Kamis, Maret 27, 2014

Gagasan dalam Film-Film Deddy Mizwar

Oleh: Yus R. Ismail

Kehadiran Deddy Mizwar dalam dunia perfilman lima tahun terakhir ini menarik untuk dinikmati. Bukan karena bertambahnya peran Deddy Mizwar sebagai sutradara dan produser. Atau penampilannya sebagai aktor tetap stabil seperti pada waktu dia memainkan tokoh Nagabonar atau wartawan dalam film Kejarlah Daku Kau Kutangkap. Tapi lebih pada gagasan-gagasannya yang melatarbelakangi film-filmnya.
Kenapa gagasan menjadi sesuatu yang menarik? Bukankah sejak awal kehadiran film (film dibuat) tidak lepas dari gagasan yang melatarbelakanginya? Artinya, gagasan dalam dunia film adalah barang lapuk. Sebut saja nama Usmar Ismail, Syumanjaya, Misbach Yusa Biran, Asrul Sani, Teguh Karya, Arifin C. Noor, atau yang masih berkarya dan potensial berkarya seperti Eros Djarot, Arswendo Atmowiloto, Slamet Rahardjo Djarot, Garin Nugroho; gagasan dalam film menjadi akan sangat panjang untuk dibahas.



Film-film Deddy Mizwar menjadi menarik untuk dinikmati karena hadir bersamaan dengan kebangkitan perfilman Indonesia era 2000-an. Sekarang ini setiap minggu akan muncul film Indonesia. Banyak film yang bertahan di bioskop sampai berbulan-bulan. Tapi kebanyakan hanya menghibur. Miskin gagasan. Meski kalau menyebut beberapa nama, begitu besar harapan kepada Hanny R. Saputra (sutradara film Virgin, Heart, love is Cinta), Nan T Achnas (Pasir Berbisik, The Photograph), Rudi Soedjarwo (Ada Apa dengan Cinta?, Mengejar Matahari, Mendadak Dangdut). Setidaknya dengan film-film yang telah dibuatnya, mereka sangat diharapkan “menyentuh” dan menebar spirit kemanusiaan melalui film, setidaknya lebih dari sekedar menghibur dan menakut-nakuti.
Deddy Mizwar bisa dibilang pewaris generasi perfilman satu generasi lalu, generasi yang menekankan gagasan sebagai spirit dibuatnya sebuah film. Setidaknya begitu kesimpulan sementara setelah menikmati film Kiamat Sudah Dekat (2003), Ketika (2004), Nagabonar Jadi 2 (2007). Atau dalam sejumlah sinetron televisinya seperti Lorong Waktu, Adillah, dan yang menghibur saat makan sahur bulan puasa lalu, Para Pencari Tuhan.  
Sepertinya ada dua spirit yang menggerakkan film-film Deddy Mizwar. Pertama adalah cinta tanah air, kebangsaan, spirit yang khas ketika para intelektual setelah masa kemerdekaan mulai terjun ke dunia film. Spirit yang menjadi mahal untuk generasi sekarang ini sangat terasa dalam film Ketika dan Nagabonar Jadi 2. Meski berkisah tentang cinta Mutiara dan Ical, latar belakang peristiwa adalah imajinasi ketika negara ini menjadi organisasi yang sangat teratur dengan membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah, film Ketika merupakan potret perjuangan “manusia kita” ketika menghadapi perubahan. Empati terhadap orang kecil dan semangat untuk bangkit kembali sebagai manusia yang lebih bersih adalah spirit film ini. Tentu saja cara mencintai tanah air seperti ini sah saja.
Film Nagabonar Jadi 2 yang rasanya masih melekat dalam ingatan, lebih jelas lagi karena menceritakan Nagabonar si bekas copet yang menjadi pejuang itu. Ada banyak adegan yang mengharukan dalam film ini. Salah satunya ketika Nagabonar berziarah ke patung Soekarno-Hatta. “Baru kemarin rasanya aku mendengar suara beliau menggelegar di radio mengajak anak-anak muda melawan penjajah. Seorang pencopet, perampok pun akan tergetar hatinya kalau dia bicara,” katanya kepada Umar, sopir bajaj yang mengantarnya keliling Jakarta.
Spirit kedua adalah moralitas kemanusiaan. Hal itu terasa dalam film Kiamat Sudah Dekat. Pendekatan moralitas agama menjadi masukan yang kental dalam film ini. Karena itu banyak orang berpendapat di film ini Deddy Mizwar sedang berdakwah. Tapi saya rasa ini bukan masalah dakwah agama. Dalam versi sinetronnya, sekali waktu pengelola pangkalan minyak Haji Romli cemburu kepada Togi, mahasiswa terlantar yang dipekerjakan di situ. Dia protes kepada Haji Romli karena Togi tidak seagama. Jawab Haji Romli, “Ingat, dulu, sebelum bekerja di sini kamu adalah pencuri. Sewaktu dikejar massa yang mau menghakimi, kamu berlindung kepada saya. Apakah saya tanya dulu agamamu sebelum menolong? Kan tidak…”
Gagasan menyampaikan pencerahan kemanusiaan ini dikemas dengan cerita yang ringan, gampang dimengerti, dan penuh dengan kelakar. Deddy Mizwar tidak berpretensi “macam-macam” dalam bercerita. Dia lebih cenderung konvensional. Koherensi antara tokoh, adegan dengan adegan lainnya, sangat kuat. Meski dalam ilmu bercerita, juga dalam film, koherensi ini bukan lagi teori baku. Ada film yang menekankan pada suasana seperti film Garin Nugroho, atau tokoh yang bercerita masing-masing seperti dalam film Berbagi Suami (Nia Di Nata).
Untuk daya ucap ini Deddy Mizwar lebih memilih yang klasik. Syarat keberhasilan daya ucap seperti itu memang terpenuhi dengan cerita (skenario) yang cerdas dan rasa humor yang tinggi. Skenario yang kebanyakan dibuat oleh Musfar Yasin memang membuka peluang untuk memotret masalah sosial yang lebih jernih dengan dialog-dialog yang cerdas. Bisa dibilang, untuk saat ini Musfar adalah salah seorang penulis skenario terdepan di negeri ini.
Unsur humor juga menjadi sesuatu yang menarik dalam film-film Deddy Mizwar. Hampir dalam semua filmnya Deddy menebarkan humor. Biasanya humor ini dibangun dari karakter tokoh dan penggambaran sosial yang kuat. Misalnya dalam Kiamat Sudah Dekat versi sinetron ada tokoh Kipli, seorang anak miskin yang sering dipukul bapaknya. Ketika teman sepermainannya, Saprol, suka diberi permen oleh Sarah karena Saprol yatim, Kipli pun bercita-cita jadi anak yatim. Atau malah sambil berhumor juga menyampaikan kritik sosial yang tajam. Misalnya dalam film Nagabonar Jadi 2, ketika Nagabonar bertemu Mariam yang menjadi staf ahli menteri, dia bilang: “Setahuku ahlimu cuma mencopet saja. Cukup kau seorang menjadi pencopet, jangan kau ajari menteri itu mencopet. Apa kata dunia? Tambah susah rakyat nanti.”         
Humor yang disampaikan Deddy Mizwar memang tidak menampilkan para pelawak seperti yang banyak dalam sinetron komedi. Tapi rasa humor seperti itu lebih alami, jernih, mengharukan, dan mengena. Pola seperti ini juga yang mengangkat komedi situasi Bajay Bajuri beberapa tahun lalu.
Bisa dibilang, Deddy Mizwar mengemas gagasan-gagasannya dalam cerita dan daya ucap yang popular. Pilihan ini memang tidak salah. Tapi kadang persoalan yang besar, gagasan yang sebenarnya mendalam, seringkali mencair begitu saja. Keharuan dan sentuhan yang sudah hampir mengena terlalu cepat dinetralisir. Dengan begitu, gaung dari gagasan yang ingin disampaikan tidak telalu panjang. Hal seperti ini ditandai dengan pilihan akhir cerita yang selalu bahagia. Tapi berpanjang-panjang pun bukan pilihan yang tepat. Kiamat Sudah Dekat versi sinetron menjadi contoh bagaimana gagasan kuat bisa kedodoran karena semangat berpanjang-panjang.***


Penulis adalah anggota Regu Pengamat Festival Film Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar