Kamis, Maret 27, 2014

Peranan Orang Sunda dalam Jagat Perfilman Indonesia

Oleh Eddy D. Iskandar

JIKA menyimak sejarah film Indonesia, terutama yang ditulis oleh dua orang pengamat film, H. Misbach Jusa Biran dan Gayus Siagian, maka peran orang Sunda dalam perjalanan sejarah film Indonesia demikian besar. Menurut Misbach :"Film cerita pertama buatan dalam negeri lahir di kota Bandung dari tangan L. Heuveldorp dan G. Krugers. Ceritanya Lutung Kasarung, legenda terkenal dari Jawa Barat; kisah sekitar putri Raja, Pangeran, dan turunan Dewa dari Kahyangan. Penggarap yang bernama Heuveldorp adalah Belanda totok, yang kata koran, telah banyak berpengalaman menyutradarai di Amerika. Tapi produksinya, yang digarap pada tahun 1926 dengan cara primitif itu, hanya cukup menjadi bahan berita ala kadarnya. Sesudah film tersebut, nama Heuveldorp tidak pernah terdengar lagi. G. Kruger masih terus melanjutkan.” (Selintas Kilas Sejarah Film Indonesia, penerbit Badan Pelaksana FFI 1982, hal, 5).

Film "Loetoeng Kasaroeng" dibuat tahun 1926 oleh NV Java Film garapan L. Heuveldorp dan G. Krugers. L. Heuveldorp sebelumnya sudah berpengalaman di Amerika, terutama dalam bidang penyutradaraan. Sedangkan G. Krugers, seorang Indo-Belanda asal Bandung, adik mantu dari Raja Bioskop Bandung, Buse. Film "Loetoeng Kasaroeng" diputar selama satu minggu di Bandung, tanggal 31 Desember 1926 sampai dengan 6 Januari 1927, dan cukup sukses.

Bupati Bandung RAA Wiranatakusumah V, atau yang sering disebut Dalem Haji sangat besar jasanya dalam mewujudkan lahirnya film “Lutung Kasarung”. Keberhasilan Heuveldorp dan Krugers dalam mewujudkan film "Loetoeng Kasaroeng", sedikit banyak berkat dukungan Bupati Bandung RAA Wiranatakusumah V, yang sangat menyukai cerita legenda Sunda.

Wiranatakusumah memang memiliki kebanggaan dan perhatian besar terhadap seni budaya Sunda, salah satu usahanya dengan mengenalkan lebih luas cerita legenda yang hidup di Tatar Sunda melalui seni pertunjukkan. Kwiet de Jonge dan Mr. Pleyet menggarap cerita klasik Lutung Kasarung menjadi sebuah pertunjukkan sandiwara yang ditampilkan dalam Java Congres (Kongres Jawa) di Bandung pada tahun 1921. Pertunjukkan yang menghabiskan biaya cukup besar itu, mendapat sambutan positif dari peserta kongres juga para pengamat.

Bahkan melalui pertunjukkan tersebut, Tembang Sunda menjadi populer. Wiranatakusumah sendiri sudah mengenal Tembang Sunda klasik sejak menjadi Bupati Cianjur Tidak puas hanya dalam bentuk pertunjukkan sandiwara, ketika Krugers dan Heuveldorp mempunyai rencana untuk membuat film Lutung Kasarung, Wiranatakusumah bersediamenunjang biaya pembuatan film tersebut..

Pemain-pemainnya, semua warga pribumi - para priyayi, terutama kerabat bupati Wiranatakusumah. Yang dipercaya untuk memilih pemain juga melatih gerak dan akting dalah Raden Kartabrata, seorang guru kepala. Kartabrata memiliki peranan penting dalam mengarahkan para pemain.

Pembutan film Lutung Kasarung berjalan lancar, karena untuk segala macam fasilitas di lapangan didukung oleh berbagai pihak, termasuk kesatuan Zeni yang memberikan bantuan lampu sorot.
Sosok "lutung" dimainkan oleh Martonana, sedang setelah menjelma jadi pangeran diperankan oleh Oemar. Untuk menggambarkan Kahyangan - tempat bersemayam Sunan Ambu, dipilih sebuah lubang pada batu karang yang sebelumnya didinamit dulu.


Pertunjukkan perdana film "Loetoeng Kasaroeng" berlangsung di bioskop kelas satu Elita yang terletak di alun-alun Bandung, dan di bioskop Oriental, pada Jum'at malam 31 Desember 1926. Sengaja dipilih malam tahun baru, untuk menarik perhatian penonton. Promosi film tersebut cukup gencar, antara lain melalui mingguan De Locomotief , koran Kaoem Moeda, an De Indische Telegraaf.

Karnadi dan Eulis Acih
PERMULAAN tahun 1920, di Bandung berdiri perusahaan film NV Java Film Company
yang didirikan L. Heuveldorp dan G. Krugers. Pada awalnya, perusahaan film tersebut banyak membuat film dokumenter. Tetapi pada tahun 1926, NV Java Film Company mulai membuat film cerita berdasarkan cerita rakyat Sunda "Loetoeng Kasaroeng". L. Heuveldorp yang menjadi sutradara merangkap produser, sedangkan G. Krugers menjadi piƱata kamera. Film "Loetoeng Kasaroeng" diputar pertamakali di Elita dan Oriental Bioscoop, Bandung.

Setelah film "Loetoeng Kasaroeng", Heuveldorp tidak kedengaran aktivitasnya lagi, sedangkan G. Krugers pada tahun 1927 mendirikan perusahaan film sendiri Krugers Filmbedrijf. Produksi filmnya, antara lain "Eulis Atjih", dan "Karnadi Anemer Bangkong", berdasarkan buku karya sastrawan Sunda, Joehana.

Buku "Karnadi Anemer Bangkong" merupakan buku yang cukup laris. Tapi ketika dibuat film, banyak yang protes, sebab dalam film tersebut ada adegan orang pribumi (Karnadi) makan bangkong (kodok) karena dagangannya tidak laku. Adegan tersebut dianggap mempermalukan orang Sunda. Karnadi sendiri memang seorang pemuda buruk rupa, bandar bangkong (pemborong katak), yang ingin mempersunting gadis cantik bernama Eulis Awang.

Buku karya Joehana lainnya yang dibuat film "Eulis Atjih", sebuah drama rumah tangga. Film tersebut diputar di Bandung bulan Agustus 1927. Sedang di Surabaya diputar di bioskop Orient dari tanggal 8 hingga12 September 1927. Koran Pewarta Soerabaja memberikan resensi yang baik, bahkan melaporkan bahwa selama pertunjukkan film tersebut selalu dibanjiri penonton. Bahkan film "Eulis Atjih" sempat diputar di Singapura.

Kisah "Eulis Atjih" dibuat kembali tahun 1954 oleh Ardjuna Film milik Tan & Wong, disutradarai Rd. Arifin. Pemainnya S. Bono sebagai Arsad, dan Sri Uniati sebagai Eulis Atjih. Dalam film tersebut, nama pengarangnya dicantumkan.

Yang menarik, dalam laju perjalanan produksi film Indonesia, cukup banyak film Indonesia yang mengambil setting atau cerita dari Tatar Sunda, kecuali "Loetoeng Kasaroeng", ada lagi film "Bunga Ros dari Cikembang" (1930), "Rampok Preanger", "Tjiandjoer" (1938), "Tjiung Wanara" (1941), "Airmata Mengalir di Tjitarum", dll. Bahkan dalam film "Tjiandjoer" garapan The Teng Chun, begitu kental menampilkan warna kasundaan, dengan menampilkan lagu-lagu Sunda.

Tahun 1960-an NV Perfini pernah bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Bandung, yang waktu itu dipimpin oleh Bupati Kabupaten Bandung, R. Memed Ardiwilaga BA, membuat film "Anak Anak Revolusi" yang disutradarai Usmar. Para pemainnya; Soekarno M. Noer, Wahab Abdi, Mieke Wijaya, Rita Zahara, Rachmat Hidayat, Arman Effendy, dan Rikrik RM.

Kemudian tahun 1961, Perfini bekerjasama dengan Daswati (Daerah Swatantra Tingkat) II Bandung menggarap film "Toha Pahlawan Bandung Selatan" disutrdarai oleh Usmar Ismail. Pemeran utamanya Ismed M. Noer, Mieke Wijaya dan pendatang baru dari Bandung Mila Karmila.
Pada tahun yang sama perusahaan film di Bandung, Harapan Film, menggarap film "Karena Daster" yang disutradarai Nawi Ismail. Pemainnya; Mang Topo, Us Us, Noortje Sopandi, dan Mila Kamrmila. Harapan Film kemudian membuat film "Panon Hideung", masih dengan sutradara yang sama, juga pemainnya sama; Us Us dan Noortje Sopandi.

Tahun 1966, PT Bandung Azwa Film Corp. membuat film "Tikungan Maut" yang disutradarai Nyak Abbas Acup. Pemeran utamanya Rachmat Hidayat dan Nani Wijaya. Dalam film tersebut, Rachmat sedang menggandrungi motor besar, memerankan tokoh dengan nama yang sama, akibat putus asa ia nead ingin mati di arena balap. Karena kehabisan biya, filmnya sendiri baru selesai tahun 1968 dan beredar tahun 1973.

Tahun 1975, bintang film asal Bandung Tuty Soeprapto, mendirikan PT Diah Pitaloka Film, film pertamanya "Si Kabayan" yang dibintangi oleh Kang Ibing dan Lenny Marlina. Lenny Kebaya Daya Mahasiswa Sunda, yang langsung dipercaya oleh sutradara Usmar Ismail menjadi pemeran utama film "Ananda". Melalui film tersebut, Lenny mendapatkan penghargaan dalam Festival Film Asia Pacifik. PT Diah Pitaloka kemudian membuat film "Dukun Beranak" (Paraji Sakti), dan kisah nyata "Mat Peci Pembunuh Berdarah Dingin".

Film "Si Kabayan" dan "Dukun Beranak" cerita/skenarionya ditulis oleh sastrawan Sunda terkemuka Rachmatullah Ading Affandi (RAF). Tahun 1989, PT Kharisma Jabar Film melakukan kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jabar – yang saat itu dipimpin oleh Gubernur Jabar H. Yogie S. Memet, menggarap film "Si Kabayan Saba Kota", "Si Kabayan dan Gadis Kota", "Si Kabayan dan Anak Jin", serta "Si Kabayan Saba Metropolitan". Ketika Yogie diganti oleh Gubernur baru H.R. Nuriana, produksi kerjasama masih berlanjut dengan menggarap film "Si Kabayan Mencari Jodoh".

Rd. Mochtar Sang Bintang Idola
SEKITAR tahun 1933, seorang lelaki berperawakan tinggi tegap, berwajah tampan, mengendarai motornya di Jalan Braga. Ia merasa kaget, sewaktu sebuah mobil menguntitnya dari belakang. Apalagi karena pada masa itu sedang hangat-hangatnya dilakukan pemberantasan terhadap para pelaku homoseks. Ia mengira, jangan-jangan Belanda yang menguntitnya itu menyangka dirinya lelaki homo, atau sebaliknya orang Belanda itu sendiri yang homo. Ternyata orang Belanda it uterus mengikutinya hingga ke rumah. Dan diluar dugaan Rd. Mochtar – nama lelaki itu, orang Belanda itu memperkenalkan namanya, Albert Balink, produser dan sutradara film.

"Rupanya ia sudah lama memperhatikan wajah saya, karena kemudian ia langsung menawari saya main dalam film Pareh. Saya tidak segera menerima tawaran itu, bahkan mencoba menolak. Tapi Albert Balink terus meyakinkan saya, bahwa sayalah orang yang paling tepat untuk pemeran utama dalam film tersebut.", ungkap Rd. Mochtar, ketika tahun 1984 mengantar penulis untuk mencari lokasi pabrik gaplek di daerah Bojongloa, yang pernah dijadikan tempat perusahaan film Wong Brothers.

Memang, Albert Balink sudah berbulan-bulan mencari pemain yang cocok dengan apa yang diinginkannya, seorang pemuda desa yang menarik dan gagah. Semua itu justru ada pada sosok Rd. Mochtar. Sedangkan pasangan R. Mochtar dalam film "Pareh", R. Soekarsih, terpilih menjadi pemeran utama wanita dalam film tersebut, juga diluar dugaannya. Ketika itu, ia yang berasal dari Cihonje, Ciawi, Tasikmalaya, mengantar ibunya ke Bandung, berkunjung ke rumah familinya. Saat itu tersiar kabar, Albert Balink membutuhkan seorang pemain wanita untuk film "Pareh". Kakak sepupu R. Soekarsih, nampaknya berminat untuk melamar. Ia mengajak Soekarsih menemui Albert Balink. Tapi Albert Balink justru lebih telaten menanyakan alamat Soekarsih, bahkan berkali-kali memotret Soekarsih. Akhirnya, Albert Balink memilih Soekarsih yang saat itu baru berusia 14 tahun, untuk pemeran utama film "Pareh". Pasangan Rd. Mochtar dan R. Soekarsih kemudian merajut cintanya hingga ke pelaminan. Dan usia perkawinan keduanya langgeng sampai akhir khayat. Dalam dokumentasi film di Sinematek Indonesia, film "Pareh" dibuat pada tahun 1935. Tapi menurut Rd. Mochtar, film tersebut dibuat pada tahun 1933 dan beredar pada tahun 1934.

Menurut H. Misbach Jusa Biran, dokumentasi film "Pareh" masih tersimpan di Belanda. "Film Pareh memang merupakan film Indonesia pertama yang sanggup menarik perhatian luas. Pareh menceritakan percintaan yang dilarang oleh adapt lama, antara anak petani dan nelayan. Banyak yang menulis dan memuji. Franken memperkenalkan kepada film Indonesia camera set up yang dinamis dan artistik. Dan sebagaimana keahlian Franken, maka segi documenter dari film ini menonjol. Dalam pemasarannya film tidak mampu mengembalikan modal pembuatan yang begitu besar. Khsususnya karena penonton pribumi dan Cina tidak cukup terpanggil. Balink dan Wong bangkrut." (H. Misbach Jusa Biran, "Selitas Kilas Sejarah Film Indonesia", hal. 9).

Sistim pembayaran honorarium saat itu, menurut Rd. Mochtar dihitung perbulan. Tiap bulan Rd. Mochtar menerima 100 gulden, sedangkan Soekarsih 50 gulden. Lama pembuatan filmnya sekitar satu tahun.
Film "Pareh" yang diproduksi oleh Java Pasific Film, memang sangat menonjol kekuatan gambar-gambarnya. Tidak salah kalau Albert Balink mendatangkan seorang tokoh film dokumenter dari Belanda, Mannus Franken, yang diberi kepercayaan menyutradarai film "Pareh".

Albert Balink adalah seorang Indo Belanda, wartawan koran domestik berbahasa Belanda "De Locomotief". Ia tidak punya pengetahuan apa-apa tentang cara pembuatan film, kecuali dari buku. Ia hanya punya ambisi besar membuat film cerita yang hebat. Setelah berhasil mendapatkan modal pinjaman, ia mengajak Wong Bersaudara melakukan kerjasama menggarap film "Pareh". Saham Wong adalah peralatan dan menangani teknis, sedangkan uang dan penyutradaraan urusan Albert Balink (penyutradaraan dipercayakan kepada Mannus Franken). Kenyataannya, meskipun film "Pareh" dianggap sebagai film bermutu dan film penting, tapi film tersebut membuat mereka bangkrut.

Melalui perusahaan film lainnya, Algemen Nederlandsch Indie Film (ANIF), Albert Balink bersama Wong Bersaudara mampu menebusnya dengan film "Terang Boelan" (1937), yang sukses luar biasa, hingga mendatangkan keuntungan yang melimpah ruah, akibatnya nasib Wong Bersaudara yang terancam bangkrut jadi tertolong.

Film "Terang Boelan", menggambarkan kehidupan desa dengan tekanan pada romantik bulan purnama, diiringi tari dan nyanyi yang ditampilkan oleh glamour girl, Miss Roekiah, yang bergaya ala Dorothy Lamour, bintang Hollywood saat itu yang paling mashur.
Rd. Mochtar dan Miss Roekiah, boleh dibilang sebagai bintang idola pertama dalam sejarah film Indonesia. Keduanya begitu dipuja dan digandrungi masyarakat saat itu. Roekiah, kelahiran Bandung, usianya terbilang pendek. Lahir 1917 dan meninggal tahun 1937. Ia menikah dengan orang film juga, Kartolo, dan kelak melahirkan seorang putra yang dikenal sebagai penyanyi "Patah Hati", juga pemain film, Rachmat Kartolo.

Tarzan Indonesia
KEHADIRAN orang Sunda dalam pentas film Indonesia terus melaju berkesinambungan. Bahkan banyak yang melesat jadi bintang idola, bintang yang digandrungi masyarakat. Tahun 1939, Java Industrial Film (JIF) menggarap film "Alang-Alang" yang disutradarai Tan TengChun, sebuah film yang melahirkan julukan "Tarzan Indonesia" bagi pemeran utamanya, Moch. Mochtar.

Selanjutnya, makin banyak saja orang Sunda yang kemudian dikenal sebagai bintang idola, antara lain Sofia WD ("Air Mata Mengalir di Citarum"), Komalasari ("Ratapan Ibu", 1950), Bing Slamet ("Menanti Kasih", 1950), Tina Melinda ("Lutung Kasarung", 1952), Tuty S. ("Ibu dan Putri", 1955), Dian Anggraeni ("Guntur", 1955), Titin Sumarni "Lewat Jam Malam", 1954), Nany Wijaya ("Darah Tinggi", 1960), Noortje Sopandi ("Karena Daster", "Panon Hideung", 1961), Rahayu Effendi ("Matjan Kemayoran"), hingga Rachmat Hidayat dan Mila Karmila yang muncul melalui film "Toha Pahlawan Bandung Selatan" (1961).

Khusus menganai Rachmat Hidayat, ia akan tercatat sebagai aktor penuh prestasi yang tetap konsisten tinggal di Bandung. Berkali-kali menerima penghargaan Piala Citra, Piala PWI Pusat, dan Piala FFB. Dedikasinya juga tak diragukan lagi, sebab ia terus menerus terpilih menjadi Ketua Persatuan Artis Film (Parfi) Jawa Barat. Puluhan film dan sinetron telah dibintanginya. Ia mendapatkan Piala Citra sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik melalui film "Pacar Ketinggalan Kereta" (Teguh Karya - 1979), dan Pemeran Pembantu Terbaik melalui film "Boss Carmad" (Chaerul Umam). Rachmat juga sempat menjadi produser "Tikungan Maut" karya Nyak Abbas Acup ((1966) berpasangan dengan Nany Wijaya.

Patut dicatat pula nama-nama bintang film asal Bandung yang muncul dalam film tempo dulu, seperti Ining Resmini dan R.Oemar Partasoewanda yang tampil dalam film "Rampok Preanger" (1928), "Lari ke Arab" (1930), dan "Si Pitung" (1931). Ining, dikenal sebagai penyanyi keroncong terkenal dari radio Nirom, Bandung.

Kiprah orang Sunda di dunia film terus berlanjut hingga sekarang, bahkan pada saat menjamurnya sinetron. Yang menonjol prestasinya, antara lain Lenny Marlina – ditemukan oleh Usmar Ismail dan langsung diberi kepercayaan sebagai pemeran utama film "Ananda".

Sejak itu, Lenny melesat jadi bintang film paling laris dan berkali-kali mendapatkan penghargaan sebagai pemain terbaik. Kemudian Hasan Sanusi, Yati Octavia, Paramitha Rusady, Desy Ratnasari, Dede Yusuf, dll. Bahkan juga pelawak yang terjun ke dunia film, seperti Bing Slamet, Us Us, Kang Ibing, Dedi Gumelar (Miing Bagito), dll. Dede Yusuf bahkan terpilih sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat. Di dunia film dan sinetron khsususnya dan di dunia selebritis umumnya, orang Sunda memang berperan sangat besar. Setidaknya, begitu banyak orang Sunda yang sukses mengukir prestasi di Jakarta.

Kini Bandung termasuk gudangnya sineas film Independen. Banyak sutradara muda Independen dari Bandung - apakah itu pelajar SLA atau mahasiswa, yang berprestasi dalam Festival Film Independen, baik nasionanal atau internasional. Beberapa kampus universitas di Bandung menyelenggarakan Festival Film Independen dan Festival Film Pendek.

Sinden dan Dalang
Menurut keterangan Rd.Mochtar, dalam film "Pareh", ada adegan pertunjukkan wayang golek. Peran dalang dimainkan oleh seorang pemuda Bandung bernama Oemar. Rd. Mochtar sendiri sebagai pemeran utama film tersebut berpasangan dengan artis asal Tasikmalaya R.Soekarsih – yang kemudian jadi istri Rd.Mochtar. Pasangan Rd.Mochtar dan R.Sukarsih, tetap harmonis hingga akhir hayatnya, dalam usia lebih dari 70 tahun.
"Oemar itu kemudian dikenal sebagai dalang, bahkan salah seorang tokoh padalangan di Jawa Barat. Padahal ketika ia memainkan perannya sebagai dalang, sebelumnya ia tak pernah dikenal sebagai dalang. Makanya ketika ia memainkan wayang golek dalam film itu, masih nampak kaku," tutur Rd.Mochtar, sewaktu diwawancarai menjelang berlangsungnya FFI’85 di Bandung.

Menurut data dari Sinematek Indonesia, Oemar juga main dalam film yang diproduksi Halimun Film, dalam film "Rampok Preanger" (1928), "Lari ke Arab" (1930), dan "Si Pitung" (1931), berpasangan dengan penyanyi keroncong dari radio Nirom, Bandung, Ining Resmini. Akan halnya sinden beken asal jalan Cagak, Subang, Titim Fatimah, bersama sinden terkenal lainnya Mimi Mariani sempat muncul dalam film "Si Kembar" (1961) produksi Gema Masa Film. Dalam film itu, Titim membawakan lagu "Karawitan", dan "Kulu-kulu", sedangkan Mimi Mariani membawakan lagu "Kerja Bakti". Titim Fatimah dikenal sebagai sinden yang bersuara tinggi, kadang terkesan "genit", dengan lengkingannya yang membuat gemas dan selalu mengundang tepuk-tangan penonton. Bahkan ia dikenal sebagai sinden yang memiliki improvisasi suara yang luar biasa.

Sinden termashur lainnya, yang memiliki karakter suara bertolak belakang dengan Titim adalah Upit Sarimanah. Upit bersuara lembut membuai dan mendayu. Ia tampil dalam film "Kasih Tak Sampai" produksi PT Sarinande Film, yang disutradarai Turino Junaedy. Upit, yang saat itu berusia 33 tahun, memerankan seorang pelayan yang melahirkan anak hasil hubungan gelap. Ia juga membawakan dua buha lagu, yaitu "Cemplang" dan "Ceurik Anjani".

Bila dibandingkan dengan keadaan saat ini, dimana seniman seniwati tradisi popularitasnya terus menerus tersisih, maka pengaruh kehadiran sinden beken seperti Titim, Upit, dan Mimi Mariani dalam film Indonesia, bisa dikatakan "luar biasa". Rasanya akan sulit kita temukan lagi, seorang sinden yang tampil dalam film, lalu membawakan satu atau dua buah lagu Sunda. Para produser sekarang rasanya mustahil, akan berani menampilkan sinden sebagai pemain, apalagi dengan lagu andalannya.

Tentu harus disebut pula nama Tati Saleh, seorang penembang serba bisa, yang juga menonjol jika melantunkan lagu-lagu sinden. Tati Saleh, pernah tampil dalam sejumlah film Indonesia, antara lain "Nyi Ronggeng" (Alam Rengga Surawijaya), "Gadis Marathon" (Chaerul Umam), dan "Si Kabayan Saba Kota" (H.Maman Firmansyah). Sedangkan dalang yang kaya dengan kreasi, Asep Sunandar Sunarya, juga sempat muncul sebagai dukun dalam film "Si Kabayan dan Gadis Kota".

Seandainya saja dokumentasi film yang dibintangi Titim, Upit, Mimi Mariani, dan Oemar itu masih ada, tentu kita bisa menyimak kembali sosok mereka melalui film. Sayangnya, dalam hal dokumentasi film tempo dulu, banyak yang tidak terselamatkan. Masih untung ada tokoh perfilman yang penuh dedikasi seperti H.Misbach Jusa Biran dan S.M. Ardan. Ketika Misbach masih menjabat sebagai Kepala Sinematek Indonesia, dengan dana yang terbatas, ia masih bisa menyelamatkan beberapa buah film "klasik" yang ia dapatkan di gudang-gudang atau yang hampir terbuang. Begitu juga ketika H.Misbach Jusa Biran ingin meneliti film-film tempo dulu demi kepentingan Sinematek Indonesia, untuk menyaksikan film "Pareh" saja, ia harus datang ke Belanda, sebab film tersebut sudah menjadi milik sinematek di Belanda.

Karya Sastra Sunda
APABILA menyimak kembali lembaran sejarah film Indonesia, mulai dari film pertama yang dibuat di Indonesia hingga saat ini, rasanya jarang ditemukan film yang menggunakan bahasa Sunda atau bahasa daerah lainnya. Padahal Kota Bandung dikenal sebagai tempat lahirnya film pertama yang dibuat di Indonesia, bahkan cerita yang dipilihnya juga merupakan cerita rakyat rayat Sunda "Loetoeng Kasaroeng" (1926) garapan L.Heuveldorp (Belanda) dan G.Krugers (Jerman) pemilik NV Java Film.

Setelah menggarap film "Lutung Kasarung", kegiatan Heuveldorp tidak pernah kedengaran lagi. Akan halnya Krugers, ia mendirikan perusahaan film baru Krugers Filmbedrijf. Produksi filmnya, antara "Karnadi Anemer Bangkong" dan "Eulis Atjih" (1927), keduanya masih merupakan film bisu. Film "Karnadi Anemer Bangkong" dan "Eulis Atjih" itu berdasarkan buku cerita Sunda karya pengarang Sunda Joehana. Boleh dibilang buku karya sastra yang pertamakali dibuat film adalah karya sastra berbahasa Sunda "Karnadi Anemer Bangkong", disusul kemudian dengan "Eulis Atjih".

Film "Pareh", termasuk film yang mendapat pujian dari para pengamat, karena kualitasnya dianggap menonjol. Ceritanya mengenai kisah cinta anak petani dan nelayan yang terhalang aturan adat. Pemeran utamanya, pemain asal Cianjur yang ditemukan Albert Balink, Rd.Mochtar, dan pemain asal Cihonje, Tasikmalaya, R. Sukarsih. Yang menonjol dari film "Pareh", terutama gambar-gambar dan artistiknya. .
Jika menilik data sejarah film Indonesia, film Indonesia tempo dulu, yang umumnya digarap oleh keturunan Belanda dan Tionghoa, kebanyakan menggunakan latar-belakang kehidupan orang Sunda. Seperti dalam film "Bunga Ros dari Cikembang" (1930) produksi The Bersaudara, menceritakan juragan turunan Tionghoa yang kawin dengan wanita Sunda, menggunakan setting kehidupann di sekitar perkebunan. Dalam bukunya, memang ada dialog bahasa Sunda, juga lirik lagu Sunda.

Cerita Lutung Kasarung dibuat film lagi tahun 1952, antara lain dibintangi oleh Tina Melinda. Malahan tahun delapan puluhan, cerita Lutung Kasarung juga diproduksi oleh PT Inem Film.

Tahun 1951, Star Film menggarap film "Tjioeng Wanara", yang disutradarai Rd.Arifin, pemeran utama wanitanya Elly Yunara. Umumnya film cerita rakyat atau legenda Sunda yang pernah dibuat film, sejak tahun 30-an hingga tahun 50-an, hampir tak ada dokumentasinya di Sinematek Indonesia.
Karya sastra Sunda yang pernah dibuat film, jumlahnya tidaklah banyak. Diantaranya buku novel karangan Aam Amilia "Sanggeus Halimun Peuray" produksi Dewan Film Nasional (DFN) yang disutradarai Sofia WD. Pemeran utamanya Alan Nuary dan Nungky Kusmastuti. Skenarionya ditulis oleh N.Riantiarno, dramawan, pemain film, dan pimpinan Teater Koma.

Meskipun Riantiarno menerjemahkeun dialog-dialog Sunda kedalam bahasa Indonesia, tapi "rasa sunda-nya" tetap terjaga, sebab ada kalimat-kalimat, atau sebutan khas Sunda yang tetap dipertahankeun. Begitu pula nama-nama tokohnya, yang memang terasa nyunda.

Karya sastra Sunda lainnya yang dibuat film, "Carmad", karangan Tjandrahayat, produksi PT Virgo Putra Film. Judulna diganti jadi "Boss Carmad", disutradarai oleh Chaerul Umam. Pemeran tokoh Carmad, aktor kawakan Deddy Mizwar. Sedangkan yang memerankan tokoh Nyi Sutirah, Paramitha Rusady. Skenarionya ditulis oleh dramawan, sutradara serta pengarang ternama Putu Wijaya, pimpinan Teater Mandiri. Sama halnya dengan Riantiarno, Putu juga mampu mempertahankan identitas kesundaan dalam cerita Carmad. Bahkan walaupun sutradara Chaerul Umam Jawa tulen, tapi sewaktu menghidupkan suasana kesundaan terasa lebih teleb, lebih mendalam. Termasuk juga dengan ditampilkannya adegan kesenian tradisional garapan Dasentra Group. Film "Carmad" mendapatkan pujian dari para pengamat, bahkan dalam Festival Film Indonesia (FFI), salah seorang pemainnya, Rachmat Hidayat, terpilih sebagai "Pemeran Pembantu Pria Terbaik".

Cerita yang paling populer dibuat film, tentu saja cerita Si Kabayan. Taun 1975, PT Diah Pitaloka Film, membuat film "Si Kabayan". Tokoh Si Kabayan diperankan oleh Ibing Kusmayatna, sedangkan tokoh Nyi Iteung diperankan oleh Lenny Marlina. Penulis skenarionya, pengarang Sunda terkenal yang telah mempopulerkan cerita Si Kabayan di TVRI, RAF. Begitu pula dalam dua produksi film PT Diah Pitaloka Film lainnya, "Dukun Beranak" (Paraji Sakti) dan "Ratu Ular", tetap menggunakan setting Sunda, juga menyelipkan dialog bahasa Sunda.

Film "Si Kabayan Saba Kota", merupakan satu-satunya film daerah – produksi PT Kharisma Jabar Film dan Pemda Provinsi Jabar, yang berhasil menjadi film box office. Bahkan dalam sejarah produksi film daerah, hanya film Si Kabayan yang mampu bertahan hingga mencapai beberapa serial. Setelah sukses film "Si Kabayan Saba Kota", dilanjutkan dengan film "Si Kabayan dan Gadis Kota", "Si Kabayan dan Anak Jin", "Si Kabayan Saba Metropolitan", dan "Si Kabayan Mencari Jodoh". Pemain yang memerankan tokoh Si Kabayan, tetap Didi Petet, tapi yang memerankan tokoh Nyi Iteung berganti-ganti, mulai dari Paramitha Rusady, Nike Ardilla, hingga Desy Ratnasari.

Sesungguhnya cukup banyak karya sastra Sunda yang akan "sukses" jika dibuat film atau sinetron, sebab ceritanya tak kalah menarik dibandingkan dengan cerita film atau sinetron yang sukses. Misalnya saja buku cerita "Baruang ka Nu Ngarora" (DK Ardiwinata), "Mugiri" (Joehana), "Sri Panggung" (Tjaraka), "Burak Siluman" (Muh. Ambri). Sayangnya, hingga kini jarang ada produser yang tertarik dengan karya sastra daerah. Entahlah seandainya ada karya sastra Sunda yang diterjemahkeun dulu kedalam bahasa Indonesia. Seperti halnya cerpen karangan Iskandarwassid "Sri Panggung Doger Karawang", bisa terbaca oleh Teguh Karya, setelah Teguh membaca buku kumpulan cerpen "Dua Orang Dukun", yang berisi cerpen-cerpen Sunda pilihan, terjemahan Ajip Rosidi.

Apabila kita ingin menyaksikan karya sastra Sunda yang dibuat film atau sinetron, dengan menggunakan bahasa Sunda, tentu saja harus dimulai oleh pihak Pemerintah Daerah atau pengusaha Sunda yang besar perhatiannya terhadap keberadaan bahasa dan sastra Sunda. Tidak mustahil film yang menggunakan bahasa Sunda akan sukses dan diminati penonton etnis daerah lainnya. Jika akan diedarkeun di daerah lainnya, yang tidak berbahasa Sunda, bukankah bisa menggunakan teks Indonesia?

Sampai kini, belum ada yang memulai membuat film berbahasa Sunda atau film daerah lainnya., dengan menggunakan teks bahasa Indonesia. Padahal andai saja ada yang berani "memelopori", dan filmnya ditakdirkan sukses, seterusnya tidak mustahil akan banyak lagi film daerah yang menggunakan bahasa daerah. Mengangkat derajat bahasa dan sastra Sunda akan lebih terasa manfaatnya, apabila banyak film atau sinetron berdasarkan karya sastra Sunda yang menggunakan bahasa Sunda.

Sebuah film yang digarap dengan baik, akan selalu menjadi sesuatu yang sangat berharga sebab akan bisa terus dinikmati dari generasi ke generasi, menjadi referensi yang memudahkan sebuah penelitian.. Termasuk kehadiran film yang mengungkapkan identitas kedaerahan secara utuh, yang kehadirannya didukungkung oleh Pemerintah Daerah. Tanpa campur tangan Bupati Bandung RAA Wiranatakusumah V, belum tentu orang Sunda akan tercatat sebagai salah seorang pelopor lahirnya film cerita pertama di Indonesia.

Bandung 2004 - 2010.

DAFTAR PUSTAKA

Apa Itu Sinematek Indonesia, brosur, Sinematek Indonesia.
Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926 – 1978, kerjasama Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Penerangan RI dan Sinematek Indonesia.
Ardan, S.M., Jejak Seorang Aktor Sukarno M. Noor dalam Film Indonesia,  Aksara Karunia, Jakarta 2004.
Ardan, S.M., Setengah Abad Festival Film Indonesia, Panitia Festival Film 2004.
Biran, H. Misbach Jusa, Selintas Kilas Sejarah Film Indonesia, Badan Pelaksana FFI’82.
Biran, H. Misbach Jusa, Sejarah Film 1900 - 1950, Bikin Film di Jawa, Komunitas Bambu, Depok, 2009
Buku Festival Film Indonesia 1983, 1984, dan 1985, Badan Pelaksana FFI Medan- Yogyakarta-Bandung.
Catatan Kuliah Editing 1975 – 1977, dosen Soemardjono, Akademi Sinematografi LPKJ.
Hwat, Tan Sing, Belajar Membuat Film, NV Pustaka dan Penerbit Endang, Jakarta, 1954.
Iskandar, Eddy D., Mengenal Perfilman Nasional, CV Rosda, Bandung 1987.
Iskandar, Eddy D., Panduan Praktis Menulis Skenario, PT Remaja Rosdakarya, Oktober. 1999.
Majalah Aneka, Bintang Film, Duta Layar Putih, Citra Film, Favourite, Film Varia, "F",
Mayapada, Puspa Wanita, Star News, SFF, Sinema Indonesia, Selecta, Star Weekly, Terang Boelan, Variasi Putera, Varia.
Pane, Armijn, Produksi Film Cerita di Indonesia Perkembangannya Sebagai Alat Masyarakat, Majalah Kebudayaan "Indonesia" No. 3 Tahun Ke IV, Maret 1953.
Pola Dasar Pembinaan dan Pengembangan Perfilman Nasional, Dewan Film Nasional,
1980.
Pratikto, Herman, Aesthetica & Sejarah Film, Surya, Jakarta.

Report on Indonesia, Department of Information Directorate General of Radio Television
Film.
Said, Salim, Profil Dunia Film Indonesia, Grafiti Pers, Jakarta. 1982.
Siagian, Gayus, Sejarah Film Indonesia, Diktat Kuliah pada Akademi Sinematografi LPKJ 1975-1977.

Siahaan, J.E., Usmar Ismail Mengupas Film, Sinar Harapan, Jakarta, 1983.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar