Senin, Maret 31, 2014

“99 Cahaya di Langit Erova (2)", Datar Tetapi Bersahaja

Oleh Dhipa Galuh Purba

(Forum Film Bandung) Film 99 Cahaya di Langit Erova (2), produksi Maxima Pictures mengandung  gagasan yang hampir sama dengan film “?” (Hanung Brahmantyo) terutama berkenaan dengan Pluralisme beragama. Konflik-konflik kecil yang berakhir dengan perdamaian.

Menyodorkan sebuah kesimpulan betapa indahnya hidup rukun meski berbeda agama. Ditegaskan pula ketika memvisualkan bangunan Cordoba, rumah ibadat yang mengandung berbagai simbol agama. Tokoh Rangga (Abimana Aryasatya) yang menjadi semacam penyambung lidah ikhwal toleransi beragama melalui dialog-dialognya yang segar dan cerdas. Syiar Islam yang cukup bersahaja.

NaraFilm yang paling menonjol dari “99 Cahaya di Langit Erova (2)” terdapat dalam penataan musik. Adegan Hanum (Acha Septriasa) ketika mengenakan kerudung pun terasa sangat bernyawa dengan racikan musik yang dihadirkan. Adegan biasa yang menjadi begitu luar biasa. Padahal tidak ada konflik yang besar atau penundaan hukum sebab-akibat yang berkepanjangan, dikarenakan film ini terikat dengan sebuah catatan nyata yang tidak bisa disulap menjadi lebih dramatis, atau termasuk ke dalam jenis film Biopic (Biographical Motion Picture).



Sayang sekali dengan penokohan Khan (Alex Abbad) dan Stevan (Nino Fernandez). Khan yang di adegan masa kecilnya begitu sempurba, tiba-tiba pada saat beranjak dewasa menjadi agak terganggu dengan bahasa yang dipergunakan. Khan, orang Pakistan, yang sehari-harinya lebih lancar berbahasa Indonesia. Juga, Steven pun akhirnya menjadi tokoh WNA yang rajin berbahasa Indonesia. Sementara seting lokasi film ini di Erova. Mestinya, dua tokoh ini dibiarkan menggunakan bahasanya masing-masing atau lebih logis menggunakan bahasa Inggris. Mungkinkah di Erova sana ada WNA yang tiba-tiba menggunakan bahasa Indonesia ketika berdialog dengan WNI? Yang terjadi malah di Jakarta pun orang Indonesia harus dipaksa mengalah, menggunakan bahasa Inggris pada saat berdialog dengan WNA.

Kelemahan yang lain terdapat pada tokoh Hanum sendiri. Hanum yang terlalu berlebihan mengagumi Erova, sampai rambutnya pun ikut-ikutan diwarnai. Wajah Indonesianya sudah tidak ada, meski ada dialog Hanum yang mengungkapkan kerinduan terhadap tanah air Indonesia –dan pada akhirnya Hanum tinggal di Indonesia. Tokoh Rangga dan Khan dewasa, yang mewakili wajah Indonesia. Ya, Khan (dewasa) lebih tampak seperti orang Indonesia daripada Pakistan.


Terlepas dari segala kekurangannya, film ”99 Cahaya di Langit Erova (2)” merupakan Film bermoral yang sangat layak untuk ditonton masyarakat. Jangan ragu membawa serta anak-anak untuk menyaksikan film ini. Sebab, film ini sangat santun. Sekaligus menegaskan bahwa sebuah film tanpa harus menyuguhkan bumbu adegan sex, ternyata tidak mengurangi daya tarik dari film tersebut, seperti pada ”99 Cahaya di Langit Erova (2)”. Rasanya sangat disayangkan jika film ini terlewatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar