminjam istilah Boni, kehidupan yang didokumentasikan pada kisah milik Boni, Titi, dan Ho, ibarat memaku besi. Saat diketuk, paku bukannya masuk, malah penyok. Narasi awal itu cukup menggambarkan keseluruhan kisah.

Diawali dengan kontradiksi city light Jakarta dengan kehidupan "kolong", bagian pembuka film ini cukup memukau. Paradoks terjadi ketika kamera menyorot dua arah (meski di lokasi yang sama). Jika permukaan yang terlihat adalah bangunan tinggi dan mewah, maka pemandangan dari kolong jembatan sederhana saja: seperti hutan yang natural.

Dalam dokumenter ini, penonton disajikan banyak cerita. Mulai dari rumah tangga Boni dengan istrinya yang menempati kolong jembatan di sekitar Bundaran HI, kisah hidup Titi yang menjadi single parent namun tetap memiliki keinginan untuk belajar, hingga percintaan Ho yang on off.

Meski proses syuting tidak berlangsung setiap saat, namun waktu lima tahun yang dimiliki Daniel sudah lebih dari cukup untuk menampilkan konsistensi dan keintiman dengan tokoh. Ada pertengkaran antara Boni dan istri, perjalanan pulang Titi, hingga rayuan tawar menawar Ho dengan salah seorang pekerja seks komersial. Bilik renyot di pinggir kali (dan tentunya penonton) menjadi saksi betapa jarak antara pembuat dan pelaku film tak menjadi soal.

Ada pula tatapan nanar Boni yang terekam jelas saat melihat "rumah"nya dibongkar aparat, hingga kencan pertama dan hari pernikahan Ho yang terdokumentasikan dengan baik.

Hanya saja, beberapa narasi dalam film ini terlihat kurang jujur. Tokoh mengeluarkan isi pikirannya di depan kamera, namun terlihat seperti akting bernaskah di beberapa bagian.

Misalnya saat Ho sedang mengamen dan terjaring petugas Tramtib. Dia lalu digelandang ke sebuah tempat penampungan penyandang masalah kesejahteraan sosial. Sejak awal penertiban, kamera Daniel setia mengabadikan momen. Bahkan ketika Ho berada di atas mobil penertiban, hingga di dalam barak.

Di situ, posisi Daniel sebagai jurnalis mungkin menguntungkan sehingga bisa mendapatkan akses masuk. Namun entah mengapa, ada beberapa bagian yang terasa kurang natural, layaknya film dokumenter sebenarnya. Biasanya, realita yang terekam kamera dalam film dokumenter akan bercerita dengan sendirinya. Bukan narasi yang utama bercerita.

Beberapa dramatisasi juga sepertinya sengaja dibuat, untuk meracik kisah agar lebih menarik. Topik "umpatan" yang konsisten hadir, adalah soal susahnya hidup di ibu kota, krisis moneter, reformasi, hingga "masturbasi". Klise, namun cukup menohok.

Untuk sebuah film dokumenter, sudut pengambilan kamera di film ini cukup menimbulkan kesan. Meski banyak dilakukan secara handheld, pergerakan gambar dan angle yang disorot cukup memberikan nuansa segar.

Dikemas dalam sajian yang semi musikal, soundtrack dan musik pengiring latar dalam film ini cukup melenakan. Racikan melodi balad hingga rock and roll yang berkarakter, efektif menahan kantuk meski saat adegan bergulir dengan lambat.

Apapun kesan personal yang tinggal di benak penonton, rasanya tak menjadi soal lagi. Lewat kisah dan penggarapan yang disodorkan, "Jalanan" sangat memberikan warna baru dalam film dokumenter Indonesia.


Beberapa penghargaan internasional telah diraih, seperti Busan International Film Festival (BIFF). Pekan depan, "Jalanan" juga akan diputar dalam Tel Aviv International Documentary Film Festival. Bukan tak mungkin, "Jalanan" akan diganjar penghargaan serupa di negerinya sendiri. Setidaknya, kesempatan berupa waktu penayangan yang cukup panjang di bioskop tanah air bisa didapatkan. Toh biasanya, kesempatan itu tak didulang oleh film dokumenter lain.

3 komentar:

  1. keren reviewnya :) mulai dari pertengahan film saya menjadi curiga, apakah ini di sutradai oleh orang indonesia? ternyata bukan ya... karena apa? kalo orang indonesia yang men-syut film ini pastu adegan tangis dan melodramatik nya akan ada dimana mana, sementara film ini berisikan optimisme....liat aja adegan boni dan istrinya ketika rumahnya dibongkar, walaupun terkesan di rekayasa, tapi maksud dari adegan yang disampaikan optimistik sekali...bayangkan kalo orang indonesia sendiri yang jadi directornya, pasti adegannya berisi tangisan pilu istrinya boni..mendayu dayu dan sangat meminta belas kasihan... bravo buat jalanan dan tulisan endah :)

    BalasHapus
  2. Cikacik buduk ikan tongkol
    Sambil duduk megangin tongkol oh yeah

    BalasHapus
  3. Cikacik buduk ikan tongkol
    Sambil duduk megangin tongkol oh yeah

    BalasHapus